Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 66


__ADS_3

Persiapan pertunangan Darrel dan Aurel sudah selesai. Sebentar malam adalah acara pertunangannya. Semua anggota keluarga Grisam sudah hadir di kediaman Gara. Mereka terlihat bahagia.


"Paman nggak nyangka kamu sudah akan bertunangan. Padahal, baru kemarin kamu paman jailin." Ucap Gio, menepuk pundak Darrel sambil terkekeh kecil.


"Iya. Perasaan baru kemarin Darrel minta beliin mainan." Imbuh Viko.


Kedua Pamannya itu terkekeh bersama. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain menggaruk telinganya. Biasanya dia akan membalas ucapan Paman-Pamannya. Tapi, kali ini, sepertinya dia tidak tahu harus membalas apa.


Ginanjar, Zarfan dan Disa juga ikut terkekeh melihat Darrel yang tidak bisa membalas kedua pamannya. Sementara Gara dan Darren hanya tersenyum tipis.


Alula, Ana dan Vera berada di dalam kamar Aurel. Ketiga wanita itu sibuk berbincang dengan Aurel dan bergantian mengelus perut Aurel.


"Aku jadi teringat saat mengandung Dafa sama Lala." Ucap Ana.


"Hehehe... Aku juga sama, Kak. Aku jadi ingat saat mengandung Roy." Timpal Vera.


"Tapi, yang paling buat aku penasaran, waktu Alula mengandung si kembar. Gimana rasanya hamil kembar?"


"Hah? Aku... Cukup kesulitan." Jawab Alula. Pertanyaan Ana membuatnya teringat akan hidupnya sebelum bertemu Gara.


Ana yang melihatnya merasa bersalah. Ia tidak bermaksud mengingatkan Alula. Ia hanya benar-benar penasaran. Vera yang merasakan kecanggungan, langsung mencari topik lain.


"Oh ya, Kak. Bagaimana hubungan Darren sama Asya?" Tanya Vera, membuat Ana tersenyum. Adik iparnya itu cukup bisa diandalkan saat Ana keceplosan.


"Aku tidak tahu, seperti apa hubungan mereka sekarang. Asya tidak memberitahu apa statusnya dengan Darren. Dan Darren, kalian tahu sendiri bagaimana anak itu."


"Bagaimana jika aku tanyakan pada Darren?" Usul Ana, membuat Alula dan Vera menatapnya.


"Anaaaaa..."


"Kakaakkk..."


Alula dan Vera berkata bersamaan membuat Ana terkekeh. "Hehehe... Aku hanya bercanda. Darren adalah Gara versi muda. Aku juga segan bertanya hal pribadi nya."


Aurel yang menyaksikan keakraban istri-istri dari putra-putra keluarga Grisam itu ikut tersenyum. Setelah perbincangan itu, mereka bersama menuju ruang keluarga.


Darrel yang masih menikmati candaan-candaan kedua pamannya juga kedua Kakek dan Neneknya, langsung berdiri saat melihat Aurel. Ia menuntun gadis itu duduk di sofa dengan hati-hati. Semua yang melihatnya, menahan senyum atas perhatian yang Darrel berikan pada Aurel.


"Nak, jika sudah menikah nanti, Darrel tak bersikap baik padamu, bilang saja pada Kakek. Akan Kakek pukul kepalanya." Ujar Ginanjar, membuat semua terkekeh.


"Kalau..."


"Kakeeek..." Suara menggema dari kedua cucu Ginanjar itu memenuhi ruang keluarga.


Semua mengerutkan kening melihat Alisha dan Dafa pulang sekolah bersama. Kenapa bisa mereka pulang lebih cepat dari biasanya?


Alisha dan Dafa mencium tangan setiap orang yang berada di ruangan tersebut. Keduanya lalu duduk santai diantara kedua orang tua masing-masing.


"Kenapa kalian pulang begitu cepat?" Tanya Alula.

__ADS_1


"Ya, kenapa kalian pulang secepat ini?" Timpal Ana.


"Aku mengatakan aku izin untuk pulang lebih cepat hari ini. Dan bu guru mengiyakan saja. Aku telpon Paman supir untuk menjemput. Aku juga mengirim pesan pada Kak Alisha, karena kami sudah janjian pulang lebih cepat hari ini." Jelas Dafa.


"Ya. Alisha juga memberitahu Pak Kepala sekolah untuk pulang lebih dulu hari ini. Awalnya dia menolak. Tapi, Alisha bilang saja jika dia menolak, Alisha nggak akan mau bersekolah disini lagi. Dan secepat kilat, dia mengangguk ngebolehin Alisha. Huh, pasti takut dia kalau Ayah nggak mau lagi jadi donatur di sekolah itu." Ucap Alisha.


Semua yang mendengarnya menggeleng atas kelakuan Dafa dan Alisha. Benar-benar keturunan Gara dan Gio.


Roy yang sejak tadi tertidur bersama Lala, terbangun dan berjalan menuju ruang keluarga. Viko langsung menggendongnya dan membawanya duduk di pangkuan.


"Adek masih tidur, Roy?" Tanya Gio. Anak itu hanya mengangguk, karena masih belum sepenuhnya pulih dari tidurnya.


"Aku akan melihatnya." Ana beranjak menuju kamar untuk melihat Lala.


Setelah Ana pergi, Dafa menarik baju Ayahnya dan memintanya menunduk. Anak itu lalu membisikkan sesuatu.


"Ayah, apa Paman Kenan belum datang? Aunty Hani sama Ara juga datangkan?" Bisik Dafa.


"Kenapa? Kamu kangen sama Ara?" Balas Gio, juga ikut berbisik.


"Ya. Kalau Ayah bisa, katakan pada Paman Kenan, biarkan Ara tinggal bersama kita."


"Hahaha..." Gio langsung tertawa lepas, membuat semua menatapnya dengan pandangan heran.


"Ada apa, Gio?" Tanya Zarfan.


"Nggak ada, Kek. Hanya lelucon kecil." Ujar Dafa.


Tak lama, seorang pelayan datang dan mengatakan jika makan siang sudah di siapkan. Semuanya menuju meja makan dan menyantap makanan mereka. Kemudian beriatirahat dan bersiap untuk acara pertunangan nanti malam.


***


Tidak banyak tamu yang datang. Hanya keluarga Grisam, sahabat dekat, klien perusahaan dan juga petinggi-petinggi Grisam Group.


Asya datang bersama Papa dan Mamanya. Tentunya ada Naomi juga. Gadis cantik itu terlihat sangat bahagia. Ia langsung berjalan ke arah lain mencari Aurel. Namun, langkah terhenti saat seseorang menghadang jalannya. Dari postur tubuhnya, dia tahu itu siapa.


"Biarkan aku jalan, Darren."


"Ayo, lebih dekat! Aku akan membiarkanmu pergi."


Demi bisa terlepas dari lelaki itu dan bertemu sahabatnya, Asya menurut. Ia mendekati Darren hingga jarak mereka tinggal 30 cm.


"Ada ap..."


Cup.


Darren dengan tanpa aba-aba langsung mengecup pipi dekat pangkal telinga Asya. Membuat gadis itu mematung dengan wajah memerah.


"Aurel ada di kamar yang sering kamu tinggali. Pergilah. Aku menunggumu di depan nanti." Ujarnya, lalu pergi tanpa merasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


Asya menyentuh dadanya, merasakan detakkan jantungnya yang berdetak cepat. "Jika Darren terus begini, aku pasti akan mati karena serangan jantung." Gumam Asya pelan, kemudian melanjutkan jalannya. Dan tanpa ia sadari, Naomi melihat semuanya.


Tamu semakin berdatangan. Axel juga datang untuk menggantikan kedua orang tuanya yang sudah kembali ke luar negeri.


"Axel!" Alisha memanggilnya, dan ia langsung mendekat. Disa yang bersama Alisha saat itu mengerutkan keningnya sembari menatap Axel.


"Nenek, perkenalkan! Ini Axel, teman Alisha."


"Saya Axel, Nyonya." Ucapnya, sambil menyalimi Disa.


"Saya Nenek Disa, Neneknya Alisha." Balas Disa. "Kamu pasti anak kolega bisnis Gara. Dimana orang tua mu?"


"Nek, dia bukan anak kolega bisnis Ayah. Tapi, anak dari sahabat Ayah yang tinggal di luar negeri."


"Ohhh... Dimana orang tua mu, nak?" Disa kembali bertanya.


"Sudah pulang ke luar negeri." Jawab Axel seadanya.


"Baiklah. Kalian nikmati saja. Nenek mau ke sana dulu."


"Iya, Nek."


Axel terdiam mengamati setiap pergerakkan orang-orang yang datang sembari mendengarkan cerita Alisha. Sesekali ia membalas perkataan gadis itu.


Sementara Dafa, anak itu terus menempel pada Ara, putri Kenan dan Hani. Bukannya senang, gadis kecil berusia 6 tahun itu malah merasa risih. Wajah tanpa ekspresinya menjadi sangat dingin. Ia menatap Dafa dengan tajam, lalu meninggalkan anak itu, dan bermain bersama Roy dan Lala.


Acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Darrel bersama Aurel berdiri di tempat yang sudah di siapkan. Dengan senyuman penuh kebahagiaan, ia menyematkan cincin di jari Aurel.


"Aku mencintaimu dengan sunguh-sungguh. Bukan karena suatu alasan atau apapun. Jadi, jangan ragukan perasaanku." Ucapnya, lalu membawa kedua tangan Aurel dan mengecupnya lama.


Aurel merasakan matanya memanas. Dengan sedikit perasaan gugup, Aurel menyematkan cincin ke jari Darrel.


"Aku juga mencintaimu." Ucapnya. Pasangan kekasih itu saling berpelukan. Membuat riuh tepuk tangan menggema di ruang tamu rumah Gara tersebut.


Setelah acara inti tersebut, semuanya menikmati acara-acara lainnya. Semua merasa gembira, begitupun dengan Asya. Sementara Naomi, dia menatap benci ke arah gadis itu. Ia tahu apa hubungan Darren dan Asya saat ini. Ditambah lagi, ia menyaksikan apa yang Darren lakukan pada Asya tadi. Hal itu membuatnya semakin membenci Asya.


"Naomi,"


"Ya?" Dia memaksakan senyum saat Asya memanggilnya.


"Aku akan mengambil minum. Apa kamu mau ku ambilkan juga?"


"Ya. Aku mau."


"Baiklah."


Asya segera menuju tempat makanan dan minuman. Keadaannya sepi karena semua orang terfokus pada acara yang sedang berlanjut. Sebelum tangannya meraih gelas minuman, seorang tiba-tiba menariknya dan membekap mulutnya.


"Hhhmmm..." Asya melotot saat melihat wajah orang itu. Sementara orang itu, hanya membalas Asya dengan seringaiannya.

__ADS_1


__ADS_2