
Gara dan Alula menikmati waktu pagi mereka dengan berjalan-jalan di taman belakang rumah. Tangan Gara tidak pernah lepas dari pinggang istrinya. Masih begitu posesif.
"Nggak nyangka ya, sayang, kita sudah punya cucu sekarang." Ucap Alula, sambil tersenyum. Senyum wanita itu juga menular pada sang suami.
"Ya, nggak nyangka. Padahal, aku masih ingin punya anak lagi." Ucapan Gara sontak membuat Alula menatap sengit ke arahnya.
"Hehehe... Bercanda sayang." Kekeh Gara tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Cup...
Satu kecupan dipipi membuat Alula kembali melotot pada suaminya. Gara benar-benar tidak ingat umur dan tidak tahu tempat.
"Cantik sekali istri Gara ini." Ujarnya sambil mengusap pipi Alula.
"Gara apaan sih? Malu kalau dilihat orang nanti."
"Kenapa malu? Nggak ada yang lihat kita sekarang. Kalau pun ada yang lihat, palingan pelayan atau pengawal yang kebetulan lewat. Lagi pula, mereka hanya lihat, nggak berani berbicara."
"Terserah kamu saja. Aku mau melihat cucuku Meeya. Tadi dia berjemur di dekat kolam bersama Aurel."
"Ya sudah. Aku ikut!"
"Ayo!"
Pasangan suami istri itu pun bergegas menemui Meeya dan Aurel. Dan benar saja, Ibu dan anak itu masih berada di dekat kolam.
Alula mendekat ke Aurel yang sedang menggendong baby Meeya. "Baby Meeya, cucu nenek. Lagi berjemur ya, sayang?" Ujar Alula, sambil mengusap pelan pipi bayi mungil itu. Tangannya bergerak, dan bibirnya tersenyum, menampakkan gusinya.
"Ibu sama Ayah udah selesai jalan-jalannya?"
"Sudah." Jawab Alula. "Sini, Ibu gendong cucu Ibu." Aurel segera menyerahkan Meeya pada sang Ibu mertua. Terlihat, bagaimana sayang Alula pada cucunya.
Gara mendekat dan mengecup pipi bayi itu. Ia lalu menatap Aurel. "Kamu sudah sarapan?"
"Sudah, Ayah. Tadi, Darrel membawa sarapan untukku. Maaf tidak bisa sarapan bersama hari ini." Ucap Aurel. Tadi, dia tidak sempat sarapan bersama karena merasa pusing. Dia memilih tetap di kamar bersama Meeya, dan ditemani Asya.
"Nggak masalah. Kamu juga harus menjaga kesehatan diri kamu. Sesekali, biarkan Darrel yang menjaga Meeya di malam hari. Kamu juga harus memperhatikan kondisi tubuhmu." Ujar Gara.
__ADS_1
"Darrel juga menjaga Meeya di malam hari, Ayah. Aku yang memaksanya istirahat. Dia juga lelah bekerja seharian."
"Ayah kamu benar, Aurel. Bagaimana jika kamu sakit? Kamu akan berjauhan dengan Bayi cantik ini. Apa kamu mau?"
"Enggak, Bu."
"Mulai sekarang, jagalah kondisi tubuhmu. Jangan sampai kamu terlalu kelelahan. Kami tidak ingin menantu dan cucu kami sakit. Atau Ibu carikan pengasuh buat Meeya?"
"Enggak, Bu. Aurel mau merawat bayi Aurel sendiri. Aurel janji, akan jaga kondisi kesehatan Aurel." Ujar Aurel, yang mendapat anggukkan dan senyuman dari Ayah dan Ibu mertuanya.
Seorang pelayan datang dan sedikit menundukkan kepalanya pada ketiga orang tersebut.
"Maaf, tuan, nyonya, nyonya muda kedua. Di ruang tamu, ada tuan besar Zarfan dan nyonya besar Disa. Juga, ada dua orang lagi, laki-laki dan perempuan. Mereka datang bersama tuan besar dan nyonya."
Gara dan Alula saling berpandangan. "Kau pergilah! Kami akan menyusul." ujar Gara.
Pelayan tersebut segera undur diri. Alula mengembalikan Meeya ke gendongan Aurel. Mereka kemudian berjalan bersama menuju ruang tamu.
Deg...
Kaki Alula terhenti begitu melihat sosok tamu yang datang bersama Ayah dan Ibunya. Begitu juga dengan Gara dan Aurel yang ikut berhenti.
Dan tanpa berpikir panjang, ia langsung menghambur ke pelukan Kakaknya yang sedang duduk di sofa.
"Kak..." Setetes air mata jatuh dari mata Alula. "Kakak selama ini kemana saja? Apa Kakak masih marah dan membenciku? Kenapa Kakak pergi tanpa memberi kabar?" Ucap Alula. Dia memeluk erat Kakaknya, tanpa peduli dengan lelaki yang duduk di sisi Elisa.
"Alula... Maafkan aku." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Elisa. Ia seolah sulit berbicara. Air mata terus saja jatuh meski ia sudah berusaha menahannya.
"Kakak tidak ada salah padaku. Kita sudah saling memaafkan. Kenapa harus minta maaf lagi?"
"Ya, kamu benar. Tapi, aku salah karena sudah menghindar dari kalian."
Alula melepaskam pelukannya, kemudian beralih mengusap air mata Elisa. "Tidak masalah. Yang penting, Kakak sudah kembali sekarang." Ujar Alula, yang diangguki Elisa.
Gara dan Aurel sudah duduk bersama Zarfan dan Disa. Wajah Gara terlihat muram. Dia tidak masalah jika Elisa kembali. Tapi, Rendra juga kembali. Cemburu? Tentu saja dia cemburu. Rendra berada di kota yang sama dengan istrinya saja, dia cemburu. Apalagi Rendra yang kini berada di rumahnya? Dia sangat-sangat cemburu.
"Alula..."
__ADS_1
"Jangan panggil istriku!" Tegas Gara, saat Rendra ingin berbicara dengan Alula.
Alula langsung mengalihkan tatapannya pada Rendra. Terkejut? Ya, dia terkejut saat tahu di sebelah Elisa ada Rendra. Dia tidak sadar jika lelaki itu adalah Rendra.
Perlahan, Alula bergerak menjauh dari Elisa dan duduk di samping Gara. Tangannya bergerak memeluk lengan Gara. Entahlah, dia sudah tidak mengingat lelaki itu. Tapi, kenapa lelaki itu datang kembali.
"Ayah mertua, Ibu mertua. Maaf jika saya tidak sopan. Ayah dan Ibu boleh membawa Elisa. Tapi, Ayah dan Ibu tidak diizinkan membawa orang asing ke sini." Ujar Gara dengan tampang dinginnya. Aurel yang berada di sekitar orang-orang itu merasakan hawa-hawa tak bersahabat dari sang Ayah mertua.
"Nak..."
"Rendra suamiku." Elisa memotong ucapan Ayahnya sambil menunduk.
Gara dan Alula cukup terkejut. Dan beberapa detik kemudian, senyum miring muncul di bibir Gara. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan. Ucapannya mungkin ditujukan untuk Elisa dan Rendra. Tapi, akan menyakitkan untuk Ayah, Ibu dan Alula yang begitu menyayangi Elisa. Jadi, ia mengurungkannya.
"Aku kesini ingin meminta maaf pada Alula dan kau, Gara." Ujar Rendra. "Kesalahanku sangat banyak, teruma padamu, Alula. Aku hidup dalam penyesalan. Aku hanya ingin mendapatkan maaf dari kalian. Aku sungguh tidak berniat untuk mengganggu kalian."
"Setelah sekian lama, baru sekarang kau ingin minta maaf?" Sinis Gara.
"Seseorang membuatku berani untuk menemui kalian dan meminta maaf. Aku selalu ingin meminta maaf sejak dulu. Tapi, aku sangat malu bertemu kalian. Jadi, aku putuskan untuk menghilang dari hadapan kalian."
"Kenapa kau tidak menghilang saja untuk selamanya?"
"Sayang," Alula berbisik sambil mengusap lembut lengan Gara. Ia berusaha menenangkan sang suami yang terlihat mulai tidak bisa mengendalikan mulutnya. Tidak bisa Alula pungkiri, mulut suaminya cukup pedas saat mengatai orang.
Rendra hanya terdiam. Itulah konsekuensi yang harus ia terima. Yang ia harapkan sekarang hanya permintaan maafnya diterima dan dia bisa menjalani hidup bersama Elisa dengan restu dari keluarga wanita itu.
"Aku memang begitu terluka karena perbuatanmu. Tapi, aku juga tidak ingin orang lain hidup dalam luka dan rasa penyesalan mendalam. Aku memaafkanmu. Aku harap kamu tidak mengulangi hal yang sama pada Kakakku. Aku tidak punya hak melarangnya bersama mu. Tapi, aku berharap kamu mencintainya dengan sunguh-sungguh. Tidak hanya untuk mempermainkannya." Ujar Alula.
Gara menatap istriya. Dia heran, mengapa istrinya mudah sekali memaafkan Rendra. Rasa cemburu semakin bersarang di hatinya. Ia menyelipkan tangannya merangkul pinggang Alula.
"Saya ingin tahu, siapa yang membuatmu kembali?" Tanya Gara.
Rendra menatap Elisa, kemudian menatap Gara. "Istriku yang membuatku ingin kembali. Aku ingin hidup bersamanya selamanya dalam restu keluarga. Awalnya aku malu untuk meminta Elisa pada keluarganya. Tapi, seseorang menyadarkan ku dan membuatku berani melakukannya. Dia membuatku paham, jika aku terus bersembunyi dan menyembunyikan Elisa, aku hanya akan terus dianggap sebagai orang yang hanya bisa mempermainkan hati orang lain. Dia putramu, Darren. Lelaki dingin dan keras, yang membuatku paham cara mempertahankan Elisa dengan baik, tanpa menyakiti hatinya dengan menjauhkan dia dari keluarganya." Jelas Rendra. Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Elisa.
Gara terdiam. Jadi, putranya sendiri yang membawa Rendra dan Elisa kembali. Tapi, dia belum sepenuhnya percaya. Setelah Darren kembali nanti, dia akan bertanya langsung padanya.
Sementara Zarfan, ia sudah mengirim pesan pada Darren. Dia berharap, cucunya itu bisa mencairakan watak keras Gara dengan penjelasannya. Untuk saat ini, Alula mungikin tidak bisa membujuknya. Yang ada, Gara akan semakin cemburu dan tidak suka pada Rendra jika Alula membela Elisa dan Rendra.
__ADS_1
Ini salah Kakek terlalu gegabah membawa mereka datang tanpa mengabarimu. Cepatlah kembali, Darren. Batin Zarfan.