Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 121


__ADS_3

Acara pemakaman telah usai. Sebagian pelayat mulai kembali ke kediaman masing-masing. Carla menatap Darren yang terdiam menatap gundukan tanah tersebut. Matanya lalu beralih pada Doni yang terdiam. Mata anak itu memerah. Namun, tidak setetes pun air mata yang terlihat lagi.


"Darren," Panggilan Carla membuat Darren menatapnya. "Aku ingin membicarakan sesuatu."


Darren mengangguk. Ia lalu mengikuti Carla dan suami. Sementara Doni, anak itu berdiri diantara keluarga Darren. Dia berdiri tepat diantara Gara dan Edo.


"Doni, ayo pulang!" Ajak Gara.


"Aku masih mau disini, Kek." Ujar anak itu. Matanya tak lepas dari makam Kakek dan Neneknya.


"Kalian kembalilah ke mobil. Aku akan menanti Doni disini." Ujar Gara. Edo sedikit terkejut mendengar ucapan sahabatnya. Tapi, seulas senyum terukir di bibirnya. Ini sikap hangat yang Edo suka dari sahabatnya itu.


Sesuai ucapan Gara, semuanya kembali ke mobil, meninggalkan Gara bersama Doni disana.


Darren menatap Carla dan suaminya bergantian. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Aku nggak tahu, ini waktu yang tepat atau tidak. Tapi, aku harus menyampaikan nya. Ini pesan dari Papa. Papa ingin kamu dan Asya yang merawat Doni. Aku bukan ingin melepas tanggung jawabku pada Doni. Hanya saja, Doni nggak mudah akrab dengan orang lain. Aku yakin, Papa mengatakan ini karena Papa sudah memikirkannya dengan baik."


"Ya. Beliau sudah memberitahuku waktu itu. Aku akan mengurus surat-surat nya. Setelah dua hari, aku akan menjemput Doni pulang bersamaku ke negara A."


Mata Carla memanas mendengar ucapan Darren. Dia tidak bisa membendung air matanya. Tapi, ini adalah keputusan yang baik. Doni akan lebih baik jika tinggal bersama orang yang bisa dengan mudah berinteraksi dengannya.


Mata Carla menatap Doni yang berjalan ke arah mereka dengan digandeng Gara. Tidak ada tanda-tanda anak itu melepas genggaman Gara. Carla semakin yakin, jika Doni akan tumbuh lebih baik bersama Darren dan Asya.


Gara mengantar Doni pada Carla. Anak itu hanya diam seperti tadi.


"Terima kasih, Paman, sudah mau menemani Doni." Ujar suami Carla.


"Tidak masalah. Doni juga cucu saya."


"Terima kasih, Paman." Ucap Carla mendapat anggukkan Gara.


"Doni, Kakek pulang dulu. Jaga kesehatanmu." Ucap Gara, mengelus puncak kepala Doni. Anak itu hanya menatap Gara dan mengangguk. Gara menepuk pelan pundak Darren lalu bergegas menuju mobil.


"Aku juga akan pulang." Ucap Darren. Lelaki itu lalu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Doni "Papa pulang dulu. Kamu jaga kesehatan. Jangan lupa makan, oke?" Doni mengangguk.


Darren menghela nafasnya. "Papa ingin kamu tetap sehat. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai sakit. Semua akan sedih jika kamu sakit." Doni kembali menganggukkan kepalanya.


Darren lagi-lagi menghela nafasnya. Ada perasaan aneh saat melihat Doni tak menjawab ucapannya dan hanya mengangguk. Ia tidak suka anak itu menjadi pendiam seperti ini.


Darren kembali berdiri. Ia menatap Carla dan suaminya dengan tangan yang masih bertengger di kepala Doni.


"Aku titip putraku." Ujarnya, mengusap kepala Doni, lalu pergi.


Carla tertegun mendengar ucapan Darren. Dia dibuat terkejut saat Darren menyebut dirinya "Papa" tadi. Dan dia semakin terkejut mendengar Darren mengatakan "Putraku" barusan.


Carla mengusap kepala Darren. "Kamu masuk mobil dulu, ya? Mama mau ke makam Kakek Nenek lagi." Ujarnya, yang diangguki Doni.


***


Darren mendorong pelan pintu kamarnya, berusaha untuk tidak mengganggu tidur Asya. Namun, saat pintu terbuka lebar, ia tak melihat sosok wanitanya itu. Kata Aurel, Asya sedang tertidur. Tapi, kenapa istrinya itu tidak ada di ranjang mereka?


"Sayang!"

__ADS_1


"Asya!"


Darren mendekat ke kamar mandi. Ia mengetuknya, namun tidak ada jawaban. Darren mendorongnya dan masuk. Tapi, tetap saja tidak ada Asya.


"Asya! Sayang, kamu dimana?"


"Aku disini." Jawab wanita itu dengan tampang polosnya.


Darren menarik nafas dan langsung menghampiri istrinya yang berdiri di pintu. Ia meraih wanita itu dan memeluknya.


"Kamu dari mana?" Darren mengecup puncak kepalanya.


"Aku dari dapur. Aku haus banget. Jadi ke dapur."


"Kamu nggak tahu aku datang?"


Wanita itu menggeleng. "Mungkin aku lagi di kamar mandi dapur tadi."


Darren menarik nafasnya. Dia benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya dan calon bayi mereka.


"Ya sudah. Ayo, berbaring lagi." Darren melepas pelukannya dan beralih mengunci pintu. Dia lalu merangkul pinggang istrinya dan membawanya ke ranjang mereka.


"Sayang, aku nggak mau berbaring lagi." Ujar Asya, duduk di pinggir ranjang.


"Lalu?"


"Aku mau peluk."


Asya menatap wajah suaminya. Tangannya terangkat mengusap pipi Darren. "Apa kamu kelelahan?"


"Hanya sedikit."


"Biar aku pijatkan."


"Enggak. Kamu harus istirahat."


"Aku nggak apa-apa. Aku akan memijatmu."


"Sayang, kita tidur saja. Okey?"


"Tapi..."


"Aku ingin berbicara sesuatu sambil berbaring."


"Ya sudah. Ayo!"


Pasangan suami istri itu pun berbaring bersamaan. Asya berbaring berbantalkan lengan Darren. Tangannya ia lingkarkan di pinggang sang suami. Wajahnya tertempel pada dada bidang Darren. Begitu juga Darren. Lelaki itu melingkarkan tangannya di tubuh Asya. Sesekali ia mengecup puncak kepala wanita itu.


"Bagaimana keadaan Doni? Kamu pasti bertemu dengannya di pemakaman tadi kan?"


"Hmm... Dia baik-baik saja. Hanya saja, dia menjadi sangat pendiam."


"Kasihan sekali putraku."

__ADS_1


"Sayang,"


"Hmm?" Asya mendongak menatap suaminya.


"Kakek Doni menitip Doni pada kita. Dia ingin kita merawat Doni."


"Benarkah?"


"Ya. Sebelum dia meninggal, dia berpesan seperti itu padaku. Dia juga sudah memberitahu Carla. Dan kami sudah membicarakannya tadi."


"Aku senang mendengarnya, sayang. Aku siap merawat Doni."


"Aku juga senang. Aku sudah meminta orang-orangku untuk mengurus surat-surat resmi adopsi Doni. Setelah itu, aku akan menjemput Doni."


"Apa... Aku boleh ikut menjemput Doni nanti?"


"Boleh. Tapi, berjanjilah sesuatu."


"Apa?"


"Ikuti apa yang ku katakan. Dan jangan sampai kamu kelelahan."


Asya mengangguk antusias. Ia memeluk suaminya lebih erat lagi. Mencium-cium dada bidang Darren.


"Sayang, tidur!" Ujar Darren dengan suara beratnya.


"Aku sudah tidur tadi." Balas Asya santai, kembali mencium-cium dada sang suami.


"Jangan memancing, Asya. Aku sedang menahan diri agar tidak melukai calon anak kita."


"Aku sedang tidak memancingmu. Kamu saja yang berpikiran mesum. Ya sudah, tidur saja."


Asya menunjukkan ekspresi cemberutnya, melepaskan pelukannya, kemudian berbalik membelakangi Darren.


"Sayang..."


"Jangan memancing! Aku sedang nggak ingin marah-marah." Ucap Asya, mengulang ucapan Darren saat merasakan sentuhan tangan lelaki itu di lengannya.


Darren yang mendengarnya meneguk ludah. Ia merasakan jika istrinya serius kali ini. Tapi, bukan Darren jika ia tidak bisa memeluk kembali Asya.


Dengan perlahan, ia bergeser lebih dekat pada istrinya.


"Nggak usah geser-geser! Panas!" Asya berucap ketus.


"Yakin panas?" Bisik Darren tiba-tiba, tepat di telinga Asya. Membuat wanita itu merinding.


"Y-yakin."


"Baiklah. Berarti kamu lupa dengan janjimu barusan. Aku masih ingin dipeluk. Tapi, kamu menolakku. Kalau begitu, nggak ada acara ikut-ikutan jemput Doni." Ujar Darren sambil menjauhkan tubuhnya dari Asya, dan melipat kedua tangannya di dada.


Mendengar itu, Asya dengam cepat berbalik. Ia melepaskan tangan Darren yang bersidekap dan masuk dalam pelukan hangat lelaki itu.


"Kita tidur sambil pelukan." Ujar Asya sambil menyengir. Membuat Darren terkekeh akan tingkah istrinya ini.

__ADS_1


__ADS_2