Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 140


__ADS_3

Decitan pintu yang di dorong Darren membuat Asya menoleh. Wanita itu berdiri di samping ranjang si kembar, sedang mengamati kedua anaknya yang tertidur.


"Kenapa belum tidur?" Darren mendekat dan merangkul pundak Asya. Ia mengecup kepala Asya sekali lalu ikut menatap si kembar.


"Aku belum mengantuk." Asya mengulurkan tangannya mengelus pipi Alan dan Alena. "Lucu ya, mereka?"


Darren mengangguk sambil tersenyum. Laki-laki itu kembali menatap Asya, dan lagi-lagi mengecup kepala istrinya. "Terima kasih."


"Untuk apa?" Asya menatap Darren. Ia sedikit mendongak karena perbedaan tinggi mereka.


"Untuk semuanya. Untuk kehadiranmu di hidupku. Untuk kamu yang mau memilihku menjadi suamimu. Dan untuk kamu yang bersedia melahirkan anak-anakku."


Mata Asya berkaca-kaca mendengar penuturan Darren. Tangannya yang semula bertengger di sisi ranjang si kembar berpindah memeluk Darren. Ia memeluknya erat dan membenamkan wajahnya di dada Darren.


"Aku juga berterima kasih karena kamu sudah mau menjadi suamiku. Sudah mau memberi yang terbaik untukku."


Darren tersenyum tipis mendengarnya. Pelukannya semakin erat. Dia sangat mencintai wanita yang ada dalam pelukannya ini. Wanita yang menjadi sahabatnya, istrinya dan juga Ibu dari anak-anak nya. Tidak ada hal yang mampu menggambarkan bagaimana rasa cintanya.


"Aku harap kita selalu bersama seperti ini hingga akhir hidup kita." Ucap Asya.


"Kita pasti akan terus bersama hingga akhir." Ucap Darren.


Di tengah keharuan antara Darren dan Asya, tiba-tiba Alan mengerang kecil. Asya maupun Darren sama-sama melepas pelukan mereka. Ketika Asya hendak menyentuhnya, erangannya berubah menjadi tangisan.


"Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk..." Tangisan Alan memekik. Asya dengan segera mengangkatnya dan menggendongnya.


"Cup... Cup... Cup... Anak Mama. Alan tampan, jangan nangis nak."


"Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk..."


"Alan lapar, ya? Ayo, Mama susu in." Asya segera membawa Alan ke ranjang. Wanita itu memangkunya, kemudian mulai menyusuinya.


Darren ikut duduk di samping Asya yang sedang menyusu. Tatapannya jatuh pada Alan yang begitu semangat menyusu pada Asya.


"Rakus banget anak Papa." Darren mengelus pipi Alan. Tiba-tiba, Alena terbangun dan menangis. Tanpa disuruh Asya, Darren bergegas menuju ranjang Alena dan menggendongnya. Ia membawa putrinya itu duduk bersama Asya dan Alan.


"Putri Papa juga lapar, ya? Tunggu Alan nya selesai dulu ya, baru Alena?" Ucap Darren. Namun, ucapannya tak berpengaruh apa-apa pada Alena.

__ADS_1


"Oeeekk... Oeeekk... Oeeekk..."


"Sayang, Alan nya udahan dulu. Kasihan Alena."


"Iya." Balas Asya. "Alan sayang, Alan udahan ya? Giliran Alena Mama susu in." Asya menjauhkan Alan dari dadanya yang sontak membuat anak itu kembali menangis. Alena juga masih menangis. Hingga penuhlah kamar Asya dan Darren dengan tangisan kedua bayi itu.


"Ayo, Alena sini sama Mama." Asya membaringkan Alan dengan hati-hati, lalu meraih Alena dari Darren. Setelah Alena berpindah ke Asya, Darren menggendong Alan lalu berjalan-jalan pelan dalam kamar. Laki-laki itu menggumamkan nyanyian yang tidak jelas. Tapi, mampu membuat Alan berhenti menangis. Alena juga berhenti menangis karena disusui Asya.


Asya yang melihat pemandangan suaminya menenangkan Alan dengan begitu lembut pun tersenyum. Darren tidak pernah gagal membuatnya untuk terus jatuh cinta.


***


Asya, Aurel dan Alula sedang berjemur bersama ketiga bayi mungil itu di dekat kolam. Meeya dalam strollernya, dengan Aurel yang mengawasinya, sementara Alan dan Alena digendong Asya dan Alula.


"Alan sama Alena semalam rewel, Sya?"


"Iya. Tapi, pas disusu in berhenti rewelnya."


Aurel terkekeh pelan. "Semalam Meeya juga rewel. Malah nangisnya makin kenceng pas dengar Alan sama Alena nagis." Ucapnya masih terkekeh.


Alula yang mendengarnya hanya menggeleng karena tingkah kedua menantunya.


"Oh ya, Bu. Dulu Darren sama Darrel waktu bayi gimana sih? Rewel nggak?" Asya menatap Ibu mertuanya. Aurel juga ikut menatapnya, penasaran bagaimana suaminya waktu bayi dulu.


"Dulu Darren sama Darrel juga rewel. Darren yang paling rewel."


"Kok Darren?" Heran Asya dan Aurel bersamaan. Dalam pikiran keduanya, Darrel lah yang paling rewel.


"Pasti kalian berdua mikirnya Darrel yang paling rewel?" Asya dan Aurel mengangguk. "Bukan Darrel, tapi Darren. Darren waktu bayi, rewelnya kelewatan. Darrel juga rewel tapi nggak separah Darren. Saat usia mereka satu tahun, dua-duanya berhenti rewel. Tapi mereka jadi anak yang aktif. Nah, pas usia 3 tahun, kelihatan sudah si Darren yang pendiam sama Darrel yang super aktif. Dan sampai sekarang, seperti yang kalian lihat."


"Hehehe... Suamiku dari usia 3 tahun sampai sekarang, masih aktif aja. Nggak berubah-berubah." Kekeh Aurel.


"Hehehe... Iya. Tapi, gimana ya kalau Darren tetap rewel kayak masih bayi. Pasti lucu. Mukanya dingin tapi cerewetnya minta ampun." Ucap Asya yang mengundang tawa Aurel dan Alula.


Sementara di Grisam Group, Darren sedang berkutat dengan beberapa dokumen. Setelah hampir dua minggu Darren tidak masuk kerja, hari ini lelaki itu kembali bekerja.


Iwan cukup bisa diandalkan. Tapi, Darren tetaplah Darren. Dia tidak mudah percaya pada orang yang baru ia kenal. Dia tidak mudah menyerahkan pekerjaannya pada Iwan.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


Pintu diketuk dan didorong begitu saja. Tanpa Darren melihatnya, ia sudah tahu, siapa yang menemuinya sekarang. Pasalnya, orang itu mengirim pesan padanya tadi.


"Pekerjaan mu menumpuk?" Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Darren. Semenjak Jiyo pindah, hanya mereka berdua yang sering berbincang bersama.


"Hmmm... Seminggu kemarin, aku fokus sama Alan Alena."


"Ya. Kamu seharusnya begitu. Kasihan Asya, harus mengurus Alan Alena. Aurel saja yang hanya Meeya, kerepotan saat putriku itu rewel. Apa lagi Asya?"


"Ya, kamu benar." Balas Darren. Ia masih fokus dengan pekerjaannya.


"Oh ya, Darren. Aku rasa, akhir-akhir ini Ayah sering keluar. Nggak seperti biasanya yang suka nempel sama Ibu."


Darren menghentikan pekerjaannya dan menoleh pada Darrel. "Ayah ke rumah Nenek Axel." Balas Darren.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Aku meminta seseorang mengawasi Ayah."


"Waaahhh, aku nggak nyangka kamu begitu sama Ayah. Kalau ketahuan, dimarahi Ayah kamu."


"Ayah nggak akan marah. Aku juga bukan menguntit karena berpikir negatif pada Ayah. Tapi, aku khawatir sama Ayah."


"Ya. Kamu benar. Tapi, ada apa sama Nenek Axel?"


"Aku juga nggak tahu."


"Ck. Somoga Nenek tua itu baik-baik saja." Gumam Darrel. "Oh ya, siang nanti aku makan siang di rumah." Lanjutnya.


"Aku juga."


"Ya sudah, barengan saja." Ucap Darrel semangat. Laki-laki itu tersenyum senang. Jujur, dia sedang malas menyetir. Tapi, dia sangat ingin makan siang di rumah, sekalian ketemu istri dan anaknya. Dan kebetulan, Darren juga akan makan siang di rumah. Jadi, dia menumpang saja pada Darren.


"Pakai mobil masing-masing." Balas Darren datar, yang langsung membuat senyum Darrel memudar.


"Ck. Dasar manusia dingin!" Gumam Darrel tak jelas. Angan-angannya untuk menikmati perjalanan pulang tanpa harus menyetir, lenyap seketika karena perkataan Darren.

__ADS_1


__ADS_2