Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 143


__ADS_3

Sudah hampir tiga puluh menit waktu berjalan sejak bel masuk kelas, kursi yang biasa Axel tempati masih saja kosong. Terhitung sudah 5 kali Alisha menatap ke luar kelas. Namun, seorang Axel belum juga muncul.


Apa hari ini Axel nggak sekolah lagi?


Meskipun mengatakan jika dia sudah tidak peduli dengan Axel, tetap saja rasa khawatirnya pada laki-laki itu terus ada. Entah kenapa, akhir-akhir ini Axel sering absen. Dan itu membuat perasaannya tak enak.


Bel istirahat berbunyi menandakan pelajaran di waktu itu selesai. Yana mendekati Alisha yang sepertinya tidak ingin keluar kelas.


"Sha, Nadia ada cerita nggak sama kamu, kalau dia nggak sekolah hari ini?" Yana duduk di kursi sebelah Alisha.


"Enggak, Yan. Kenapa?"


"Enggak. Aku heran aja, semalam sekitar jam 8 gitu, kita lagi chattingan nih, tapi dia nggak cerita kalau nggak masuk sekolah hari ini."


"Semalam dia nggak chat aku, Yan," balas Alisha.


"Ada apa nih?" Hardi datang dan berdiri di samping Alisha. Tangannya menarik kursi dari meja sebelah dan mendudukinya. "Kalian serius banget. Ngomongin apa?"


"Ini, si Nadia nggak ngasih kabar kalau dia nggak masuk sekolah."


Benar. Aku nggak sadar kalau Nadia nggak masuk hari ini. Pantas saja kursi kosong dua.


Tapi....


"Kalian bilang Nadia nggak sekolah dan nggak kasi kabar juga?" Alisha dan Yana mengangguk bersamaan. Hardi terdiam. Ia tiba-tiba teringat dengan pesan dari nomor yang tak ia kenal beberapa hari lalu.


Diantara 5, 4 jadi incaran. Abaikan yang 1, fokus ke yang 3. Itu pesan yang gue dapat waktu itu. Apa jangan-jangan itu peringatan buat gue?


"Hardi?" tepukan Alisha di pundaknya membuat Hardi sadar dari pikirannya.


"Hah?"


"Kamu mikirin apa sih?" celetuk Yana.


"Enggak." Laki-laki remaja itu menggeleng. "Lo berdua tahu nggak alamat rumah Nadia?"


Alisha dan Yana saling menatap dengan kerutan di kening yang terlihat jelas di wajah keduanya. Mereka lalu menoleh pada Hardi dengan tatapan menyelidik.


"Ayo... Mau ngapain kamu ke rumah Nadia?" tanya Alisha.


"Mama sama Papa Nadia lagi di luar kota. Nadia hanya sama pelayan. Awas kamu kalau kesana mau macam-macam!" ucap Yana.


"Ck. Gue nggak ngapa-ngapain. Cuman mastiin kalau Nadia nggak apa-apa."


"Iya juga sih. Kita sebaiknya mastiin Nadia baik-baik saja di rumahnya," kata Alisha.


"Ya udah. Setelah pul—"


Drrttt... Drrttt... Drrttt...


Belum sempat Yana menyelesaikan ucapannya, handphone Alisha bergetar. Yana menghentikan ucapanya dan memilih memperhatikan Alisha yang menjawab telpon.

__ADS_1


"Hallo, Yah."


"Nak, pak supir jemput kamu sekarang. Mungkin udah di depan sekolah. Ayah sudah izinin kamu sama kepala sekolah."


"Loh? Kenapa, Yah? Apa terjadi sesuatu sama keluarga kita?"


"Nenek Axel meninggal."


Deg...


Alisha terdiam. Begitu juga dengan Yana dan Hardi. Keduanya terdiam dengan ekapresi mata membola karena terkejut.


"Be–benaran, Yah?"


"Iya, sayang. Ini masalah serius. Papa nggak mungkin main-main soal kematian."


"I–iya, Yah. Alisha tunggu supirnya."


"Iya, Nak. Ayah matikan dulu telponnya."


"Iya, Yah."


Setelah telpon tersebut dimatikan Gara, Alisha langsung mendapat serangan pertanyaan dari Yana dan Hardi.


"Nenek nya Axel meninggal?" tanya Yana dan Hardi bersamaan.


"Iya," jawab Alisha lemah.


Yana berdecak mendengar pertanyaan Hardi. Gadis itu memutar malas bola matanya. "Nggak usah tanya yang aneh-aneh deh."


"Aneh gimana?" Hardi tak mengerti.


"Udah, kalian jangan ribut. Aku pulang duluan. Supirku sudah tungguin di depan."


"Hati-hati, Sha."


"Iya." Gadis itu meraih tas nya lalu keluar dari kelas. Ia cukup terkejut saat melihat Kenan dan Ben berdiri di depan kelasnya.


"Paman?" Alisha mendekati kedua laki-laki itu. Situasi macam apa ini sampai kedua pamannya, orang kepercayaan sang ayah menjemputnya.


"Paman Kenan sama Paman Ben jemput Alisha?"


"Iya, nona. Tuan minta kami menjemput nona," jawab Ben.


"Kita akan ke rumah Axel?"


"Ke pemakaman, nona," jawab Kenan.


"Ya sudah, ayo paman!"


Alisha, Kenan dan Ben berjalan beriringan menuju parkiran sekolah. Banyak pasang mata yang menatap mereka. Hingga akhirnya, mereka tiba di parkiran. Supir segera melajukan mobilnya setelah Alisha dan dua orang kepercayaan Gara itu duduk aman dalam mobil.

__ADS_1


***


Alisha, Kenan dan Ben menyusuri jalan menuju makam Nenek Axel. Dari kejauhan, dapat Alisha lihat sekelompok orang yang berdiri mengelilingi makam tersebut.


Langkahnya semakin ia percepat saat melihat Axel duduk jongkok di samping makam sang nenek. Laki-laki remaja itu hanya terdiam. Dia sama sekali tidak menangis. Hanya raut sedih yang nampak dari wajah lelaki itu.


Alisha menyentuh pelan bahu Axel. "Axel," panggilnya membuat lelaki itu menoleh. Spontan ia berdiri dan memeluk Alisha.


"Gue bodoh, Sha!! Gue nggak dengar apa kata nenek!! Gue bukan cucu yang baik. Gue pergi di saat nenek butuh gue. Gue—"


"Ini bukan salah kamu, Xel. Ini takdir Tuhan." Alisha balas memeluknya.


Semua yang menyaksikan itu terdiam. Mereka juga merasa lega melihat Axel menangis dan berbicara.


"Ternyata keputusanmu menyuruh putrimu kesini tepat, Gara. Putraku bisa menunjukkan emosinya atas peristiwa ini. Aku sangat takut terjadi sesuatu pada putraku. Terima kasih," ucap Arya.


"Sama-sama," balas Gara.


"Jangan ragukan Gara saat mengambil keputusan. Sahabatmu ini sangat pandai dalam hal itu," timpal Edo sambil menepuk pelan pundak Gara.


Axel masih terus memeluk Alisha. Ia berhenti berbicara, namun air matanya terus menetes. "Maafin gue, Sha," gumam Axel pelan.


Alisha terdiam. Sepertinya ia enggan membahas soal masalah antara dia dan Axel.


"Kita sudah cukup lama. Ayo, pulang dulu." Mama Axel menatap suaminya. Saat mendapat anggukkan dari sang suami, ia menepuk pelan punggung putranya yang masih memeluk Alisha.


"Ayo, kita pulang dulu," ucapnya lembut.


Axel mengangguk dan melepas pelukannya. Saat ia mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan mata Darren lalu Darrel. Dua Kakak Alisha itu terus menatapnya. Ia memutus kontak mata mereka dan tak sengaja menatap Gara dan Alula.


"Ayo, Nak! Kita pulang sama-sama." Suara lembut Alula membuat Axel spontan mengangguk. Mereka kemudian sama-sama ke parkiran dan kembali ke rumah masing-masing.


Dalam mobil, Alisha hanya terdiam. Dia terus memikirkan ucapan Axel yang menyalahkan dirinya sendiri atas kematian sang nenek. Ia menatap Ayahnya yang duduk di jok depan.


"Yah, memangnya kapan nenek Axel meninggal?" tanyanya.


"Tadi, sekitar jam 8."


"Kenapa Axel nyalahin dirinya sendiri? Kemana dia pergi? Dia sangat jarang meninggalkan nenek sendiri. Dia juga sering absen ke sekolah akhir-akhir ini," gumam Alisha. Gara maupun Alula mendengarnya. Hanya saja mereka diam tak menjawab.


Alisha meraih handphonenya hendak mengirimkan pesan pada Axel. Namun, ia baru sadar jika semua akses untuk menghubungi Axel diblokir oleh remaja laki-laki itu.


Sudahlah. Aku akan menghubungi Axel nanti saja saat sampai di rumah.


"Ayah, kita mampir ke tempat jualan sim card ya?"


"Lho, bukannya kamu udah punya sim card ya, Nak?" Alula menatap putrinya lalu mengusap-usap lembut rambut Alisha.


Gadis itu bergeser mendekat ke Ibunya kemudian memeluk Alula. "Axel sama Alisha marahan waktu itu. Semua akses buat hubungi Axel diblokir. Jadi, Alisha mau telpon Axel pakai nomor baru," bisik Alisha pada Ibunya.


Alula tersenyum tipis mendengar ucapan putrinya. Ia kembali mengusap pelan rambut Alisha kemudian mengangguk, mengiyakan ucapan sang putri.

__ADS_1


Sementara di jok depan, Gara terus memperhatikan istri dan anaknya yang sedang berbisik dan saling berpelukan.


__ADS_2