Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 105


__ADS_3

Darren duduk diam di dalam ruangannya. Ia masih saja memikirkan ucapan Darrel waktu itu. Ia belum sempat memberitahu Asya tentang niatnya untuk membawa Asya bulan madu.


"Asya belum tentu mau jika aku ajak bulan madu. Dia pasti mengatakan ingin pergi bersama Darrel dan Aurel. Apa aku bawa saja dia tanpa harus memberitahunya?" Gumam Darren.


Tok... Tok... Tok...


Suara pintu yang diketuk tak membuat Darren menoleh. Dia sudah bisa menebak, siapa yang datang.


"Masuk!"


Jiyo berjalan cepat mendekati Darren. "Permisi, tuan muda. Ada berkas yang harus anda tanda tangani." Jiyo menyodorkan sebuah berkas pada Darren.


Darren meraihnya, dan membacanya sejenak. Setelah itu, ia menandatanganinya dan mengembalikan pada Jiyo.


"Jiyo!"


"Ya, tuan muda?"


"Duduklah! Aku ingin bertanya sesuatu padamu."


Jiyo sedikit bingung. Meski begitu, ia tetap menurut apa yang Darren katakan. Ia mendekati sofa dan duduk disana.


"Ada apa?" Tanya Jiyo.


"Bagaimana menurutmu jika aku membawa Asya bulan madu, tapi tanpa persetujuannya?"


Jiyo sedikit terkejut mendengar Darren menanyakan pendapatnya. Tidak biasanya dia meminta pendapat Jiyo mengenai masalah pribadinya.


"Kau meminta pendapatku?" Hilang sudah rasa hormat Jiyo sebagai sekretaris kepada atasannya. Ia merasa besar kepala saat Darren meminta pendapatnya.


"Ck. Aku serius, Jiyo!" Jawab Darren, datar.


"Ya, ya. Aku tahu. Kau ini, nggak bisa diajak bercanda." Ucapnya, setengah kesal. "Menurutku, beritahu saja Asya. Kenapa harus membawanya tanpa sepengetahuan dia? Jangan sampai dia marah."


"Asya tidak mau bulan madu jika Darrel dan Aurel tidak ikut bulan madu. Menurutnya itu tidak baik karena bisa mengundang rasa cemburu."


"Ck. Asya terlalu berlebihan saat berpikir."


"Aku harus bagaimana?"


"Emm... Aku juga agak bingung. Tapi... Tunggu dulu! Bukan kah kamu punya tante yang tinggal di luar negeri?"


Sorot mata Darren menajam saat Jiyo menyinggung tantenya. Dia tidak tahu, bagaimana Jiyo tahu tentang tantenya.


"Bagaimana kau tahu?"


"Hehehe... Aku dengar dari Darrel."


"Lalu?"


"Eemm... Menurutku, kau bawa saja Asya dengan alasan tante mu ingin bertemu dengannya. Bukankah selama ini, tante mu nggak pernah bertemu kalian? Sudah sangat lama kan?"


"Kau tahu banyak soal itu." Sorot mata tajam Darren tak pernah lepas dari Jiyo. Dia seperti melihat sesuatu yang disebunyikan sekretarisnya itu.


"Hehehe... Aku... Ck. Aku akui, aku mencaritahu tentang tante mu. Waktu aku ke negara D bersama pamanku, kami nggak sengaja bertemu dengannya. Awalnya aku nggak tahu, dia tante mu. Tapi, setelah ku cari tahu, dia adalah anggota keluarga tante Alula."


"Untuk apa kau cari tahu?" Darren merasa kesal. Meski Elisa pernah bersikap buruk pada Ibunya dulu, wanita itu tetap tantenya. Dan yang terpenting, wanita itu sudah berubah. Walau sekarang dia menghilang begitu saja.


"Pamanku menyukainya. Jadi, aku mencaritahu tentangnya. Tapi, sayang sekali. Tantemu itu tidak suka, dan menolaknya tegas."


"Berikan aku alamatnya!"


"Ck. Jangan membodohiku! Aku tahu, kau dan Darrel tahu dimana tante mu itu. Tapi, kalian menyembunyikan nya dari keluarga kalian."


Darren terdiam. Yang Jiyo katakan benar. Dia dan Darrel sepakat untuk menyembunyikan keberadaan Elisa. Bukan tanpa alasan. Itu karena mereka mendengar sendiri apa yang Elisa katakan melalui alat penyadap yang mereka pasang tanpa sepengetahuan Elisa. Waktu itu, Elisa mengatakan soal dirinya yang enggan bertemu keluarganya pada sahabatnya. Wanita itu juga tidak tahu, jika Darren dan Darrel pernah ada di dekatnya.


Jiyo menggeleng pelan, membuat Darren mengernyit. "Ada apa?"


"Bukan apa-apa. Aku hanya nggak habis pikir. Tante mu itu, sangat cantik. Tidak beda jauh dari tante Alula. Jika dia nggak keberatan, aku mau..."

__ADS_1


"Jangan macam-macam, Jiyo!" Tegas Darren.


"Ck. Kau ini. Apa yang kau katakan? Aku nggak macam-macam. Aku hanya berharap, jika dia nggak keberatan, aku mau melamarnya untuk pamanku yang lain. Kan bisa mempererat hubungan kita."


"Kau sangat pandai berkilah."


"Hehehe... Kau ini. Selalu saja berpikir buruk padaku. Sudahlah! Itu pendapatku. Bawalah Asya ke negara itu. Dia tidak tahu juga nggak masalah. Kau bisa beralasan jika ingin mempertemukannya dengan tantemu. Atau alasan lainnya, kamu pikirkan saja." Ucap Jiyo. "Kalau begitu, aku keluar dulu." Jiyo beranjak dan hendak keluar. Namun, panggilan Darren membuatnya kembali menoleh.


"Jiyo!"


"Ya?"


"Thank's."


Jiyo tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Selamat menikmati hari-hari mu disana nanti." Balas Jiyo, lalu keluar.


***


Hari-hari berganti. Setelah mendengar pendapat Jiyo dan menanyakan pendapat Darrel ditambah dukungan Aurel, Darren memutuskan untuk membawa Asya, tanpa sepengetahuan wanita itu. Dia juga memberitahu Ayah dan Ibunya dengan alasan membawa Asya liburan. Tidak sedikitpun ia menyinggung tentang Elisa. Keduanya sangat setuju. Mereka juga merahasiakan hal itu dari Asya, sebagai kejutan untuknya.


"Sayang, nanti aku ke kantor kamu, ya? Kita makan siang bersama." Ucap Asya, saat mobil melaju menuju Yunanda Group.


"Nggak perlu! Kita makan siang di kantor kamu."


"Baiklah." Jawab Asya.


Darren tersenyum dan meraih tangan Asya. Ia mengecupnya dengan penuh sayang. Hal itu membuat Asya tersenyum manis ke arahnya.


Setelah beberapa menit, mobil Darren tiba di Yunanda Group. Seperti biasa, Darren mengecup kening dan bibir Asya sebelum wanita itu meninggalkannya, masuk ke Yunanda Group.


Darren melajukan mobilnya menuju Grisam Group, sambil menghubungi orang-orangnya untuk mempersiapkan keberangkatannya bersama Asya nanti.


Setelah tiba di Grisam Group, Darren langsung memulai pekerjaannya. Ia tidak ingin pekerjaannya menumpuk saat ia berlibur nanti. Meski Jiyo bisa diandalkan dan akan ada Darrel yang kembali bekerja besok, ada beberapa hal yang tidak seharusnya diurus oleh mereka.


Darren terus fokus pada pekerjaannya. Beruntung itu hanya sisa dari pekerjaannya semalam. Hingga ia bisa menyelasikkan semuanya hari ini.


"Kau akan pergi?" Jiyo bertanya saat melihat Darren keluar.


"Ya. Jangan lupa, bereskan berkas-berkas penting di meja. Minta seseorang untuk membersihkan ruangan. Kau tetap ada didalam sebelum mereka selesai membersihkannya."


"Tenang saja. Serahkan semuanya padaku." Darren mengangguk. Jiyo mendekati Darren dan menepuk bahunya. "Sampaikan salamku pada tante mu saat kalian bertemu nanti." Lanjut Jiyo.


"Ck. Kau ini!" Darren menunjukkan wajah datarnya. Tapi, beberapa detik kemudian, ia tersenyum tipis. "Akan aku sampaikan." Lanjunya, sedikit bercanda. Hal itu membuat Jiyo terkekeh pelan.


"Ternyata Asya membawa efek besar dalam dirimu."


"Ya. Aku harus pergi sekarang."


"Berhati-hatilah."


Darren mengangguk dan segera meninggalkan Jiyo. Lelaki itu terus menatap ke arah Darren. Hingga pintu lift tertutup, Jiyo baru memasuki ruangan Darren.


Setelah mengkonfirmasi semua persiapan keberangkatannya bersama Asya saat di parkiran Yunanda Group, Darren langsung menuju ruangan sang istri.


Asya yang sudah menunggu sejak tadi langsung berhambur ke pelukan Darren. Lelaki itu dengan senang hati membalas pelukan istrinya.


"Ada apa? Hmm? Sepertinya, kamu sangat senang?" Tanya Darren, meregangkan pelukan mereka dan menatap wajah sang istri. Tangannya bergerak menyelipkan anak rambut Asya ke belakang telinga.


"Ya, aku sangat senang. Tadi, Carla memberitahuku jika dia akan menikah. Calon suaminya sudah melamarnya. Seminggu lagi acara resmi pertunangan mereka."


"Dia yang akan menikah, kenapa kamu yang begitu bahagia?"


"Tentu saja aku bahagia. Karena saat dia menikah nanti, kita pasti diundang. Kita akan pergi dan bertemu Doni."


"Kita bisa ketemu Doni kapan saja. Bukan hanya karena pernikahan perempuan itu."


"Benarkah?"


"Ya."

__ADS_1


"Tapi, jika Carla menikah, bagaimana dengan Doni? Carla akan ikut suaminya. Bagaimana jika kita bawa Doni bersama kita? Kita sudah menganggapnya sebagai anak kan? Kita tinggal urus dokumen resmi untuk mengangkatnya menjadi anak."


"Aku mungkin akan setuju. Tapi, masih ada Kakek dan Nenek Doni. Kita nggak bisa memisahkan mereka begitu saja. Semuanya butuh persetujuan mereka." Asya berwajah lesu mendengar ucapan Darren. Tapi, yang suaminya katakan itu tidak salah.


"Tapi... Aku akan coba bicara dengan Kakek dan Nenek Doni nanti."


Asya tersenyum dan kembali memeluk Darren. Kali ini lebih erat dari sebelumnya. Membuat Darren tersenyum tipis, lalu membalas pelukannya.


"Makasih, sayang." Ucap Asya.


"Ya."


"Ayo, kita makan dulu. Aku sudah siapin makanannya."


Darren mengangguk. Keduanya lalu menuju sofa. Disana ada meja yang di atasnya sudah terhidang makanan.


"Ini, coba yang ini. Kamu pasti suka." Asya meletakkan makanan yang diambilnya ke piring Darren. Lelaki itu lagi-lagi tersenyum tipis.


"Sayang!" Panggilan Darren, membuat Asya menatapnya.


"Apa, sayang? Kamu nggak suka makanannya?"


Darren menggeleng. "Aku mau minta susuatu sama kamu." Kening Asya langsung mengerut mendengar itu. Tidak biasanya Darren seperti ini.


Sementara Darren, lelaki itu sudah membulatkan tekadnya untuk memeberitahu sang istri tentang kepergian mereka hari ini. Ia mengubah rencananya. Meskipun tidak dengan alasan sebenarnya, setidaknya dia memberitahu Asya.


"Kamu mau minta sesuatu sama aku?"


"Ya. Aku mau minta kamu temani aku ketemu tante Elisa."


Asya menghembuskan nafasnya. Dia pikir, Darren akan meminta sesuatu yang aneh-aneh.


"Sayang, kenapa harus minta-minta segala? Cukup katakan jika kamu ingin pergi bersamaku, dan aku akan menemani kamu kapan pun, dan dimana pun."


"Sungguh?"


"Iya."


"Tante Elisa ada di negara D."


Asya langsung terdiam mendengarnya. Negara D, cukup jauh. Tapi, itu tidak masalah. Ia akan tetap menemani suaminya.


"Nggak masalah. Aku akan tetap bersamamu." Ucap Asya. Darren mendekat dan mengecup bibirnya.


"Terima kasih." Ucap lelaki itu.


"Iya. Tapi, kapan berangkatnya? Dan kenapa aku nggak tahu kamu punya tante bernama Elisa?"


"Hari ini."


"Hari ini?"


"Ya. Setelah makan siang."


"Kenapa hari ini? Kita nggak ada persiapan sama sekali."


"Aku sudah mempersiapkan semuanya."


"Kamu sudah merencanakannya?"


"Apa kamu nggak mau pergi bersamaku?" Asya terdiam.


"Ada masalah yang terjadi antara tante Elisa dan Ibu, dulu. Setelah mereka berbaikan, tante menghilang begitu saja. Tidak satupun tahu dimana keberadaan tante kecuali aku dan Darrel. Awalnya kami ingin memberitahu Ibu, Kakek dan Nenek. Tapi, setelah mendengar ucapan tente yang tidak ingin bertemu keluarganya, kami memutuskan untuk tidak memberitahu siapapun. Aku dan Darrel berada di sekitar tante tanpa sepengetahuan nya."


"Karena tante bahagia disana, kami memutuskan untuk fokus pada diri kami masing-masing. Aku mengajakmu pergi agar kamu mengenal tante. Mungkin saja, dia akan luluh saat melihat kita dan mau kembali. Atau setidaknya, mau berhubungan lagi dengan keluarga kita."


Asya terdiam lama sambil memasang telinga mendengarkan ucapan Darren. Ia lalu menatap mata sang suami. Ada harapan di mata itu. Seulas senyum muncul di bibirnya.


"Baiklah. Kita berangkat hari ini." Ucapnya, yang langsung membuat Darren tersenyum dan memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2