Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 152


__ADS_3

"Maaa!!" teriakan menggelegar memenuhi dapur rumah Jiyo. Laki-laki itu baru saja kembali dan membuat kehebohan.


"Maaa!!"


"Apaan sih teriak-teriak, Nak?" tanya Mama Jiyo, Ratna.


"Mama." Jiyo langsung memeluk erat tubuh Mamanya, membuat wanita itu mengerutkan kening heran.


"Ini ada apa, Jiyo? Mama penasaran lho ini."


Jiyo meregangkan pelukannya dan menatap sang Mama. "Nita terima lamaran Jiyo, Ma."


"Hah? Serius kamu?"


"Iya, Ma. Serius!"


"Aaaa... Mama ikut senang, Nak." Gantian Ratna yang memeluk putranya. Wanita itu merasa bahagia mengetahui perjuangan putranya yang tak sia-sia.


"Terus, rencananya kapan lamaran resminya diadakan?"


"Setelah tente Fida diizin pulang sama dokter. Kata dokter, lihat perkembangan tante tiga hari kedepan. Kalau udah nggak apa-apa, tante pulang nya cepat."


"Ya Tuhan, Mama udah nggak sabar. Mama suka sedih lho lihat bu Alula sama bu Irene main sama cucu-cucu mereka. Mama juga pengen main sama cucu Mama."


"Ya sabarlah, Ma. Lamaran aja belum, gimana mau langsung punya cucu."


"Hehehe... Iya iya. Mama tahu kok," ucap Ratna. Wanita itu mendekatkan bibirnya ke telinga Jiyo. "Kalau udah nikah, jangan tunda-tunda, langsung aja. Biar Mama bisa cepat-cepat punya cucu."


"Tenang, Ma. Jiyo nggak ada niat buat tunda-tunda. Jiyo juga mau pamer ke Darren sama Darrel, kalau Jiyo juga bisa punya anak."


"Hehehe... Kamu ini, ada-ada aja. Udah sana mandi! Mama udah masakin makanan buat kamu."


"Oke." Jiyo mengecup pipi Mamanya sekilas, lalu bergegas ke kamar.


***


Axel duduk di ruang tamu dengan raut wajah tenang, tak sedikitpun terusik oleh banyak pasang mata yang menatapnya. Saat ini, dia tengah berada di rumah Gara, tepatnya di ruang tamu.


Ada Gara, Gio, Viko, Darren, Darrel dan Dafa juga Doni disana. Mereka itulah yang tengah menatap Axel dengan tatapan penuh selidik. Sementara para wanita, diminta untuk istirahat di kamar. Si Roy memilih bermain bersama Lala, Meeya dan si kembar Alan Alena. Berbeda dengan Dafa dan Doni yang turut begabung dengan orang dewasa.


Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu pada Axel. Hal itu karena dua hari lalu, Axel yang membawa Alisha dari pulang sekolah hingga larut malam. Dan Gara dengan sengaja menyuruh Axel datang ke rumahnya malam ini.


Bukan hanya Gara. Kedua Paman Alisha, Gio dan Viko juga menelpon Axel untuk datang ke rumah Gara. Pasalnya, waktu Axel mengantar Alisha pulang larut malam, mereka juga sedang ada di rumah Gara.


Mereka tidak mungkin mengintimidasi Alisha. Mereka tidak ingin gadis itu takut pada mereka.


"Kemana dua hari lalu kamu bawa anak saya sampai pulang larut?" tanya Gara. Sepertinya dia lupa, jika dia yang mengizinkan Axel membawa Alisha waktu itu.


"Banyak tempat yang kami kunjungi," jawab Axel tenang.


"Siapa yang mengizinkanmu membawa Alisha sampai pulang larut begitu?" tanya Gio.


"Om Gara."

__ADS_1


Gio melotot lalu menoleh pada Kakaknya. Bukan hanya Gio, Viko, Darren, Darrel bahkan Dafa dan Doni pun ikut menoleh. Sementara yang dilihat tak menanggapi mereka. Dia dengan santainya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Kalau pun Kak Gara mengizinkan, kamu seharusnya tahu batasan waktu membawa anak orang. Alisha anak gadis yang seharusnya berada di rumah saat malam hari. Nggak boleh berkeliaran sembarangan," ucap Viko.


"Saya minta maaf, Om." Axel mengucapkan dengan sungguh-sungguh.


Darren dan Darrel hanya diam menatap Axel. Mereka tidak ada yang berniat bertanya pada Axel. Pertanyaan yang di lontarkan Ayah dan Paman mereka, itu sudah cukup.


Begitu juga dengan Dafa dan Doni. Dua bocah kecil itu ikut bergabung hanya sekedar ingin tahu, bagaimana para orang dewasa itu mengintimidasi Axel, dan bagaimana cara Axel menjelaskannya pada orang-orang tersebut.


Setelah beberapa saat, Doni merasa ngantuk. Darren dengan segera menggendong putranya itu dan membawanya ke kamar. Dafa pun ikut kembali ke kamarnya.


"Bagaimana kabar papa mu?" tanya Gara pada Axel, seakan lupa dengan topik pembicaraan nya tadi. Ia teringat sahabatnya, papa Axel. Setelah semua kejadian itu, papa, mama dan kakak Axel kembali ke luar negeri. Gara belum bertukar kabar dengan sahabatnya itu.


"Papa baik," jawab Axel.


"Huuufthhh..." Gio menarik nafasnya. "Axel, Om bukannya nggak suka kamu bawa Alisha pergi. Tapi, Om takut kalau kejadian seperti kemarin terulang. Kita nggak bisa memprediksi orang-orang. Mungkin saja masih tersisa kaki tangan mereka yang mengincar kamu," lanjut Gio. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan kekhawatiran. Viko yang berada di sebelahnya mengangguk setuju. Dia juga merasakan kekhawatiran yang sama.


Berbeda dengan Gara dan Darrel. Dua laki-laki itu begitu santai dan tenang.


"Aku sudah menempatkan banyak orang untuk terus mengawasi Alisha. Tapi, untuk berjaga-jaga, aku setuju dengan ucapan kamu, Gio," ucap Gara.


"Aku juga setuju dengan ucapan Paman. Sebaiknya, batasi waktu kalian jika mau pergi," sambung Darren yang baru saja kembali dari mengantar Doni.


"Atau, datang kemari saja kalau mau bertemu Alisha. Nggak perlu bawa dia keluar," tutur Darrel.


"Saya hanya mengikuti permintaan Alisha," ucap Axel seolah menegasakan apapun yang Alisha inginkan dari dia, dia akan lakukan.


"Sudahlah. Sudah malam. Kamu boleh mengajak Alisha keluar, tapi tahu batasan waktu," ucap Gara yang diangguki oleh Axel. "Sekarang kamu pulanglah. Sudah hampir pukul sepuluh."


"Darrel, panggil Alisha."


"Iya, Ayah."


"Saya ke kamarnya, boleh?" Ucapan Axel sontak membuat semua melotot ke arahnya.


"Nggak boleh!" jawab para lelaki itu serentak.


"Hanya sebentar."


"Darren Darrel, pergi bersamanya."


Dua putra Gara itu mengangguk lalu membawa Axel menuju kamar Alisha. Sekali ketukan, pintu kamar terbuka.


"Axel udah selesai ditanya Ayah? Axel nggak apa-apa kan?" tanya Alisha. Dia sejak tadi tidak tenang. Takut jika ayahnya marah-marah pada Axel. Bukan hanya ayahnya tapi kedua paman dan kakaknya.


"Udah selesai. Gue nggak apa-apa."


"Huufthh... Syukurlah," ucap Alisha.


Axel merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah cincin dengan ukiran nama Alisha. Cincin yang didesain Asya untuknya.


"Lo lupa ini di kamar gue."

__ADS_1


Darren dan Darrel yang berdiri di samping kiri kanan Axel menatap tajam remaja itu, setelah mendengar ucapannya. Di kamar Axel? Untuk apa Alisha berada di sana? Meskipun amarah keduanya mulai tersulut, Darren maupun Darrel berusaha menahannya.


"Oh iya, Alisha lupa. Pantas saja Alisha rasa tangan Alisha kayak kosong gitu. Syukur deh Axel temuin. Kalau nggak, kak Asya pasti kecewa Alisha nggak bisa jagain pemberiannya."


"Ya udah, gue pulang dulu. Besok sekolah, gue yang jemput." Axel mengusap lembut rambut Alisha.


"Nggak usah dijemput. Alisha berangkat sama Kak Darren. Iya kan, Kak?"


Darren mengangguk. "Iya," jawabnya.


"Kalau gitu, pulang gue antar."


"Alisha saya jemput," sahut Darrel. Itu bentuk hukuman dari Darren dan Darrel untuk Axel. Untuk beberapa hari kedepan, Axel tidak boleh menjemput ataupun mengantar Alisha.


Axel menarik nafasnya. "Ya udah. Gue balik,"


"Iya, Axel hati-hati."


"Hmm."


Setelah berpamitan pada Alisha, Axel, Darren dan Darrel kembali ke ruang tamu. Axel kemudian berpamitan pada Gara, Gio dan Viko. Setelah itu keluar menuju motornya.


"Nggak boleh pulang dulu." Darrel tiba-tiba menahan Axel. Dia bersama Darren berdiri di depan motor Axel.


"Lupa dikamar kamu, apa maksudnya?" tanya Darren.


Axel paham sekarang, kenapa dua Kakak Alisha ini belum mengizinkannya pulang. Ternyata permasalahan ini.


"Kamu bawa Alisha ke kamar kamu?" tanya Darrel.


"Ya, gue bawa Alisha ke kamar gue," jawab Axel tenang.


"Ngapain kamu bawa Alisha ke kamar kamu? Kamu ngelakuin hal kurang ajar sama adik saya? Hah?" Darrel tidak bisa menahan dirinya. Meskipun Axel diakui baik olehnya, tetap saja Axel laki-laki yang bisa melakukan kesalahan. Dia tidak ingin hidup adiknya hancur.


"Tenang Rel," ucap Darren. Dia menahan kembarannya itu untuk tidak melibatkan amarah dulu.


"Gue nggak ngelakuin apa-apa sama Alisha. Alisha masuk kamar gue karena dia pengen lihat kamar gue. Gue bolehin, tapi gue gak ikut masuk. Alisha sendiri di dalam. Dia lupa cincinnya gara-gara dia lepas waktu cuci muka di kamar mandi kamar gue," jelas Axel.


"Saya ragu sama ucapan kamu," ucap Darrel.


"Dia jujur," seru Darren yang langsung mendapat tatapan Darrel.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Darrel pada kembarannya. "Aku nggak percaya. Kita tanya Alisha."


"Ya, itu lebih baik," jawab Darren.


"Gue setuju. Tanya saja Alisha. Kalau dia mengatakan yang nggak sesuai sama ucapan gue, kalian datang saja ke rumah gue. Hukum gue sesuai yang kalian mau. Gue nggak akan kabur," ucap Axel. "Gue balik dulu."


"Hati-hati," ucap Darrel. Darren yang mendengarnya pun menahan senyum. Bagaimana saudaranya ini? Tadi marah-marah dan sekarang seolah mengkhawatirkan Axel.


Axel juga menahan senyum sembari mengangguk. Ia mengenakan helmnya, kemudian melajukan motornya meninggalkan kediaman Gara.


...****************...

__ADS_1


Hallo teman-teman yang masih setia baca novel ini. Maaf ya, aku up nya lamaaaaa banget. Lagi banyak tugas yang harus aku selesaiin. Aku juga mau ucapan selamat menjalankan ibadah puasa, hehehe... kayaknya udah telat banget ucapinnya. Tapi, semoga puasa kita dari awal sampai minggu terakhir Ramadhan ini diterima Allah SWT. Aamiin.


Salam dari Aquilaliza 😊😊. Semoga kalian selalu sehat dan semangat menjalankan puasa.


__ADS_2