Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 155


__ADS_3

Alisha dengan wajah lesunya menuruni tangga. Hari ini, ia bersama Axel dan Hardi akan ke rumah Yana. Mereka akan mengantar Yana ke bandara.


"Kenapa wajahnya lesu gitu sih, Nak. Kan udah cantik," ucap Alula sambil mengusap lembut rambut putrinya.


"Yana hari ini kan mau pergi, Bu. Alisha nggak punya sahabat perempuan lagi."


Alula tersenyum pada Alisha. Senyum menenangkan dari seorang Ibu untuk anaknya.


"Nak, dengar Ibu. Bersahabat itu, nggak selamanya berada di tempat yang sama. Kamu sama Yana masih bisa telponan. Masih bisa vidio call. Kamu juga bisa ke tempat Yana kalau ada kesempatan. Coba kamu lihat ayah sama om Arya. Mereka ada di tempat berbeda dan jauh. Tapi, persahabatan mereka masih terjalin. Alisha sama Yana juga begitu. Jadi, Alisha jangan sedih, ya?"


Alisha mengangguk pelan. "Iya, Bu."


Alula kembali tersenyum dan memeluk putrinya sejenak, kemudian melepaskannya. Seorang pelayan datang mendekati Alula dan Alisha.


"Permisi Nyonya, Nona, tuan muda Axel sudah datang," ucap pelayan tersebut.


"Udah di suruh masuk?" Suara Gara menimpali. Laki-laki itu berjalan mendekati istri dan anaknya.


"Sudah Tuan. Tuan muda ada di ruang tamu."


"Ya sudah. Kau boleh pergi."


Pelayan itu menunduk pada Gara, Alula dan Alisha, kemudian berpamit ke dapur.


"Cantik putri Ayah," ucap Gara, memuji Alisha.


Alisha tersenyum. "Tapi, masih cantikan Ibu kan di mata Ayah?" balas Alisha dengan nada candaan. Membuat Alula dan Gara terkekeh.


"Hehehe... Tahu aja kamu. Sudah pasti, di mata Ayah, Ibu kamu adalah wanita paling cantik."


"Hehehe... Alisha kan anak Ayah sama Ibu. Pasti tahu siapa yang paling cantik di mata Ayah, dan siapa yang paling tampan di mata Ibu."


Alula yang mendengarnya terkekeh sambil geleng-geleng. Putrinya ini ada-ada saja.


"Sudah. Sekarang kita ke ruang tamu, yuk. Kasihan Axel nungguin," ucap Alula.


"Ayo, kita ke ruang tamu," ucap Gara, merangkul pinggang istrinya, dan sebelah tangannya menggenggam tangan sang putri. Alisha sampai geleng-geleng sendiri. Ayahnya selalu seperti ini. Jarang sekali Alisha lihat sang Ayah jauh dari sang Ibu saat di rumah. Apalagi saat berada di luar berdua. Sikap Ayahnya yang posesif semakin tak terkontrol.


Sampai di ruang tamu, Axel menyapa terlebih dahulu. Remaja lelaki itu meraih tangan Gara dan menciumnya. Sementara pada Alula, dia hanya sekedar menundukkan kepalanya. Dia sudah sangat hafal, bagaimana posesifnya Gara pada istrinya itu.


Untuk Alisha, dia mengulas senyuman tipis pada gadis itu.


"Kalian berangkat pakai apa?" tanya Gara saat semuanya sudah duduk. Berharap Axel menggunakan mobil. Ia khawatir Alisha naik motor. Tapi, jika Alisha yang menginginkannya, dia bisa apa? Ia hanya menurut dan berdoa supaya putrinya itu dan Axel tiba dengan selamat.


"Pakai motor, Om." Jawaban Axel membuat Gara menarik nafasnya.


"Kakeeekk!!" Suara Doni yang berteriak sambil berlari ke arah mereka membuat semua menoleh. Anak itu menghentikan lari nya saat berdiri di depan Gara.

__ADS_1


"Ada apa cucu Kakek teriak-teriak?" tanya Gara lembut. Ia mengusap lembut kepala Doni.


"Aku pikir Kakek sudah pergi. Tadi aku tanya pelayan yang bersih-bersih depan kamar Kakek sama Nenek, katanya Kakek udah pergi. Nenek juga," ucap Doni. Gara tersenyum melihat anak itu berbicara banyak.


Biasanya dia diam tidak banyak bicara. Bukan karena dia memiliki sikap dingin. Tapi, anak itu adalah seorang pendiam. Terlebih lagi saat kakek dan neneknya meninggal. Dan melihat Doni bayak berbicara seperti ini, membuat Gara, Alula maupun Alisha merasa senang.


"Kakek nggak akan mungkin lupain Doni. Kakek kan sudah janji," ucap Gara. Ia membawa anak itu ke pangkuannya.


"Kalian mau kemana sih? Nenek nggak diajak?" tanya Alula.


"Kakek ajak aku ke taman bermain," jawab Doni. Anak itu lalu mendongak menatap Gara. "Doni mau Nenek ikut, Kek. Boleh, ya?"


"Eemm... Gimana, ya? Kalau Kakek bolehin, Kakek dapat apa dari Doni?"


"Eemm... Doni beliin es krim buat Kakek."


Jawaban Doni sontak membuat semua terkekeh. Bahkan Axel sampai tersenyum tipis mendengar jawab anak itu.


"Kenapa kalian ketawa? Doni punya uang buat beliin Kakek es krim. Papa kasi Doni uang jajan banyak. Tapi, Mama bilang Doni nggak boleh jajan sembarangan. Kalau mau es krim, satu cukup. Nanti Doni sakit. Kakek juga kalau Doni beliin es krim nggak boleh minta banyak-banyak."


Gara dan semuanya yang ada di ruangan itu kembali terkekeh. Doni kalau dalam mode banyak bicara seperti ini lucu juga.


"Iya iya, Kakek izinin Nenek ikut. Kakek juga nggak akan minta beli es krim banyak-banyak."


"Yee... Terima kasih, Kek."


"Oh ya, Aunty Alisha mau kemana?" tanyanya sambil menatap Alisha.


"Aunty mau pergi sama Om Axel," jawab Alisha, dan Doni hanya mengangguk.


"Om Axel hati-hati bawa Aunty Alisha," ucap anak itu.


"Pasti," balas Axel.


"Ya udah. Doni mau ke kamar paman Darrel dulu, mau main sama Meeya. Alan sama Alena masih belum bangun,"


"Ya udah. Nanti Kakek panggilin kalau udah mau berangkat."


"Iya, Kek."


Doni turun dari pangkuan Gara dan mendekat ke Alula. Ia meminta Alula menunduk lalu mengecup pipi wanita itu, sambil berbisik, "Aku sayang sama Nenek," lalu pergi begitu saja.


Gara yang melihatnya sampai menggeleng-geleng melihat tingkah anak itu.


"Doni lucu ya, kalau banyak bicara gitu. Aku jadi pengen cubit bibirnya," ucap Alisha yang sontak membuat Axel menoleh padanya. Wajah laki-laki itu yang tadi nya tersenyum langsung berubah datar. Namun, diantara mereka tidak ada yang sadar atas perubahan ekspresi wajah Axel.


"Yana berangkatnya jam berapa?"

__ADS_1


"Jam 11, Bu."


"Sekarang masih jam 8," ucap Gara.


"Ayah, kita kan harus ke rumah Yana dulu. Kita juga harus batuin Yana sekaligus ngobrol sama Yana. Terus sisanya buat ke bandara."


Gara menarik nafasnya. "Ya udah," jawab Gara. "Axel."


"Iya, Om."


"Om percayakan Alisha sama kamu."


Axel mengangguk. Ia dan Alisha kemudian berpamitan pada Gara dan Alula.


Dalam perjalanan, Axel hanya diam. Tidak ada yang ia katakan pada Alisha. Sejak keluar dari rumah Gara, laki-laki itu hanya diam. Saat memakaikan helm untuk Alisha pun dia juga hanya diam.


Alisha yang mulai merasa Axel lebih dingin dibandingkan biasanya pun mulai merasa aneh. Ia mulai mencari topik untuk mengajak Axel berbicara.


"Oh ya, Hardi kok nggak datang, ya? Hardi nggak ikut anterin Yana?"


Tak ada jawaban dari Axel. Laki-laki itu hanya fokus mengendarai motornya.


"Axel denger Alisha nggak?" tanyanya. Ia berpikir jika Axel tak mendengar karena sedang fokus mengendara.


"Denger," jawabnnya singkat.


"Axel nggak suka boncengin Alisha, ya? Diam terus dari tadi." Axel tak menjawab.


"Kalau nggak suka boncengin Alisha, turunin aja Alisha. Biar—aaaa... Axel, jangan ngebut-ngebut." Ucapan Alisha berganti teriakan saat Axel mempercepat laju kendaraannya. Hal itu membuat Alisha semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Axel.


Tapi, itu tak berlansung lama. Axel kembali menurunkan laju motornya hingga dalam keadaan laju sedang. Alisha yang hendak melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Axel, ditahan laki-laki itu.


***


Alisha tak berhenti mengusap air matanya. Ia juga terus terusan memeluk Yana. Sementara Mama dan Papa Yana sudah menunggu putri mereka karena perintah untuk menaiki pesawat sudah di umumkan.


"Sering-sering kasih kabar sama Alisha ya, Yan." Yana mengangguk.


"Kamu juga jangan sampai lupa sama aku, Sha."


"Nggak akan. Aku nggak akan lupa, Yan."


"Aku pamit dulu," ucap Yana. "Aku pamit dulu, Xel."


"Ya. Lo hati-hati," ucap Axel.


Yana melambaikan tangannya pada Alisha dan Axel. Tapi, matanya sesekali menatap ke arah belakang Alisha dan Axel. Berharap Hardi datang, ikut mengantarnya. Namun, hingga pengumuman kedua kembali terdengar, laki-laki itu tak terlihat.

__ADS_1


Aku harap, hubungan persahabatan kita berempat tetap terjalin dengan baik, walaupun nggak saling bertemu seperti sebelumnya. Batin Yana.


__ADS_2