Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 41


__ADS_3

Setelah melakukan peninjauan kedua dan bertemu seorang manajer yang bertanggung jawab dalam proyek tersebut, Darren dan Asya pun kembali.


Maslah dua preman tersebut, orang-orang Darren sudah membawa mereka untuk di interogasi. Darren merasa ada yang janggal atas perbuatan kedua lelaki tersebut.


"Ayo!" Darren mengangguk kemudian melajukan mobilnya menjauh.


Perjalanan pulang tidak seperti perjalanan sebelumnya. Kali ini, Asya banyak berbicara. Darren sesekali menanggapinya.


"Nanti kalau pulang, kita ke tempat Aurel ya?"


"Ke rumah dulu. Baru ketemu Aurel."


"Ya, itu maksudku."


Darren hanya membalas dengan tersenyum. Fokusnya kembali ke jalanan. Asya, dia masih saja berbicara, sesekali bertanya mengenai sesuatu yang ia tak mengerti.


Di rumah Asya, Irene dan Aurel sedang memasak untuk kedatangan Asya. Orang tua Asya mengenal Aurel sejak putri mereka masih bersekolah. Irene dan Edo sama senangnya seperti Asya saat gadis itu mengatakan jika Aurel sudah kembali.


"Tante, sayurnya sudah aku cuci."


"Iya, nak. Makasih, ya." Balas Irene sambil menggoreng ayam. Wanita itu lalu memotong daging setelah membalikkan ayam yang ia goreng.


"Biar aku saja yang goreng ayam, tan."


"Eh. Jangan. Kamu istirahat aja, oke? Kamu kan baru balik kerja. Pasti capek."


"Enggak, tante. Aku nggak capek. Biar aku yang goreng ya?"


"Ya, udah. Tante ngerepotin kamu lagi."


"Nggak ngerepotin. Kan aku yang mau."


Irene tersenyum. "Bisa aja kamu. Ya udah, hati-hati gorengnya. Minyaknya panas."


"Siap, tante."


Aurel dan Irene mengerjakan pekerjaan masing-masing sambil berbincang kecil. Hingga tiba-tiba, suara Naomi terdengar.


"Seru banget tante sama Aurel masaknya. Aku bantu ya?"


Aurel menatap Irene, menantikan jawaban Irene atas tawaran Naomi. Dia tidak ada hak untuk menerima atau menolak tawaran Naomi. Sementara Irene, dia masih belum melepaskan tatapannya dari Naomi. Ia masih belum memaafkan Naomi mengenai kejadian yang menimpa Asya di rumah Gara waktu itu.


"Gak usah. Udah hampir selesai kok." Jawab Irene, memaksakan senyumnya.


"Eemm... Kalau gitu, Naomi bantu siapin di meja, ya?"

__ADS_1


Irene menarik nafasnya. Ingin sekali meluapkan amarahnya di depan Naomi saat ini juga. Namun, sentuhan tangan Aurel menenangkannya dan membuatnya sadar untuk tidak boleh marah-marah pada gadis licik seperti Naomi.


"Naomi, kamu sebaiknya istirahat. Kamu kan baru pulang kerja." Ucap Aurel.


"Aurel, aku nggak capek sama sekali. Lagian, aku pulang lebih awal karena nggak ada pekerjaan. Jadi, jangan begitu khawatir tetangku."


"Baiklah. Kamu ganti saja dulu pakaian mu. Lalu turun dan bantu kami."


"Makasih tante. Aku menyayangi mu."


Naomi langsung berlari menuju kamarnya. Ia lalu turun menuju dapur setelah mengganti pakaiannya. Ia membantu menata makanan di meja. Wajahnya sangat ceria, seolah dia sedang sangat bahagia menanti Asya. Berbeda dengan hatinya yang menyumpah serapahi Asya agar mendapatkan kesulitan atau mungkin terluka.


Deru mobil di halaman depan tak membuat ketiga perempuan itu menghentikan kegiatan mereka. Edo yang baru pulang langsung menuju dapur.


"Sayang," Lelaki itu memeluk Irene dan mencium pipinya di depan Aurel dan Naomi. Dia memberi satu kecupan di bibir Irene, yang juga dibalas oleh wanita itu. Benar-benar tidak peduli dengan dua gadis muda yang sudah menunduk salah tingkah melihat kelakuan dua orang di depan mereka.


"Aku ingin mandi dan berganti pakaian." Ucap Edo, masih belum melepaskan pelukannya.


"Ayo, ku temani." Edo mengangguk senang.


"Aurel. Naomi. Tante ke kamar dulu."


"I-iya, tan." Jawab Aurel dan Naomi, gelagapan.


Setelah kedua orang tua Asya itu pergi, Naomi langsung merubah ekspresinya. Dia menatap tajam pada Aurel yang dibalas dengan tatapan dingin Aurel. Gadis itu tak ingin kalah dengan Naomi.


"Itu bukan urusanmu."


"Kau sangat sombong!"


"Kau juga sombong dan licik." Balas Aurel membuat Naomi menggeram marah.


"Aurel! Ku katakan padamu. Aku tahu, kamu menyukai Darrel. Dan yang harus kamu tahu, Darrel itu tidak pantas untuk gadis sampah sepertimu. Aku tidak yakin jika kamu menjadi manajer di cafe tante Alula karena kemampuan mu. Pasti kau menggunakan Darrel. Atau... Kau menjual tubuhmu pada Darrel?"


"Naomi!!" Bentak Aurel. Dia benci dan marah dengan apa yang Naomi katakan.


"Apa? Apakah aku benar? Aureeel... Aurel. Kasian sekali. Lelaki kaya seperti Darrel hanya akan menikahi gadis kaya yang sepadan dengan mereka. Bukan gadis miskin seperti mu. Kau hanya akan menjadi boneka Darrel selamanya." Ujar Naomi, tersenyum remeh. Ia kemudian pergi dari hadapan Aurel.


Kamu memang benar. Aku tidak pantas untuk Darrel. Tapi, kamu salah jika mengatakan Darrel hanya menjadikanku bonekanya. Karena Darrel bukan orang seperti itu. Batin Aurel.


Tanpa ia sadari, Irene dan Edo melihat semua kejadian tersebut. Kedua orang itu tidak benar-benar pergi ke kamar. Mereka hanya beralasan dan ingin melihat bagaimana sikap Naomi pada Aurel. Dan akhirnya mereka tahu bagaimana Naomi pada Aurel.


Irene mengusap air matanya yang ikut turun saat melihat Aurel menangis. Edo menepuk pelan punggung istrinya kemudian mengajak dia menemui Aurel.


"Aurel." Gadis itu segera mengusap air matanya saat mendengar suara Irene.

__ADS_1


"Eh, tante? Paman? Kenapa kembali? Bukannya paman akan mandi?"


"Paman tidak jadi mandi. Tiba-tiba paman tidak ingin menyentuh air selain cucu tangan sama minum." Ucap Edo, beralasan.


Aurel mengerutkan keningnya, lalu menatap Irene. Wanita itu hanya mengedikkan bahunya membalas Aurel. Lalu gadis itu mengangguk membalas ucapan Edo.


Tak lama kemudian, terdrngar deru mobil yang mereka yakini itu adalah mobil Darren yang mengantar Asya. Segera saja mereka menemui Asya.


***


Setelah mengantar Asya, Darren segera menuju rumah. Sama seperti orang tua Asya, Alula dan Alisha juga menyiapkan makanan untuk Darren. Gara duduk di ruang keluarga sambil membaca sesuatu di layar laptopnya. Dia tiba-tiba merasa tidak bisa melarang istri dan anaknya lagi untuk memasak. Alula sekarang mulai bisa mengancamnya, yang membuatnya tak bisa berkutik.


Sementara Darrel, anak itu terus mencoba semua makanan yang dimasak Alisha dan Alula. Mulutnya seolah tak mau berhenti mencicipi setiap makanan yang terhidang di meja.


"Kak Darrel! Ayah sama Kak Darren belum rasain, lho. Kakak udah tiga kali ambilnya."


"Gak apa-apa, dek. Nanti Kakak yang ganti kalau makanannya habis."


"Kakak mau perut Kakak buncit?"


"Gak akan buncit. Kakak rajin olahraga." Balas Darrel, lalu memasukkan makanan ke mulutnya.


"Alisha, bantuin Ibu bawa ini ke meja." Panggil Alula.


"Iya, Bu." Alisha meninggalkan Darrel di meja makan. Ia kemudian kembali dengan membawa makanan yang Alula masak.


"Dek. Kenapa ya, Ibu selalu suruh pelayan untuk gak boleh bantu setiap Ibu masak kecuali kamu? Kamu sama pelayankan sama-sama manusia."


"Ya karena Alisha bukan pelayan walaupun sama-sama manusia. Yang gak di bolehin Ibu kan pelayan. Alisha kan anak Ibu, bukan pelayan."


Darrel melotot mendengar jawaban adiknya. Bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan. Adiknya ini, terkadang cerdas terkadang bodoh.


"Ck. Kenapa Kakak melotot? Jawabanku benarkan? Yang gak di bolehin Ibu, para pelayan. Karena Alisha bukan pelayan, jadi Alisha boleh."


"Jawaban kamu gak salah juga." Ucap Alula yang mendengar percakapan adik kakak itu. "Tapi, jawaban yang Kakak mu inginkan bukan itu. Alasan kenapa Ibu tidak mau pelayan membantu Ibu karena Ibu ingin suami dan anak-anak Ibu merasakan makanan yang Ibu dan adiknya masak sendiri. Hanya sesekali kan Ibu sama Alisha dibolehin Ayah buat masak."


"Hmm... Iya juga, sih." Darrel mangut-mangut.


"Kakak udah pahamkan?" Celetuk Alisha.


"Iya-iya." Balas Darrel.


Tak lama, terdengar suara mobil Darren memasuki garasi. Mereka segera menyambutnya. Darrel yang paling pertama. Dia sudah tidak sabar mengajak kembarannya itu memasuki ruang makan dan menghabiskan makanan enak yang dimasak Ibu dan adiknya.


Maaf baru up sekarang. Terima kasih udah mau tungguin ceritanya. Sehat selalu kalian semua.

__ADS_1


Salam dari Aquilaliza.


__ADS_2