Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 86


__ADS_3

Hari-hari terus berganti. Pertumbuhan janin di perut Aurel begitu sehat. Kabar baik itu membawa kebahagiaan untuk keluarga Grisam.


"Aurel, kapan kamu akan ke rumah sakit lagi? Aku ingin melihatmu saat memeriksa kandungan." Ujar Asya, sabil mengelus perut Aurel. Kedua wanita itu duduk di sofa bersama Alula. Sementara Gara, Darren dan Darrel sedang berolahraga di ruang olahraga.


"Ibu juga ingin pergi bersama kalian." Sahut Alula, membuat Asya dan Aurel tersenyum.


"Dua minggu lagi." Jawab Aurel.


"Masih lama." Ucap Alula. "Oh ya, kalian mau makan sesuatu? Ibu sangat ingin memasak hari ini. Mumpung Ayah kalian masih berolahraga."


"Siapa bilang kamu boleh masak?"


Tanpa berbalik pun, Alula sudah bisa menebak, siapa yang berbicara. Ia menarik nafasnya. Dan beberapa detik kemudian, Gara sudah berada di depannya. Alula langsung tersenyum pias.


"Aku hanya bercanda dengan menantu kita." Ucap Alula. "Apa kamu ingin minum seauatu?"


"Tidak. Ayo, ke kamar!"


"Hah? Untuk apa? Mereka semua ada di sini."


"Sayang, ikut saja, okey?"


"Baiklah-baiklah."


Alula melambaikan tangannya pada kedua menantunya, kemudian mengikuti suaminya ke kamar. Asya dan Aurel tersenyum tipis melihat Ayah dan Ibu mertua mereka. Benar-benar pasangan serasi.


"Kalian lihat apa?" Asya dan Aurel langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat Darrel dan Darren yang berdiri menatap mereka.


"Lihat Ayah sama Ibu." Jawab Aurel.


"Kenapa Ayah sama Ibu?"


"Mereka manis sekali. Seperti masih muda." Kali ini Asya yang menjawab. Ia tersenyum senang saat mengatakan itu.


Darrel mengangguk. Ia kemudian berjalan mendekati Aurel. Darren juga mendekati Asya.


"Apanya yang manis?" Tanya Darren.


"Semuanya. Ayah terlihat sangat mencintai Ibu." Jawab Asya.


"Ya. Ayah terlihat sangat menyayangi dan menjaga Ibu." Timpal Aurel.


"Kemana Ayah sama Ibu sekarang?" Tanya Darrel.


"Ke kamar." Asya dan Aurel menjawab serentak. Pikiran Darrel langsung kemana-mana.


"Ke kamar?" Asya dan Aurel mengangguk. "Waaah... Ayah benar-benar." Lanjut Darrel.


"Apanya benar-benar?" Darren mengerutkan keningnya. Dia sudah bisa tebak, apa yang dipikirkan adik kembarnya itu.


"Apa kamu nggak tahu, Darren? Ayah suka sekali mengulang hal yang dia suka. Baru saja, Ayah selesai olahraga. Kekutannya pasti terkumpul penuh. Bisa jadi, kita akan mendapatkan adik la..."


Puk... Aurel langsung menutup mulut suaminya. Benar-benar asal ceplos saja suaminya itu.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan? Apa kamu nggak malu?" Bisik Aurel dengan kesal. Darrel yang tidak bisa menjawab hanya mengangguk.


"Apa angguk-angguk?"


"Aurel, dia nggak bisa ngomong kalau kamu gituin." Ujar Asya.


"Eh, iya ya." Aurel langsung melepas tangannya. Ia tersenyum manis pada Darrel. "Maaf, sayang."


"Aku nggak maafin."


"Kok gitu?"


"Kamu marahin aku."


"Siapa yang marah?"


"Yang barusan?"


Perdebatan kecil itu terus berlanjut. Darren dan Asya hanya bisa menggeleng. Darren mendekatkan wajahnya ke telinga Asya.


"Ayo, ke kamar!" Wanita itu mengangguk.


Asya dan Darren berdiri. Sebelum pergi, Asya menatap Darrel yang masih terlihat berdebat dengan istrinya.


"Mengalah sama istri kenapa sih, Rel?" Ucapan Asya membuat kedua orang itu berhenti. Asya meraih tangan Darren dan menggandengnya.


"Aurel, aku sama Darren duluan, ya?"


Setelah Asya dan Darren pergi, Aurel menatap suaminya. Wajahnya berubah sendu dan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Eh, kenapa ekspresinya begitu? Sayang," Darrel gelagapan melihat istrinya.


"Kamu... Kamu jahat. Asya saja yang bukan suami aku, mengerti. Kenapa kamu enggak?"


"Eh, maafin aku, sayang. Aku hanya bercanda."


"Bercanda kamu berlebihan tahu nggak? Hiks..."


"Sayang, sayang. Aku janji nggak akan gini lagi." Darrel memeluk Aurel dan mengecup puncak kepalanya.


"Hiks, janji ya?"


"Iya. Aku janji. Jangan nangis lagi. Sekarang kita ke kamar, ya?"


Aurel mengangguk. "Gendong." Darrel tersenyum dan langsung menggendong istrinya menuju kamar.


Sementara di kamar Darren, lelaki itu terus melengket memeluk istrinya. Sesekali mencium pipi dan leher sang istri.


"Darren, lepasin sayang. Sana mandi gih!"


"Aku masih mau peluk kamu."


"Setelah mandi baru boleh peluk lagi."

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo, mandi bersama!"


"Aku sudah mandi."


"Sekarang kamu bau lagi karena ku peluk."


"Aku tetap nggak mau."


"Aku paksa." Darren langsung menggendong Asya menuju kamar mandi.


"Darreeen... Aku nggak mau mandi. Aku udah mandi." Asya meronta dalam gendongan Darren. Membuat lelaki itu mengeratkan gendongannya.


"Sayang, diam ya? Nanti kamu jatuh."


"Aku nggak mau mandi bersama. Kamu selalu cari-cari kesempatan."


"Kali ini enggak."


"Ucapan kamu nggak bisa di percaya."


"Kamu nggak percaya sama aku?" Langkah Darren terhenti di samping bathtup. Wajahnya berubah sendu, berpura-pura sedih atas ucapan Asya.


"Eh, sayang. Maksud aku, kamu jika mengenai hal yang 'itu' sulit dipercaya. Bukannya nggak percaya sama kamu." Jelas Asya. Namun, Darren tak menjawab sepatah pun. Wajahnya kini menjadi sangat datar.


"Sayang," Mata Asya mulai berkaca-kaca. Ia mengalungkan tangannya ke leher Darren dan menyusupkan wajahnya ke dada Darren. Ia mendusel-duselkan hidungnya ke dada lelaki itu. Ia takut Darren akan marah padanya.


"Mandi, ya?" Suara Darren terdengar lembut, namun tegas. Asya tanpa banyak kata langsung mengangguk. Wanita itu bagai kelinci kecil yang penurut. Darren yang melihatnya pun tersenyum. Lelaki itu menurunkan Asya dengan perlahan, lalu menangkup wajah wanita itu.


"Aku nggak marah." Ujar Darren lembut, membuat Asya mendongak menatapnya. Mata mereka bertemu. Asya bisa melihat wajah suaminya yang kini tersenyum manis ke arahnya.


Hal itu membuat Asya ikut tersenyum dan langsung memeluk Darren. "Ku pikir kamu marah."


"Hal kecil seperti ini, untuk apa marah?" Jawab Darren. "Sekarang mandi, okey?" Asya mengangguk. Dan akhirnya mereka mandi bersama.


***


Di Grisam Group, Jiyo terlihat sangat sibuk. Banyak berkas yang dia urus dan beberapa hal yang harus ia tangani. Dia bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya.


"Huufthh... Lelah sekali. Jadi begini rasanya jadi CEO? Darren memang hebat menangani semua ini tanpa mengeluh pada siapa pun." Guman Jiyo, sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Tapi, nggak apa-apa. Hitung-hitung aku belajar memimpin perusahaan, ya walaupun gak sepenuhnya memimpin. Bukankah ini ajang latihan untukku? Siapa tahu, Papa menyerahkan perusahaannya nanti untuk aku kelola." Ujar Jiyo. Namun, rahangnya tiba-tiba mengeras saat mengingat Papa nya.


"Huh! Pria tua itu. Putra hasil perselingkuhannya ada tiga, Jiyo. Kenapa kamu malah berharap padanya? Mengingatmu dan Mamamu saja, nggak dia lakukan. Apalagi mengenai masa depanmu? Sudahlah. Cukup besarkan usaha Mama mu, dan jadilah anak yang berbakti." Gumam Jiyo, mengingatkan dirinya sendiri.


Jiyo memejamkan matanya, mencoba melepas rasa lelahnya. Tapi, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menegakkan tubuhnya, dan meraih handphone. Tangannya bergerak mencari nomor handphone Nita.


"Sejak kejadian penculikan pura-pura itu, aku nggak bertemu Nita lagi. Bahkan saat pernikahan si kembar juga, aku nggak melihatnya." Gumam Jiyo. Tangannya ingin sekali mengklik ikon memanggil, tapi ia urungkan niatnya itu.


"Apa yang harus aku bicarakan saat menelponnya? Dia melarangku menelpon jika bukan sesuatu yang penting."


"Aaarrrgghhh... Kenapa Nita membuat peraturan seperti ini?" Kesal Jiyo.


Lelaki itu meletakkan handphonenya dengan kasar dan kembali menyandarkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian, ia bangun dan meraih kunci mobil dan handphonenya. Dia ingin pergi ke suatu tempat yang mungkin bisa menenangkan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2