
Lima menit berlalu setelah Darren dan Doni pergi. Asya maupun Carla hanya saling diam. Tidak satupun di antara keduanya yang memulai pembicaraan.
Asya menatap Carla dan menarik nafasnya. Canggung sekali rasanya berbicara dengan orang yang pernah dekat dengan suaminya ini. Tapi, jika tidak ada yang memulai, maka mereka akan terus diam seperti ini.
"Eee... Kita belum berkenalan sejak tadi." Ujar Asya, memulai pembicaraan. Yang ia katakan benar. Mereka belum berkenalan. Darren juga tidak mengenalkan mereka berdua.
"Iya. Aku Carla." Gadis itu menyodorkan tangannya pada Asya, dan disambut oleh Asya.
"Aku Asya." Asya membalas uluran tangan Carla.
Keduanya terdiam sesaat, kemudian Carla kembali memulai pembicaraan.
"Aku pernah melihat Nona..."
"Jangan panggil aku nona. Panggil saja Asya."
Carla mengangguk dan tersenyum. "Aku pernah melihat kamu bersama Darren. Tapi, aku tidak tahu jika kamu kekasih Darren."
Asya ingin sekali menyanggah ucapan Carla, jika saat itu, dia dan Darren hanya sebatas sahabat. Tapi, dia mengurungkan niatnya dan memilih mendengar semua yang Carla ucapkan.
"Darren, dia menolong Kakak dan Kakak iparku saat mereka kecelakaan. Saat itu, Kakak iparku sedang mengandung. Nyawa mereka tidak tertolong. Tapi, bayi mereka selamat. Karena pernikahan mereka tidak di restui, dan mereka kabur, butuh waktu cukup lama untuk Darren mengetahui identitas mereka. Darren memutuskan untuk merawat anak itu. Dia merawat Doni meski dirinya sibuk."
"Waktu itu, aku tidak tahu apa-apa. Aku berada di luar negeri. Aku tahu saat Darren berhasil menemukan informasi orang tua Doni, dan mengabari Mama dan Papa. Saat itu aku memutuskan kembali dan merawat Doni. Doni cukup akrab denganku. Tapi, jika disuruh memilih antara aku dan Darren, dia akan selalu memilih Darren."
"Aku akui, aku memiliki perasaan untuk Darren. Tapi, sikap dinginnya begitu sulit aku luluhkan. Dia tidak sedikitpun menganggapku. Menyebut namaku saja, tidak pernah. Bahkan, meski Doni memanggilnya Papa, dia tidak pernah menganggap dirinya Papa bagi Doni. Baginya, dia hanya keluarga Doni. Dia hanya akan menganggap dirinya seorang Ayah jika dia memiliki seorang anak dari wanita yang dia cintai."
Carla menarik nafas lalu menggenggam tangan Asya. "Asya, aku minta maaf sudah membuatmu salah paham. Mungkin hubungan kalian hampir hancur karena ku. Tapi, sungguh. Aku tidak bermaksud untuk merusak hubungan kalian. Aku pikir, lelaki dingin seperti Darren tidak memiliki kekasih. Aku minta maaf."
Asya menatap mata Carla. Ia bisa melihat ketulusan setiap ucapan Carla. Wanita itu balas menggenggam tangan Carla.
"Kamu nggak perlu minta maaf. Waktu itu, aku terlalu terpaku pada asumsi ku sendiri. Aku nggak pernah bertanya atau meminta penjelasan Darren. Aku juga seharusnya berterima kasih padamu. Karena masalah itu, aku dan Darren saling terbuka mengenai perasaan masing-masing."
"Maksudmu?"
"Saat pertemuan pertama kita di perusahaan Darren, aku hanya seorang sahabat Darren sejak kecil, tidak lebih. Tapi, banyaknya kejadian salah paham itu, membuat Darren mengungkapkan perasaannya. Hingga berakhirlah kami dengan ikatan pernikahan. Terima kasih, karena sudah hadir dan membuat kami sadar akan perasaan kami." Ucap Asya dengan senyum tulus. Carla juga menanggapinya dengan senyuman.
"Oh ya, Carla. Kapan kamu kembali?"
"Masih seminggu lagi."
"Baguslah. Kapan-kapan, kamu bersama Doni ke rumah. Aku ingin mengenalkan mu pada Ayah dan Ibu mertua. Darren punya satu adik perempuan dan satu lagi laki-laki, kembaran Darren."
"Hah? Darren punya kembaran?"
"Iya. Namanya Darrel. Wajah mereka sama. Tapi, sifat mereka berbeda. Darrel sangat jail dan banyak bicara."
"Waaahhh... Apa kamu mengenalnya dengan baik?"
"Tentu saja. Aku, Darren, Darrel, Aurel dan Jiyo bersahabat."
"Waahhh... Seru sekali. Kalau begitu, kapan-kapan kenalkan aku pada mereka. Siapa tahu, jika bukan Darren, aku bisa mendapatkan kembarannya, Darrel."
__ADS_1
"Aduhh... Kamu terlambat. Darrel udah menikah."
"Menikah?"
"Ya. Bahkan sekarang istrinya sedang mengandung. Aurel sedang mengandung dan tinggal sebulan lagi melahirkan."
"Yah, sayang sekali. Tapi, katamu Aurel? Aurel itu istri Darrel?" Asya mengangguk. "Aurel sahabat kamu yang kamu sebut tadi?"
"Iya. Aurel sahabat aku, sahabat Darrel juga."
"Ya Tuhan. Ternyata kalian menikahi sahabat kalian sendiri. Huuhh, benar juga kata orang. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan, pasti melibatkan perasaan. Baik itu sepihak atau dua pihak sekaligus." Ucap Carla.
Asya hanya tersenyum mendengarnya. Carla tidak salah berbicara seperti itu.
"Tapi, tetap saja aku patah hati. Dulu, kalah setelah berjuang. Sekarang kalah sebelum berjuang." Ucap Carla, dramatis. Membuat Asya terkekeh mendengarnya. Kedua wanita itu lalu melanjutkan perbincangan mereka. Carla menceritakan mengenai kondisi Doni sebelum anak itu mau melakukan operasi.
***
Setelah cukup bermain, Doni beristirahat bersama Darren. Keduanya duduk sambil menikmati minuman yang Darren beli.
"Papa, apa aku boleh tanya sesuatu?" Doni menatap wajah Darren.
"Tanyakan saja."
Anak itu menunduk sebelum kembali mendongak menatap Darren. "Aku selalu panggil Papa dengan sebutan Papa. Tapi, aku belum pernah mendengar Papa menyebut diri Papa, Papa. Papa hanya menyebut aku, saya, saat berbicara denganku. Kenapa, Pa?"
Darren terdiam sejenak sambil menatap wajah Doni. "Dengar, Doni. Mungkin aku keterlaluan berbicara seperti ini pada seorang anak kecil sepertimu. Tapi, kamu harus tahu. Menjadi seorang Ayah tidak mudah. Aku tidak bisa dengan mudah menganggap anak orang lain sebagai anakku. Aku ingin anakku yang pertama kali menerima pengakuanku sebagai Ayahnya. Terlepas dari itu, kamu tetap keluargaku. Dan selamanya akan menjadi keluargaku." Ucap Darren, sambil menepuk pelan puncak kepala Doni.
Anak itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap Darren. "Maaf. Aku paham apa yang Papa maksud." Ujarnya. Hati Darren terenyuh melihat mata berkaca-kaca anak itu.
"Apa mulai sekarang aku tidak dizinkan memanggil Papa Darren dengan sebutan Papa?"
"Tanyakan pada istriku."
"Istri?" Darren mengangguk. "Aku pernah mendengar Kakek menyebut istri. Tapi, aku tidak tahu apa itu?"
"Kamu tidak perlu tahu banyak hal tentang istri. Saat kamu beranjak dewasa nanti, kamu akan memahaminya sendiri. Intinya, saat ini aku harus meminta pendapatnya. Bukan hanya saat ini. Tapi, seterusnya aku harus selalu berunding dengannya."
Doni mengangguk mendengar ucapan Darren. "Apakah perempuan yang datang tadi, yang disebut istri?"
"Ya." Darren menatap handphonenya yang bergetar. Pesan dari Asya menyuruhnya untuk kembali. "Apa kamu sudah cukup bermain?" Doni mengangguk.
"Ayo, pergi. Mereka sudah selesai berbicara."
Darren dan Doni segera kembali. Setiba disana, mereka melihat Asya dan Carla berbincang tanpa rasa canggung lagi.
Darren dan Doni bergabung kembali bersama dua perempuan itu. Asya menatap Doni dan tersenyum pada anak itu.
"Hallo, Doni." Sapa Asya terlebih dahulu.
"Ha-Hallo,"
__ADS_1
"Anak manis." Ujar Asya, mengacak pelan rambut Doni.
"Oh ya, Darren. Aku dan Doni harus segera pergi. Ada hal yang harus aku urus." Ucap Carla.
"Kau pergilah! Doni akan bersama kami."
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak sama sekali." Jawab Asya, cepat. "Justru aku senang Doni bersama kami. Setelah urusanmu selesai, telpon kami. Kami akan mengantarnya kembali." Ujar Asya.
Carla tersenyum mendengarnya. Ia tidak khawatir apapun. Dia yakin, Doni akan lebih aman bersama pasangan suami istri itu.
"Baiklah. Aku titip Doni." Ucap Carla. Ia mendekati Doni dan mengecup kening anak itu. "Mama Carla pergi dulu. Doni sama Paman Darren dan tante Asya, ya?" Doni mengangguk. Sekarang dia mengerti, mengapa Mama Carla nya itu selalu menyebut Darren sebagai seorang Paman di depannya. Dan ya, panggilan Paman lebih baik untuknya.
Setelah Carla pergi, suasana menjadi hening. Doni hanya diam sambil sesekali mencuri pandang menatap Asya, lalu pada Darren. Ia berharap agar Darren segera menanyakan pada Asya perihal yang dikatakannya tadi.
"Oh ya, Doni. Apa kamu ingin makan sesuatu?"
"Tidak tante." Ucapnya. Ia lalu menatap Darren. "Paman..."
"Eh, kenapa memanggilnya Paman? Bukannya kamu memanggilnya Papa?" Tanya Asya bingung.
"Memangnya boleh tante, aku panggil Papa?"
"Boleh. Siapa yang melarang kamu memanggilnya Papa?"
Doni terdiam dengan mata yang melirik Darren. Melihatnya pun, Asya ikut menatap Darren.
"Sayang, kamu yang larang Doni panggil kamu Papa?"
"Aku nggak bermaksud melarangnya. Aku ingin meminta persetujuanmu dulu."
"Kalau begitu, aku setuju Doni memanggil mu Papa." Ucap Asya. "Doni sayang, mulai sekarang kamu harus panggil Papa Darren, Papa. Dan tante, Mama. Okey?"
Wajah Doni yang tertunduk langsung mendongak menatap Asya. Begitu juga dengan Darren. Ia menatap istrinya.
"Ta-tante serius?"
"Iya. Mulai sekarang, tante adalah Mama Doni. Doni sekarang punya orang tua lengkap. Mama sama Papa."
Anak itu bangun dan langsung memeluk Asya. "Terima kasih, tante."
"Doniii... Mama! Bukan tante."
"Terima kasih, Ma."
"Sama-sama, sayang." Ucap Asya, balas memeluk Doni.
Darren hanya bisa menatap Doni dan Asya. Bisa ia lihat ketulusan dan kasih sayang di mata Asya. Hingga dia berpikir, dia cukup keterlaluan pada anak seperti Doni. Anak yang membutuhkan kasih sayang orang tua, namun dia secara tidak langsung menghancurkannya.
****
__ADS_1
*Hallo, teman-teman! Maaf baru up sekarang. Semoga kalian suka sama ceritanya yang aku sendiri merasa semakin gaje alias ga jelas. Maaf sudah buat kalian menunggu. Semoga kalian sehat selalu.
Salam dari Aquilaliza*.