
Darrel menyandarkan tubuhnya pada sofa tanpa melepas pelukan Aurel. Perempuan itu terus melengket padanya dan akan tertidur jika sudah memeluk Darrel. Seperti saat ini, Aurel sudah terlelap dalam pelukan Darrel.
Darrel mengulurkan tangannya menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Aurel.
"Aku benar-benar mencintaimu. Karena itu, aku tidak ingin kamu terluka. Maafkan aku yang tidak bisa jujur." Darrel mengecup kening Aurel cukup lama. Setelah itu, ia menggendong Aurel menuju kamarnya.
"Tidur yang nyenyak. Aku akan menemuimu lagi besok." Ucap Darrel, setelah menyelimuti Aurel dan sekali lagi mengecup keningnya.
Darrel menutup kembali pintu kamar, kemudian pergi dari apartemen tersebut.
Saat tiba dalam mobil, Darrel memeriksa ponselnya. Berharap ada pesan dari Paman Kenan atau Paman Ben mengenai gadis itu. Namun, ia tidak mendapatkannya.
"Maafkan aku, Aurel. Mungkin, besok adalah hari terakhir kita bertemu. Aku harus belajar tanpamu, dan kamu harus belajar tanpaku." Ucap Darrel, kemudian melajukan mobilnya menjauh dari apartemen Aurel.
***
Darrel mengirimkan pesan pada Darren jika dia tidak akan kembali bekerja setelah waktu makan siang. Waktunya yang tersisa itu akan ia gunakan bersama Aurel.
Darren yang tahu mengenai niat Darrel yang akan menjauhi Aurel hanya mengiyakan. Sebenarnya, dia juga tidak tega melihat kembarannya yang tidak bersemangat. Tapi, ini semua demi kebaikan mereka. Sebelum kebenaran yang dicurigainya terbukti, mereka sebaiknya tidak bertemu.
"Darrel, kemana kita akan pergi?" Aurel yang berada di dalam mobil Darrel menatap jalanan yang terlihat lenggang. Ia tidak tahu, kemana Darrel akan membawanya.
"Kamu diam saja. Kita akan ke suatu tempat. Kamu pasti suka."
"Baiklah."
Darrel terus melajukan mobilnya. Hingga 20 menit kemudian, dia menghentikan mobilnya. Darrel menoleh ke arah Aurel. Seulas senyum muncul saat melihat gadis itu tertidur.
"Pantas saja nggak ada suara dari tadi. Ternyata sudah tidur." Gumam Darrel.
Darrel turun dan menggendong Aurel dengan sangat hati-hati. Gadis itu menggeliat, tapi tak sampai terbangun.
Darrel membawa Aurel menuju sebuah rumah. Disana, sudah ada beberapa pengawal yang berjaga. Mereka dengan cekatan membuka pintu, membiarkan Darrel masuk.
Langkah Darrel langsung tertuju pada sebuah kamar. Seorang pelayan segera membantu membukakan pintu dan menutupnya kembali setelah Darrel masuk.
"Selamat datang di kamar mu." Ujar Darrel, membaringkan Aurel dengan lembut. Ia menyelimutinya, dan kemudian mengecup kening Aurel.
Aku mencintaimu. Batin Darrel, lalu keluar dari kamar itu.
***
Aurel tertidur dengan begitu pulasnya. Ketika terbangun, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.
"Aku di mana?" Gumam Aurel, saat matanya menatap langit-langit kamar yang berbeda dengan kamarnya di apartemen. Tapi, ia tiba-tiba terduduk saat sadar jika langit-langit kamar tersebut tidak asing baginya.
"Ka-kamar ini..." Matanya berkaca-kaca saat mengingat dengan jelas, jika ini adalah kamarnya.
Ia turun dari ranjangnya, lalu berjalan memperhatikan kamarnya. Foto-foto nya juga foto kedua orang tuanya tertata dengan rapih. Semua yang ada di kamar tersebut adalah barang-barang yang ia tinggalkan dulu. Semuanya masih terlihat sangat baik.
Air matanya menetes begitu saja. "Inikah yang Darrel katakan jika aku akan suka?" Lirihnya. Ia meraih foto kedua orang tuanya, lalu menciuminya.
"Aku sangat menyayangi kalian." Ujarnya.
Setelah selesai mengingat semua tentang kamarnya, Aurel keluar. Ia dengan semangat menuruni tangga sambil memanggil nama Darrel.
"Darrel!"
__ADS_1
"Darrel!"
"Darrel!"
Darrel yang berada di ruang tengah langsung berdiri saat mendengar panggilan Aurel. Ia khawatir akan terjadi sesuatu pada Aurel. Dan ia semakin melototkan matanya saat melihat Aurel berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.
"Aurel..."
"Terima kasih, Darrel." Ucap Aurel, langsung memotong ucapan Darrel. "Terima kasih sudah membawaku kembali ke rumah ini. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk kembali kesini. Terima kasih." Ucapnya.
Darrel tersenyum dan membalas pelukannya. "Aku bahagia kamu menyukainya."
"Aku sangat menyukainya."
"Tapi..." Darrel melonggarkan pelukannya. Ia memegang kedua lengan Aurel, dan menatap intens wajah gadis itu.
"Darrel... Kenapa?"
"Hufthh... Aurel, kamu boleh merasa senang. Kamu boleh merasa begitu bahagia. Tapi, jangan lari-lari seperti tadi. Kasihan dia yang ada dalam perutmu. Untung saja tidak terjadi apa-apa. Bagaimana jika terjadi sesuatu tadi?"
"Maaf."
"Lain kali, jangan ulangi! Oke?"
"Siap." Balasnya, membuat Darrel tersenyum dan mengacak pelan rambutnya.
"Ayo, kita duduk dulu." Aurel mengangguk. Darrel membawanya menuju sofa, dan membantu Aurel duduk. Dia kemudian berjalan menuju dapur, dan membuatkan susu untuk Aurel.
"Ayo, minum dulu."
"Dari mana susu ini?"
"Rumah ini? Apa aku akan tinggal disini?"
"Ya."
"Benarkah?"
"Iya."
"Memang bisa aku tinggal disini? Rumah ini sudah menjadi milik orang. Nggak mungkin mereka membiarkan ku tinggal disini."
"Benarkah? Siapa yang berani mengusir seorang tuan rumah?" Tanya Darrel, membuat Aurel menatapnya dengan bingung.
"Maksudmu... Kamu tuan rumahnya?"
"Bukan. Kamu lah tuan rumahnya." Jawab Darrel santai.
"A-aku? Bukankah rumah ini... Sudah dibeli orang?"
"Rumah ini sekarang milikmu. Nggak akan ada yang mengambilnya lagi."
"Benarkah?" Darrel mengangguk, membuat Aurel tersenyum. "Terima kasih, Darrel." Aurel kembali memeluknya.
"Iya. Sekarang, ayo minum!"
Aurel mengangguk lalu meneguk susu yang diberikan Darrel. Lelaki itu terus menatapnya tanpa suara. Matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Aku sudah menghabiskannya." Ucapan Aurel membuat Darrel dengan cepat mengerjabkan matanya.
"Aku akan mengantarnya kembali ke dapur."
"Biarkan saja disini." Aurel menahan tangan Darrel, membuat lelaki yang sudah beranjak kembali duduk.
"Bagaimana bisa rumah ini menjadi milikku lagi? Setahuku, rumah ini sudah Paman jual."
Darrel tersenyum dan membawa Aurel bersandar ke tubuhnya. "Orang yang membeli rumah ini dalam keadaan sulit. Istrinya sakit. Perusahaannya bangkrut. Dia tidak memiliki anak. Aku kasihan padanya. Awalnya aku ingin menolak. Tapi, saat melihat rumah ini, aku ingin memilikinya. Jadi, aku membelinya. Saat aku melihat rumah ini, aku mengingat sesuatu. Aku pernah mengantarmu pulang waktu kita masih sekolah. Aku juga coba menyamakan dengan data dari orang-orang yang ku suruh menyelidiki pemilik rumahmu. Semuanya sama. Hanya saja, penjual itu adalah orang ketiga yang membeli rumah kalian."
"Orang pertama dan kedua sangat menolak waktu orangku menawarkan untuk membeli rumah ini. Tapi, apa yang terjadi hingga mereka menjualnya pada pembeli ketiga, dan akhirnya menjadi milikmu lagi."
"Kamarmu tidak terpakai. Hanya saja, barang-barangmu mereka letakkan di kamar kosong. Semua yang ada di kamarmu ditata ulang oleh pelayan. Maaf jika letaknya tidak sesuai dengan keinginanmu."
Aurel terharu mendengarnya. Lagi-lagi, ia kembali memeluk Darrel. Betapa beruntungnya dia bertemu dengan seorang Darrel.
"Terima kasih, Darrel."
Darrel mengangguk. Tanpa Aurel ketahui, mata lelaki itu kembali berkaca-kaca, memikirkan apa yang akan terjadi diantara mereka pada hari esok.
Mungkin, kamu akan membenciku setelah ini. Batin Darrel.
***
Alisha baru saja kembali dari mengantar Nadia ke UKS. Niatnya ingin menjaga sahabatnya itu. Namun, karena petugas UKS hanya meminta satu orang, jadi dia membiarkan Yana yang terus memohon menjaga Nadia untuk berada di ruang UKS.
"Dasar si Yana! Pasti dia cuman mau menghindar dari pelajaran Matematika. Cari-cari alasan jagain Nadia di UKS. Siang-siang gini, belajar matematika kan bagus. Biar mata nggak ngan... Axel?" Ucapan Alisha terpotong saat melihat Axel berdiri dengan seorang siswi di lorong kelas. Kedua terlihat sedang berbicara. Siswi tersebut juga terlihat senyum-senyum saat berbicara dengan Axel. Hal itu membuat Alisha tidak suka.
Dengan langkah cepat, Alisha mendekati mereka.
"Ekhm..." Gadis itu berdehem, membuat Axel dan siswi tersebut menoleh.
"Lagi ngomongin apa?" Tanyanya, dengan tatapan dingin pada Axel dan gadis tersebut.
"Eh, Alisha. Aku lagi tanyain soal calon osis sama Axel. Siapa tahu, dia berniat mencalonkan diri jadi osis."
"Oh. Maaf ya, aku udah ganggu." Alisha langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan hal tersebut.
"Oh ya, Axel..."
"Gue gak berminat!" Ucap Axel, dingin dan langsung mengejar Alisha.
Alisha yang sudah berjalan terus menggerutu. Saat ia hendak berbelok ke arah kelas, tiba-tiba tangannya dicekal, dan ia ditarik menuju taman.
"Ish, apaan sih?" Kesalnya, mencoba melepaskan tangannya. Dia tahu siapa pelakunya.
"Lo marah?" Axel memutar Alisha menghadapnya, hingga ia bisa melihat wajah cemberut gadis itu.
"Enggak."
"Kalo enggak, kenapa kesal sama cemberut gitu?"
"Iya, Alisha kesal, Alisha marah. Lagian ngapain sih Axel ngomong sama perempuan itu? Kemarin-kemarin kan mereka nggak pernah suka ngomong sama Axel. Kenapa sekarang jadi sok akrab gitu?"
Axel menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. Ia kemudian mencubit pelan kedua pipi Alisha.
"Janji nggak bakal mau dengerin mereka ngomong lagi." Ucap Axel, yang langsung membuat Alisha terseyum.
__ADS_1
Axel hanya milik Alisha. Sampai kapan pun tetap menjadi milik Alisha. Batin Alisha.