
Upacara pagi baru saja usai. Alisha dengan cepat menuju kelasnya setelah mendapat pesan dari nomor asing. Pasan yang kembali berisi 08.00. Entah kenapa ia merasa itu menunjukkan waktu.
Drrttt... Handphone Alisha kembali bergetar. Lagi-lagi pesan dari nomor asing tersebut.
+ 6282367489xxx
Tas sekolah.
Tas sekolah? Sudah pasti pesan ini memintanya untuk segera menuju kelas. Tebakannya benar.
Alisha berjalan cepat sambil melihat arloji nya. Alisha tiba di kelas tepat jam 08.00. Suasana dalam kelas masih sepi. Teman-temannya masih diluar kelas, berjalan santai. Tangannya perlahan meraih tas sekolahnya.
"Aakkkhh..."
Dengan spontan Alisha melempar benda yang dipegangnya. Alisha melihat tangannya yang terdapat cairan merah. Wajahnya berubah pucat. Axel yang diam-diam mengikutinya tadi langsung menghampiri Alisha.
"Ada apa?" Tanyanya. Matanya ikut menatap tangan Alisha, kemudian menatap benda yang tergeletak di lantai. Sebuah boneka kelinci kecil yang dicabik-cabik dan dilumuri darah.
Axel dengan cepat menuju meja guru yang terdapat tisu. Mengambilnya dan langsung membersihkan tangan Alisha. Ia juga mengangkat benda tersebut dan membuangnya di tempat sampah. Kemudian membersihkan bekasnya di lantai.
"Udah nggak ada lagi. Jangan takut." Axel berusaha menghibur. Tapi, usahanya belum bisa membuat Alisha kembali bersikap normal. Wajah gadis itu masih begitu pucat.
"Ayo, gue anter ke UKS aja." Alisha menggeleng.
"Disana lo bisa lebih tenang. Gue bakal temenin lo."
Alisha tidak bisa membantah lagi. Axel segera membawa Alisha keluar kelas. Ia menitip pesan pada Yana dan Nadia untuk memberitahu guru mata pelajaran jika Alisha sakit dan harus dibawa ke UKS.
Tanpa mereka sadari, seseorang mendengar semuanya. Senyum misterius muncul di bibir orang tersebut.
"Ini masih permulaan." Gumam orang tersebut.
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Alisha keluar kelas bersama kedua sahabatnya juga Axel. Nadia dan Yana tidak tahu soal kejadian pagi tadi. Tapi, mereka sangat khawatir mengenai kondisi Alisha yang pucat saat dibawa Axel ke UKS tadi.
"Emm... A-Axel. Kenapa kamu belum pulang? Alisha biar sama kita." Ucap Nadia, masih merasa takut pada Axel meski lelaki itu sudah berteman dengan Alisha.
"Jemputan lo berdua udah datang. Mending lo berdua pulang." Balas Axel datar, membuat Nadia dan Yana menegeuk ludah mereka.
"Ki-kita tetap mau nungguin jemputan Alisha." Balas Yana.
Axel tak menjawab lagi. Dia hanya diam diatas motornya, tepat disamping Alisha. Sesekali matanya melirik Alisha.
Nadia dan Yana kembali setelah memberitahu supir mereka untuk menunggu. Tepat setelah mereka tiba di dekat Alisha dan Axel, sebuah mobil berhenti. Darrel segera keluar, diikuti Darren. Entah mengapa, dia dan Darren tiba-tiba merasa khawatir pada Alisha.
"Kak," Alisha langsung memeluk Darrel yang sampai terlebih dulu didekatnya.
"Ada apa?" Alisha hanya menggeleng.
Darren yang baru sampai menatap Axel. Tatapan Darren membuat Darrel ikut mengarahkan pandangannya pada Axel.
"Kau siapa?" Tanya Darrel.
"Axel." Darrel sedikit tersentak. Remaja lelaki di depannya ini memiliki karakter yang sama dengan Darren.
Darrel menoleh sejenak pada Darren yang kini masih menatap Axel dengan tangan yang terus mengusap rambut Alisha.
"Maksud saya, kau siapanya Alisha? Kenapa ada disini juga?" Lanjut Darrel.
"Dia teman Alisha, Kak." Alisha yang menjawabnya.
Mendengar suara adiknya yang sedikit serak, Darren langsung menariknya pelan. Ada raut khawatir di wajahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Darren.
"Alisha nggak enak badan, Kak."
Tanpa bertanya lagi, Darren langsung menggendong Alisha menuju mobil. Darrel juga ikut khawatir. Tapi, ia menangkap ada yang berbeda dari Alisha.
"Yana, Nadia," Darrel bersuara dengan tatapan meminta penjelasan.
"Itu, Kak. Setelah upacara tadi, Alisha dibawa Axel ke UKS karena wajah Alisha pucat. Axel yang jagain Alisha tadi. Dia juga disini nungguin jemputan Alisha." Jawab Nadia.
Darrel menaikkan sebelah alisnya sambil menoleh pada Axel.
"Lalu, kenapa tas Alisha diganti?"
Yana dan Nadia saling menatap. Mereka tidak tahu, kenapa sampai tas sekolah Alisha diganti dengan tas milik Axel.
"Tas Alisha kotor. Gak sengaja kesiram minuman." Axel menjawab.
__ADS_1
Darrel menatap Axel. Dia tidak melihat sesuatu mencurigakan dari pancaran mata Axel. Namun, belum sempat dia berbicara, suara mesin mobil terdengar.
Darrel menoleh sejenak ke arah mobil, lalu berbalik dan menepuk pundak Axel. "Makasih udah jagain adik saya." Ucap Darrel yang diangguki Axel.
"Yana, Nadia, Kakak pergi dulu." Darrel berpamitan.
"Hati-hati, Kak." Balas Nadia dan Yana bersamaan.
Setelah Darrel masuk, mobil melaju menjauh dari sekolah. Darrel sesekali menoleh ke arah Alisha yang berada di kursi penumpang. Darren memperhatikan Alisha melalui spion dalam.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
Handphone Darren bergetar. Darrel dengan cepat meraih handphone kembarannya itu dan langsung menjawabnya.
"Hallo, Darren."
"Darrel, Bu."
"Ya, Darrel. Apa kalian sudah sampai di sekolah Alisha?" Tanya Alula. Dia mendapat informasi jika si kembar yang menjemput Alisha hari ini, dari supir yang ditugaskan untuk mengantar jemput Alisha ketika si kembar sibuk.
"Sudah, Bu."
"Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Ibu mengirimnya pesan tapi tidak dibalas. Perasaan ibu tidak enak sejak tadi."
"Alisha nggak enak badan, Bu."
"Darrel," Kini suara Gara yang terdengar.
"Iya, Ayah."
"Kalian sudah menuju kemari?"
"Iya, Ayah."
"Tidak ada sesuatu yang terjadi kan?"
"Nggak ada, Yah. Alisha hanya nggak enak badan."
"Langsung ke rumah sakit. Ayah sama Ibu akan menyusul."
"Rumah sakit?"
Darrel menoleh menatap Darren. Lelaki itu hanya diam. Alisha yang sudah hampir tertidur samar-samar mendengar ucapan Darrel.
"Alisha mau pulang, Kak. Bukan ke rumah sakit." Ucapnya pelan.
"Alisha nggak mau ke rumah sakit, Yah."
"Ya, sudah. Ke rumah saja. Ayah akan penggilkan dokter."
"Iya, Yah."
Panggilan pun terputus. Darrel meletakkan kembali handphone Darren.
***
Ruangan Asya begitu hening. Di depannya sedang duduk Naomi yang terlihat menunduk.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Asya lembut.
"Ya. Ku rasa, akhir-akhir ini kamu berubah, Asya. Apa itu karena Aurel?"
"Naomi, apa yang kamu pikirkan? Nggak ada yang berubah. Aku hanya sedikit lebih sibuk dari biasanya."
Cih. Kau pikir, aku bodoh? Jelas-jelas kau terus menghindar dariku.
"Baiklah. Mungkin ini hanya perasaanku. Tapi, bisakah kita makan bersama setelah pulang kantor nanti?"
"Boleh. Kita bisa ke cafe tempat Aurel bekerja."
Aurel lagi. Perempuan itu yang menjadi penghalangku memanfaatkan Asya. Tapi, boleh juga. Aku bisa memberi pelajaran padanya.
"Oke. Aku tunggu kamu setelah jam pulang nanti."
"Oke."
Naomi tersenyum kemudian pergi dari ruangan Asya. Gadis itu kembali memperhatikan berkas kerja sama perusahaan Yunanda Group dengan Grisam Group. Besok mereka akan melangsungkan pertemuan untuk membicarakan keberangkatan mereka untuk meninjau pembangunan proyek. Setelah itu dia memeriksa berkas yang lainnya. Hingga tak terasa, jam pulang pun tiba.
Asya segera menuju parkiran. Disana sudah ada Naomi yang menunggunya.
"Ayo,"
__ADS_1
Naomi mengagguk dan memasuki mobilnya. Begitupun Asya. Mereka berangkat bersama menuju cafe tempat Aurel bekerja.
"Cafe ini?" Naomi bertanya setelah berada di depan cafe tujuan mereka.
"Ya. Ini tempat Aurel bekerja."
"Bukankah ini tidak begitu jauh dari Grisam Group?"
"Benar. Ini cafe milik tante Alula."
Naomi terdiam dengan ekspresi melongo. Cafe besar dan mewah ini cafe milik Ibu Darren.
"Naomi, ayo masuk!"
"Ah, iya. Ayo!"
Asya dan Naomi segara masuk. Asya melambaikan tangannya pada pelayan cafe untuk memesan.
"Ya, nona. Apa anda ingin memesan seuatu?"
"Bisakah kami dilayani oleh Aurel saja?" Celetuk Naomi, mengacuhkan ucapan pelayan tadi.
"Naomi, Aurel menjadi manajer di cafe ini."
"Manajer?" Beonya, dan Asya mengangguk.
Sial! Ku pikir dia menjadi pelayan disini.
"Pasti Darrel yang menjadikannya manajer." Lanjut Naomi.
"Kamu salah, Naomi. Darrel memang membawanya kesini. Dia hanya mengantarnya. Aurel yang mengurus lamarannya sendiri. Awalnya dia melamar menjadi pelayan. Orang kepercayaan tante sendiri yang mewawancarainya. Tapi, setelah diwawancara, dia diterima menjadi manajer karena saat itu posisi manajer sedang kosong. Memang keberuntungan berpihak padanya." Ucap Asya dengan senyum bahagia.
"Kau yakin, bukan karena Darrel?"
"Ya. Saat itu, aku bersama Darrel. Kami menunggu hasilnya."
"Maaf sudah membuatmu menunggu. Bisakah kamu panggil Aurel sebentar? Kami akan memesan setelah dia kemari." Lanjut Asya.
Pelayan tersebut segera memanggil Aurel. Tak lama, Aurel datang bergabung dan mereka pun memesan makanan.
"Selamat, ya, atas pekerjaanmu." Naomi menyodorkan tangannya pada Aurel. Gadis itu membalasnya sambil tersenyum.
"Terima kasih."
Mereka saling berbincang. Lebih tepatnya, Asya dan Aurel lebih banyak diam mendengarkan Naomi. Hingga kedatangan pelayan menyela mereka.
"Permisi, nona. Ini pesanan kalian."
"Terima kasih." Ucap Asya dan Aurel bersamaan. Keduanya lalu saling melempar senyum.
Cih. Apa yang lucu dengan mengucap kalimat secara bersamaan? Aneh.
Mereka pun menyantap pesanan mereka, kecuali Aurel. Di sedang tidak ingin memakan sesuatu. Dia hanya menikmati minumnya. Tapi, tiba-tiba Naomi menyenggol lengan Aurel membuat minuman yang Aurel pegang tumpah di bajunya.
"Aduh, maaf Aurel. Aku nggak sengaja."
"Nggak apa-apa. Aku ke toilet dulu."
"Biar aku bantu." Asya menawarkan diri.
"Nggak usah, Asya. Jangan khawatir, hanya tumpahan minuman."
"Baiklah."
Aurel segera berlalu menuju toilet. Ia segera membersihkan bajunya sambil menatap cermin saat tiba di toilet. Aurel sedikit tersentak saat melihat dari cermin, Naomi masuk sambil menyeringai ke arahnya.
"Nao... Shhh... Apa... Yang kau lakukan?" Aurel meringis saat tiba-tiba Naomi menarik rambutnya.
"Apa yang ku lakukan? Hmm? Ini hukuman untukmu karena membuat Asya menjauh dariku. Karena kau, sikap Asya padaku berubah." Ucap Naomi.
"Shh... Kamu, bukan orang baik, Naomi."
"Ya. Kau benar. Jadi, jangan main-main denganku."
Nggak. Aku nggak boleh lemah. Aku disini juga untuk menjauhi Asya dari perempuan ini.
Aurel mengumpulkan keberaniannya, kemudian dengan cepat mendorong Naomi. Membuat tangan Naomi terlepas dari rambutnya, dan punggungnya menabrak tembok.
"Ahh... Shhh... Sialan!" Umpat Naomi.
"Dengar! Aku nggak akan biarin kamu manfaatin dan jahatin Asya. Aku akan menjauhkan Asya darimu." Ucap Aurel laku keluar dari toilet tersebut.
__ADS_1