Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 11


__ADS_3

Setelah kepulangan Asya dan Naomi, Alula dan Alisha kembali ke kamar masing-masing. Darren bergegas ke ruang kerjanya, dan Gara memasuki ruang baca.


Gara terduduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut, dan mengeluarkan handphonenya.


"Hallo," Terdengar sapaan dari sana. Namun, Gara belum menjawabnya.


"Tuben sekali kau menelpon ku? Ada apa? Putriku..."


"Edo." Suara serius Gara memotong ucapan Edo. Membuat lelaki yang tidak seruangan dengannya itu terdiam sejenak.


"Suaramu berubah serius. Katakan! Apa yang terjadi?" Balas Edo. Dia begitu kenal dengan sahabatnya itu. Jika Gara serius seperti ini, pasti benar-benar hal yang penting.


"Tidak ada yang terjadi. Putrimu baik-baik saja. Sekarang sudah dalam perjalanan pulang. Tapi, ku ingatkan padamu. Gadis yang bersama putrimu bukanlah gadis yang baik."


Terdengar helaan nafas dari seberang sana. "Terima kasih sudah mengingatkanku. Aku tidak sepeka dirimu atau kedua anakmu. Tapi, aku merasakan hal yang mengganjal saat bertemunya, dan aku mengabaikannya. Sekali lagi terima kasih sudah memperingatkanku."


"Ya. Soal kedua anakku, bagaimana kau tahu?"


"Ck. Kau lupa? Mereka di rumahku kemarin. Darren memang sangat dingin dan datar, bahkan melebihi kamu. Tapi, sorot matanya bisa ku baca. Dan gadis kecil mu yang manis itu, aku sangat menyukai ekspresi datar yang muncul di wajahnya. Seakan aku sedang melihat wajah Alula dengan ekspresi Gara." Ujar Edo, terkekeh kecil.


Namun, kekehannya langsung terhenti saat mendengar ucapan Gara.


"Aku melarangmu menyentuh putriku! Apalagi memeluknya! Dan satu lagi. Aku akan memukulmu saat ketemu nanti. Berani-beraninya menyukai istriku!"


"Ck. Kau ini. Aku hanya bercanda. Aku punya Irene di sisiku."


"Karena itu, jangan menyukai istriku!"


"Hmmm... Dasar posesif! Ya sudah, ku tutup telponnya. Sekali lagi, terima kasih."


"Hmm..."


Panggilan pun terhenti. Gara menarik nafasnya. Kemudian ia keluar ruang belajar dan menuju kamar.


***


Asya menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia ingin berbicara dengan Naomi yang terus terdiam sejak tadi.


"Naomi, kamu kenapa?" Asya menyentuh lengannya, namun ditepis oleh gadis itu. Wajahnya mulai memerah menatap Asya. Bibirnya bergetar.


"Kamu tanya aku kenapa?! Aku malu Asya! Darren dan keluarganya sepertinya membenciku! Kamu lihat bagaimana ekspresi mereka? Hanya Ibunya yang terlihat baik padaku. Apa kamu sedang mempermainkan ku dengan mengenalkan ku pada mereka?! Hah? Jawab Asya!"


"Naomi. Aku nggak bermaksud seperti itu. Aku hanya berharap kamu dan Darren dekat. Aku nggak tahu mereka akan merespon seperti ini."


Naomi masih terisak. "Apa kamu ingin mempermalukan ku? Aku tahu, aku gadis miskin yang tak punya keluarga."


"Nggak, Naomi. Aku nggak ingin mempermalukan mu. Kamu saudaraku. Bagaimana mungkin aku melakukan itu padamu." Ucap Alula.


"Benarkah?"

__ADS_1


Asya mengangguk. "Benar. Kita adalah saudara. Aku akan selalu ada untukmu." Ujar Asya, dan langsung memeluk Naomi.


Setelah masalah itu diluruskan. Asya dan Naomi kembali ke rumah. Saat mereka tiba, langit sudah menggelap. Asya maupun Naomi, langsung menuju kamar masing-masing.


Baru saja Asya membaringkan tubuhnya di kasur, handphonya berbunyi.


"Hallo,"


"Sudah sampai?" Pertanyaan itu terdengar tanpa membalas sapaan.


"Kami sudah sampai. Ada apa?"


"Tidak. Hanya memastikan."


"Darren,"


"Hmm...?"


"Bisakah kamu bersikap sedikit hangat pada Naomi? Dia gadis baik. Jangan terlalu dingin padanya."


"Istirahatlah. Aku tutup." Sabungan telpon langsung tertutup setelah itu. Asya hanya bisa menarik nafasnya. Ia meletakkan kembali handphonenya, lalu menuju kamar mandi.


***


Seorang lelaki berdiri di dekat pintu salah satu kamar hotel yang gelap. Tubuhnya mulai mengalami gejala-gejala aneh yang membuatnya semakin tidak nyaman. Ia hendak membuka pintu untuk mencari bantuan. Baru setengah pintu terbuka, ia melihat siluet seorang gadis.


"Mmm... Mmm" Gadis itu berusaha berteriak dan berontak. Namun, kekuatannya tak sebanding dengan si lelaki.


Lelaki itu membawanya ke ranjang dan langsung menciumnya. Meskipun gadis itu berusaha mendorongnya, lelaki itu tetap kokoh. Ia bahkan menahan tangan gadis itu.


"Mmm... Mmm..." Gadis itu masih berusaha memberontak. "Mmmm..."


Drrttt... Drrttt... Darren langsung terbangun saat handphonenya berbunyi. Ia mengusap kasar wajahnya.


"Hah! Lagi-lagi aku memimpikannya. Aku benar-benar laki-laki brengsek. Aku harus menemukannya. Aku harus bertanggung jawab." Gumam Darrel.


Ia lalu menoleh ke arah handphonenya. Satu panggilan dari suruhannya. Matanya beralih ke jam yang tertera di layar hp-nya.


"Sudah pagi. Aku hanya tidur 2 jam." Gumamnya.


Semenjak kejadian itu dua minggu lalu, Darrel terus dihantui rasa bersalah. Dia sulit tertidur. Tangisan gadis itu terus terngiang di telinganya. Bayangan perbuatannya itu selalu muncul setiap dia memejamkan mata untuk tertidur.


Darrel kembali mendial nomor orang yang menelponnya.


"Hallo, tuan muda."


"Ya. Bagaimana?"


"Maaf, tuan. Masih belum ada petunjuk apapun. CCTV di dekat kamar tuan saat itu sedang dalam proses perbaikan. Tapi, kami akan tetap terus melakukan pencariannya."

__ADS_1


"Baiklah. Jangan berhenti sampai kalian menemukannya."


Panggilan terputus. Darrel kembali membaringkan tubuhnya. Pikirannya menerawang. Mencoba mengingat wajah gadis itu.


"Sial sekali waktu itu kamar ku gelap. Jika tidak, aku sudah pasti bisa mengenalnya. Aku juga tidak sepenuhnya sadar waktu itu."


Darrel menarik nafasnya. "Jika kamu bukan petugas hotel, siapa kamu sebenarnya? Dimana aku harus menemukanmu?" Ujar Darrel.


Saat sedang mencoba memikirkan segala cara agar bisa menemukan gadis itu, tiba-tiba handphonenya kembali berdering. Darrel segera mengangkatnya saat melihat tulisan Ayah yang tertera di layar handphonenya.


"Hallo, Ayah."


"Hallo. Suaramu serak. Apa baru bangun?"


"Ya."


"Apa ada masalah?"


"Tidak, Yah. Aku bermain game sampai lupa waktu semalam." Jawabnya berbohong. Gara yang di seberang hanya bisa mempercayainya. Meskipun ia bisa merasakan jika putranya sedang tidak jujur.


"Apa Ayah ada hal penting yang ingin dibicarakan?"


"Apa harus ada hal penting dulu untuk berbicara dengan putra sendiri?"


"Hahaha... Maaf, Yah."


"Ya, tidak masalah. Kapan kamu pulang?"


"Beberapa hari lagi, Yah."


"Beri tahu Ayah nanti. Kami akan menjemputmu."


"Tentu."


"Kalau begitu, Ayah tutup telponnya."


"Baiklah. Titip salam untuk Ibu."


"Ya."


Panggilan pun berakhir. Darrel lagi-lagi menarik nafasnya. "Maafkan aku, Yah, sudah berbohong. Aku akan menceritakannya nanti." Gumamnya.


Darrel beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air. Ia masih saja memikirkan perihal gadis malam itu.


"Aku masih belum menemukanmu. Tersisa beberapa hari lagi aku disini. Aku akan kembali. Meskipun Ayah tidak meminta aku untuk kembali, aku akan tetap kembali. Penggelar acara lomba melukis di kota C mengundangku untuk menjadi penilai di acara itu sejak tiga minggu lalu, dan aku menyetujuinya. Aku tidak bisa membatalkannya begitu saja." Gumam Darrel, mengusap kepalanya yang terguyur air.


"Semoga secepatnya menemukanmu." Lanjutnya.


Darrel mematikan shower, lalu memakai handuknya dan keluar. Setelah mengenakan pakaiannya, Darrel beranjak menuju cafe yang berada tak jauh dari apartemennya untuk sarapan. Setelah itu, ia menuju salah satu cabang perusahaan Ayahnya yang ada disana. Hanya untuk memantau. Karena perusahaan itu sudah di jalankan oleh orang kepercayaan Gara.

__ADS_1


__ADS_2