Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 138


__ADS_3

Hari-hari terus berganti, begitu juga dengan usia kandungan Asya. Wanita itu selalu rutin menjalani senam hamil dan mempersiapkan persalinannya. Hal itu tidak terlepas dari campur tangan Alula, Irene, Disa dan Aurel. Keempat wanita yang sudah meraskan bagaimana rasanya melahirkan terus mendampingi Asya.


Darren juga menjadi suami siaga. Dia selalu berusaha berada di sisi istrinya, meskipun pekerjaannya banyak. Bahkan ia pulang lebih awal dan membawa pekerjaannya ke rumah.


Pukul sebelas malam, Darren baru menyelesaikan pekerjaan nya. Ia meregangkan tubuhnya dan bergegas menaiki ranjang.


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Asya yang sedang tertidur. Perbuatan Darren itu membuat Asya terusik.


"Sayang, aku ngantuk." Gumam Asya, berbalik menghadap Darren dan memeluk leher Darren.


"Tidurlah."


Tidak ada jawaban menandakan Asya sudah kembali tertidur. Darren tersenyum melihatnya. Tangannya bergerak mengusap perut Asya. Lelaki itu melirik tanggal yang ia lingkar. Tanggal perkiraan lahir anak-anaknya. Dua minggu lagi, proses kelahiran anak-anaknya akan berlangsung.


"Sebentar lagi, kita akan bertemu, nak. Papa udah nggak sabar. Semoga kalian dan Mama baik-baik saja. Papa akan usahakan yang terbaik." Ujar Darren.


***


Seminggu berlalu. Darren berhenti bekerja seminggu dari tanggal perkiraan lahir. Tanggal perkiraan sudah lewat sehari. Namun, Asya begitu santai. Selain itu, tanda-tanda Asya akan melahirkan pun belum terlihat. Itu yang Darren tahu. Apakah itu benar atau tidak, dia tidak bisa memastikan. Asya sedikit tertutup.


"Ku rasa, anak kamu pasti keras kepala nantinya." Ucap Jiyo pada Darren yang mendapat tatapan tajam lekaki itu. Lelaki itu sedang ada di kediaman Gara mengantarkan mainan yang dia beli untuk Doni dan Meeya.


"Kenapa kamu berkata begitu?" Tanya Darrel. Hanya para lelaki yang ada di ruang tamu, kecuali Gara. Lelaki itu sedang keluar.


"Lihat saja. Sudah sampai tanggalnya, masih belum mau kaluar. Tanda-tanda nya aja nggak ada."


"Diamlah Jiyo!" kesal Darren.


Jiyo langsung terdiam. Sedangkan Darrel, lelaki itu terkekeh pelan melihat wajah Jiyo.


"Sayang, tolong gendong Meeya dulu." Aurel datang mengantarkan Meeya. Anak itu tersenyum senang melihat Papanya.


"Anak Papa makin hari makin cantik aja." Darrel mengecup pipi Meeya beberapa kali.


"Bagaimana Asya?" Darren menatap Aurel.


Wanita itu tersenyum. "Nggak apa-apa. Dia baik-baik saja. Kamu jangan terlalu cemas."


Darren mengangguk pelan. Setelah itu, Aurel berlalu dari ruang tamu. Ketiganya kembali berbincang-bincang. Lebih banyak Jiyo dan Darrel yang berbincang. Hingga malam menjelang, dan setelah makan malam, Jiyo berpamitan pulang.


Darren dengan perlahan membuka pintu. Dia pikir, Asya sedang tertidur, tapi ternyata wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi. Raut wajahnya seperti menahan sakit. Darren segera menghampirinya dan menuntun Asya.


"Hati-hati, sayang." Ucapnya, sambil memegang tangan Asya.


"Sayang, perutku rasanya mules. Punggungku juga keram. Terus, barusan celanaku basah semua. Sepertinya air ketuban nya udah pecah." Ujar Asya, sambil manahan sakit.


"Ketubannya pecah? Ayo, kita ke rumah sakit."


Tanpa menunggu jawaban istrinya, Darren langsung menggendong Asya. Ia membawa wanita hamil itu keluar.


"Ibu! Ayah!"

__ADS_1


Gara dan anggota keluarga lain yang masih berada di ruang keluarga lantas terkejut mendengar panggilan Darren. Semuanya bergegas ke sumber suara. Bisa mereka lihat Asya yang menahan sakit dalam gendongan Darren.


"Cepat bawa istri kamu ke rumah sakit."


Darren segera membawa Asya menuju mobil yang memang sudah disiapkan. Supir dengan sigap membawa pasangan suami istri itu ke rumah sakit.


Alula segera membawa barang-barang yang dibutuhkan Asya nantinya. Aurel dan Alisha akan tetap di rumah menjaga Meeya dan Doni.


"Ayah sama Ibu hati-hati, Kak Darrel juga. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Ujar Alisha. Jujur, dia masih takut dengan kejadian yang menimpa Kakek Nenek Doni.


"Iya." Jawab ketiga orang itu bersamaan, lalu bergegas ke rumah sakit.


Darren dan Asya tiba di rumah sakit. Asya langsung dibawa ke ruang persalinan. Darren ikut masuk menemani sang istri.


"Darren, sakit banget!" Ujar Asya. Tangannya mencengkram erat tangan Darren.


"Iya, sayang. Sabar."


"Sabar gimana? Ini sakit banget!" Ucap Asya sedikit membentak.


"Gimana kalau operasi saja?"


"Nggak! Aku nggak mau!" Tegas Asya di sela-sela menahan sakitnya.


Darren terdiam. Tak lama, dokter dan suster yang membantu perslinan datang. Dokter mulai menginstruksikan Asya.


Darren sangat tidak tega melihat istrinya yang terus teriak kesakitan. Ia bahakan tidak merasa sakit saat Asya meremas tangannya, hingga kuku-kuku Asya menancap di kukitnya.


"Tenanglah. Mereka akan baik-baik saja." Ucap Gara, sambil memeluk istrinya.


Darrel terlihat diam di kursinya. Namun, tangannya terus ia remas. Jujur, ia juga merasa cemas. Apalagi Asya akan melahirkan anak kembar.


Edo dan Irene juga sudah sampai. Begitu juga dengan Jiyo. Lelaki itu segera ke rumah sakit saat mendapat telpon dari Derrel.


Irene meremas kuat tangan suaminya. Wajahnya benar-benar menggambarkan betapa khawatirnya dia sekarang.


"Nggak akan terjadi apa-apa. Asya dan cucu kita pasti baik-baik saja. Percayalah."


Irene hanya mengangguk. Meski begitu, hatinya tetap merasa cemas.


Hingga tangisan seorang bayi yang terdengar, semua menghembuskan nafas lega. Namun, tidak sepenuhnya lega. Masih seorang yang terdengar. Bayi Asya dan Darren kembar. Jadi, masih seorang lagi. Hingga 5 menit menunggu, kembali terdengar suara tangaisan bayi yang melengking.


Lega. Semuanya benar-benar lega sekarang. Gara dan Alula saling berpelukan. Begitu juga Edo dan Irene. Bahkan Darrel dan Jiyo juga saling berpelukan.


"Cucuku. Mereka sudah lahir." Gara begitu senang. Ia mengecup kening Alula berkali-kali.


"Akhirnya, cucuku lahir. Aku sangat bahagia." Ujar Edo. Lelaki itu memeluk dan mencium istrinya.


Pintu ruangan di buka, membuat semuanya mendekat. Dokter berdiri di depan mereka dengan senyuman lega.


"Selamat, nyonya Asya melahirkan bayi kembar, laki-laki dan perempuan."


Semua serentak berucap syukur. Bahagia sekali mendapatkan cucu laki-laki sekaligus cucu perempuan.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan putri saya, dok?" Tanya Irene.


"Putri nyonya baik-baik saja. Kami akan membersihkan bayi nya. Nyonya Asya juga akan di pindahkan ke ruang rawat."


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Iya, dok. Terima kasih."


Dokter tersebut berlalu bersama dua suster yang menggendong baby kembar.


***


Darren tak henti-hentinya memberi kecupan di kening istrinya. Sekarang mereka sudah berada di ruang rawat. Dia tidak peduli dengan keluarganya yang sedang menatap dirinya.


"Terima kasih, sayang." Ujar Darren.


"Kamu udah mengatakannya berkali-kali."


"Ribuan kali aku ucapkan terima kasih pun nggak akan imbang dengan apa yang sudah kamu lakukan untukku."


Jiyo dan Darrel memutar bola mata dan berekspresi ingin muntah. Sejak kapan Darren jadi seperti ini? Rasanya geli sekali.


Asya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Tiba-tiba ia merasa bersalah karena sudah membentak dan membuat tangan Darren tergores oleh kukunya.


"Maaf ya, aku udah bentak kamu tadi."


"Pfftttt..."


Niat ingin tertawa Darrel dan Jiyo langsung lenyap ketika mendapat tatapan tajam Darren. Lelaki itu seperti ingin membunuh mereka saja. Tapi, saat berhadapan dengan Asya, tampang mematikannya itu langsung berubah lembut.


"Nggak apa-apa, sayang." Ujar Darren.


Darrel dan Jiyo masih berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. Bagaimana bisa seorang Darren dibentak? Biasanya suka membentak. Namun, tetap saja. Keinginan untuk menertawakan Darren sangat besar hingga kedua lelaki itu tak dapat membendungnya. Akhirnya kedua lelaki itu tertawa lepas tanpa peduli dengan tatapan tajam Darren.


"Hahaha.... Hahaha... Hahaha..."


"Kalian!!"


"Sudah-sudah." Tegur Gara. "Darrel! Jiyo! Berhenti tertawa." Ucap Gara serius, yang langsung dituruti keduanya.


"Ck. Kalian ini. Masih saja suka usil." Ujar Edo.


"Usil itu manusiawi, Paman." Balas Jiyo.


"Kamu juga suka usil, sayang." Timpal Irene, membuat Edo terkekeh pelan.


"Bagaimana? Apa kamu sama Asya sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" Tanya Alula. Dia sudah tidak sabar mengetahui nama kedua cucunya.


"Sudah, Bu." Jawab Darren dan Asya bersamaan.


"Alan Alvaro Grisam," Ucap Darren.


"Dan, Alena Asnamira Grisam." Sambung Asya, sambil tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2