
Asya dengan wajah ceria menggandeng Doni memasuki kediaman Gara. Begitu juga Darren, Darrel, Aurel dan Alisha. Mereka senang mendapat satu anggota keluarga baru lagi.
Di ruang tamu, Gara dan Alula berdiri menyambut mereka dengan perasaan bahagia. Anak dan menantu mereka, juga cucu sudah kembali. Rumah mereka akan kembali ramai.
"Ayah. Ibu." Alisha langsung memeluk kedua orang tuanya dengan penuh sayang. Gara dan Alula sedikit merasa aneh dengan sikap putri mereka. Sejak kematian Kakek Nenek Doni, Alisha sedikit aneh. Tapi, mereka mengenyahkan pikiran tersebut dan menyambut baik sikap putri mereka yang terbilang manja itu.
"Alisha kangen banget sama Ayah sama Ibu." Ujarnya, tanpa melepas pelukannya.
"Kan baru ketemu sehari lalu." Ujar Alula.
"Tetap aja, kangeen..."
Gara terkekeh kecil melihat putrinya. Dengan gemasnya ia mengecup puncak kepala gadis itu. "Ada-ada saja kamu, nak." Ujarnya sambil geleng-geleng.
Setelah pelukan Alisha terlepas, pasangan suami istri itu menatap ke arah anak lelaki yang digandeng Asya. Senyum keduanya mengembang.
"Doni." Ucap Gara.
"Cucu Nenek. Sini, sayang." Alula memanggil anak itu dengan lembut.
"Ayo, ke Nenek sama Kakek." Asya berbisik pelan, yang diangguki oleh Doni. Anak itu mendekati Gara dan Alula, meraih tangan keduanya dan menciumnya bergantian.
"Anak manis. Selamat datang, ya, di rumah baru mu. Semoga kamu betah. Jangan sungkan." Alula mengusap lembut rambut anak itu.
"Jagoan Kakek. Kakak buat Meeya sama adik bayi." Gara mengangkat anak itu lalu membawanya dalam gendongan. Membuat sedikit senyum muncul di bibir Doni.
"Terima kasih, Kek, Nek." Ujarnya yang dibalas anggukkan Gara dan Alula. Gara kembali menurunkan Doni, membiarkan anak itu kembali ke sisi Darren dan Asya. Setelah itu, semuanya duduk bersama di sofa. Sementara barang bawaan mereka, sudah dibawa oleh para pelayan.
"Aurel, sini Ibu mau gendong cucu Ibu." Ujar Alula sembari mengulurkan tangannya. Aurel tersenyum dan mengangguk ke arah wanita itu. Mendekati sang Ibu mertua, lalu menyerahkan Meeya dengan hati-hati.
"Cucu Nenek. Cantik sekali." Ujar wanita itu.
Gara ikut memeperhatikannya. Dan beberapa saat kemudian, Gara menoleh ke arah Asya dan Darren. Matanya berhenti pada anak lelaki yang duduk diantara keduanya.
"Ayah udah dapat sekolah yang tepat buat Doni. Kalian bisa melihat-lihatnya besok. Jika tidak cocok, ada rekomendasi sekolah lain."
"Jangan besok, Yah." Ujar Asya cepat. Ia masih ingin putranya itu berada di rumah beberapa hari lagi.
"Kenapa?"
"Itu lho, Bu. Asya masih mau Doni di rumah, satu atau dua hari lagi." Asya menatap Ibu mertuanya.
Alula geleng-geleng. Tapi, ia bersyukur, Asya menyayangi Doni seperti putranya sendiri.
"Tapi, kalau Ayah mau sekolahin Doni, sekolahnya dimana?" Tanya Aurel penasaran.
"Di taman kanak-kanak lah, sayang. Doni kan masih seumuran Roy." Darrel menjawab seraya menatap sang istri.
"Maksud aku, nama sekolahnya, sayaaang." Balas Aurel. Kesal juga dia dengan suaminya ini.
Darrel menyengir. Sementara yang lain terkekeh pelan melihat interaksi suami istri itu.
"Ayah mau daftarin Doni ke sekolah Roy. Itu kalau Darren sama Asya setuju."
"Aku setuju." Jawab Darren.
__ADS_1
"Aku juga setuju." Timpal Asya.
"Ya sudah. Sekarang kita makan dulu. Makanan udah disiapin dari tadi." Ujar Alula, yang diangguki semuanya.
***
Decitan pintu membuat Darren yang sedang fokus dengan laptopnya menoleh. Seulas senyum muncul menyambut sang istri yang berjalan ke arahnya.
"Doni sudah tidur?" Tanya Darren, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.
"Udah." Asya mendudukan dirinya di sofa. Matanya menatap ruang kerja Darren ini. Tatapannya terhenti pada wajah suaminya yang sudah kembali fokus pada laptopnya.
"Sayang,"
"Hmm?" Darren yang sudah menunduk, kembali mendongak menatap Asya.
"Besok udah mulai kerja?"
"Iya. Kenapa?"
"Enggak. Aku... Kalau kamu kerja besok, aku gimana?"
Darren terdiam. Ia mendorong kursinya lalu berdiri dan menghampiri Asya. Duduk di samping sang istri, lalu menariknya dalam pelukan.
"Kenapa bertanya seperti itu? Hmm? Nggak mau jauh-jauh dari aku?"
Pluk...
Asya memukul perut suaminya, membuat lelaki itu meringis pelan. Wanita itu dengan sengaja melepas pelukannya.
"Aku kesal!"
"Kok kesal?"
"Ya, kamu. Aku tanya nya lain. Kamu malah tuduh aku nggak mau jauh-jauh dari kamu. Maksud aku, gimana sama pekerjaanku?"
Darren meneguk ludahnya. Ternyata dia salah memahami ucapan Asya. Sekarang dia ingat dengan peraturannya waktu itu.
"Sesuai yang ku katakan. Kamu berhenti bekerja jika kamu hamil. Dan sekarang kamu benaran hamil. Jadi..."
"Aku berhenti kerja." Potong Asya yang mendapat anggukkan suaminya. Asya terdiam sambil menunduk, membuat Darren sedikit merasa bersalah. Ia merasa dirinya seperti seorang lelaki yang suka mengekang sang istri. Saat dirinya hendak membuka mulut memanggil Asya, wanita itu mendongak terlebih dahulu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang." Suara Asya bergetar menahan tangis. Sontak saja Darren terkejut melihatnya.
"Eh, kok nangis?" Lelaki itu langsung membawanya dalam pelukan. Mengecup puncak kepala Asya berkali-kali.
"Sayang... Hiks..." Asya melingkarkan tangannya di pinggang Darren, memeluk lelaki itu dengan erat.
"Sudah-sudah. Jangan nangis."
"Hiks... Kalau aku nggak boleh kerja lagi, perusahaan Papa siapa yang hendel? Papa udah nggak muda lagi. Kasian Papa harus kerja dan menanggung beban sendiri."
Darren mengcup kening Asya. "Sudah. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan semua itu. Apa kamu lupa? Aku akan melepas Jiyo atau orang kepercayaanku yang lain untuk menghendel Yunanda Group. Papa sudah tahu. Tinggal Papa sendiri yang menentukan pilihannya. Mau Jiyo? Atau yang lain?"
"Tapi..."
__ADS_1
"Sayang, dengar aku! Aku ngelakuin ini semua demi kamu dan calon anak kita. Aku nggak mau kamu kelelahan dan sakit, yang pada akhirnya akan berdampak pada calon anak kita. Kamu ngerti kan?" Asya mengangguk pelan. "Sekarang, kita ke kamar, ya? Sudah hampir jam sebelas. Nggak baik begadang." Lanjutnya sambil mengusap air mata Asya.
Asya lagi-lagi mengangguk pelan. Darren melepas pelukannya lalu berdiri. Tangannya terulur, menanti tangan Asya menggapainya. Namun, wanita itu tak melakukannya.
"Sayang,"
"Gendoong..." Rengek Asya, manja. Membuat Darren terkekeh kecil. Lelaki itu menunduk, segera menggendong sang istri. Asya dengan senyum mengembang, melingkarkan tangannya di leher Darren.
Keduanya berjalan keluar, menuju kamar. Darren dengan hati-hati membaringkan sang istri saat tiba di kamar mereka.
"Sekarang, tidur, okey?" Asya mengangguk.
Darren tersenyum dan mengecup kening Asya. Lalu turun, mengecup mata wanita itu. Kemudian kedua pipinya, hidungnya dan berakhir di bibir Asya. Sedikit lama ia berhenti disana. Membuat Asya dengan pelan mendorong wajahnya menjauh.
"Jangan lama-lama. Nanti kamu pengen." Ujar Asya, yang langsung mendapat kekehan Darren.
"Tahu saja kamu, sayang." Jawabnya, membuat Asya memutar bola mata, kemudian ikut terkekeh.
Darren mengusap lembut rambut istrinya. Ia lalu bergerak ke arah perut Asya. Tangannya mengusap-usap perut itu, lalu mengecupnya.
"Anak Papa, sehat-sehat ya, di perut Mama." Ujar Darren, lalu mengecup perut itu sekali lagi. Dia kemudian beranjak menaiki ranjang dan berbaring di samping sang istri. Menarik wanita itu masuk dalam dekapan hangatnya.
"Sayang,"
"Hmm?"
"Aku tiba-tiba pengen sesuatu."
"Apa?"
"Mau buah anggur."
"Ya sudah. Akan aku ambilkan." Darren melepas pelukannya hendak bangun. Namun, Asya menahannya.
"Aku mau makan di dapur."
"Ayo, kita ke dapur!"
"Makannya di cocol pakai sambal."
Deg...
Darren terkejut mendengar ucapan istrinya. Aneh-aneh saja keinginan istrinya ini. Anggur dicocol sambal. Bagaimana rasanya?
"Sayang..."
"Boleh ya? Ya? Ini maunya baby lho."
Darren terdiam. Ia teringat lagi ucapan Ibunya saat Asya menolak udang yang dikupasnya tadi.
"Wanita hamil itu selera makannya kadang berubah-ubah. Bisa jadi, makanan yang nggak disukainya dia makan, dan makanan yang dia suka, nggak dia makan. Kadang juga, makanannya aneh-aneh. Setidaknya, kamu turutin maunya sedikit. Kasihan, itu juga bawaan bayi. Bukan karena kemauan Ibunya." Ujar Alula.
"Sayang. Boleh, ya?"
Darren menarik nafasnya. "Ya sudah. Tapi, kalau pakai sambal, nggak boleh banyak-banyak."
__ADS_1
Asya mengangguk antusias. Ia sudah membayangkan rasanya makan anggur dicocol sambal. Pasti enak.