
Hari mulai menggelap. Sementara Alisha dan Hardi masih di rumah Axel. Setelah menjemput Papa dan Mama Axel dan makan bersama sesuai rencana, dua remaja itu tidak langsung pulang. Mereka memutuskan untuk main di rumah Axel.
"Udah mulai gelap. Pulang yuk!" ucap Alisha. Meski begitu, matanya masih fokus melihat ke layar laptop Axel. Sementara Axel dan Hardi sibuk bermain game.
"Kok laptop Axel banyakan foto Alisha?" tanyanya. Awalnya ia meminjam laptop Axel karena ingin menonton, tapi ia tergiur dengan banyaknya folder pekerjaan milik Axel. Ia meminta izin untuk melihat sedikit isi dari folder-folder tersebut, dan Axel mengizinkannya. Namun, ia malah menemukan foder yang diberi nama "Alisha" dalam folder pekerjaan Axel. Sesuai namanya, semua berisi foto-foto dan vidio Alisha.
"Lo buka bagian mana?" tanya Axel masih fokus pada layar laptopnya.
"Folder pekerjaan, terus ada folder lagi yang namanya Alisha."
"Itu emang folder khusus buat lo," jawab Axel. Alisha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak ada pertanyaan lagi dari gadis itu.
Hardi melirik Axel sejenak, kemudian bergeser mendekat ke sahabat dinginnya itu.
"Alisha itu nggak peka. Bilang aja kalau lo suka sama dia. Apa susahnya sih?" bisik Hardi, namun Axel tetap diam.
"Ngomong-ngomong, lo kalau capek kerja, lihatin foto Alisha?" lanjut Hardi masih berbisik.
"Hmmm."
"Terus lo gimana?"
"Semangat kerja lagi."
"Ck. Udah gue tebak. Ini ni yang namanya cinta. Foto aja bisa bikin semangat. Ck! Cinta emang dahsyat efeknya," seru Hardi.
"Kalian berdua bisik-bisik apa sih? Ayo Hardi, pulang. Udah malam ini," ucap Alisha, mematikan laptop Axel.
Mendengar Alisha mengajak Hardi pulang, Axel langsung mematikan handphonenya dan mendekat ke Alisha. Hardi sampai melongo melihatnya.
Benar-benar nih Axel. Batin Hardi.
"Ayo, gue anter," ucap Axel meraih tangan Alisha.
"Eh, nggak usah. Biar Alisha bareng Hardi aja. Kasian kamu nya bolak balik."
"Hardi juga kasian bolak balik. Rumah dia juga nggak searahkan?"
"Ck. Pakai bawa-bawa gue segala," gumam Hardi berdecak. "Ya udah kali, Sha. Axel yang anterin aja. Kalau debat terus, bisa kemalaman pulangnya."
"Hardi benar," sahut Axel.
"Ya udah. Ayo, pulang." Axel dan Hardi sama-sama mengangguk. Hardi yang tadinya masih duduk bergegas berdiri dan berjalan bersama Alisha dan Axel, berpamitan pada Papa dan Mama Axel.
"Tante, Om." Alisha mendekati wanita yang dua tahun lebih tua dari ibunya. Wanita yang bisa dibilang sudah begitu dekat dengannya.
"Loh? Kok udah pakai tas? Kalian mau pulang?" tanya Mama Axel.
"Iya, Tan. Alisha sama Hardi mau pamit," ucap Alisha.
"Yaah... Tante pikir kalian mau nginap. Tante kangen lho ngobrol sama Alisha." Alisha tersenyum mendengar ucapan Mama Axel.
"Iya. Om juga kiranya kalian nginap. Atau, om telpon orang tua kalian aja, minta izin biar kalian bisa nginap."
"Lain kali aja om. Di rumah lagi ada kakek. Nggak enak kalau Hardi nggak di rumah sementara kakek baru datang kemarin."
Arya mengangguk mendengar ucapan Hardi. Laki-laki itu menepuk pelan pundak Hardi. "Om pegang janji kamu. Lain kali kalau disuruh nginap, harus nginap."
"Iya, om."
"Alisha gimana?" Tia masih belum menyerah membujuk Alisha.
"Eeemm... Alisha juga harus pul—"
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
__ADS_1
Tiba-tiba handphone yang dipegang Alisha bergetar. Panggilan masuk dari sang ayah.
"Hallo, Yah."
"Hallo, nak. Kamu masih di rumah Axel?"
"Iya, Yah."
Arya yang memperhatikan Alisha langsung memberitahu gadis remaja itu untuk memberikan handphone tersebut padanya.
"Ayah, Om Arya mau ngomong sama Ayah."
"Iya. Kasih handphonenya ke Om Arya." Alisha segera memberikan handphonenya pada Arya.
"Hallo Gara," ucap Arya.
"Hallo."
"Malam ini Alisha nginap disini ya?"
"Hah? Nginap? Nggak! Aku nggak izinin."
"Ayolah. Malam ini aja. Istriku lagi kangen sama putri kamu. Kamu tahu sendiri, dia nggak ada teman ngobrol di rumah setelah putriku menikah."
"Apa gunanya kamu sebagai suami? Tia kan bisa ngobrol sama kamu."
"Kamu kayak sama siapa aja. Malam ini aja nginapnya, besok pagi aku sama Tia anterin. Ya?"
"Ck. Tanya istriku dulu," ucap Gara. Tak lama kemudian, terdengar suara Gara bertanya pada Alula mengenai Alisha yang akan menginap di rumah Arya.
Tia meraih handphone dari tangan Arya. Dia sendiri yang akan berbicara dengan Alula.
"Hallo?" ucap Tia. "Hallo Alula?"
"Alula, boleh ya Alisha nya nginap disini malam ini? Malam ini aja kok," ucap Tia.
"Eeemm... Aku nurut aja kak apa keputusan Gara."
Tia mengangguk, seolah Alula bisa melihatnya. Arya yang mendengarnya meraih kembali handphone tersebut dari tangan sang istri. Alisha dan Hardi meringis melihat kelakuan kedua orang tua itu. Sementara Axel, ia menggaruk-garuk kepalanya melihat kelakuan Papa dan Mamanya.
"Alula, berikan handphone itu pada Gara," ucap Arya. "Hallo Gara," lanjutnya setelah mendengar deheman Gara.
"Hhhmmm."
"Ayolah, kamu tega sama sahabat sendiri? Jarang-jarang lho aku sama Tia pulang dan punya moment begini. Palingan cuman kumpul-kumpul sama kamu sama Edo. Boleh ya Alisha nginap?"
Tidak ada jawaban dari seberang, hanya terdengar helaan nafas. Arya dan yang lain ikut terdiam, menanti jawaban Gara.
"Ya udah. Boleh malam ini. Lain kali nggak ada lagi," ucap Gara yang langsung membuat senyum Arya dan Tia mengembang. Mama Axel itu langsung memeluk Alisha.
"Nah, gitu dong. Makasih ya," ucap Arya.
"Hmmm... Tapi ingat! Jangan sampai terjadi apa-apa sama Alisha. Kalau sampai terjadi sesuatu, Alisha nggak aku izinin ketemu kalian lagi."
"Iya-iya."
Setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Arya, Gara kembali berbincang dengan purinya sejenak. Setelah itu, panggilan benar-benar diputuskan.
Hardi juga berpamitan pulang. Remaja laki-laki itu pulang dengan diawasi dua orang suruha Arya tanpa dia ketahui. Tempat tinggal Hardi yang jauh membuat Arya khawatir dengan anak itu hingga meminta pengawalnya untuk mengawal Hardi sampai tiba.
***
Axel melirik Alisha yang sejak tadi terus berbincang dengan Mamanya, Tia. Kedua perempuan itu sedang asik bertukar cerita.
"Ma, Mama nggak mau istirahat?" tanya Axel tiba-tiba.
__ADS_1
Alisha, Tia, dan juga Arya yang sejak tadi menyimak pembicaraan Alisha dan istrinya pun menoleh pada Axel.
"Masih jam 8. Biasanya kita istirahat jam 10. Iya kan sayang?" ucap Arya diakhiri pertanyaan untuk istrinya.
"Iya. Biasanya kita istirahat jam sepuluh. Kenapa?" tanya Tia.
"Nggak kenapa. Aku pikir Mama sama Papa pasti capek." Arya dan Tia tersenyum mendengar jawaban Axel.
"Alisha mau istirahat sekarang?" tanya Tia, sembil mengusap kepala Alisha.
"Belum Tan."
"Kamu kalau udah capek istirahat dulu aja," ucap Arya pada Axel.
"Aku nggak capek," balasnya.
Alisha dan Tia kembali berbincang. Arya juga sesekali menimpali pembicaraan mereka. Hanya Axel yang diam dengan wajah dinginnya. Hingga tanpa terasa, jarum jam menunjukan pukul sepuluh.
"Udah jam sepuluh. Kita udahan dulu ya, cerita-ceritanya."
"Iya, Tan. Alisha juga udah mulai ngantuk."
"Om juga udah ngantuk. Ayo sayang. Alisha langsung istirahat ya."
"Iya Om."
"Axel, Papa sama Mama istirahat dulu. Kalau mau ngobrol sama Alisha, 20 menit nggak boleh lebih. Alisha harus istirahat. Bisa-bisa Papa dimarahin Gara kalau lihat putrinya mata panda karena begadang ngomong sama kamu," ucap Arya panjang lebar.
Laki-laki ini memang agak banyak bicara dibandingkan putranya yang dingin. Dia bahkan heran sendiri dengan putranya yang kelewat dingin. Muda dulu, dia sedikit pendiam, tidak banyak bicara pada orang-orang. Tapi, tidak separah Axel saat ini.
Axel tak menjawab apapun ucapan Papanya. Dia hanya menganggukan kepala.
Setelah Arya dan Tia ke kamar, Alisha juga beranjak ke kamar. Namun, suara Axel membuatnya berhenti.
"Sha."
Alisha menoleh. "Hmm?"
"Nggak mau ngobrol sama gue?"
"Mau ngobrol apa? Alisha udah ngantuk," ucap Alisha. Tapi, gadis itu tetap kembali duduk.
Axel menatap wajah gadis itu. Bisa ia lihat mata Alisha yang sayu karena ngantuk.
"Tidur gih. Nggak jadi ngomong."
"Lho? Kok nggak jadi?" Alisha menatap Axel dengan kening berkerut. Ngantuknya jadi sedikit menghilang.
"Lo ngantuk."
"Nggak lagi," ucap Alisha. Ia semakin mendekatkan dirinya pada Axel, lalu meraih lengan laki-laki itu dan menggoyang-goyangkannya. "Ayo, Axel mau ngomong apa? Aku penasaran ih," lanjutnya.
"Nggak ada. Cuman mau lo disini temanin gue," balasnya.
"Ck. Ngeselin." Alisha melepas tangannya dari lengan Axel dan bergerak memberi jarak antara mereka. Ngantuknya benar-benar hilang sekarang.
Axel menatap gadis yang tengah cemberut saat ini. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Tangannya terulur mengusap rambut Alisha.
"Lo lucu cemberut gitu," ucap Axel.
Alisha langsung mengubah ekspresinya jadi tersenyum. Senyum paksa yang kini ia tunjukkan pada Axel.
"Kenapa senyumnya gitu?" Kening Axel mengerut melihat ekspresi gadis itu.
"Biar nggak dibilang lucu lagi!" ucap Alisha sedikit ketus. "Udah ah. Aku mau ke kamar," lanjutnya dan langsung beranjak. Namun, tangan Axel begitu cekatan. Sebelum Alisha berdiri sempurna, ia menarik tangan gadis itu hingga tubuhnya goyah dan jatuh terduduk di jarak yang begitu dekat dengan Axel.
__ADS_1