
Jiyo bersiap dilobi kantor untuk menjemput klien dari HRL Group, yang pemimpinnya merupakan Hendra. Sesuai rencana mereka, mereka harus membuat semuanya berjalan seolah-olah mereka belum mengetahui jika pemimpin HRL Group sudah diganti.
Sementara Darren dan Darrel, keduanya sudah berada di ruang meeting, dan menunggu Hendra disana.
Mobil berhenti di halaman kantor, dan Hendra turun bersama sekretarisnya. Mereka berjalan memasuki kantor tersebut. Senyum kecil muncul di bibirnya saat melihat keterkejutan di wajah Jiyo.
Huh. Apa kau menyukai kejutanku ini? Batin Hendra.
"He-hendra?"
"Huh, lama nggak bertemu, Jiyo." Ujarnya, terseyum meremehkan.
"Untuk apa kau kemari?" Jiyo menatapnya dengan kesal.
"Seharusnya kau menghormatiku. Kau hanya seorang sekeretaris. Aku adalah CEO HRL Group. Aku ingin bertemu dengan CEO mu."
"Ja-jadi, ka-kau CEO HRL Group? Bu-bukankah perusahaan itu dipimpin..."
"Diamlah Jiyo! Kau membuang waktuku. Cepat! Antarkan aku ke CEO mu."
Jiyo mundur selangkah, lalu membungkukkan badannya, hormat pada Hendra.
"Maafkan saya, tuan. Mari, saya antar!"
Hendra menatap sinis Jiyo, kemudian menganggukkan kepalanya.
Cih. Jika bukan untuk kesuksesan rencana kami, aku sangat jijik melakukan ini. Batin Jiyo.
Lift membawa Jiyo bersama Hendra dan sekretarisnya menuju lantai 28, tempat dimana ruang meeting berada.
"Silakan, tuan." Jiyo mempersilakan Hendra dan sekretarisnya keluar dari lift. Langkah mereka mengarah ke sebelah kiri menuju ruangan meeting.
Di ruangan tersebut, Darren dan Darrel sudah siap untuk menyambut Hendra. Pintu diketuk membuat Darren bersuara.
"Masuk!" Jawaban itu dibalas dengan decitan pintu yang terbuka.
Deg... Hendra cukup terkejut melihat Darrel juga ada di sana. Dia pikir dia hanya akan menghadapi satu orang. Ternyata dia salah. Tapi, dia merasa senang melihat raut terkejut yang tampak dari wajah Darrel, dan tatapan tajam menghunus dari Darren.
Menyembunyikan keterkejutannya, Hendra mendekat sambil tersenyum. Matanya tertuju pada Darren.
Kalian terkejutkan melihatku? Aku sangat senang melihat ini. Aku juga punya hadiah untuk kalian di akhir nanti.
"Apa tatapan seperti ini yang kau tunjukkan saat menyambut klien?"
"Klienku Hartono. Bukan kau." Balasnya Darren, melirik sekretaris yang ternyata sudah diganti dengan sekretaris baru.
"Ah ya, aku lupa memberitahu kalian. HRL Group sudah dipimpin oleh ku. Aku menggantikan paman Hartono setelah pulang dari luar negeri." Ucapnya tersenyum sombong.
"Ngomong-ngomong, kenapa Darrel disini?" Lanjutnya.
"Apakah salah aku disini?"
"Tidak." Jawabnya. "Baiklah. Ayo kita bicarakan penawaran kerja sama kita. Jadwalku sangat padat hari ini."
__ADS_1
Cih. Sombong sekali. Batin Darrel.
Tunjukkan saja kesombonganmu. Aku tidak yakin itu akan berlangsung lama. Batin Jiyo sebelum ia keluar dari ruangan itu.
Mereka mulai membicarakan soal kerja sama yang masih dalam proses penawaran. Darrel terlihat tidak suka dengan penawaran kerja sama tersebut. Tapi, Hendra dan sekretarisnya masih terus berusaha untuk mendapatkan kerja sama bersama Grisam Group.
"Presentasi kalian sagat buruk. Aku tidak ingin perushaanku bergabung dan mengalami kerugian. Jadi, aku menolak kerja sama ini."
Hendra menggertakkan giginya. Meski ia sudah menduganya sejak awal, tetap saja ia merasa kesal. Darren dengan angkuhnya menolak kerja sama mereka begitu saja.
"Ayo, pergi!" Hendra dengan penuh perasaan kesal mengajak sekretarisnya pergi. Sekretaris itu tahu, siapa yang mereka hadapi saat ini. Dengan penuh permohonan maaf, ia membungkukkan badannya di hadapan Darren Darrel, kemudian mengekori tuannya keluar dari ruangan itu.
Selepas perginya Hendra, Jiyo masuk dengan cepat ke ruangan tersebut.
"Bagaimana?" Tanyanya. Tapi, keningnya langsung mengerut melihat Darrel melotot padanya dan Darren menatap tajam ke arahnya.
Dengan penuh penasaran, Jiyo bertanya dengan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Darrel langsung menunjuk ke arah bawah meja. Jiyo langsung melihatnya. Dia mengumpat dalam hati ketika melihat sebuah alat penyadap tertempel di bawah meja.
Sialan kau Hendra!
Jiyo kembali menegakkan tubuhnya dan mulai bersandiwara. "Kenapa kalian diam? Bagaimana kerja samanya?"
"Tidak ada kerja sama." Jawab Darren.
"Ah syukurlah. Aku pikir kalian menerimanya. Jujur saja, aku sangat terkejut melihat Hendra."
"Aku juga." Ucap Darrel. "Tapi, aku yakin, dia nggak akan mengganggu lagi."
"Ayo, pergi!" Darren tiba-tiba berdiri dan pergi dari ruangan itu. Darrel dan Jiyo pun mengikutinya. Mereka menuju ruangan Darren.
***
Sudah beberapa hari, sejak Gara memerintahkan pengawal untuk mengawasi Hardi. Anak itu tidak muncul di sekolah setelah hari itu. Remaja itu benar-benar sakit dan sedang terbaring di rumah sakit.
Hari libur adalah kesempatan mereka untuk berkumpul. Tapi, tidak dengan Darren. Lelaki itu sudah pergi sebelum sarapan pagi.
"Dimana Darren?" Tanya Alula.
"Aku melihat Kakak pergi sebelum waktu sarapan." Jawab Alisha.
"Kemana Darren pergi, Darrel?" Tanya Gara. Tidak biasanya putranya seperti itu.
"Nggak tahu, Yah. Darren juga akhir-akhir ini memintaku pulang lebih dulu ketika jam pulang kantor."
"Dan kamu juga selalu pulang telat." Sambung Gara.
Darrel menyengir menatap Ayahnya. "Hehehe... Aku hanya butuh hiburan Ayah." Ucap Darrel. Kali ini, ia berbohong. Dia tidak mencari hiburan melainkan menemani Aurel di apartemen. Dia tidak ingin Ayahnya tahu mengenai Aurel. Ayahnya pasti akan marah dan berpikir dia tidak fokus mencari gadis yang telah ia lecehkan.
Di jalanan, Darren melajukan mobilnya menuju sebuah apartemen. Wajahnya yang dingin terlihat begitu tenang. Ia menghentikan mobilnya di parkiran apartemen dan langsung menuju unit apartemen yang ditujunya.
Tok... Tok... Tok...
Darren mengetuk pintunya. Dan tak lama, seorang gadis membuka pintu. Wajahnya terlihat begitu khawatir.
__ADS_1
"Kamu datang. Cepatlah, dia terus menangis sejak tadi." Ucap perempuan itu.
Tanpa suara, Darren langsung masuk dan menuju sebuah kamar. Dia membukanya dengan pelan, dan seorang anak laki-laki langsung berlari memeluknya.
"Papa..."
"Doni, jangan menangis, okey?" Ucap Darren.
"Papa ninggalin Doni semalam. Doni mau Papa temani Doni tidur."
"Banyak kerjaan yang harus ku urus."
"Papa... Shhhh..."
"Doni, kamu kenapa?" Wajah Darren mulai sedikit khawatir.
"Papa... S-sakit." Anak itu merintih sambil memegang perut sebelah kanannya. Wajahnya langsung berubah pucat.
Darren segera menggendongnya dan berjalan keluar. Carla, gadis yang bersama anak itu langsung berdiri tegap saat melihat Darren menggendong Doni keluar, dengan wajah anak itu pucat menahan sakit.
"Kita ke rumah sakit." Ucap Darren, yang diangguki Carla.
Tanpa mereka tahu, seorang melihat dan merekam kedatangan awal Darren tadi.
***
Asya menatap Aurel yang begitu lahap memakan makanan yang di pesannya pada Asya, sebelum gadis itu mengunjunginya.
"Kamu kehilangan nafsu makan mu berminggu-minggu lalu. Dan sekarang, kamu memakan dengan lahap. Apa kamu mengurangi makanmu untuk memancing nafsu makanmu?"
"Bukan begitu. Aku benar-benar ingin makan makanan ini."
"Ya. Makanlah dengan hati-hati." Asya mendorong segelas air pada Aurel. "Ku lihat, kamu terlihat semakin berisi."
Perkataan Asya membuat Aurel menghentikan makannya. Tangannya spontan memegang perutnya. Air matanya jatuh begitu saja.
Asya yang melihatnya menjadi panik. "Aurel, ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang melukaimu?"
Tidak ada jawaban, membuat Asya melirik ke arah tangan Aurel yang mengusap perutnya. Deg... Asya berubah pucat. Pikirannya berputar kemana-mana. Bersamaan dengan itu, mata Asya langsung berkaca-kaca.
"A-Aurel... Ap-apa ka-kamu ha-hamil?"
Air mata Aurel mengalir semakin deras. Dia tidak bisa membohongi sahabatnya lagi. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi suaranya seolah tercekat di tenggorokan. Hanya air mata yang terus mengalir.
"Aurel, ayo katakan padaku! Apa yang aku katakan benar?" Hanya anggukkan yang gadis itu tunjukkan sebagai jawaban.
Asya menariknya dalam pelukan. Air matanya menetes, ikut merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya.
"Aurel, katakan padaku! Siapa yang melakukan hal itu padamu? Katakan padaku! Apa itu Darren?" Tidak ada lelaki lain yang sangat dekat dengan Aurel, kecuali Darrel. Meskipun Asya ragu, tapi itu mungkin terjadi.
Aurel semakin mengeratkan pelukannya sambil menggeleng. "Bukan. Bukan Darren."
"Terus siapa?"
__ADS_1
Aurel semakin terisak. Asya mengusap punggungnya. Dia tidak bertanya lagi. Yang ia lakukan, berusaha menenangkan Aurel. Masalah pelakunya, dia akan menanyakannya setelah dia benar-benar tenang dan siap.