
Darrel mulai menggulir halaman file hingga ia tiba pada halaman terakhir, tepat pada foto gadis tersebut.
Deg...
Tubuh Darrel menegang. Matanya tak terlepas dari foto yang terpampang di layar laptop.
"A-Aurel," Gumamnya pelan.
Sejak membaca nama gadis tersebut di berkas yang Darren berikan, ia sudah merasakan perasaan yang tidak menentu. Ia ingin berpikir jika nama itu adalah milik Aurel. Tapi, ia takut jika harapannya salah. Ia juga tidak sempat membaca semua isinya.
"Di-dia Aurel, Yah." Ujar Darrel. Matanya mulai berkaca-kaca saat menatap Ayahnya. Dan tanpa menanti reaksi semua orang, Darrel meraih kunci mobilnya dan berjalan keluar.
Ia melajukan mobilnya menuju cafe, tempat Aurel bekerja. Mobil yang dikendarai Darrel dengan cepat mempersingkat waktunya untuk tiba disana.
"Tuan mu..."
"Dimana Aurel?" Darrel langsung memotong sapaan seorang pelayan cafe.
"Nona Aurel tidak masuk. Dia..."
Tanpa mendengar ucapan perempuan tersebut, Darrel langsung pergi. Ia melajukan mobilnya menuju rumah Aurel. Ia juga tak berhenti menghubungi Aurel.
"Maaf nomor yang anda..."
Tuut... Tuutt.. Tuut.. Darrel langsung mematikannya. Ia melempar sembarang handphonenya ke kursi samping. Dia benar-benar kalut, hingga tidak bisa berpikir jernih.
Setelah beberapa saat, Darrel tiba di rumah Aurel. Ia turun dari mobil dan berjalan dengan cepat memasuki rumah. Mengabaikan semua sapaan pengawal dan pelayan disana.
"Aurel!"
"Aurel!"
Darrel terus berteriak sambil berlari kecil menaiki tangga. Ia mendorong pintu kamar Aurel, namun tidak mendapati siapa-siapa didalamnya.
"Aurel!"
"Tuan muda," Suara seorang pelayan membuat Darren menoleh. Ia berjalan cepat mendekati pelayan tersebut.
"Dimana Aurel?"
"Nona keluar sejak pagi tadi."
"Kemana dia pergi?"
"Tidak tahu, tuan. Nona tidak mengatakan kemana dia pergi."
"Apa? Kalian tidak tahu kemana dia pergi?"
"Maaf, tuan." Pelayan tersebut menunduk.
"Apa dia membawa pengawal?"
"Ti-tidak, tuan."
__ADS_1
"Kalian tidak tahu dia kemana, dan tidak membawa pengawal? Apa gunanya ku pekerjakan kalian?!" Darrel benar-benar marah.
Ia berusaha meredam perasaan marahnya dan meninggalkan pelayan tersebut. Saat tiba di depan rumah, dia melirik setiap pengawalnya dengan tatapan tajam.
"Jika terjadi apa-apa padanya, kalian yang bertanggung jawab!" Ujarnya sambil melewati setiap pengawalnya. Membuat semuanya meneguk kasar ludah mereka
Darrel kembali melajukan mobilnya. Dia tahu kemana ia harus mencari Aurel sekarang. Hanya ada satu tempat, apartemenya.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, Darrel tiba di apartemen. Dia segera memasuki lift menuju lantai dimana unit apartemennya berada.
Lift berhenti dan Darrel segera menuju unitnya. Ia menarik nafasnya dan berusaha tenang. Ia tidak ingin terburu-buru dan mengejutkan Aurel. Dengan pelan, ia mengetuk pintu apartemen dan memencet bel nya.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa?"
Sahutan dari dalam membuat Darrel merasakan kebahagiaan. Ia kembali mendengar suara lembut Aurel yang sudah beberapa hari ini tidak didengarnya.
Tok... Tok... Tok... Darrel kembali mengetuknya.
Sementara di dalam, Aurel mulai merasa kesal. Kakinya kesemutan. Ia akan membuka setelah kakinya baikkan. Tapi, seseorang diluar sana terus mengetuk.
Tok... Tok... Tok...
"Tunggu!" Teriaknya. "Ck. Untung sudah mendingan." Gumam Aurel. Gadis itu berdiri dan berjalan pelan sambil merasakan sisa-sisa kesemutannya.
"Ada yang..." Ucapan Aurel seketika menggantung saat dia membuka pintunya. Matanya berkaca-kaca saat melihat Darrel di depannya. Dia hendak menutup kembali pintunya, namun Darrel menahannya dan segera masuk.
Greep...
"Lepaskan aku! Lepaskan aku, Darrel!" Teriak Aurel. Air matanya sudah luruh membasahi pipi.
"Aku nggak akan lepasin kamu!" Balas Darrel. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu jahat! Kamu jahat padaku, Darrel! Pergi! Aku nggak mau ketemu kamu lagi!"
"Aurel..."
"Aku mohon, pergi Darrel! Pergi!" Ucap Aurel lemah. Dengan pipi yang terus dibasahi air mata, Aurel meletakkan dagunya di pudak Darrel. Tangannya mulai terulur memeluk Darrel dengan isak yang masih terdengar.
"Kamu jahat, Darrel. Kamu jahat." Ucapnya. Tangannya semakin erat memeluk Darrel. Ia merindukan lelaki itu. Merindukan aroma tubuhnya, yang membuatnya sangat menderita selama hampir seminggu ini. Merindukan semua hal tentang Darrel.
"Aku tahu, aku jahat. Aku memang jahat. Tapi, aku mohon, Aurel. Jangan suruh aku pergi. Jangan suruh aku meninggalkan mu. Meninggalkan anak kita."
Deg...
Hati Aurel seperti teriris mendengar kata "anak kita" yang keluar dari mulut Darrel. Darrel menganggap bayi itu anaknya, tapi dia merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan itu.
Aurel melepas pelukannya. Ia menundukkan kepalanya, tak siap melihat Darrel.
"Kamu nggak perlu mengakuinya sebagai anakmu. Kamu nggak bersalah. Pikirkanlah keluargamu. Aku bisa memenuhi kebutuhan hidup anakku nanti meski tanpa sosok Ayah. Kamu nggak perlu bertanggung jawab atas hal yang nggak kamu perbuat."
"Lihat aku!" Darrel menyentuh dagu Aurel dengan lembut dan memaksa gadis itu menatapnya.
__ADS_1
"Dengar! Aku berhak bertanggung jawab atas mu dan anak yang kamu kandung. Dia adalah anakku. Aku lah Ayahnya. Aku adalah orang jahat dimalam itu. Orang yang sudah membuatmu seperti ini."
Aurel melototkan matanya mendengar kenyataan itu. "Ma-maksudmu..."
"Ya. Aku lah orang yang melecehkan mu malam itu. Aku lah yang menarikmu kedalam kamar hotel. Aku yang sudah memaksa mu melakukan hal itu. Aku..."
"Stop, Darrel!"
"Aurel. Aku tahu, kejadian itu adalah hal buruk bagimu. Aku minta maaf. Aku dalam pengaruh obat saat itu. Maafkan aku. Biarkan aku bertanggung jawab. Aku akan menikahimu. Kita akan menikah."
"Apa kamu ingin mengambil anakku?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut Aurel.
"Apa maksudmu?"
"Kamu ingin menikah denganku karena tanggung jawabmu terhadap anak ini. Pernikahan tanpa adanya perasaan cinta tidak akan berakhir baik. Aku hanyalah perempuan biasa dengan latar belakang keluarga yang kacau. Nggak ada yang bisa membantuku untuk melawan kekuatan keluargamu saat terjadi perpisahan nanti. Anakku sudah pasti akan hidup bersamamu." Ucap Aurel. Air mata kembali membasahi pipinya.
"Darrel, hiks. Aku sudah kehilangan semuanya. Aku sudah merelakan semua yang terjadi padaku. Aku sudah memaafkan mu. Tapi, ku mohon. Jangan ambil anakku. Jangan pisahkan kami, hiks."
"Aurel. Apa yang kamu pikirkan? Nggak ada perpisahan. Hanya ada pernikahan. Kita akan bersama. Kita akan sama-sama merawat anak kita. Mengenai perasaan... Aku mencintaimu, Aurel."
"Kamu nggak perlu berpura-pura seperti ini, Darrel."
"Aku nggak berpura-pura. Aku serius. Aku mencintaimu, Aurel. Sangat mencintaimu. Perasaanku sudah ada sejak lama. Saat kembali bertemu dengan mu, aku sangat bahagia. Aku ingin terus dekat dengan mu dan melihatmu. Karena itu, aku meminta manajer hotel untuk memecat mu."
Aurel terkejut mendengar pengakuan Darrel. "Kamu..."
"Ya. Aku yang meminta manajer hotel itu memecatmu. Tapi, aku tidak menyuruhnya memarahimu hingga kamu menangis. Aku kembali memarahinya setelah itu. Aurel, aku sangat senang saat kamu memutuskan untuk kembali bersamaku. Aku selalu ingin menyatakan perasaanku. Tapi, aku nggak mau kamu terluka saat tahu, aku melakukan sesuatu pada seorang gadis. Aku menghancurkan hidup seorang gadis. Aku selalu berperang dengan pikiran dan perasaanku. Aku sudah mencarinya sejak dulu. Dan hari ini, aku baru menemukan semua informasinya. Maafkan aku, Aurel."
Aurel hanya terdiam. Air matanya terus menetes tanpa ingin berhenti. Aurel mengusap kasar air matanya. Tapi, tetap saja air matanya kembali jatuh.
"Aurel. Dengarkan aku!" Darrel meraih kedua tangan Aurel, lalu menciumnya lama. Ia kemudian menatap wajah Aurel. "Percayalah padaku, Aurel. Aku sangat mencintaimu. Aku yakin, kamu juga mencintaiku. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama."
Pertahanan Aurel lemah. Dia akui, dia mencintai Darrel. Tapi, apakah dia pantas untuk seorang Darrel Alvero, Tuan muda kedua dari keluarga Grisam?
Aurel menunduk menatap tangannya yang digenggam Darrel. "Darrel, hiks... Aku memang mencintaimu. Tapi, aku bukan orang yang pantas untuk mu. Keluargaku tidak seperti dulu lagi. Kami sudah hancur. Aku nggak pan..."
"Ssttt..." Darrel meletakkan telunjuknya di bibir Aurel. "Jangan katakan itu. Keluargaku nggak memandang seseorang dari status sosial mereka. Hati adalah hal paling utama." Ucap Darrel.
"Sekarang, mau ya ke rumahku? Ayah, Ibu, Alisha juga Darren sudah menunggu. Yang lain juga."
"Darrel..."
"Meskipun kamu menolak, aku akan tetap membawamu. Jika bukan aku yang membawamu, Ayahku yang akan melakukannya. Kamu pernah dengarkan tentang Ayahku?"
Aurel meneguk ludahnya. Dia banyak mendengar tentang Ayah Darrel. Dari ceritanya saja, dia tahu bagaimana karakter Ayah Darrel itu. Ditambah lagi, dia sedang mengandung keturunan Grisam. Dia pasti tidak akan bisa lepas dari keluarga itu.
"Ba-baiklah. Aku akan ikut denganmu." Ucap Aurel. Darrel tersenyum dan langsung mengecup kening Aurel. Kemudian, ia mengusap pelan rambut Aurel saat melihat ekpresi perempuan itu.
"Jangan berekspresi tertekan seperti itu."
"Aku takut, Darrel."
"Keluargaku nggak akan memakanmu. Lagi pula ada aku. Kamu tenang saja."
__ADS_1
Aurel mengangguk. Setelah itu, ia dan Darrel berjalan bersama keluar dari apartemen, dan menuju ke kediaman Gara.