
Seorang laki-laki meraba-raba ranjang sebelahnya dengan mata yang masih terpejam. Saat tak mendapati seorang yang ia cari, matanya langsung terbuka.
"Nita dimana?" gumamnya. Dia adalah Jiyo, si laki-laki yang menyandang status sebagai suami Nita.
Jiyo dengan cepat terbangun dan langsung keluar kamar. Langkahnya membawa ia ke dapur. Dan benar saja. Istrinya sedang mencuci piring sekarang.
"Sayang." Jiyo tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang Nita, membuat wanita yang sedang fokus mencuci peralatan masak yang digunakannya tersebut terkejut.
"Eh, kamu ngagetin tahu nggak?" ucap Nita.
"Kamu lebih ngagetin. Aku bangun, kamu nya udah nggak ada."
"Jiyoo—"
"Sayang," potong Jiyo, memperingati sang istri untuk memanggilnya sayang.
"Sayaaang, biasanya juga gitu. Aku bangun pagi kan harus masak buat sarapan kita. Ini udah tiga bulan lho kita menikah. Masa kamu lupa terus tiap paginya aku kemana?"
"Aku suka lupa sayang," ucap Jiyo, mengecup pipi sang istri.
Nita mengangguk. "Oh ya, sayang. Mama katanya masih mau liburan. Mereka mau perpanjang liburan mereka." Nita baru saja mendapat pesan dari Mama dan Mama mertuanya jika mereka ingin memperpanjang liburan mereka.
"Ya nggak apa-apa. Biarin aja. Ada orang-orang paman Gara yang aku minta bantuin ngawasin Mama kita. Biarin mereka nikmati liburan mereka. Mama sama mama mertuakan jarang banget liburan." Nita mengangguk membenarkan ucapan Jiyo.
Jiyo tiba-tiba menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Nita. Bibirnya tak tinggal diam, memberi kecupan-kecupan di leher mulus itu.
"Jiyo."
"Hmm."
"Jangan gini. Aku lagi cu—"
"Aku tahu," potongnya, sambil menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Nita. Laki-laki itu menegakkan badannya, lau meraih tangan Nita dan meletakannya di bawah guyuran air yang keluar dari keran wastafel.
"Eh, aku belum selesai cuci nya."
"Nanti saja," balas Jiyo dan langsung menggendong Nita ala bridal menaiki tangga.
"Jiyo, kamu ini kenapa sih? Turunin aku nggak?"
"Nggak."
Jiyo membawa sang istri ke kamar mereka. Pintu kamar yang tidak sempat di tutupnya tadi membuatnya dengan leluasa membawa Nita masuk dan membaringkannya di ranjang.
"Ini kamu kenapa sih?"
"Aku masih ngantuk."
__ADS_1
"Ya udah, kamu tidur lagi aja," ucap Nita, hendak bangun namun segera Jiyo menahannya.
"Iya, aku mau tidur lagi. Tapi, sambil peluk kamu," balas Jiyo, lalu ikut berbaring di sebelah Nita. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nita dan memeluk cukup erat.
Nita menghela nafasnya. Jiyo suka sekali seperti ini. "Kita belum sarapan lho." Nita berucap dengan lembut, berusaha membujuk.
"Nanti aja," sahut Jiyo. Kini ia menyusupkan wajahnya di ceruk leher Nita.
Nita lagi-lagi menggela nafasnya. Jika Jiyo sudah begini, susah sekali untuk ia terlepas dari suaminya itu. "Ya udah. Kita tidur aja." Nita mengalah. Wanita itu mengulurkan sebelah tangannya balas memeluk Jiyo. Sebelah tangannya lagi beralih mengusap rambut Jiyo. Hingga tanpa sadar, keduanya kembali terlelap.
***
Nita terbangun saat mendengar handphone Jiyo berdering. Ingin membangunkan Jiyo, namun ia urungkan saat melihat suaminya itu begitu lelap tertidur. Ia paham, Jiyo begadang hingga larut malam semalam untuk menyelesaikan pekerjaanya.
Nita meraih handphone Jiyo yang tergeletak di atas nakas. Tertera di layar handphone tersebut nama Darren. Segera ia menjawabnya.
"Hallo tuan?"
"Hallo Nita. Ini aku, Asya." Suara ceria Asya di seberang telpon membuat Nita tersenyum.
"Nona Asya. Maaf, aku pikir tuan Darren yang menelpon."
"Hehehe... Aku malas mencari handphoneku yang ku letakkan dimana. Jadinya pakai handphone Darren," ucap Asya. "Oh ya, aku mau ajak kamu sama Jiyo liburan. Kita sekeluarga mau liburan, jadi sekalian aja kalian diajak."
"Maaf nona, itu acara liburan keluarga. Aku sama Jiyo —"
"Aku setuju aja kalau Jiyo setuju."
"Ya udah. Dimana Jiyo? Berikan handphonenya ke Jiyo. Aku sendiri yang bicara sama dia."
"Dia masih tidur. Aku bangunkan dulu."
"Iya. Ck. Anak itu, sudah jam segini masih saja belum bangun," gumam Asya.
Nita sedikit menjauhkan handphone yang dipegangnya, kemudian mulai membangunkan Jiyo.
"Jiyo, ayo bangun," ucap Nita lembut, sambil mengusap-usap pipi Jiyo. Namun, laki-laki itu tak sedikitpun terusik.
"Jiyo. Sayang, ayo bangun." Nita mencoba membangunkan lagi. Kali ini, ia menepuk-nepuk pelan pipi sang suami. Membuat Jiyo merasa terganggu dan mulai membuka matanya.
"Eeemm... Apa sayang? Aku masih ngantuk," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Nona Asya telpon, mau ngomong sama kamu."
"Asya?" Nita mengangguk. "Mana handphonenya?"
Nita segera memberi handphone tersebut pada Jiyo. Laki-laki dengan mata yang masih mengantuk itu menjawab telpon Asya.
__ADS_1
"Hallo, Sya? Pagi-pagi udah telpon aja. Ada apa?"
"Pagi kamu bilang? Sadar Jiyoooo, sekarang udah jam 12. Udah siang, bukan pagi lagi."
"Ck. Iya iya. Kenapa telpon?"
"Aku sama yang lain mau ajak kamu sama Nita liburan."
"Liburan?" Jiyo langsung bangun terduduk.
"Iya."
"Beneran?"
"Iya. Kita sekeluarga mau liburan, terus sepakat ajak kamu sama Nita."
"Oke lah. Aku sama Nita ikut. Tapi, berangkat pakai apa? Jet pribadi paman Gara?"
"Terserah kamu mau ikut siapa. Ayah, Papa atau Paman Gio? Om Arya juga kayaknya ikut deh."
Jiyo meneguk ludahnya mendengar ucapan Asya. Ringan sekali Asya mengatakan terserah mau ikut siapa.
"Ka-kamu sama Darren sama siapa?"
"Aku, Darren, Ayah, Ibu, Alisha, Aurel, Darrel, si kembar, Meeya sama Doni. Terus yang Paman Gio ada aunty Ana, Dafa, Lala, paman Viko, aunty Vera, Roy, Kakek Ginanjar, Kakek Zarfan sama Nenek Disa. Kalau punya papa kayaknya nambah om Arya sama tante Tia sama Axel juga. Soalnya punya om Arya dipakai sama rekan bisnisnya."
"Ramai banget ya."
"Iya. Kalau kamu ikut Papa, berangkatnya besok jam 8 pagi. Paman Gio jam 3 sore nanti, terus kitanya besok jam 2 siang."
"Aku sama Nita ikut paman Edo saja."
"Ok. Langsung kasi tahu Papa ya?"
"Siaap."
"Ya udah, aku matiin dulu telponnya. Jagain Nita baik-baik. Jangan sampai nyakitin hati Nita. Kalau aku tahu Nita sakit hati karena ulah kamu, aku jauhin Nita dari kamu dan jangan anggap aku sahabat lagi."
"Seram banget ancamannya, Sya. Nggak akan aku sakitin istri aku Sya. Nyakitin Nita sama kayak nyakitin hati sendiri."
"Aku pegang omongan kamu. Ya udah, aku tutup dulu."
"Iya. Nitip salam buat yang lain. Terus bilang makasih juga."
"Hmm," balas Asya hanya berdehem. Dan beberapa detik kemudian, panggilan telpon pun terputus.
"Gini nih, efek dekat sama Darren. Hobinya ham hem ham hem," gerutu Jiyo sambil meletakkan handphonenya diatas nakas. Nita yang melihat sekaligus mendengar gumaman suaminya terseyum tipis. Lucu juga suaminya ini.
__ADS_1