
Axel dan Alisha kembali setelah pesawat yang ditumpangi Yana dan orang tuanya take off. Axel maupun Alisha sama-sama terdiam. Axel diam karena perasaan kesalnya, dan Alisha diam karena masih memikirkan Yana.
"Hardi kenapa sih nggak datang? Tega banget dia sama si Yana," gerutu Alisha, setelah keterdiamannya.
"Axel." Panggilan Alisha hanya seperti angin lalu saja. Laki-laki itu tak sedikitpun menjawab Alisha. Bahkan, untuk berdehem pun dia enggan.
"Axel kenapa sih diam terus dari tadi? Axel marah? Tapi, kenapa?"
Axel masih tetap diam. Fokusnya masih pada jalanan. Laki-laki itu tiba-tiba membelokan motornya ke arah lain.
"Lho? Kita mau kemana?" Alisha menegakkan tubuhnya hingga pelukannya di pinggang Axel terlepas.
Merasa kosong, Axel kembali menarik tangan Alisha dan melingkarkannya di pinggang. Meski begitu, dia masih tetap tidak mengatakan apa-apa pada Alisha.
Setelah beberapa saat, motor Axel berhenti. Alisha kembali menegakan tubuhnya, lalu menatap sekeliling. Ternyata Axel membawanya ke sebuah rumah. Rumah yang tidak sebesar rumahnya, tapi berlantai 2. Rumahnya begitu bagus dan membuat Alisha tertarik.
"Ini rumah siapa?" tanya Alisha sambil melirik laki-laki paruh baya yang membukakan gerbang untuk mereka tadi.
"Ayo turun." Alisha tak membantah ucapan Axel. Gadis itu menurutinya dan turun dari motor.
Axel meraih tangan Alisha dan menggenggamnya dengan lembut. Ia membawa gadis itu masuk.
"Axel, aku tanya ya, ini rumah siapa?"
"Rumah gue," jawab Axel.
Alisha terdiam mendengar jawaban lelaki itu. Langkahnya dan Alisha berhenti saat tiba di ruang tamu. Alisha melepaskan genggaman Axel. Ia memperhatikan seisi ruangan itu, kemudian menoleh mentap Axel.
"Om Arya beliin buat kamu?"
"Nggak."
"Terus?"
"Gue beli pakai uang gue sendiri," jawab Axel.
"Kamu beli rumah buat apa? Terus rumah yang kamu tinggal sekarang gimana? Dibiarin kosong?"
"Gue masih tinggal di rumah lama." Axel meraih kembali tangan Alisha dan menggenggamnya lembut. Ia lalu menuntun gadis itu ke halaman belakang rumah. Halaman belakang cukup luas. Ada bangku panjang juga yang diletakkan disana.
"Nah, terus rumah ini kenapa dibeli? Kamu nggak bisakan tinggal di dua rumah secara bersamaan?" tanya Alisha. Ia mendudukan tubuhnya di kursi, begitu juga Axel.
"Persiapan."
Alisha menoleh menatap Axel dengan kening mengerut. Seolah bertanya, "Persiapan apa?". Axel yang juga melihat tatapan itu tak memberi respon apa-apa. Mata dan otaknya hanya fokus pada Alisha sekarang.
"Jangan cubit bibir Doni," ucap Axel tiba-tiba. Alisha yang masih menatap wajah Axel mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya dengan tampang polos.
"Nggak kenapa. Cuman Doni masih kecil. Kalau lo cubit, bibirnya bisa luka."
"Aku nggak keras-keras kok cubitnya," jawab Alisha. Axel memalingkan wajahnya dan kembali terdiam tak menanggapi gadis itu lagi. Percuma saja ia mengatakannya. Alisha tidak mengerti jika dia tidak suka Alisha melakukan itu.
"Axel kok dari tadi kayak dingin banget sama aku," ucap Alisha pelan. Ucapannya tersebut kembali menarik Axel menatap ke arahnya.
"Gue lagi nggak pengen ngomong."
"Biasanya juga gitu, nggak suka ngomong," balas Alisha.
"Lo mau tahu sesuatu nggak, Sha?"
"Apa?"
"Gue sayang sama lo," ucap Axel. Alisha tersenyum mendengar apa yang Axel katakan. Senyum manis yang membuat Axel tak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku juga sayang sama Axel," balas Alisha.
Axel mengulas senyum tipis. Tangannya terangkat mengusap lembut pipi Alisha. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Alisha. Saat wajah Axel cukup dekat, Alisha tiba-tiba menahan dada Axel.
"Axel mau apa?" tanya Alisha, menatap manik mata laki-laki itu.
"Mau cium lo."
"Ayah waktu itu lihat kamu cium pipi aku," ucap Alisha.
Axel menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis. Malam itu, dia juga melihat Gara berdiri di depan pintu memperhatikannya yang tiba-tiba mencium pipi Alisha.
"Kata Ibu, Alisha belum pantas cium-ciuman. Nggak ada ikatan apa-apa yang ngebolehin Axel cium Alisha."
Axel menoleh menatap Alisha. "Ayo pulang!" ajak Axel tiba-tiba, membuat Alisha mengerutkan keningnya.
"Sekarang?"
"Iya. Kenapa?"
"Enggak. Disini bagus. Kayaknya aku betah disini."
"Lo suka?" Alisha mengangguk cepat. "Lo boleh kesini kapanpun lo mau."
"Makasih Axel." Axel mengangguk. "Tapi... Ini beneran rumah kamu?"
"Hmm."
"Rumah yang dulu gimana?"
__ADS_1
"Nggak usah dipikirin. Itu urusan Papa," ucap Axel. "Ayo pulang. Nanti om Gara marah, dan malah ngelarang gue ketemu lo," lanjut Axel. Alisha hanya bisa mengangguk. Keduanya meninggalkan rumah itu dan kembali ke rumah Gara.
***
Jiyo berdiri di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya. Sejak tadi, senyum bahagia tidak terlepas dari bibirnya. Setelah dua minggu penantiannya, akhirnya tiba juga saatnya ia mengikat Nita dengan pernikahan.
Darren dan Darrel yang duduk di sofa menatap sahabat mereka yang sejak tadi tak berhenti tersenyum.
"Senyum terus, Yo," ucap Darrel. Ia sudah lelah melihat senyum Jiyo sejak tadi.
"Namanya juga bahagia, Rel. Ya pasti senyum terus," balas Jiyo. Laki-laki itu berbalik dan duduk di hadapan kedua sahabatnya. Ia lalu menatap Darren yang hanya diam dengan tampang dinginnya.
"Ren, bagi tips biar dapat anak kembar," ucap Jiyo yang membuat Darrel melotot ke arahnya.
"Gila! Bukannya mikir gimana pernikahannya, malah mikir tips biar dapat anak kembar," ucap Darrel.
"Terserah aku, dong. Kamu nggak usah ikut campur. Yang aku tanyakan Darren bukan kamu."
Darren menarik nafasnya. "Nggak ada tips," jawab Darren.
"Lho?"
"Anak kembar itu anugrah dari Tuhan. Kita nggak bisa ngatur," lanjut Darren.
"Nah, aku setuju. Aku aja yang ada gen kembarnya nggak dapat anak kembar," celetuk Darrel.
Jiyo berdecak sambil melirik Darrel. Kenapa sahabatnya itu menjadi menyebalkan hari ini?
Saat sedang berbincang-bincang diantara mereka bertiga, pintu ruangan yang di tempati Jiyo, Darren dan Darrel diketuk. Darrel bangun dan segera membuka pintu.
Seorang laki-laki yang tak lain merupakan anak buah Gara berdiri di depan pintu dan menunduk pada Darrel.
"Tuan muda, acaranya akan segera di mulai."
"Ya, kami akan ke sana."
Laki-laki itu mengangguk lalu pergi dari tempat itu. Darrel kembali masuk dan berdiri di depan Darren dan Jiyo. "Ayo! Acara akan segera dimulai."
Darren, Darrel dan Jiyo segera menuju tempat berlangsungnya acara pernikahan. Jiyo mengatupkan mulutnya, berusaha bersikap seperti biasa. Namun, pancaran kebahagiaan tak bisa ia sembunyikan. Wajahnya menampakkan aura kebahagiaan, dan bibirnya tak berhenti untuk tersenyum.
Banyak para tamu yang berdecak kagum. Selain Jiyo yang menarik perhatian banyak orang, Darren dan Darrel pun ikut menarik perhatian. Asya dan Aurel yang duduk di kursi tamu dibuat senyum-senyum melihat suami mereka. Keduanya seolah tertarik ke masa lalu, dimana acara pernikahan mereka berlangsung.
Darren dan Darrel kembali ke tempat mereka semula, di kursi tamu setelah Jiyo duduk di kursinya. Tak lama, pengantin wanita datang.
Semua mata tertuju pada Nita. Gadis itu begitu cantik dengan balutan gaun pernikahan. Jiyo sampai tak mengedipkan matanya.
Cantik sekali. Batin Jiyo.
__ADS_1
Nita mengambil tempat tepat di sebelah Jiyo. Terlihat jelas rasa gugupan di wajah gadis itu. Tapi, kegugupannya berangsur menghilang saat Jiyo tersenyum. Senyum menenangkan yang membuat hatinya menghangat, dan merasa lebih tenang.