
Waktu terus berlalu. Masa liburan untuk pengantin baru telah usaia. Tiba saatnya mereka kembali mengurusi pekerjaan masing-masing.
Asya baru saja keluar dari kamar mandi. Langkahnya yang semula hendak menuju ruang ganti berbelok arah menuju Darren yang sedang duduk di sofa dan fokus pada layar laptopnya.
Asya mengalungkan tangannya di leher Darren dari belakang. Wanita itu mengecup pipi Darren, membuat lelaki itu tersenyum.
"Kamu menggodaku?" Tanya Darren, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Aku nggak menggodamu. Hanya ingin menciummu." Jawab Asya. Wanita itu meletakkan dagunya di pundak Darren.
"Kita baru akan kembali bekerja besok. Kenapa kamu memulainya sekarang? Malam hari waktunya istirahat, bukan untuk bekerja."
Darren tak menjawab ucapan istrinya. Hal itu membuat Asya kesal. Wanita itu kembali mencium pipi Darren, berusaha mengganggu lelaki itu.
"Apa kamu nggak lelah berdiri terus? Ayo sini, duduk!" Darren menepuk tempat kosong di sampingnya. Dengan wajah cemberut, Asya menurut. Dia duduk dan langsung memeluk erat pinggang Darren.
"Sudah ku bilang, malam hari waktunya beristirahat, bukan bekerja." Asya mengulangi ucapannya. Dan itu menarik Darren menatapnya.
"Siapa bilang malam hari bukan waktunya bekerja?" Tanya Darren, mengecup kening Asya. Ia lalu mengalihkan kembali tatapannya pada laptop. Tangannya bergerak mematikan benda tersebut dan meletakkannya di atas meja.
"Aku yang mengatakannya. Bukan hanya aku. Sebagian orang juga menganggap seperti itu."
"Berarti aku termasuk dalam orang-orang yang nggak menganggap jika malam waktunya istirahat." Ucap Darren. "Walau bukan urusan kantor, tetap saja ada hal lain yang harus dikerjakan."
"Memang ada?" Tanya Asya, dengan polosnya.
"Ada."
"Apa?"
"Kamu mau tahu?" Asya mengangguk. "Sekarang, tutup mata."
"Kenapa harus tutup mata?"
"Lakukan saja."
Asya menurut. Wania itu memejamkan matanya, membuat Darren tersenyum. Lelaki itu mengikis jarak diantara mereka.
Cup...
Satu kecupan membuat Asya membuka matanya. "Darren, kamu... Hmmpp..." Darren membungkam bibir Asya dengan bibirnya. Tangannya bergerak menahan tengkuk Asya. Setelah beberapa saat, ia melepaskan ciumannya.
"Hah... Hah... Ini... Bekerja versi mu?"
"Ya." Jawab Darren, langsung menggendong Asya.
"Eh, Darren."
"Pekerjaanku belum selesai." Darren langsung menggendong Asya menuju ranjang. Ia membaringkan istrinya dengan pelan, lalu kembali menciumnya. Tangannya bergerak meraba-raba tubuh Asya.
"Da-Darren,"
"Hmm?" Lelaki itu sibuk mencium leher Asya.
"Aku... Sedang datang bulan."
Darren menghentikan aksinya dan langsung menatap wajah Asya. Dengan lesu ia berguling ke samping, memunggungi Asya dan memeluk guling.
"Sayang," Asya menyentuh lengan Darren, namun lelaki itu tak meresponnya.
"Darren, sayang." Asya kembali memanggilnya. Kini sedikit menggoncangkan lengan Darren.
"Darren." Asya mendekat dan langsung memeluk suaminya. "Sayang,"
"Hmm..." Darren menyahut.
"Kamu marah? Ini bukan salah aku, lho. Bukan aku yang ngatur dia datang atau dia pergi."
Darren berbalik dan langsung memeluk erat Asya. Wajahnya ia tenggelamkan di dada Asya. "Aku udah semangat mau kerja, tapi dikecewain sama tamu tak diundang." Gumam Darren, yang masih terdengar oleh Asya.
Wanita itu tersenyum mendengarnya. Darren yang seperti ini, membuatnya merasa gemas. Asya menundukkan kepalanya dan mengecup kepala Darren Berkali-kali.
"Tidurlah. Besok harus bekerja."
__ADS_1
"Hmm..." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Darren. Ia semakin erat memeluk istrinya. Sementara Asya, ia menepuk pelan punggung suaminya. Hingga tanpa sadar, keduanya sama-sama terlelap.
***
Alisha baru saja turun dari mobil. Gadis itu melangkah pelan menuju rumah dengan kening yang mengerut. Pasalnya, ada mobil asing di halaman rumah. Gadis itu melangkah hendak melewati ruang tamu. Namun, gerak kakinya terhenti saat melihat, siapa yang duduk bersama Ayahnya.
"Ha-Hardi?" Gumamnya, namun terdengar oleh mereka.
Hardi dan Ayahnya langsung berdiri dan menundukkan sedikit kepala mereka. "Selamat datang, nona." Ucap Ayah dan anak itu bersamaan.
"Apa yang kalian lakukan?" Alisha mendekati mereka. "Paman, duduklah. Paman nggak pantas melakukan ini." Ucap Alisha.
"Kamu juga, Hardi." Lanjut Alisha, membuat Hardi mendongak menatapnya.
"Alisha gue..."
"Udah." Alisha menepuk pelan pundaknya. "Lupakan masalah waktu itu. Aku senang kamu sudah kembali dan berubah." Alisha tersenyum tulus.
"Lo nggak marah?"
"Hardi, bicara yang sopan."
"Nggak apa-apa, Paman." Cegah Alisha. Gadis itu kembali menatap Hardi. "Aku marah. Tapi, waktu itu. Sekarang aku udah maafin kamu. Dan kamu harus janji nggak boleh ulangi lagi perbuatan kamu."
"Iya, gue janji." Jawab Hardi, cepat. Tangannya terangkat hendak memeluk Alisha, namun terhenti oleh deheman Gara.
"Ekhm! Alisha, ke kamar!"
"Iya, Yah." Balas gadis itu. "Paman, Hardi. Alisha permisi dulu."
Setelah kepergian Alisha, Gara kembali membicarakan sesuatu dengan Ayah Hardi. Tak lama, Ayah dan anak itu berpamitan pergi.
***
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Darren segera keluar dari ruangan. Dia akan ke Yunanda Group untuk menjemput istrinya, pulang.
"Darren, apa kau mau menjemput Asya?" Tanya Jiyo, yang sejak tadi menunggu Darren keluar dari ruangannya.
"Hmm..."
Darren langsung menatap sahabatnya itu. Sebelah alisnya terangkat, membuat Jiyo gelagapan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Eee... Maksudku, aku ingin melihat Nita. Jika beralasan menjemput Asya, dia nggak akan risih padaku." Jelas Jiyo.
Darren tidak menjawabnya. Tapi, beberapa detik kemudian, lelaki itu melemparkan kunci mobilnya pada Jiyo. Membuat lelaki itu gelagapan menangkapnya.
"Darren ini..."
"Ayo, berangkat!" Potong Darren dan langsung menuju lift.
"Tapi, aku punya mobil."
"Rencana mu nggak mulus jika kau bawa mobil sendiri." Jawab Darren sambil menunggu pintu lift tertutup.
Jiyo terdiam sejenak, kemudian meloncat masuk ke dalam lift bersama Darren. Otaknya tidak sampai pada apa yang Darren pikirkan.
Lelaki itu menatap Darren yang diam dengan wajah datarnya. Seulas senyum muncul di bibirnya. "Thank's." Ujarnya, lalu menatap kunci mobil yang di pegangnya.
Setelah beberapa menit perjalanan, mobil yang di kendarai Jiyo dan Darren tiba. Kedua lelaki itu langsung menuju lobi perusahaan. Keduanya mendapati Asya duduk di sana.
"Sayang," Suara rendah Darren membuat Asya mendongak. Wanita itu tersenyum dan berdiri menyambut sang suami.
Darren langsung mencium kening dan pipi Asya. Terakhir, lelaki itu mengecup bibir Asya. Membuat Asya melotot ke arahnya.
"Sayang," Asya menegurnya dengan suara berbisik.
"Hanya kecupan singkat." Jawab Darren santai.
Sementara di belakang Darren, Jiyo memalingkan wajahnya. Darren dan Asya benar-benar tidak menganggapnya ada. Merasa kesal, Jiyo berdehem dengan keras.
"Ekhm!!" Dehemnya, membuat beberapa karyawan yang sedang memperhatikan Darren dan Asya sejak tadi, menoleh padanya. Begitu pun dengan Asya. Sementara Darren, lelaki itu tidak terganggu sama sekali dengan deheman Jiyo. Dia mengenal bagaimana sahabatnya itu.
"Eh, Jiyo. Kamu juga disini?"
__ADS_1
"Ya, aku sudah disini sejak tadi. Dan kalian mengabaikan ku."
"Maaf, aku nggak lihat kamu tadi."
"Tentu saja nggak lihat. Yang kamu lihat hanyalah suami mu."
"Hehehe... Maaf."
"Jangan berbicara dengannya." Darren langsung mengarahkan wajah Asya menatapnya. Tangannya merangkul pinggang Asya. "Ayo, pulang!"
"Ayo!"
"Eh, jangan pulang dulu!" Cegah Jiyo.
"Kenapa?" Kening Asya mengerut.
"Aku belum bertemu Nita."
"Jadi, kamu kemari ingin bertemu Nita?"
"Tentu saja. Jika nggak bertemu Nita, bertemu siapa lagi? Kamu? Aku nggak mau mati dibunuh suami mu." Ujar Jiyo membuat Asya mengulum senyum.
"Nita udah pulang."
"Apa? Nita udah pulang?" Jiyo melongo mendengarnya.
"Iya. Dia buru-buru karena Mamanya datang hari ini."
"Astagaaaa... Sia-sia aku kemari." Gumam Jiyo dengan nada kecewa.
"Ayo, sayang!"
Darren dan Asya segera menuju parkiran. Jiyo berjalan gontai mengikuti Darren dan Asya.
"Ini kunci mobil mu." Jiyo menyerahkan kunci mobil Darren pada pemiliknya, membuat kening Darren mengerut tanpa meraih kunci itu dari Jiyo.
"Ayo, ambil!"
"Kau?"
"Aku naik taksi ke kantor. Mobilku masih di kantor."
"Bukannya sudah di rumah?" Darren membuka pintu mobil Asya, membiarkan istrinya itu masuk.
"Yaa Astagaaa... Aku lupa. Aku kan sudah meminta seseorang membawa mobilku ke rumah mu? Ck. Sial!"
"Ayo!"
Darren dengan senyum tipisnya masuk dan duduk bersama sang istri di jok belakang.
"Hei! Darren! Kenapa kau duduk di belakang? Kau seharusnya di depan bersamaku!" Jiyo mengetuk pintu mobil.
Darren menurunkan kaca mobil dan menatap Jiyo. "Aku ingin bersama istriku. Dan ini mobilku!" Ucapnya, lalu kembali menaikkan kaca mobil.
"Ck. Sialan kau Darren!" Umpatnya, namun hanya dibalas senyuman miring oleh Darren.
Jiyo masuk dan menutup pintu dengan keras. Lelaki itu menjalankan mobil menjauh dari Yunanda Group. Hatinya terus bergumam agar terus bersabar melihat kemesraan Darren dan Asya. Hingga akhirnya dia tidak bisa melakukannya.
"Ck. Kalian berdua bisa nggak berhenti bermesraan? Kalian mengganggu konsentrasi ku menyetir."
"Fokus saja kedepan. Jangan hiraukan kami." Balas Darren.
"Ck. Kau mudah sekali berkata."
Asya tersenyum. "Apa kamu cemburu?"
"Sahabatku Asya yang cantik, aku nggak cemburu. Aku hanya kesal. Kalian enak-enakkan bercanda, sementara aku menjadi supir. Kalau ada Nita di sampingku, nggak masalah. Tapi, aku sendiri sekarang."
"Kasihan sekali sahabatku ini. Jangan sedih, kalau berjodoh kamu akan bersama Nita. Iya kan, sayang?"
"Hmm..."
"Ya, doa kan saja kami berjodoh." Balas Jiyo, sedikit memelankan suaranya.
__ADS_1
Baru sekarang aku melihatmu sungguh-sungguh dengan seorang gadis. Semoga kalian benar-benar berjodoh. Batin Asya.