Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 30


__ADS_3

Darren dan Jiyo masuk rumah dan langsung disambut dengan tawa dari orang-orang yang berkumpul di ruangan tersebut.


Lala yang sedang dalam gendongan Asya bergerak turun mendekati Darren. Ia berjalan sedikit cepat agar segera sampai pada Darren. Kakinya yang mungil dan gemuk membuat semua yang memperhatikannya tersenyun gemas.


"Ka-kak..." Celotehnya sambil mengangkat tangannya, meminta agar digendong Darren.


Darren langsung menunduk dan menggendongnya. Dia mencium lembut pipi gadis mungil itu. Saat tangan Jiyo terulur hendak mencubit pipi Lala, lirikan tajam langsung ia dapatkan dari Darren.


"Aku hanya ingin mengelus pipinya." Kilah Jiyo, sambil menjauhkan tangannya yang belum sempat mencubit pipi Lala.


Darren mengabaikannya dan langsung menuju sofa. Bergabung bersama Gara, Edo, Gio, Viko dan Darrel.


Ck. Sepupunya saja, dia seperti ini. Bagaimana dengan anaknya nanti. Batin Jiyo.


"Selamat malam Paman-paman, Darrel." Sapa Jiyo ikut bergabung.


"Salamat malam," Balas mereka.


Asya sudah kembali ke dapur. Sebenarnya, ia berada di ruang tamu hanya untuk mengantar Lala pada Gio.


"Kalian pulang lebih lambat hari ini." Ucap Gio.


"Ya. Ponakan Paman ini rencananya akan lembur. Bahkan handphonenya yang bergetar ia abaikan. Untung saja aku menunjukkan pesan yang Alisha kirimkan."


"Dia pekerja keras." Ucap Edo.


"Ya, karena terlalu keras, dia sampai tidak menyadari apa yang dirinya butuhkan." Ucap Viko, sedikit menyindir.


Darren hanya mendengar. Dia tidak ingin membalas ucapan paman-pamannya itu.


"Ayaaah... Kak Dafa nih," Tiba-tiba Roy berteriak sambil berlari dan memeluk Ayahnya.


"Roy nyebelin Paman. Masa Dafa diganguin pas lagi main game. Kan jadi kalah Dafa nya." Ujar Dafa, berlari mendekati Roy yang ada dalam pelukan Viko.


"Dafa. Sini, nak!" Anak itu menurut. Ia mendekati Gio yang memanggilnya.


"Dafa udah besar kan?" Anak itu mengangguk. "Apa yang Ayah bilang sama Dafa?"


"Nggak boleh nakal. Harus jagain adek. Kalau adek salah, dibilangin baik-baik. Di nasihati dengan benar. Kalau masih nakal, biar Ayah yang urus." Jawab Dafa, sesuai dengan apa yang selalu Gio katakan padanya.


"Terus, Roy adeknya siapa?"


"Adeknya Dafa, Yah."


"Jadi,"


"Nggak boleh marah-marah sama adek." Jawab Dafa.

__ADS_1


Semua menatap Dafa dengan tatapan teduh. Anak itu terlihat manis saat menjawab pertanyaan Gio.


Viko yang berada tak jauh dari Dafa pun tersenyum dan mengusap pelan rambut anak itu. Ia lalu menatap putranya, Roy.


"Roy dengarkan apa kata Kak Dafa?" Roy mengangguk menjawabnya.


"Ayo, sekarang Roy minta maaf."


"Iya, Yah."


Roy melepaskan pelukannya dari Viko. Ia mendekati Dafa dan mengulurkan tangannya.


"Loy, minta maaf ya, Kak." Ucapnya. Darrel yang memperhatikan mereka tersenyum. Roy seperti dirinya waktu kecil yang selalu kesulitan mengucapkan huruf R.


Dafa membalas uluran tangan Roy, kemudian mengangguk. "Iya. Kakak maafin kamu. Maafin Kakak juga, ya?" Roy mengangguk. Keduanya lalu berpelukan.


"Roy. Dafa. Ayo, sini!" Suara Gara membuat keduanya melepaskan pelukan mereka dan berjalan menuju Gara.


Lelaki itu meraih Dafa dan Roy, dan mendudukkan keduanya di pangkuannya. Ia seperti melihat Darren dan Darrel waktu kecil. Hanya saja, sifat keduanya sedikit berbeda dari kedua putranya.


"Paman senang lihat kalian jadi anak baik. Kalian mau apa dari Paman?"


Dafa dan Roy saling bertatapan. Sesuatu dari Gara? Keduanya mengulas senyum. Mereka tidak akan tanggung-tanggung memintanya.


"Kita mikir dulu mau apa." Jawab keduanya serentak. Membuat Gara terkekeh pelan. Hal yang begitu jarang terlihat. Edo bahkan terkejut melihat Gara terkekeh.


"Benar-benar suatu keberuntungan melihat kau terkekeh seperti ini." Ujar Edo, sambil tersenyum.


"Benarkah?"


"Ya. Tanyakan saja pada Paman Gio sama Paman Viko."


Edo menatap Gio dan Viko sesuai yang Darrel katakan. Dan benar saja, kedua lelaki itu mangangguk membenarkan perkataan Darrel.


"Lalu, denganmu dan Darren, bagaimana?" Celetuk Jiyo, penasaran.


"Ayah sama Darren, bawaannya serius. Dan Ayah sama aku, bawaannya selalu kesal."


"Kenapa?" Jiyo, Edo, Gio dan Viko bertanya bersamaan.


"Ya... Aku sering merusak moment romantis Ayah sama Ibu." Jawab Darrel membuat semua terkekeh kecuali Gara dan Darren.


Suara tawa mereka yang berisik membuat Darren menatap dingin. Bukan karena ia risih, tapi karena Lala yang sedang tertidur pulas.


"Kecil kan suara kalian!" Suara Darren sontak membuat mereka yang tertawa berhenti. Pandangan mereka menatap Darren, lalu jatuh pada Lala yang ada dalam dekapan Darren.


Sekarang mereka mengerti, kenapa Darren meminta mereka untuk mengecilkan suara mereka.

__ADS_1


Alula datang dari dapur dan langsung menuju ruang tamu. Makanan yang mereka masak sudah siap semuanya.


"Ayo, kita makan malam dulu. Setelahnya, baru berbincang lagi." Ucap Alula.


Semuanya bangun. Gio mendekati Darren dan mengulurkan tangannya. "Biar Paman yang menggendongnya."


Darren mengangguk. Dia membiarkan Gio mengangkat gadis kecil itu. Meski gerakan Gio sangat pelan, dia tidak bisa menghentikan anak itu terbangun.


"A-yah." Gumamnya, sambil mengucek-ngucek matanya.


"Anak Ayah udah bangun. Masih mau tidur lagi?" Anak itu menggeleng. "Ya udah, kita ke ruang makan sekarang." Dia tidak mengangguk atau menggeleng lagi. Hanya menyadarkan kepalanya di dada Gio.


Semuanya sudah menempati kursi masing-masing di meja makan. Alula, Ana dan Vera disuruh duduk oleh Asya. Ia bersama Alisha dan Naomi yang akan menghidangkan makanan untuk mereka.


Darrel menunjukkan wajah tak sukanya saat matanya tak sengaja berpapasan dengan Naomi. Dan gadis itu tersenyum padanya seolah tidak ada kebencian dari Darrel untuknya.


Asya meletakkan sepering ayam goreng. Alisha


membawa makanan khusus untuk Lala. Sedangkan Naomi, ia membawa semangkuk besar sup dari arah belakang Asya. Sebuah ide terlintas di benaknya.


Sup ini masih cukup panas. Bagaimana jika mengenai kulit Asya? Pasti akan melepuh. Batin Naomi, gembira.


Ia berjalan semakin dekat. Saat dirinya cukup dekat dengan Asya, ia tersandung kakinya sendiri. Membuat sup yang dipegangnya terpental dan mengenai lengan kiri Asya.


"Asya!!!"


Praanggg... Mangkuk yang berisi sup tersebut terbelah. Semua tercengang, tapi tidak dengan Darren. Dia dengan cepat bangun dan meraih lengan Asya yang terkena kuah panas itu. Ia hendak melepaskan blazer Asya, namun gadis itu menggeleng.


Irene, Edo, Alula, Ana, Vera dan Alisha juga menghampirinya. Sementara yang lain, berdiri dari kursi masing-masing dengan wajah cemas.


"Biar tante saja, Darren." Ucap Irene.


Darren tidak menjawab. Ia hanya melepaskan tangannya dari lengan Asya, dan membiarkan gadis itu dibawa Irene dan Alula, juga diikuti Ana, Vera dan Alisha. Edo kembali ke tempatnya. Meski ia sangat khawatir, ia tetap berusaha tenang dan mempercayakan para wanita untuk menangani Asya.


Darren berbalik menatap Naomi yang kini mulai gemetaran. Tatapan penuh amarah Darren benar-benar menakutkan. Dia seperti monster yang siap mencabik-cabik dan mematahkan semua tulangnya.


"Kau!"


"Dar..." Ucapan Naomi terhenti ketika sebuah tamparan mendarat di pipinya.


Plak...


Kepala Naomi terhempas ke samping. Darren lalu meraih wajah gadis itu dan mencengkram kuat rahangnya.


"Kau dengar! Kau, akan membayar semuanya!" Bisik Darren dengan gigi bergemelatuk. Ia lalu menghempas kasar wajah Naomi, dan berjalan meninggalkan ruang makan.


Semua yang ada di ruang makan menatap Naomi dengan pandangan yang sulit di artikan. Viko, Darrel dan Gio yang menutup mata Roy, Dafa dan Lala saat Darren menampar Naomi pun menurunkan tangan mereka.

__ADS_1


Darrel lalu meraih handphonenya dan menelpon kepala pelayan.


"Suruh dua pelayan kemari." Ucapnya lalu memutuskan panggilanya.


__ADS_2