
Asya berjalan cepat ke arah parkiran kantor. Sejak mendapati Naomi pulang dengan rambut sedikit berantakan dan pipi juga leher yang memerah, ia sudah menahan dirinya untuk tidak marah pada Darren. Tapi, ia tetap tidak bisa. Rapat pagi tadi, ia lewatkan dengan hati yang terus menggeram marah pada Darren. Ia begitu marah. Sehingga, setelah rapat selesai, ia memutuskan untuk menemui Darren.
"Aku nggak nyangka kamu sekasar ini pada perempuan." Gumam Asya, sambil fokus menyetir.
Asya membelokkan mobilnya memasuki perusahaan Grisam Group. Ia memarkirkannya, lalu meraih handphone mendial nomor Jiyo.
"Hallo, Asya." Suara Jiyo terdengar.
"Hallo. Aku ada di parkiran perusahaan kalian sekarang. Aku ingin bertemu Darren."
"Masuk saja. Lalu, langsung ke lift CEO."
"Enggak. Aku nggak mau melanggar peraturan kantor. Dua karyawan itu juga, pasti akan menahanku."
"Ck. Darren sudah mengatur mereka untuk tidak menahanmu. Kalau kamu nggak percaya, coba saja katakan namamu pada mereka. Jika mereka menahanmu, kirim saja pesan padaku."
"Baiklah. Akan aku lakukan. Aku tutup dulu."
"Ya."
Asya mengakhiri panggilannya. Ia lalu memasuki perusahaan tersebut dan menuju meja resepsionis.
Dua karyawan yang melihatnya saling menyenggol. Mereka ingat gadis itu. Dia adalah gadis dari Yunanda Group, yang memiliki akses keluar masuk Grisam Group tanpa perlu membuat janji. Itu adalah perintah dari CEO mereka, Darren Alvaro Grisam.
"Ada yang bisa kami bantu, nona?" Tanya salah satu karyawan, saat Asya berdiri di depan mereka.
"Saya Asya. Saya mau bertemu tuan Darren."
"Silakan, nona. Anda bisa bertemu dengan tuan muda. Mari, saya antar ke lift CEO."
"Hah?" Asya sedikit terkejut. Ternyata yang dikatakan Jiyo memang benar.
"Saya akan mengantar nona ke lift CEO."
"Ti-tidak perlu. Saya bisa sendiri. Pekerjaanmu pasti masih banyak. Kamu lanjutkan saja perkerjaanmu." Tolak Asya, lembut. Ia sedikit gugup saat diperlakukan istimewa seperti ini.
"Baiklah, nona. Terima kasih atas pengertiannya."
Asya tersenyum. "Terima kasih kembali. Saya permisi."
"Iya, nona." Balas kedua karyawan itu bersamaan.
Keduanya terus menatap Asya hingga gadis itu memasuki lift, dan pintunya tertutup.
"Dia sangat baik dan sopan. Sangat berbeda dengan gadis gila waktu itu."
"Ya, kamu benar. Dia selain cantik, dia juga sopan, manis, baik, dan lembut. Pantasan saja tuan muda terlihat sangat sayang padanya."
***
__ADS_1
Asya berjalan keluar setelah lift berhenti di lantai tertinggi gedung itu. Asya mendekati ruangan Jiyo dan mengetuk pintu yang kebetulan terbuka.
"Ah, kamu sudah tiba." Jiyo langsung bangun menghampirinya.
"Iya. Apa Darren ada tamu?"
"Nggak ada." Balas Jiyo. Ia menatap wajah Asya dengan tatapan menyelidik. Wajah memerah gadis itu menyiratkan kemarahan. "Apa kamu sedang marah pada seseorang?"
"Ya." Asya menjawab acuh, dan langsung meninggalkan Jiyo, masuk ke ruangan Darren.
"Nggak biasanya Asya seperti ini. Apa ada hubungannya dengan Naomi kemarin?" Gumam Jiyo.
Setelah menutup kembali pintu, Asya langsung menghampiri Darren yang terduduk di kursinya sambil menatap Asya. Dia berdiri tepat di sisi kursi Darren dengan tatapan marah. Membuat Darren memutar kusinya hingga mereka saling berhadapan, dengan Asya yang berdiri dan Darren terduduk.
"Ada apa?" Suara dingin Darren terdengar lebih lembut.
"Huufthh..." Asya menarik nafasnya untuk meredakan gejolak amarah dalam dirinya.
"Kamu bertanya ada apa? Naomi itu seorang perempuan, Darren. Kenapa kamu menamparnya? Mencekiknya? Kamu juga menarik rambutnya. Apa itu nggak keterlaluan? Kenapa kamu menjadi begitu kejam seperti itu? Bagaiamana jika hal yang kamu lakukan padanya terjadi pada Alisha atau aku? Apa kamu..."
Brugh... Darren menarik tangan Asya, hingga gadis itu jatuh di pangkuannya. Dia lalu dengan erat memeluk Asya. Membuat tubuh gadis itu menegang.
"Darren..."
"Hal serupa nggak akan terjadi padamu, Alisha maupun Lala."
"Darren, jangan begini. Lepaskan!"
"Seharusnya kamu datang dan bertanya dulu kebenarannya." Ucap Darren.
"U-untuk apa bertanya lagi? Buktinya sudah ada. Naomi pulang dengan kondisi berantakan. Pipinya merah bekas tamparan. Dan lehernya merah dan ada bekas cekikan."
"Dengar. Kamu harus tahu kebenarannya." Darren menyandarkan dagunya di bahu Asya. Tangannya masih tetap melingkar erat di pinggang Asya.
"Gadis itu menggodaku. Dia kemari dan melepaskan blazer yang ia kenakan. Apa menurutmu itu baik?" Asya terdiam.
"Dia juga menceritakan hal buruk tentangmu. Apakah aku harus diam saja saat mendengarnya? Hmm?"
"Jangan mengarang alasan, Darren. Aku mengenal Naomi dengan baik."
Ternyata sifat keras kepalamu nggak pernah hilang. Batin Darren.
"Baiklah." Darren melepaskan sebelah tangannya dari pinggang Asya, lalu membuka laci dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Apa ini?" Asya menatap benda yang Darren berikan padanya.
"Tekan tombolnya." Jawab Darren. Tangannya kembali ia lingkarkan di pinggang Asya.
Nyaman sekali. Batin Darren.
__ADS_1
Asya menekan tombol yang ada pada benda tersebut. Hingga beberapa detik kemudian, terdengar suara dari benda tersebut.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kamu begitu terburu-buru. Setidaknya, pesilakan aku duduk terlebih dulu. Aku ini tamu mu."
Asya menoleh menatap Darren yang masih menyandarkan dagunya di bahunya, saat mendengar suara Naomi yang seolah sedang menggoda. Lelaki itu seakan tidak peduli dengan rekaman suara tersebut.
"Kenapa kamu terus menatapku?"
" Apa aku lebih cantik saat melepas blazer ini?"
Deg. Asya terkejut mendengar ucapan Naomi. Ia tidak menyangka Naomi berbuat seperti itu.
"Katakan saja. Kenapa kau kemari?"
"Baiklah. Aku mau memberitahumu sesuatu. Semalam, aku memergoki Asya berjalan dengan seorang laki-laki. Mereka bergandengan tangan."
Asya merasakan nafasnya sesak saat mendengar ucapan Naomi. Ia tidak menyangka Naomi berkata demikian tentangnya. Ia memang keluar malam itu. Tapi, tidak bergandengan tangan dengan laki-laki manapun.
"Memergoki, atau kau mengikutinya?"
"Hah? Y-ya, bisa dibilang aku mengikutinya."
Asya menatap Darren yang kini juga menatapnya. Matanya berkaca-kaca saat mendengar ucapan Naomi tentangnya. Darren ingin mematikan rekaman itu. Ia tidak suka melihat Asya menangis. Tapi, ia urungkan niatnya karena ia ingin Asya tahu, bagaimana Naomi sebenarnya.
"Ekhm... Semalam aku melihat Asya berjalan bersama seorang laki-laki. Aku juga tidak tahu, kemana Asya dan laki-laki itu pergi. Aku kehilangan jejak mereka. Yang jelas, Asya pulang pukul 3 pagi. Ku rasa, dia menghabiskan malamnya dengan laki-laki itu."
Deg.
Air mata Asya berhasil jatuh. Naomi mengatakan kebohongan lagi tentang dirinya. Ia memang keluar dengan seorang laki-laki. Itu adalah suruhan Darren. Mereka berjalan berjarak dan tidak bergandengan. Ia bersama Darren malam itu, bukan laki-laki lain. Dia juga pulang sebelum pukul 11, bukan pukul 3 pagi.
Asya mematikan rekaman suara itu dan berbalik memeluk Darren. Ia menangis dalam dekapan hangat Darren.
"Hiks... Kenapa Naomi berkata buruk tentangku? Hiks... Aku hiks... Aku menganggapnya saudara, begitupun dia menganggapku. Hiks... Tapi, kenapa dia berbuat seperti itu padaku?"
Darren mengusap pelan punggungnya. "Berhentilah menangis. Jangan pikirkan dia." Ucap Darren, lembut.
"Mungkinkah hiks.. semua ini hanya kebohongan? Mungkinkah hiks.. rekaman yang kamu berikan palsu?"
"Kamu nggak percaya?" Asya menggeleng dalam pelukan Darren. "Kamu bisa melihat rekamannya. Aku meletakkan kamera kecil di ruangan ini." Ucap Darren, serius.
Asya segera melepas pelukannya dan menatap Darren. "Sungguh? Kamu juga merekamnya?"
"Ya." Darren mengangguk, lalu mengusap air mata Asya. "Apa kamu mau melihatnya?"
Asya menggeleng. "Enggak. Aku nggak mau melihatnya. Aku hanya mau memelukmu." Ucap Asya manja, lalu kembali memeluk Darren.
Darren membalas pelukannya. Seulas senyum muncul di bibir Darren.
__ADS_1
Sifat manjanya kembali. Batin Darren.