
Sore hari, Darren terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya masih dipeluk oleh Asya. Perlahan, senyum tipis terukir di bibir lelaki itu. Tangannya terulur mengusap pipi Asya, membuat wanita itu menggeliat.
"Eemm... Sayang," Gumam Asya, semakin memeluk Darren.
"Ini sudah sore, sayang. Ayo, bangun!"
"Aku masih ingin tidur."
"Ya sudah. Kamu tidurlah. Tapi, aku ingin ke toilet."
"Hmm... Pergilah."
"Lepaskan dulu pelukanmu."
"Cium dulu." Ujar wanita itu dengan mata terpejam. Membuat Darren terkekeh dan langsung mengecup keningnya. Dan sesuai yang dikatakan, ia melepas pelukannya.
Darren beranjak dari ranjang langsung menuju toilet yang ada dalam ruangan tersebut. Usai dengan urusannya dalam toilet, Darren keluar dan berniat kembali ke samping Asya. Namun, langkahnya terhenti saat pintu ruang rawat itu diketuk.
Tok... Tok... Tok...
Kening Darren mengerut. Ia mengarahkan langkahnya menuju pintu. Saat pintu dibuka, terlihatlah empat orang berdiri dengan senyum mengembang dibir mereka.
"Ayah? Ibu? Papa? Mama? Kalian sejak..."
Grep...
Gara dan Edo langsung memeluk Darren. Membuat ucapan yang ingin bertanya terpotong.
"Selamat, nak. Ayah turut bahagia."
"Papa sangat bahagia mendengar berita kehamilan putri Papa."
Gara dan Edo tersenyum bahagia. Darren yang mendengarnya ikut tersenyum. "Terima kasih, Yah, Pa." Ujarnya.
Gara dan Edo melepas pelukan mereka. Bergatian Alula dan Irene yang mengucapkan selamat. Alula menatap wajah putranya. Kedua tangannya menangkup wajah sang putra.
"Selamat, nak. Jaga istri mu baik-baik."
"Iya, Bu."
"Mama juga ucapkan selamat buat kamu dan Asya. Akhirnya doa kalian terkabul juga. Mama senang akan menjadi Nenek. Tapi, Mama harap, kejadian seperti ini nggak akan terjadi lagi." Ucap Irene.
"Aku janji, kejadian seperti ini nggak akan terulang lagi." Jawab Darren. "Ayo, masuk!" Ajaknya.
Keempat orang itu segera masuk mengikuti Darren. Bisa mereka lihat, Asya yang sedang terlelap di ranjang pasien. Mereka duduk di sofa yang menghadap ke arah ranjang.
"Bagaimana kata dokter?"
"Usia kandungan Asya sudah 7 minggu. Dokter berpesan agar lebih hati-hati lagi. Usia kandungan yang masih muda rentan mengalami keguguran." Ujar Darren, melirik ke arah istrinya sejenak, lalu menatap para orang tua itu.
"Ya, kamu harus lebih memperhatikan dan menjaga istrimu." Ucap Edo. "Haaahh... Aku sudah nggak sabar menggendong cucuku." Lanjutnya.
"Cucuku juga." Ucap Gara dengan wajah datarnya.
"Ck. Ya, ya! Aku tahu." Edo berwajah kesal. "Haah... Aku juga nggak sempat mencium cucuku Meeya tadi." Lanjut Edo.
"Meeya cucuku juga."
"Ck. Iya, aku tahu! Kau ini, dasar kakek-kakek pencemburu!" Kesal Edo, membuat Alula dan Irene terkekeh melihat mereka.
"Apa kalian akan ikut menjaga Asya disini?"
"Ya." Jawab Gara dan Edo serentak. Suara kedua laki-laki itu membuat Alula dan Irene yang ingin berbicara terhenti.
"Kau pulang saja!" Ucap Gara.
"Kau saja! Aku ingin menemani putriku disini." Edo tak mau kalah.
__ADS_1
"Aku juga mau menemani menantu dan putraku." Balas Gara.
"Ck. Keras kepala sekali."
"Kau yang keras kepala."
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Ka..."
"Ayah! Papa!" Suara Darren terdengar begitu dingin. Ia tidak habis pikir, dua lelaki yang tak muda lagi itu, sering sekali berdebat.
"Darren..."
"Kalian pulang saja!"
"Apa?!!" Gara dan Edo berucap bersamaan, dengan suara yang cukup tinggi. Membuat Asya yang tertidur mulai terusik.
"Eeemmm... Sayang," Suara serak Asya membuat Darren cepat berbalik dan menghampirinya.
"Sayang?" Darren menghampiri Asya dan menggenggam tangannya. Sebelah tangannya yang bebas mengusap-usap rambut Asya.
"Aku sepertinya mendengar suara Ayah dan Papa." Wanita itu menatap wajah Darren.
"Ya. Mereka disini." Darren sedikit bergeser, memperlihatkan para orang tua itu pada Asya. Semuanya berdiri dan menghampiri wanita itu.
"Mama! Ibu!"
"Iya, nak." Jawab keduanya bersamaan.
"Hanya Mama dan Ibu mertuamu yang kamu sapa?" Ucap Edo.
"Hallo anak Papa."
"Hallo menantu Ayah."
Asya terkekeh pelan melihat tingkah Papa dan Ayah mertuanya. Begitu juga dengan Alula dan Irene. Kedua wanita itu pun terkekeh karena tingkah suami-suami mereka.
"Haaahh... Ayah senang sekali. Cucu Ayah tambah satu lagi."
"Ya. Papa juga. Cucu Papa tambah satu lagi."
"Nggak usah ikut-ikutan!" Ujar Gara, menyindir.
"Siapa yang ikut-ikutan?"
"Kau yang ikut-ikutan! Dasar kakek-kakek!"
"Kau juga kakek-kakek!" Kesal Edo.
"Ayah. Papa. Asya butuh banyak istirahat. Kenapa Ayah dan Papa malah berdebat disini?" Ucap Darren.
"Dia..."
"Sudahlah. Kalian berdua lebih baik pulang saja!" Kesal Irene.
"Tidak!" Ucap keduanya, bersamaan.
"Aku setuju dengan Irene. Sayang, kamu sama Edo pulang saja. Aku dan Irene yang akan disini bersama Darren dan Asya." Ucap Alula.
"Tidak!" Keduanya berteriak bersamaan.
"Jika aku pulang, kamu juga harus pulang. Jika kamu disini, aku juga disini!" Tegas Gara.
__ADS_1
"Aku juga sama, sayang." Edo berucap pada istrinya, dan langsung mendapat tatapan Gara.
"Apa kau tidak punya kata-kata lain selain terus mengikuti kata-kataku?"
"Ck. Kau ini, masalah sekecil ini saja kau ributkan juga."
"Lebih baik, kalian semua pulang saja. Cukup aku yang menjaga istriku." Ucap Darren dengan wajah datarnya, yang membuat para orang tua itu menatap ke arahnya.
Asya yang mendengarnya merasa tak enak pada para orang tua itu. Dengan pelan, ia menarik baju Darren.
"Sayang, jangan seperti itu." Bisiknya, pelan.
Hening sejenak. Tidak ada satupun suara yang terdengar. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar kekehan Gara dan Edo. Kedua lelaki itu terkekeh, merasa aneh dengan keheningan yang terjadi.
"Hehehe... Kenapa semuanya hening begini?" Ujar Edo.
"Hehehe... Tapi, bagus juga jika diam seperti ini." Sambung Gara.
"Huuffthh... Ku rasa, menantuku ini benar juga. Putriku membutuhkan istirahat yang banyak."
"Ya. Menantuku harus banyak istirahat dan selalu sehat. Ada baiknya jika kita tidak berdebat disini." Lanjut Gara.
"Papa... Ayah... Darren nggak bermaksud mengusir kalian. Mama... Ibu..."
"Nak, yang suamimu katakan ada benarnya." Potong Alula.
"Ya. Mama sangat setuju dengan usul Darren. Jika Papamu dan mertuamu terus ribut. Lebih baik, pulang saja."
"Ya. Ini memang kesalahan kami. Benarkan, Gara?"
"Iya. Tapi, kami tidak akan pulang sekarang. Kami masih ingin disini."
"Ya sudah. Tapi, berhentilah berdebat." Ujar Irene.
"Iya, sayang." Edo tersenyum manis pada istrinya, dan merangkul pinggang wanita itu. Begitupun Gara. Mereka kembali ke sofa dan berbincang-bincang bersama Darren dan Asya.
Setelah hampir sejam lebih, mereka berpamitan pulang. Alula dan Irene mendekati Asya. Sementara Gara dan Edo mendekati Darren.
"Mama pulang dulu, ya?" Ucap Irene.
"Iya, Ma. Mama hati-hati."
"Iya, sayang." Balas wanita itu, lalu mengecup kening putrinya.
"Ibu juga pulang dulu. Kalau kamu mau sesuatu, bilang saja sama Darren. Jangan ditahan."
"Iya, Bu. Ibu hati-hati pulangnya."
"Iya, nak."
Gara dan Edo berdiri bersamaan di depan Darren. Kedua lelaki itu menepuk-nepuk punggung Darren.
"Ayah dan Ibumu pulang dulu. Telpon Ayah jika terjadi sesuatu."
"Iya, Yah."
"Jaga putri Papa. Kabari Papa jika terjadi sesuatu."
"Iya, Pa."
"Ayah akan kirim orang-orang Ayah untuk berjaga di depan."
"Aku sudah meminta Darrel mengaturnya, Yah."
"Tapi, kenapa mereka tidak terlihat?"
"Mereka memantau sedikit jauh. Tempat disini aman."
__ADS_1
"Baiklah, Ayah percaya padamu." Darren mengangguk membalasnya. Setelah berpamitan bersama putra putri mereka, para orang tua itu kembali. Mereka akan menginap di unit apartemen masing-masing, yang memang masih satu gedung dengan apartemen Darren.