
Nita terlihat lelah berdiri sejak tadi. Banyak sekali tamu undangan yang datang. Kakinya terasa pegal karena terus berdiri. Tapi, yang memberi selamat sejak tadi masih tamu-tamu undangan yang sebatas rekan kerja atau para karyawan. Dari bagian kerabat masih belum ada yang mendekat memberi ucapan selamat.
"Kamu lelah?" tanya Jiyo pada sang istri. Istri? Mengingat itu membuatnya sangat bahagia.
Nita mengangguk. "Iya, aku lelah."
"Ya udah, kamu duduk aja dulu."
Nita menggeleng cepat. "Nggak. Tuan Gara kesini," ucap Nita yang sontak membuat Jiyo menoleh.
Laki-laki itu langsung menegakkan badannya yang semula menunduk. Ia menyunggingkan senyumnya menyambut mereka.
"Paman." Jiyo langsung memeluk Gara, yang dibalas peluk oleh laki-laki itu.
"Selamat Jiyo atas pernikahanmu."
"Terima kasih, Paman. Ini juga karena bantuanmu dan yang lain."
"Kamu sudah memilihnya. Jadi, jangan kamu melukainya."
"Nggak akan Paman. Aku akan berusaha membahagiakan dia," ucap Jiyo.
Setelah Gara, Alula mengikuti dari belakang, mengucapkan selamat. Kemudian Edo dan Irene, lalu Arya dan istrinya, Ibu Axel. Setelah itu, ada Gio, Ana dan kedua anak mereka, Dafa dan Lala. Lalu Viko dan Vera juga putra mereka Roy. Kemudian Darrel dan Aurel. Si Meeya mereka biarkan sebentar bersama pengasuhnya.
"Nita sama seperti Aurel. Jangan memaksakan keinginan kamu. Traumanya mungkin belum sepenuhnya hilang," bisik Darrel. Jiyo mengangguk. Dia akan berusaha untuk membuat Nita senyaman mungkin dengannya. Setelah itu, Darrel lanjut pada Nita.
"Selamat Nita. Semoga pernikahanmu selalu bahagia."
"Terima kasih Tuan muda," ucap Nita pada Darrel.
"Jiyooo... Sel—"
"Nggak usah peluk." Darrel tiba-tiba memotong ucapan Aurel dan berdiri di antara Jiyo dan Aurel, menghalangi sang istri yang hendak memeluk Jiyo.
"Lho? Sayang kamu kok gitu?" kesal Aurel.
"Ucap selamat saja. Nggak usah pakai peluk-peluk," ucap Darrel dengan wajah cemberut. Aurel memutar matanya kemudian langsung berpindah pada Nita. Menyebalkan sekali suaminya ini.
Sementara di belakang, Darren tak kalah posesifnya. Dia mengetahui segala sifat istrinya yang ceria. Oleh karena itu, dia sudah berjaga-jaga. Tangannya tak pernah berpindah dari pinggang Asya. Ia merangkul pinggang itu dengan begitu posesif. Sebelahnya lagi menggandeng Doni. Sementara si kembar Alan Alena, mereka juga berada di tempat yang sama seperti Meeya, tentunya bersama pengasuh si kembar.
"Ekhm!" Jiyo berdehem pelan melihat Darren dan Alula. Suami istri itu sama-sama berdiri di depan Jiyo.
"Selamat Jiyo. Semoga kalian bahagia selalu," ucap Darren dengan wajah datarnya.
"Ya, terima kasih," balas Jiyo. "Tapi, setidaknya kamu senyum saat mengucapkannya. Apa kamu nggak bahagia melihat sahabatmu ini men—"
"Semoga kamu punya anak kembar seperti yang kamu inginkan," ucap Darren memotong ucapan Jiyo. Sontak saja Jiyo tersenyum lebar. Senang sekali didoa kan punya anak kembar.
"Aamiin. Semoga ucapanmu benar."
"Selamat ya, Jiyo, sahabatku. Nggak nyangka kamu nikah sekarang," ucap Asya. Jika Darren tidak memeluk erat pinggangnya, sudah di pastikan ia akan memeluk sahabatnya ini.
"Makasih, Sya. Kalian semua udah bantu aku."
Darren dan Asya lalu berpindah ke Nita. "Selamat Nita," ucap Darren.
"Terima kasih Tuan muda."
Asya menatap Nita. Lalu menatap tangan Darren yang masih saja melingkar di pinggangnya. Ia ingin memeluk mantan sekretarisnya ini. Perempuan yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri.
Asya menatap Darren. Sedikit berjinjit, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Darren.
__ADS_1
"Lepasin bentar ya?"
Darren menatap istrinya. Ia lalu balas berbisik. "Aku dapat apa kalau melakukannya?"
Asya mendelik pada suaminya. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali membisikan sesuatu pada Darren. Membuat sudut bibir laki-laki itu terangkat membentuk senyum tipis, lalu melepaskan rangkulannya di pinggang Asya.
Sontak saja gadis itu tersenyum ceria. Ia mendekati Nita dan memeluknya erat. Sementara Jiyo, ia melirik Darren yang sekarang sudah kembali ke ekspresi awalnya. Sejujurnya, ia sangat penasaran, apa yang Asya bisikan sampai Darren mau melepasnya seperti itu.
"Ekhm." Deheman seseorang langsung membuat Jiyo menoleh. Di depannya ada dua sepupu Nita yang sempat ada hubungan dengannya. Dua gadis itu Wenny dan Poppy, dua gadis yang kehadiran mereka sempat membuat Nita yakin untuk tidak dakat dengan Jiyo.
"Hai," sapa Jiyo santai.
Wenny dan Poppy serentak memutar bola mata mereka. Sementara Jiyo hanya terkekeh. Dia kembali teringat bagaimana ia membuat kedua gadis itu tidak suka padanya. Itu murni kesalahannya. Bukan mereka berlebihan, tapi memang benar ia yang salah.
"Kau sudah menikah dengan Nita. Jangan sampai menyia-nyiakan dia," Ucap Wenny.
"Ya. Jangan sampai sepupuku itu menangis," sahut Poppy.
Kedua perempuan itu adalah sepupu jauh Nita. Hanya mereka berdua yang menganggap Nita keluarga. Sementara yang lain, mereka menganggap Nita dan Ibunya menyusahkan dan tidak ada manfaat sama sekali.
Kedua gadis itu berbeda. Namun, sesayang apapun mereka pada Nita, tetap saja mereka takut pada ancaman keluarga jika mereka tetap membantu Nita dan Ibunya.
Menghadiri acara pernikahan ini pun, mereka harus pandai membujuk. Dan beruntung, mereka diizinkan.
"Kalian tenang saja. Nita adalah segalanya bagiku. Aku nggak akan menyakitinya sedikitpun," ucap Jiyo.
Dua gadis itu hanya mengganguk. Keduanya mengucapkan selamat pada Jiyo, lalu beralih pada Nita.
Alisha dengan senyum manisnya berdiri di depan Jiyo setelah Wenny dan Poppy bergeser. "Selamat ya, Kak Jiyo. Alisha turut senang atas pernikahan Kakak. Akhirnya usaha Kakak buat jadiin Kak Nita istri nggak sia-sia."
Jiyo tersenyum. Ia mengulurkan tangannya hendak menyentuh puncak kepala Alisha. Namun tangannya hanya menggantung di udara saat deheman seorang terdengar.
Jiyo menoleh dan menemukan Axel berdiri dan menatapnya. Di belakang Axel, ada Hardi yang cengengesan sambil mengkode Jiyo untuk menurunkan tangannya, tak boleh menyentuh Alisha.
Ck. Kenapa hidupku selalu dikelilingi orang-orang sejenis Paman Gara? Batin Jiyo.
Laki-laki itu lalu melirik ke arah belakang Hardi, dan kembali menarik nafasnya.
Tambah lagi dua yang sejenis paman Gara. Paman Kenan sama Putrinya, Ziya. Batin Jiyo.
***
Jiyo dan Nita memasuki kamar mereka bersamaan. Senyum tipis terukir di bibir Nita saat melihat kasur mereka yang ditaburi kelopak mawar. Tapi, rasa lelah di tubuhnya membuatnya terduduk di sofa yang terlihat lebih dekat dengannya. Jiyo pun ikut terduduk.
"Kenapa? Kamu pasti sangat lelah."
"Iya, aku sangat lelah. Apa kamu nggak lelah?"
Jiyo menggeleng. "Perasaan bahagia membuat lelahku hilang," ucapnya sambil tersenyum, membuat Nita ikut tersenyum.
Jiyo bergeser lebih dekat pada Nita dan menundukkan badannya, meraih kaki Nita. Sontak gadis itu terkejut dan gelagapan atas perbuatan Jiyo.
"Eh, a-apa yang kamu lakukan?"
"Aku akan memijat kakimu," jawab Jiyo.
Laki-laki itu meletakan kaki Nita di pahanya, kemudian mulai memijatnya.
"Bagaimana? Sudah berkurang pegalnya?" Nita hanya bisa mengangguk. Jujur saja, dia sangat gugup diperlakukan seperti ini oleh Jiyo.
Sementara Jiyo, ia berusaha mati-matian menahan dirinya dan menghilangkan segala macam pikiran kotornya. Seperti yang Darrel katakan, gadis seperti Nita yang pernah tertimpa kejadian buruk, harus dimengerti dan diperlakukan dengan lembut. Tidak boleh memaksakan kehendak.
__ADS_1
Nita mengerutkan keningnya saat melihat Jiyo menggelng-gelengkan kepalanya. "Kamu... Kenapa?" tanyanya.
"Hah? Nggak. Nggak kenapa-kenapa," jawab Jiyo. Tangannya masih terus bergerak memijat kaki Nita.
"Apa kepalamu sakit?"
"Sedikit," jawab Jiyo. Dia tidak mungkin terang-terangan mengatakan jika dia sedang berusaha mengenyahkan pikiran kotornya. Apa yang akan Nita pikirkan tentangnya nanti?
Jiyo masih tetap memijat. Namun tiba-tiba, Nita menarik kakinya dan menurunkannya dari pangkuan Jiyo.
"Kenapa?"
Tak menjawab, Nita malah bergeser semakin dekat pada Jiyo. "Kamu sedang sakit kepala. Biar aku yang gantian memijatmu," ucap Nita. Tanpa menunggu jawaban Jiyo, Nita mulai memijat kepala Jiyo.
Ya Tuhan, Nita. Bukan kepalaku yang sakit. Tapi, otak ku yang sakit. Aku nggak bisa menghilakan pikiran kotor ini dari otakku. Batin Jiyo.
Laki-laki itu menarik nafasnya. Ia menatap wajah sang istri yang tetap serius memijat kepalanya.
"Nita," panggil Jiyo lembut.
"Ya? Ada apa? Apa sudah lebih baik?" tanya Nita.
Jiyo menggeleng. Ia meraih tangan Nita dan menggenggam dengan lembut.
"Kamu tahu malam ini malam apa?"
Nita menunduk. Ia paham kemana arah pembicaraan Jiyo sekarang.
"Malam ini malam pertama kita," lanjut Jiyo.
"Jiyo aku—"
"Aku paham. Aku hanya mengatakannya. Jika kamu belum siap, aku nggak apa-apa."
Nita terdiam. Ia teringat kembali bagaimana wajah bahagia Mamanya dan Mama mertuanya saat membicarakan tentang cucu. Ia tak sengaja mendengar dan melihatnya saat ke kamar tadi. Bukan hanya para ibu. Nita juga memikirkan Jiyo. Laki-laki itu benar-benar sabar selama ini dalam menghadapinya.
"Ayo kit—"
"Aku sudah siap," ucap Nita memotong ucapan Jiyo. Laki-laki yang sudah berdiri itu terdiam mentap sang istri.
"Kamu yakin?"
Nita mengangguk pelan, membuat Jiyo mengulas senyum. Ia menunduk dan mengecup kening Nita. "Terima kasih," bisiknya, kemudian langsung menggendong Nita menuju ranjang mereka.
Laki-laki itu membaringkan Nita dengan hati-hati di atas ranjang. Ia kembali mendekatkan wajahnya di telinga Nita.
"Tenanglah. Aku nggak akan menyakitimu. Aku akan lembut," ucap Jiyo, berusaha menenangkan Nita.
Wanita itu kembali menganggukkan kepalanya. Semuanya ia serahkan pada Jiyo. Ia yakin, laki-laki yang sekarang menyandang status sebagai suaminya ini akan memahami dirinya dan tidak akan menyakitinya.
Kembali mendapat anggukkan sang istri, Jiyo tersenyum. Ia menoleh dan mengecup sudut bibir Nita. Menatap sang istri sejenak, kemudian mencium lembut bibirnya. Seperti janjinya, ia melakukannya dengan penuh kelembutan. Hingga berakhirlah malam pertama mereka yang penuh cinta dengan berbagi kehangatan.
.......
.......
.......
.......
Hallo teman-teman semuaaaaa.... Maaf ya, baru muncul sekarang. Terima kasih buat kalian yang masih setia sama novel ini. Semoga kalian semua sehat selalu.
__ADS_1
Salam dari Aquilaliza
.......