
Lelaki tersebut terus menyeret Asya hingga keluar melewati pintu samping, tepat pada halaman samping rumah Gara.
"Hmmm..." Asya berusaha berteriak, namun mulutnya dibekap cukup kuat.
"Kenapa? Ingin berteriak?"
"Hmmm..."
"Hahaha... Ini balasan karena kamu terus saja menolakku. Aku harus memaksamu bersamaku."
"Coba saja!" Suara dingin dari arah depannya membuat lelaki itu melotot tajam. Tapi, sesaat kemudian, dia terkekeh.
"Hehehe... Anak kecil, minggir kamu! Tidak pantas mencampuri urusan orang dewasa." Ujarnya sambil menatap remaja di depannya, yang tak lain adalah Axel.
"Bukan lo yang nentuin pantas atau enggak." Jawabnya. Ia lalu menggerakkan kepalanya mengisyaratkan agar lelaki itu menoleh ke arah belakang.
Dengan rasa penasaran, ia menolehkan kepalanya ke arah belakang tanpa melepas Asya.
Deg.
Ia tertangkap sekarang. Darren berdiri di belakangnya dengan pandangan yang penuh kabut amarah.
"Brengsek!" Darren maju dan langsung melayangkan tinjuannya ke wajah Johny, lelaki yang berusaha membawa Asya. Tangannya dengan cepat meraih Asya masuk dalam pelukannya.
"Da-Darren, a-aku takut." Suara Asya bergetar, membuat Darren semakin memeluknya.
Axel yang berada di depan Johny mendekat. Ia meraih kerah kemeja Johny dan memaksanya berdiri.
Bugh... Axel menonjok wajah lelaki itu.
Bugh...
Bugh...
Bugh... Axel menghajar perut lelaki itu berkali-kali hingga ia tersungkur. Ia seolah tidak ada tenaga dihadapan remaja lelaki tersebut.
Axel menatap lelaki yang terkulai lemah itu, kemudian meninggalkannya begitu saja. Ia harus kembali menemui Alisha yang ia tinggali tadi.
Saat melihat pergerakan mencurigakan dari Johny, Axel langsung mengikutinya. Dugaannya bahwa Johny akan macam-macam semakin kuat saat lelaki itu mengikuti Asya. Dengan cepat ia menyelinap meninggalkan Alisha. Ia tahu, betapa berharganya Asya bagi Alisha. Dia tidak ingin gadis itu sedih saat sesuatu terjadi pada Asya.
Axel yakin, lalaki itu tidak akan keluar melalui pintu depan yang terdapat banyak orang. Pintu belakang atau pintu samping yang menjadi alternatifnya.
Axel menunggu di pintu samping sambil mengirim pesan ke Darren. Dan seorang pengawal yang ia minta, berjaga di pintu belakang.
Semua prediksinya benar, dan berakhirlah dengan mereka yang bisa menggagalkan niat Johny.
"Axel!" Panggil Darren, membuat lelaki itu berhenti. Dia menoleh menatap Darren.
"Thank's."
Axel menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan jalannya. Beberapa pengawal datang dan mengangkat Johny dengan kasar.
"Urus dia!" Ucap Darren, kemudian membawa Asya pergi.
"Ayo!"
Darren membawa Asya ke halaman belakang rumah. Mereka duduk di gazebo dengan Asya yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Darren sambil memeluk lelaki itu.
"Aku pikir, Johny orang baik." Ucap Asya.
"Sudah. Jangan dipikirkan lagi." Darren mengusap lembut pipi Asya. Ia lalu mendekap gadis itu dengan penuh kehangatan.
"Darren, apa aku putuskan saja kerja sama ku dengan perusahaan Johny?"
"Terserah kamu saja."
"Oh ya, bagaimana Johny bisa ada disini? Apa Paman juga mengundangnya?"
"Ayahnya kolega bisnis Ayah dulu. Jadi, Ayah mengundang Ayahnya. Tapi, nggak disangka dia yang datang."
"Jadi, yang kemarin itu, kamu hanya pura-pura nggak kenal Johny?"
"Enggak. Aku benar-benar nggak kenal dia."
"Lalu, kenapa kamu tahu tentang dia?"
"Asya, semua yang mau mendekatimu, aku harus tahu. Semua data tentang Johny, ada padaku. Jadi, aku tahu, mana yang tulus bekerja sama denganmu dan mana yang tidak."
"Kamu menyelidikinya?"
"Lebih tepat mencari tahu."
"Sama saja Darreeen."
"Ya, aku mencintaimu."
"Bukan itu yang..."
"Kamu juga mencintaiku kan?"
"Darreeen..."
"Ya sudah. Biar aku saja yang mencintaimu." Ucapnya, lalu memeluk Asya erat dan mengecup seluruh wajah gadis itu. Membuat Asya terkekeh geli karenanya.
***
Setelah acara pertunangan, tiga minggu lagi pernikahan Darrel dan Aurel akan dilaksanakan.
Matahari sudah mulai meninggi. Tapi, Asya masih berada di dalam kamarnya, bergelung di bawah selimut. Hari ini dia ingin beristirahat di rumah. Tubuhnya terasa sangat letih setelah seharian menyelesaikan tumpukan pekerjaannya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar. Asya dengan malas menanggapinya.
__ADS_1
"Siapa?"
Tidak ada jawaban. Asya terdiam sejenak. Apa Papanya kumat isengin dia? Dengan malas Asya menyibak selimutnya, turun dari ranjang dan berjalan gontai menuju pintu. Tangannya meraih gagang pintu dan membukanya.
"Pa... Darren?" Asya melotot melihat Darren berdiri di depan kamarnya. Lelaki itu terlihat begitu tampan dengan penampilanya yang santai. Jauh berbeda dengan penampilan Darren yang formal.
Beberapa detik kemudian Asya sadar dari keterpanaannya. Ia melihat dirinya yang berantakan dan masih mengenakan piyama. Sontak ia menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
Darren tersenyum. Tangannya terulur menyentuh dagu Asya, lalu mengangkatnya hingga gadis itu mendongak.
"Cantik." Ucapnya pelan, membuat Asya semakin merona.
"Aku akan mandi. Kamu tunggu saja dibawah." Asya mendorong Darren dan menutup pintu. Gadis itu langsung berlari menuju kamar mandi.
Setelah selesai, Asya langsung turun menemui Darren di ruang tamu. Lelaki itu duduk bersama Edo dan Irene.
"Ma, Pa." Sapa Asya, mencium pipi kedua orang tuanya, lalu duduk.
"Kenapa pagi-pagi kesini? Kamu nggak ke kantor?" Tanya Asya, sambil menatap Darren.
"Aku mau menjemputmu. Aku sudah bilang pada Paman sama aunty."
"Untuk apa?"
"Darrel butuh bantuanmu."
"Apa?"
"Sayang, ikuti saja Darren. Jika dia berkata seperti itu, berarti Darrel benar-benar butuh bantuanmu." Sela Irene.
"Baiklah. Tapi, aku belum sarapan, hehehe."
"Ya, kamu sarapan dulu. Darren disini bersama Papa." Timpal Edo.
"Mama nggak di anggap?"
"Hah? Siapa bilang? Sini-sini, sayangku. Istriku yang cantik." Edo langsung memeluk Irene dan mengecup pipinya berkali-kali, mengabaikan Asya dan Darren yang berada di hadapan mereka.
"Hehehe... Papa dan Mama suka sekali pamer kemesraan." Asya tersenyum canggung pada Darren.
"Aku sudah biasa." Balas Darren. Tidak tahu saja Asya jika dia sudah biasa melihat hal seperti itu. Ayahnya bahkan lebih parah dari Edo. Walaupun semua itu Darren lihat dengan tak sengaja.
"Syukurlah." Jawab Asya. "Ya sudah, aku ke dapur dulu, sarapan. Pa, Ma, Asya ke dapur dulu." Darren, Edo dan Irene sama-sama mengangguk. Edo tersenyum canggung pada Darren. Ia sepertinya lepas kendali menggoda istrinya di depan Darren. Untuk mengusir semua itu, Edo mengajak ngobrol Darren.
10 menit berlalu, Asya kembali dari dapur. Dia dan Darren langsung berangkat menuju tempat yang sudah Darren janjikan bersama Darrel.
"Kemana kita akan pergi?"
"Ke suatu tempat."
"Iya, aku tahu kita akan ke suatu tempat. Tapi, tempat seperti apa itu?"
"Kamu akan tahu nanti."
Setelah hampir setengah jam perjalanan, Darren dan Asya tiba di sebuah butik terkenal yang merupakan cabang dari butik terkenal di negara X. Asya bisa mengenali mobil yang terparkir.
"Itu mobil Darrel." Ucapnya.
"Ya. Ayo, ke dalam!"
Darren dan Asya sama-sama berjalan memasuki butik tersebut. Di dalam sudah ada Aurel dan Darrel.
"Asya,"
"Aurel,"
Kedua sahabat itu saling berpelukan. Kemudian mereka duduk bersama di sebuah sofa.
"Jadi, apa yang harus aku bantu? Kata Darren, kamu membutuhkan bantuanku." Ujar Asya sambil menatap Darrel.
"Ya. Bantu Aurel untuk memilih baju pengantin. Dia memintaku agar memberitahumu untuk membantunya memilih gaun pengantin."
"Iya, Asya. Aku sangat bingung. Aku nggak terbiasa dengan semua ini." Sahut Aurel.
"Baiklah. Tapi, berapa hari lagi pernikahannya?"
"Tiga minggu lagi." Jawab Darrel dan Aurel bersamaan.
Asya tersenyum. "Cieee... Yang bentar lagi mau nikah. Kompak banget." Perkataan Asya membuat Aurel tertunduk malu. Sementara Darrel, dia hanya tersenyum bahagia.
"Tiga minggu? Hmm... Aku rasa masih bisa untuk membuatkan sebuah gaun." Ucap Asya. "Dimana pekerja butik ini?"
"Tadi seorang datang menyapa. Tapi, kami menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaannya dulu. Kami akan memanggilnya lagi, nanti."
Asya mengangguk. Dia lalu menatap Darren. "Darren, bisakah panggilkan pengelola butik ini?"
Lelaki itu mengangguk pelan dan melambaikan tangannya pada salah seorang pekerja. Dia menuruti apa kata Asya.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Gadis itu menatap Darren. Dia sedikit terkejut saat melihat baju yang dikenakan berbeda dari yang tadi. Ketika Darrel berdehem, ia baru sadar jika seorang yang ia lihat sekarang berebeda dengan yang ia lihat tadi. Segera saja ia kembali membungkuk.
"Maaf, tuan. Saya tidak tahu, tuan berdua saudara kembar."
"Siapa yang bertanggung jawab atas tempat ini?" Tanya Darren dengan tampang dinginnya.
"Nyonya Vega. Dia yang bertanggung jawab atas butik ini."
"Panggilkan dia!"
"Nyonya sedang sibuk di ruangannya. Dia ti..."
"Katakan padanya. Tuan muda keluarga Grisam ingin menemuinya."
Deg... Wanita itu dengan susah payah meneguk ludahnya saat mendengar nama Grisam. Dia sangat bodoh, tidak mengenali siapa mereka.
__ADS_1
"Ba-baik lah." Wanita itu segera berlalu dari hadapan mereka.
Asya berdiri dan menghampiri Darren. "Aku nggak nyangka kamu bisa terlihat seperti seorang yang suka mengancam."
Darren mendekatkan wajahnya hingga membuat Asya terkejut. Tapi, gadis itu tidak bergeming. Ia seperti sedang menantang Darren.
"Aku hanya mengatakan kenyataan. Bukan mengancam." Bisik Darren.
"Baiklah. Terserah kamu saja. Ayo, duduk. Apa kaki mu nggak sakit kalau terus berdiri?" Tanpa mendengar jawaban lelaki itu, Asya langsung menarik Darren duduk di sofa. Darrel dan Aurel menatap keduanya sambil tersenyum.
"Asya selalu seperti ini pada Darren. Jika Asya gadis manja, maka dia akan semakin manja saat bersama Darren. Bisa-bisa mengalahkan manjanya Alisha."
Plak... Asya memukul punggung Darrel.
"Ish, pasti ngomongin aku kan?" Tuduhnya pada Darrel, yang ternyata memang benar.
"Hehehe... Kamu tahu aja, Sya."
Seorang wanita yang datang tergopoh-gopoh bersama seorang wanita lagi di belakangnya menarik perhatian mereka.
"Selamat pagi, tuan muda kembar. Maaf, karyawan saya tidak mengenali anda berdua. Apa ada yang bisa kami bantu, tuan?"
"Asya," Darren menatap wajah gadis itu.
Asya mengangguk lalu tersenyum pada wanita yang disapa Vega tersebut.
"Kami membutuhkan gaun untuk pernikahan." Ucap Asya.
"Untuk nona berdua?"
"Hah? Bukan bukan. Gaun itu untuk sahabatku ini."
"Baik nona. Kami memiliki beberapa model gaun pernikahan. Anda bisa melihatnya dan mencoba."
"Bisakah kalian buatkan saja gaun untuknya? Gaun yang kalian miliki sekarang mungkin tidak cocok dengan ukuran tubuhnya."
"Untuk ukuran tubuh kami bisa sesuaikan dengan nona ini. Gaun yang kami miliki ini..."
"Ekhm... " Darren berdehem membuat wanita itu langsung menghentikan perkataannya.
"Baiklah. Kapan pernikahannya dilaksanakan?" Wanita itu mengalah.
"Dua minggu lima hari dari sekarang." Jawab Darrel.
Wanita tersebut langsung meneguk ludahnya. Apakah bisa dengan waktu secepat itu? Desainer terbaik mereka sedang di luar negeri. Dia juga begitu sibuk sekarang. Dia ingin menolak. Tapi, semua ia urungkan saat mendapatkan tatapan tajam dari Darren.
"Bisa-bisa. Kami akan usahakan sebaik mungkin. Nona bisa katakan, desain gaun seperti apa yang nona inginkan."
"Bagus." Asya tersenyum ceria. "Ayo, Aurel. Ikutlah bersama mereka. Katakan gaun seperti apa yang kamu inginkan? Mereka akan melakukan yang terbaik." Ucap Asya penuh semangat.
"Ayo, sayang. Aku akan temani." Ucap Darrel. Lelaki itu lalu menggandeng Aurel mengikuti dua orang wanita tersebut.
Darrel
Thank's Kembaranku. Giliranmu bersama Asya.
Pesan yang di kirimkan Darrel itu membuat Darren tersenyum tipis. Ia memasukkan ponselnya kedalam saku, lalu bergeser lebih dekat pada Asya.
"Asya,"
"Hmm?" Gadis itu menoleh. Mata mereka saling menatap.
Mata Asya selalu bisa membuatku tenggelam didalamnya. Batin Darren.
"Darren. Ada apa?"
"Gaun pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?"
"Untuk apa menanyakan itu?"
"Untuk pernikahan kita nanti."
"Masih lama Darreeen."
"Sekedar ingin tahu."
"Hmm... Baiklah." Asya mulai mengutarakan gaun pernikahan yang ia inginkan. Ia membayangkan semuanya sambil tersenyum.
"Kenapa nggak mau membuat gaun untukmu juga?"
"Hah? Bukannya pernikahan kita masih lama? Orang tua kita juga nggak tahu hubungan seperti apa yang kita jalani sekarang."
"Bukan gaun pernikahan."
"Maksudmu?"
"Gaun untuk menghadiri pesta pernikahan Darrel."
"Nggak perlu. Aku sudah memilikinya. Aku punya dress cantik yang ku beli sehari setelah mengetahui acara pertunangan Darrel dan Aurel."
"Simpan saja yang itu. Buatlah yang baru. Biarkan mereka mengukur tubuhmu."
"Darreeen, nggak usah, ya?"
"Enggak."
"Darreeen, ya? Ya?"
"Kali ini enggak, Asyaaaa."
"Hmm.. Baiklah. Tapi, setelah ini kamu temani aku seharian. Nggak boleh sedetikpun mengurus pekerjaanmu." Ujar Asya. Ia sengaja berkata seperti itu. Darren sangat menghargai waktu kerjanya. Dia tidak mungkin setuju.
Tapi, Asya salah. Dia tidak ingat, jika seorang Darren rela meninggalkan pekerjaannya, terbang ke luar negeri dan langsung menuju apartemennya, hanya karena sebuah pesan yang dirinya kirimkan.
__ADS_1
Darren menatap wajah Asya. "Baiklah." Ucapnya, membuat Asya mendesah lelah dalam hati.