Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 17


__ADS_3

Setiap karyawan yang berada di lantai bawah dihebohkan dengan kedatangan Darrel dan Alisha. Wajah mereka terlihat bingung saat lelaki yang mereka anggap Darren itu datang dengan pakaian santainya, bersama seorang gadis cantik yang masih mengenakan seragam.


"Sejak kapan tuan keluar? Siapa gadis kecil disampingnya itu."


"Sejak kapan tuan berganti pakaian?"


"Tuan semakin tampan mengenakan pakaian santai seperti itu."


"Ya Tuhan, tampan sekali. Dan gadis itu, sangat cantik dan menggemaskan."


"Sepertinya dia bukan tuan." Ucapan salah satu karyawan itu menarik perhatian orang-orang yang berbisik. Mereka menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan lebih.


"Aku pernah mendengar jika tuan Gara memiliki putra kembar. Yang kita tahu, putra tuan Gara adalah tuan Darren dan kembarannya. Berarti orang berjalan ke arah kita itu adalah kembaran tuan Darren. Mereka memang sama persis. Tapi, tuan Darren tidak akan membalas sapaan karyawan dan tersenyum seperti itu. Dan gadis disampingnya, itu adalah nona muda. Putri satu-satunya tuan Gara bersama nyonya Alula. Lihatlah wajahnya, sangat mirip nyonya."


"Kau tahu banyak hal."


"Tanteku karyawan disini selama hampir sepuluh tahun, sebelum dia mengundurkan diri karena masalah kesehatannya. Aku tertarik dengan Grisam Group hingga memaksa tante bercerita. Awalnya tante menolak karena dilarang berbicara tentang kehidupan tuan Gara dan keluarganya. Karena aku berjanji tidak akan bercerita pada orang lain, tante setuju. Dan sekarang aku melanggarnya, hehehe...."


Tepat saat karyawan itu menyelesaikan ucapannya, Darrel dan Alisha melewati mereka. Sebagai karyawan yang baik, mereka menyapa Darrel dan Alisha. Mereka membungkuk hormat. Saat mereka mengangkat kepala mereka, bertepat dengan lift khusus CEO berhenti dan keluar Darren dan Jiyo.


"Kak Darren." Alisha berlari dan memeluk Kakaknya itu. Darren mendekap adiknya tersebut dan membelai lembut rambutnya.


Darrel juga langsung melakukan tos andalannya bersama Jiyo.


Pemandangan itu membuat semua karyawan melongo dan saling melempar pandang. Darren yang tiba-tiba berubah lembut dan Jiyo terlihat bercanda dengan kembaran Darren.


"Kamu sudah makan?" Darren bertanya lembut sambil menuntun Alisha masuk lift. Darrel dan Jiyo pun juga ikut masuk.


"Aku sudah makan, Kak. Kak Darrel mengajakku makan di restoran."


Darren mengangguk. Lift berhenti dan mereka menuju ruangan Darren. Mereka duduk di sofa ruangan tersebut dan Jiyo menelpon ke dapur kantor untuk membuatkan minuman untuk mereka dan membawakan beberapa makanan ringan.


"Ruangan di depan itu ruangan Kak Jiyo?" Tanya Alisha.


"Iya. Kenapa? Kamu ingin melihatnya?" Balas Jiyo.


Alisha langsung menggeleng. "Tidak. Aku sedang malas."


"Aku bangga padamu, Ren. Kau membuat perusahaan ini semakin berjaya." Ungkap Darrel.


"Kau juga akan ikut andil nanti."


"Ya. Aku tahu. Tapi, jangan sekarang. Tunggu setelah acara lomba melukis di kota C selesai." Balas Darrel.

__ADS_1


Terdengar ketukan pintu. Jiyo segera membukanya dan menerima nampan minuman juga beberapa makanan ringan lainnya.


"Kau mau ikut lomba melukis?" Tanya Jiyo, sembari meletakkan minuman dan makanan ringan tersebut di meja.


Alisha dengan cepat meraih minuman dan memakan makanan yang tersedia.


"Tidak. Untuk apa? Lukisanku di akui oleh pelukis-pelukis terkenal. Aku menjadi penilai di acara tersebut. Penggelar acara yang meminta langsung padaku saat aku masih di luar negeri. Ini acara besar. Ada tiga negara tetangga yang ikut."


Alisha yang sejak tadi menyimak dan asik mengunyah makanannya menoleh pada Darrel. Wajahnya langsung berbinar mendengar nama kota C disebut. Ada makanan kesukaannya disana. Makanan yang sama dengan yang Darren bawakan untuknya waktu itu.


"Kapan acaranya di mulai, Kak?" Tanya Alisha antusias.


"Dua minggu lagi."


Alisha terdiam. Ia menghitung dengan cepat hari berlangsungnya acara tersebut. Wajahnya kembali berbinar.


"Hari sabtu. Kakak bisa berangkat hari sebelumnya. Aku ikut."


"Tidak!" Jawab Darren dan Darrel serentak. Sontak wajah Alisha langsung berubah lesu.


"Kenapa?"


"Terlalu banyak orang." Balas Darren.


"Kakak pasti akan sibuk dengan lombanya." Jawab Darrel.


"Aku bisa jalan-jalan sendiri. Atau, biarkan orang-orang Ayah yang ada di kota C yang temani Alisha."


"Alisha, dengarkan kedua Kakakmu." Timpal Jiyo.


"Tidak, Kak Jiyo. Aku sangat ingin mengelilingi kota itu. Tapi, selalu tidak dapat izin." Alisha cemberut.


Alisha memang keras kepala. Tapi, Darren dan Darrel tidak bisa memenuhi keinginannya yang ini. Alisha dan Lala adalah anak emas keluarga. Jika terjadi sesuatu pada mereka, bisa-bisa dimarahi Ginanjar dan Zarfan. Dan paling mengerikan amukan Gara. Memikirkan itu saja, Jiyo bergidik sendiri.


Darren mengusap pelan rambut Alisha. "Kakak akan atur perjalanan kita ke sana. Tapi, tidak sekarang. Tunggu setelah semua urusan selesai, kita pergi." Ucap Darren.


"Benarkah?" Darren mengangguk. Anak itu menoleh pada Darrel. Lelaki itu juga mengangguk.


"Kak Jiyo juga?" Darrel dan Darren mengangguk. "Ajak Kak Asya juga, ya?" Si kembar kembali mengangguk.


Jiyo hanya tersenyum melihat Darren dan Darrel yang terus menganggukkan kepala disetiap ucapan Alisha.


***

__ADS_1


Asya berkumpul bersama Papa dan Mamanya di ruang keluarga. Tak lama, Naomi juga ikut bergabung.


"Katanya Papa mau ngomong sesuatu. Ada apa?" Tanya Asya pada Edo.


"Papa mau minta kamu gantiin Papa di perusahaan." Ucap Jiyo. Setelah hampir setengah tahun pernikahannya bersama Irene dulu, Ayahnya menyerahkan perushaan Yunanda Group padanya. Edo melepaskan jabatannya di perushaan Gara, dan memilih memimpin perusahaan Ayahnya yang sudah menjadi miliknya. Meskipun tak sehebat Grisam Group, tapi perushaan itu merupakan salah satu perushaan terkenal dari sederet perusahaan terkenal lainnya.


"Papa serius? Aku kan punya cita-cita buat jadi desainer perhiasan, Pa. Aku juga gak yakin bisa menghendel perusahaan dengan baik."


"Tenang saja. Papa sudah menyiapkan orang untuk membantumu. Papa juga akan mengajarimu dan memantau."


Irene yang melihat raut bingung di wajah putrinya pun, menggenggam tangannya. Ia tersenyum lembut pada Asya.


"Sayang, kamu satu-satunya pewaris di keluarga ini. Jika tidak diberikan padamu, harus diberikan pada siapa? Mama yakin, kamu pasti bisa." Ucap Irene.


"Papa tidak melarangmu mendesain perhiasan. Tapi, Papa harap itu hanya sebuah pekerjaan selingan saat kamu bosan. Papa sudah bertambah usia. Saatnya kamu yang melakukannya. Papa akan membantumu mencarikan tempat untuk membuka toko perhiasan hasil desainmu sendiri."


Asya merasa tersentuh dengan ucapan Edo. Dia langsung berhambur ke pelukan Edo.


"Makasih, Pa. Tapi, itu tidak perlu. Seperti kata Papa. Asya akan fokus urus perusahaan. Untuk desain perhiasan, biarkan menjadi hobi Asya saja."


"Kamu benaran?" Asya mengangguk. "Terima kasih, sayang." Edo mengecup puncak kepala putrinya.


Asya beralih memeluk Irene. Kehangatan pelukan Mamanya membuatnya tenang. Hatinya yang agak sedih karena harus mengorbankan cita-citanya mulai membaik. Kedua orang tuanya sudah mengorbankan banyak hal untuknya. Kini giliran dia membalasnya. Tidak masalah jika dirinya tidak menjadi seorang desainer perhiasan. Melihat senyum di wajah kedua orang tuanya yang disebabkan olehnya adalah cita-cita terbesar dalam hidupnya.


Naomi yang melihat kehangatan keluarga tersebut mendengus kesal. Dia pernah merasakan kehangatan keluarga seperti itu dulu. Tapi, kesalahan yang dibuat Ibunya membuat semua kehangatan itu hilang. Ayahnya meninggal, Ibunya di penjara dan berujung mengakhiri hidupnya di dalam jeruji besi. Dan dirinya ditelantarkan. Hingga bertemu Asya dan bergantung hidup pada gadis itu.


Kamu sudah cukup mendapatkan kehangatan itu dari keluargamu. Jadi, biarkan aku mendapatkan kehangatan itu dari Darren. Batin Naomi.


"Oh ya, Naomi. Bagaimana denganmu?" Pertanyaan Irene membuat naomi terkesiap.


"Eh, aku tante?"


"Iya, kamu." Balas Irene.


"Aku nggak tahu."


Irene menoleh pada suaminya. "Bagaimana, sayang?" Tanya Irene.


"Eemm... Kalau kamu mau, om bisa masukkan kamu ke salah satu departemen yang sesuai dengan kemampuanmu."


"Mau, om!" Jawab Naomi cepat. Tapi, beberapa detik kemudian ia menunduk. "Tapi, aku hanya lulusan SMA, om." Jawabnya, lemah.


"Tidak masalah. Akan ada yang menuntunmu nanti."

__ADS_1


Wajah Naomi kembali sumringah. Ia sangat bahagia mendengarnya.


__ADS_2