
Alisha bersama kedua orang tuanya sudah kembali dari rumah Kakek Asya. Gadis itu langsung menuju kamarnya. Belum sempat gadis itu membaringkan tubuhnya, notifikasi pesan di handphonenya berbunyi.
Tangan Alisha gemetar melihat nomor baru. Dia takut jika itu adalah nomor dari seseorang yang ingin menerornya lagi.
"A-aku sangat takut untuk melihatnya. Tapi, aku juga penasaran." Gumam Alisha.
Dia kemudian memberanikan dirinya untuk melihat pesan itu. Kali ini nomor yang berbeda dari nomor yang sebelumnya. Dia mengklik pesan tersebut.
+6282567094xxx
DARREN DARREL, MATI!!
Deg... Jantung Alisha seperti berhenti berdetak. Ia meneguk kasar salivanya.
"A-apa maksud pesan ini?" Gumamnya.
Tok... Tok... Tok...
"Nona," Ketukan dan panggilan itu membuat Alisha langsung menatap ke arah pintu. Ia menjawab kemudian bergegas membuka pintu.
"Maaf nona, mengganggu anda."
"Ya. Nggak masalah. Ada apa?"
"Ini, nona. Ada kiriman untuk anda. Pengirimnya bernama Axel."
Axel? Mengirim sesuatu untukku? Alisha sedikit ragu jika itu dari Axel. Tapi, ia tetap menerimanya.
"Terima kasih, Bi."
"Sama-sama nona."
Alisha menutup kembali pintu setelah pelayan itu pergi. Alisha duduk di sisi ranjang sambil membolak balik benda berbentuk kotak tersebut, lalu membukanya.
"Aaakkhhh..."
Brugh... Alisha langsung melempar benda tersebut. Membuat isinya berserakan. Dua boneka kembar yang tubuhnya dicabik-cabik dan diberi darah, dengan kedua wajahnya ditempel foto wajah Darren dan Darrel. Juga ada selembar kertas yang bertuliskan "MATI!!" menggunakan darah.
Gara dan Alula yang mendengarnya langsung berlari ke kamar Alisha. Beberapa pelayan dan pengawal juga berlari ke sumber suara.
Brak... Gara mendorong dengan keras pintu kamar Alisha. Wajah putrinya pucat.
"Ayah..." Alisha langsung memeluk Ayahnya, yang dibalas dengan pelukan erat Gara.
"Alisha, sayang." Alula juga ikut memeluk putrinya.
"Ayah, Ibu, Alisha takut."
"Tenang, nak. Ada Ibu sama Ayah disini." Ucap Alula.
Gara melirik benda yang berserakan di lantai. Rahangnya mengeras karena amarah.
"Ayah, telpon Kakak. Beritahu mereka untuk hati-hati. Suruh mereka kembali, Ayah. Orang itu... Orang itu ingin membunuh Kakak kembar."
__ADS_1
"Tenang, nak. Tenang." Gara mengusap rambut putrinya dengan sayang. Ia lalu menatap Alula. "Sayang, bawa Alisha ke kamar kita." Alula mengangguk.
"Pelayan, temani istriku bersama putriku. Kecuali yang membawa benda ini masuk." Ucap Gara pada para pelayan yang berdiri luar kamar Alisha.
Semua menurut, mengikuti Alula dan Alisha berjalan meninggalkan kamar. Hanya tersisa seorang pelayan yang berdiri menunduk, berdoa dalam hati agar Gara tidak memarahinya.
Gara menatap satu persatu pengawalnya. Benda tersebut tidak akan sampai ke tangan Alisha jika tidak melewati pengawal dan pelayannya.
"Siapa yang membawa benda ini masuk rumah? Dan siapa yang membawanya masuk ke kamar?"
Pengawal dan pelayan yang bersangkutan menunduk dan maju selangkah. Tatapan Gara saat ini seperti sudah siap membunuh mereka.
"Katakan!" Tegas Gara.
"Seorang laki-laki menggunakan motor mengantar ini di depan gerbang. Dia mengatakan barang ini dari Axel, teman nona. Saya menolak, tapi dia mengatakan ini adalah barang penting. Barang ini sudah dijanjikan Axel untuk nona. Jadi, saya percaya dan membawa barang itu padanya." Jelas pengawal tersebut, menunjuk pada pelayan.
"Saya menerimanya dan membawa pada nona. Awalnya saya ingin melihat isinya. Tapi, karena ini milik nona, dan diatur dengan baik, saya takut akan melanggar privasi dan merusak barangnya. Maafkan saya, tuan."
Gara terdiam mendengarnya. Hanya ada satu tersangka yang melintas di otaknya, Hardi. Gara melihat benda tersebut, lalu menyeringai.
"Bereskan semua ini." Ucap Gara.
"Baik, tuan."
Gara berjalan menuju sofa kamar tidur Alisha, lalu mengeluarkan ponselnya, menghubungi si kembar. Namun, tidak satupun dari keduanya yang menjawab.
Gara berdiri dan menatap semua pengawalnya. Ia lalu berjalan ke arah pintu kamar Alisha.
Semuanya bergegas mengikuti Gara, termasuk pelayan itu. Dia kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum terselesaikan.
***
Darren dan Darrel turun dari mobil saat Hendra dan beberapa bawahannya menghalangi jalan mereka. Beruntung, Darrel meminta Aurel bersama Jiyo. Kedua saudara kembar tersebut langsung mengejar Asya saat menyadari gadis itu pergi sebelum acara tersebut selesai.
"Huh, kalian mau mengejar Asya?" Hendra tertawa meremehkan.
"Kami nggak ada urusan denganmu." Ujar Darrel. Darren hanya menatap tajam tanpa mengeluarkan suara.
"Urusan Asya urusanku juga." Balasnya.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan dengan dua orang ini?" Tanya salah satu bawahan Hendra.
"Lakukan saja apa yang kalian inginkan. Tapi, paling bagus lenyapkan saja mereka." Ucap Hendra, kemudian menyandarkan tubuhnya di mobil.
Para bawahannya tersenyum jahat. Mereka mulai maju dan menyerang Darren dan Darrel. Perkelahian antara si kembar dan para bawahan Hendra pun terjadi. Sementara Hendra, dia hanya menonton sambil melipat tangannya di dada.
Bugh... Darren memukul wajah dan menendang tubuh setiap orang yang menyerangnya. Begitupun dengan Darrel. Dia juga memukul dan menendang orang-orang itu. Meski tubuh mereka tersungkur di aspal, mereka kembali bangkit dan menyerang si kembar.
Hendra tertawa puas melihat kedua saudara kembar itu yang mulai kelelahan melawan para bawahannya. Hingga tiba-tiba, tawanya terhenti saat menyadari beberapa mobil menghampiri mereka. Dia dengan cepat menegakkan tubuhnya, kemudian memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu. Dia yakin mobil-mobil itu pasti mobil milik orang-orang Darren Darrel.
Gara turun dari mobilnya saat tiba di tempat kedua putranya melawan para bawahan Hendra. Dengan penuh amarah, dia menarik salah satu dari mereka dan memukulnya dengan keras. Pantas saja kedua putranya tampak kelelahan. Mereka sebanyak itu, melawan kedua putranya. Benar-benar tidak imbang.
"Ayah!" Darren dan Darrel berucap bersamaan saat meyadari jika yang memukul orang itu adalah Gara.
__ADS_1
Para pengawal Gara juga mulai masuk dalam perkelahian tersebut. Tak butuh waktu lama, mereka berhasil melumpuhkan bawahan Hendra.
"Ayah. Kenapa Ayah kemari?" Tanya Darrel.
"Ayah ingin melindungi anak-anak Ayah." Balas Gara.
"Kirim pengawal sudah cukup untuk membantu kami. Ayah seharusnya menunggu di rumah saja." Ucap Darren, masih saja dengan ekspresi dinginnya.
"Ayah khawatir dengan putra-putra Ayah. Apa salah?" Kesal Gara. "Oh, jangan-jangan kalian meragukan kekuatan Ayah? Ck. Meskipun Ayah sudah tidak muda lagi, Ayah masih cukup kuat menghajar mereka."
"Ya-ya, Ayah masih kuat. Sekarang kita pulang saja. Ibu dan Alisha pasti khawatir. Tapi, apa mereka tahu?"
"Ya. Mereka tahu."
"Pakai mobil ku saja." Ucap Darren, langsung menuju mobilnya. Darrel dan Gara saling menatap, lalu masuk ke mobil Darren. Biarlah mobil mereka pengawal yang membawanya.
"Ayah melihat, ada mobil yang kabur. Siapa dia?"
"Hendra." Jawab Darrel.
"Kakaknya Hardi?"
"Ayah tahu?"
"Aku menyelidikinya, Darrel."
"Ya, aku lupa." Balas Darrel.
"Bagaimana Ayah bisa disini?" Tanya Darren, yang sejak tadi terdiam. Pandangannya tetap fokus pada jalanan.
"Alisha di teror lagi. Ada yang mengirim kotak berisi boneka kembar yang tubuhnya dicabik-cabik dan berdarah. Wajah boneka itu ditempel foto wajah kalian berdua. Terus ada tulisan "MATI!!" di selembar kertas."
Darren mengeraskan gengamannya pada stir mobil. Sementara Darrel, ia mengeraskan rahangnya. Mereka tahu, pasti Alisha sangat ketakutan.
"Axel pengirimnya." Ujar Gara membuat Darren menatapnya dari spion dan Darrel menoleh pada Ayahnya.
"Nggak mungkin!" Ucap Darren Darrel bersamaan.
"Ya. Dari cerita kalian, Ayah tidak yakin itu Axel. Walaupun Ayah tidak pernah bertemu dengannya, Ayah rasa dia anak baik. Ayah akan menyelidikinya." Ucap Gara.
Setelah tiba di rumah, Darren dan Darrel langsung menghampiri Alisha yang ada di kamar Ibu mereka. Gadis itu sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Kakak..." Gadis itu langsung bangun dan memeluk kedua kakaknya. "Kakak nggak apa-apa kan?"
"Enggak." Jawab keduanya bersamaan.
"Syukurlah. Alisha sangat takut terjadi sesuatu sama kalian."
"Tenang saja. Nggak akan terjadi apa-apa." Ucap Darrel.
"Jangan terlalu memikirkannya." Sahut Darren.
Alula dan Gara terus menatap anak-anak mereka sambil berpelukan. Mereka sangat bersyukur memiliki putra putri yang saling menyayangi seperti ini.
__ADS_1