
Darrel bersama Aurel tiba di kediaman Gara. Sambil menggenggam tangan Aurel, mereka bersama memasuki rumah.
"Kak Aurel," Alisha, si gadis ceria itu langsung menghampiri mereka. Ia memeluk Aurel cukup erat. Alula sudah menceritakan masalah Darrel itu padanya. Dia juga merasa sangat senang jika Aurel menjadi anggota keluarga mereka.
"Alisha, lepaskan!" Darrel memisahkan tubuh adiknya itu yang menempel pada Aurel.
"Kak Darrel, apaan sih?" Kesal anak tersebut, sambil cemberut pada Kakaknya.
"Pelukanmu terlalu erat. Bisa membuat Aurel sesak nafas."
"Ck. Bilang saja Kakak nggak mau Kak Aurel aku peluk." Sungutnya.
"Di mana Ibu sama Ayah?"
"Di ruang keluarga." Ketus Alisha, berjalan terlebih dahulu.
Aurel yang melihatnya merasa tidak enak dengan gadis itu. Ia menatap Darrel yang kini mulai merangkulnya.
"Kamu terlalu berlebihan. Aku nggak merasakan sesak nafas saat di peluk Alisha tadi."
"Kamu belum tahu bagaimana Alisha. Dia pasti akan terus lengket padamu seperti dia lengket pada Asya. Perutmu sudah mulai terlihat. Jika dia terus memelukmu seperti tadi, bukan hanya kamu yang sesak nafas, anak kita juga akan nggak nyaman." Ucap Darrel.
Wajah Aurel memerah mendengar Darrel menyebut anak kita. Ia menunduk menyembunyikan senyumnya, dengan perasaan yang masih tidak menyangka jika dia akan hidup bersama Darrel.
"Ayo, kita ke ruang keluarga. Orang tuaku sudah menunggu."
Aurel mengangguk, lalu berjalan bersama menuju ruang keluarga. Tidak bisa ia pungkiri, ia sangat gugup. Bertemu Darren saja, dia gugup. Apalagi bertemu kedua orang tua Darrel yang selama ini tidak ia ketahui rupanya.
Saat Darrel dan Aurel tiba di ruangan tersebut, Alula langsung menghampiri mereka. Senyuman di wajah wanita itu membuat hati Aurel merasa lega. Kegugupannya berangsur hilang.
"Akhirnya, kami menemukanmu." Alula langsung memeluknya, yang dibalas pelukan kaku Aurel.
"Bagaimana keadanmu?" Alula melepas pelukannya.
"Ba-baik, tente."
"Aku ini Ibu mertuamu. Panggil saja Ibu."
"I-Ibu." Aurel menuruti Alula dengan gugup. Hal itu membuat Alula kembali tersenyum padanya.
Wanita itu menatap perut Aurel yang mulai terlihat. Lagi-lagi senyum mengembang di wajahnya.
"Ayo, duduk. Tidak baik berdiri terlalu lama. Darrel, bawa Aurel duduk."
"Iya, Bu."
Darrel menuntun Aurel menuju sofa dan duduk saling bersebelahan. Tangannya masih saja menggenggam tangan Aurel. Hal itu membuat Alula yang sudah berada di samping Gara tersenyum melihatnya.
Gara dan Darren hanya bersikap seperti biasa, tenang dan tidak banyak bicara. Namun, di hati mereka sangat bersyukur melihat Darrel yang kembali bersemangat.
Sementara Alisha, dia masih sangat kesal pada Kakaknya. Matanya terus menatap Darrel dengan tatapan permusuhan.
"Kak Aurel, jangan mau menikah dengan Kak Darrel. Dia orangnya nyebelin." Ucap Alisha tiba-tiba, yang sontak membuat mereka semua menatapnya.
"Alisha sayang, kenapa ngomongnya seperti itu?" Ucap Alula lembut.
"Kak Darrel nyebelin, Bu. Masa, Alisha nggak dibolehin peluk Kak Aurel? Aku cuman peluk lho, bukan rebut Kak Aurel dari Kak Darrel."
"Darrel," Gara langsung menatap putranya itu, dengan tatapan meminta penjelasan. Dia tahu, bagaimana Alisha dan Darrel saat sudah bersama. Keributan sudah pasti terjadi. Karena itu, dia harus mengetahui hal yang terjadi dari cerita Darrel.
"Yah, bukannya aku nggak izinin Alisha peluk Aurel," Alisha langsung melototkan matanya ke arah Darrel. Jelas-jelas lelaki itu tidak mengizinkannya tadi. Kenapa berkata seperti itu.
"Alisha memeluk Aurel terlalu erat. Perut Aurel sudah mulai terlihat. Pelukan Alisha yang erat bisa saja menyakiti Aurel dan si bayi." Ucap Darrel.
__ADS_1
Alisha langsung mengarahkan pandangannya pada perut Aurel. Dia tidak menyadarinya tadi. Seketika rasa bersalah menusuk hati Alisha.
"Maaf," Ujarnya pelan, sambil menunduk.
"Nggak apa-apa. Aku baik-baik saja." Ucap Aurel. Ia reflek berkata seperti itu saat merasakan perasaan bersalah gadis itu. Tapi, ia langsung menutup mulutnya saat sadar, dia sedang dikelilingi keluarga Darrel.
"Ya. Kak Darrel pantas nggak izinin Alisha peluk Kak Aurel. Alisha minta maaf." Ujarnya.
"Kakak maafin kamu. Lain kali jangan ya? Kalau mau peluk, jangan erat-erat, hati-hati."
"Iya, kak."
Setelah meluruskan masalah Darrel dan Alisha, Gara memulai pembicaraannya. Membicarakan acara lamaran dan pernikahan Darrel dan Aurel. Aurel sempat terkejut mendengar rencana lamaran dan pernikahan yang begitu singkat. Tapi, bagaimana pun, dia tidak bisa membantahnya. Perutnya mulai terlihat membesar. Dia tidak bisa menyembunyikannya, jika terus ditunda. Dan nama besar keluarga Grisam lah yang menjadi taruhannya.
***
Darren menepati janjinya menemani Alisha jalan-jalan. Setelah mengantar gadis itu kembali ke rumah, Darren kembali melajukan mobilnya menjauh dari kediaman Gara. Mobilnya mengarah ke rumah Asya.
Suara ketukan pintu membuat pelayan rumah Asya membuka pintu dengan cepat.
"Tuan muda?"
"Ya."
"Silakan masuk, tuan." Ucap pelayan tersebut. Ia kembali menutup pintu setelah Darren masuk.
Tuan muda memang sangat tampan, cocok dengan nona Asya. Semoga mereka bisa bersatu. Batin pelayan tersebut.
Dia lalu kembali ke dapur, menyiapkan makan malam yang sebentar lagi harus dihidangkan.
"Darren?" Edo dan Irene berucap bersamaan saat melihat Darren berjalan ke arah mereka yang sedang nonton bersama di ruang tengah.
"Paman, tante." Sapanya.
"Kamu mau bertemu Asya?" Tanya Irene.
"Sudah pasti mau ketemu putri kita, sayang. Dia kesini hanya satu tujuan, yaitu ketemu Asya." Celetuk Edo.
"Iya, iya." Balas Irene sedikit ketus. "Kamu tunggu disini ya, Darren. Tante mau panggil Asya dulu." Lanjut Irene dengan suara lemah lembut. Darren hanya mengangguk menjawabnya.
Ck. Giliran sama Darren saja, dilembutin suaranya. Kalau sama suami sendiri, ketus sekali. Batin Edo.
Setelah Irene pergi, Edo mengajak Darren berbincang. Meskipun dia tidak begitu banyak bicara, tapi dia tetap menanggapi ucapan Edo.
Beberapa saat kemudian, Asya datang bersama Irene. Di belakang mereka, ada Naomi yang membuntuti.
"Darren. Kenapa nggak kirim pesan dulu, kalau datang?"
"Lupa." Hanya itu jawaban Darren.
Asya duduk tepat di samping Darren. Sementara Naomi, dia di sebelah Asya.
"Om, tente, aku mau ajak Asya makan malam." Ucap Darren.
"Kita sebentar lagi akan makan malam. Kita makan be... Shhh... Sakit sayang." Edo langsung meringis saat mendapat cubitan di pahanya oleh Irene.
"Boleh." Jawab Irene.
"Sayang,"
"Diam!" Tegas Ibu Asya itu.
"Tante izinin Asya. Tolong jagain anak tante ya?"
__ADS_1
"Iya."
"Aku boleh ikut nggak?" Naomi menyela. Membuat Darren langsung menatapnya tajam. Mulut Naomi seketika terkunci. Darren menyeramkan jika berekspresi seperti ini.
"Aku ganti baju dulu. Kamu tunggu sebentar ya?" Darren mengangguk sambil menatap Asya yang beranjak pergi ke kamar. Ia merasa senang melihat Asya tidak lagi memikirkan tentang Naomi.
Beberapa menit kemudian, Asya turun dan mereka segera berangkat ke tempat dimana mereka akan makan malam bersama.
"Bagaimana Darrel?" Asya memulai pembicaraan.
"Akan ku ceritakan nanti." Jawab Darren, sambil tetap fokus mengemudi.
"Kita makan malam dimana?"
"Apartemen."
"Apartemen?"
"Hmm..."
Asya hanya mengangguk. Mungkin yang Darren maksud di cafe depan apartemen.
Setelah hampir 20 menit, Darren menghentikan mobilnya di parkiran apartemen. Asya keluar dengan kening yang berkerut. Dia pikir mereka akan makan di cafe depan sana. Tapi, Darren malah memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen. Bukan di parkiran cafe.
"Apa kita akan makan di apartemen mu?" Tanya Asya.
"Ya. Ayo!" Darren meraih tangannya dan berjalan memasuki gedung apartemen. Saat dalam lift, Asya tak hentinya berpikir. Darren tidak biasanya mengajaknya makan di apartemen. Mereka lebih sering makan di restoran atau cafe, atau mungkin di warung-warung saat Asya memaksanya untuk makan disana.
"Apa ada yang memasak di apartemen mu? Atau ada bahan makanan? Aku akan memasak nanti."
"Nggak perlu. Sudah ada yang menyiapkannya."
"Siapa?"
"Ayo!" Darren kembali menarik pelan tangan Asya yang digenggamnya, keluar dari lift. Gadis itu hanya menarik nafasnya saat Darren sepertinya enggan menjawabnya.
Asya terus mengikuti langkah Darren, hingga mereka tiba di unit apartemen Darren. Lelaki itu merangkul Asya sambil membuka pintu apartemennya.
Gelap. Itu yang Asya lihat ketika pintu terbuka. Darren kembali menutup pintu. Tangannya kini berpindah merangkul pinggang Asya.
Klak.
Cahaya lampu memenuhi ruangan tersebut. Seulas senyum muncul di bibir Asya saat melihat sebuah meja dan dua kursi, serta beberapa hidangan yang tersaji, juga lilin yang memperindah suasana tersebut. Hatinya terasa sangat senang melihatnya. Suasana tersebut dimanfaatkan Darren.
Rangkulan di pinggang Asya berganti dengan pelukan posesif. Darren memeluk pinggang Asya dari belakang dan perlahan menyandarkan kepalanya di pundak Asya. Darren memiringkan kepalanya, hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Asya.
"Selamat atas tender besar yang kalian menangkan. Maaf, aku nggak sempat mengucapkannya kemarin." Bisik Darren, begitu dekat. Membuat tubuh Asya meremang dan merasakan gelenyar aneh.
"Darren,"
"Hmm?"
"Jauhkan sedikit kepalamu."
Darren tersenyum mendengarnya. Dengan sengaja, ia mengecup leher Asya, kemudian sedikit menjauhkan wajahnya.
"Darren,"
Cup. Lelaki itu kembali mengecup pipi Asya.
"Darren,"
"Aku mencintaimu." Ucapnya, membuat Asya bungkam. Lelaki itu kemudian menuntun Asya menuju kursi meja yang di sediakan. Menyalakan lilin, kemudian mereka makan bersama.
__ADS_1