Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 131


__ADS_3

Darrel dan Aurel menatap Meeya yang sedang tertidur. Senyum terukir di bibir Aurel. Ia tak menyangka, jalan hidupnya akan seberuntung ini. Darrel menoleh dan mendapati istrinya sedang tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum?" Tanyanya. Tangannya merangkul pundak Aurel.


"Aku bahagia memiliki kamu dan Meeya." Jawab Aurel.


"Aku juga bahagia memiliki kamu dan Meeya." Darrel semakin mengeratkan pelukannya. Ia menolehkan kepalanya hingga bibirnya sejajar dan begitu dekat dengan telinga Aurel. "Dan akan lebih bahagia lagi jika ada adik untuk Meeya."


Aurel menoleh pada Darrel, hingga wajah keduanya saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat. Wajahnya terlihat datar. Ia tahu maksud suaminya ini. Jujur saja, trauma tentang kejadian malam itu masih ada walaupun sedikit. Meski tahu, pelakunya Darrel, tetap saja Aurel merasa cukup sulit untuk menekan rasa takutnya. Tapi, ia akan berusaha menghapus trauma itu.


"Kenapa wajahmu seperti ini? Aku hanya bercanda. Meeya juga masih terlalu kecil untuk punya adik lagi." Ujar Darrel. Ia lalu sedikit menjauhkan wajahnya sambil bergumam. "Aku hanya ingin merasakannya. Baru sekali aku melakukannya. Itupun saat aku mabuk. Nggak benar-benar ingat bagaimana rasanya." Gumamnya pelan. Namun, Aurel masih dapat mendengarnya.


"Darrel,"


"Hmm?" Lelaki itu menoleh cepat. Ia mendekati istrinya. "Ada apa, sayang?"


"Mau ke kamar."


"Ya udah, ayo!"


"Gendong." Rengek Aurel sambil mengulurkan tangannya, minta digendong. Bertingkah menggemaskan didepan sang suami.


Darrel terkekeh pelan dan memeluk istrinya. "Hehehe... Menggemaskan sekali istri Darrel." Darrel mengecup kening Aurel lalu mengecup bibirnya sekilas. "Ayo, aku gendong."


Darrel langsung menggendong istrinya ala bridal. Membuat Aurel mengalungkan lengannya di leher Darrel.


"Aku siap malam ini." Bisik Aurel, lembut. Senyum mengembang langsung muncul di bibir Darrel. Lelaki itu menoleh dan mengecup pelipis Aurel.


"Makasih, sayang." Ujarnya, yang diangguki Aurel.


Menutup pelan pintu kamar Meeya, Darrel berjalan cepat menuju kamarnya dan Aurel. Kesempatan besar baginya. Mungkin kali ini Aurel tidak akan ketakutan lagi seperti sebelumnya, yang berakhir dengan kegagalan.


Darrel membaringkan istrinya dengan perlahan, dengan hati-hati. Ia lalu mengecup kening Aurel, lalu matanya, pipi, hidung, dan berakhir di bibir sang istri. Darrel mencium lama bibir sang istri. Benar-benar manis. Tangan Darrel mulai bergerak kemana-mana, hingga berakhir dengan mereguk kenikmatan yang sempat tertunda. Darrel bersyukur, Aurel tidak menolak, meski ia tahu, wanitanya itu sedang menahan rasa takutnya. Dia juga bersyukur, putrinya tidak mengganggu kegiatannya bersama sang istri.


***


Ketukan yang terdengar membuat Darren yang sedang fokus bekerja mendongakkan kepalanya. Ia menatap pintu ruangannya yang masih tertutup.


"Masuk!"


Seorang wanita dengan baju seksi langsung menerobos masuk saat Darren mempersilahkan. Berjalan lenggak-lenggok dan berdiri tepat di depan meja Darren. Benar-benar berniat menggoda Darren.


Darren berdiri dengan tampang dinginnya. Tatapnnya tajam menatap mata wanita itu. Tidak sedikitpun niat untuk menatap bagian-bagian tubuh wanita itu yang terekspos. Sungguh, ia tidak tertarik.


"Darren Alvaro Grisam. CEO tampan tapi dingin. Dan aku menyukainya." Ujar wanita itu. Suaranya lembut menggoda. Darren menoleh ke arah kamar istirahatnya. Di dalam sana ada Asya yang sedang tertidur. Wanita itu dipaksa Darren ikut, karena dia khawatir istrinya sendiri di rumah. Ia tidak tenang jika istrinya hanya bersama pelayan dan pengawal.


Tangan wanita itu terulur hendak menyentuh pipi Darren, namun lelaki itu menepisnya cepat.


"Jangan menyentuhku!" Tegas Darren.


"Kenapa kamu menolak? Kamu tahu kan? Aku ini putri dari klien mu. Aku bisa membuat proyek mu dan Papaku batal." Ujar wanita itu.


Darren tersenyum miring lalu berdecih dalam hati. Apa wanita ini sedang mengancamnya? Apa dia lupa siapa yang berdiri di depannya ini? Dan apa dia lupa, perusahaan apa yang sedang ia pijak saat ini? Darren ingin sekali menyadarkan wanita ini. Tapi, ia memiliki rencana lain untuk menyadarkannya.


"Batal?" Darren berpura-pura kaget dan ketakutan.


"Iya." Jawab wanita itu angkuh.


"Saya mohon, nona. Jangan minta Papa nona memutusan kerja sama ini." Darren berpura-pura.


"Hahaha..." Wanita itu tertawa terbahak dengan suara yang cukup keras. Membuat Darren tersenyum tipis sambil melirik pintu kamar istirahatnya. Ia yakin, sebentar lagi Asya akan keluar dengan wajah menahan kesal. Wanita Darren itu sekarang suka terusik mendengar suara yang keras. Darren akan memanfaatkan untuk menghukum wanita genit itu.


"Waahhh... Aku nggak nyangka, seorang CEO kejam sepertimu memohon padaku." Kekeh wanita itu, mengejek Darren.


"Aku mohon, jangan sampai Papamu memutuskan kerja sama ini."


"Aku nggak akan membatalkan kerja sama ini. Asal kan aku boleh melakukan sesutu padamu." Ucap wanita itu, genit.


"Baiklah. Ayo, mendekat."


Wanita itu kembali berjalan dengan lenggak-lenggok mendekati Darren.


Kena kamu. Batin Darren.


Wanita itu berdiri di depan Darren dan menyentuh rahang lelaki itu. Darren diam mencoba untuk tidak penepis tangan wanita itu.


"Aku ingin mencium bi..."


Bugh...


Sebuah bantal mendarat tepat di kepala belakang wanita itu. Membuat wanita itu menggeram marah dan menoleh.


"Apa yang kau..."


Bugh...


Kini bantal sofa yang mendarat di tubuh wanita itu. Asya si pelaku, terlihat tenang, namun sorot matanya mengerikan.

__ADS_1


"Kam..."


"Apa?!" Asya balas dengan tatapan tajam. "Apa yang ingin kau katakan? Hah?" Asya berdiri tepat di depan wanita itu. Tangannya berkacak pinggang menatap merendahkan wanita itu.


"Kenapa kau lihat-lihat? Kau irikan dengan bentuk tubuhku?"


"Cih! Menjijikan sekali jika aku iri." Decih Asya. "Apa maksud kau kemari dengan berpakaian seksi seperti ini?" Asya menarik baju bagian pinggang, dan langsung di tepis wanita itu.


"Kenapa kau pegang-pegang? Nggak mampu beli?"


"Cih! Sombong sekali kau, jal*ng!"


"Kau... Apa yang kau katakan? Jal*ng?"


"Ya. Kau jal*ng! Jika bukan, kenapa kau berusaha menggoda suamiku?"


"Suami? Hahaha... Apa kau baru bangun tidur?"


"Iya, kenapa?"


"Hahaha... Pantas. Kau baru saja bermimpi jika Darren suamimu."


"Hahaha..." Asya tertawa membuat wanita itu menatap bingung ke arahnya.


"Kau..."


"Hahaha... Kau... Ternyata kau ketinggalan berita. Semua orang tahu jika Darren sudah menikah. Apa kau tidak pernah baca berita atau bermain media sosial? Menyedihkan sekali!"


"Kau benar-benar perempuan gila! Tapi, kalau benar kau istrinya, kenapa suamimu ini diam saja saat aku mulai merayunya? Dia pasti sangat bosan dengan..."


Tak... Asya menyentil bibir wanita itu dengan keras. Membuat ucapannya terhenti dan berganti ringisan.


"Aww... Shhh... Apa yang kau lakukan?!"


Asya tak peduli dan malah menarik kasar tangan wanita itu. Ia bergeser mendekat ke arah sang suami yang masih berdiri diam memperhatikan mereka.


Tidak terima di perlakukan seperti itu oleh Asya, ia maju dan mendorong tubuh Asya. Namun, Darren sigap menangkap istrinya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Darren. Asya hanya menggeleng sebagai jawaban.


Darren menggelap. Pandangan matanya menatap tajam wanita yang berdiri di depannya. Membuat wanita itu meneguk ludah dengan tangan yang mulai gemetaran.


"Berani sekali kau mendorong istriku!!" Ucapnya dingin, membuat wanita itu merinding ketakutan. Tapi, dia tetap mempertahankan keangukuhannya.


"Kalian menyakitiku! Akan aku pastikan Papaku memutuskan kerja sama itu."


Darren mengangguk patuh ucapan sang istri. Asya mendekati wanita itu. Darren juga ikut dari belakang, berjaga-jaga jika wanita itu berbuat kasar pada istrinya.


"Apa kau bilang? Memutuskan kerja sama? Lakukan saja!"


"Ya. Aku akan melakukannya. Lihat saja! Kalian akan mengalami kerugian. BN Group akan memutuskan kontrak kerja samanya."


Asya terkekeh mengejek, sambil melipat kedua tangannya di dada. Semakin membuat wanita itu kesal. "BN Group, ya? Hmm...? Apa kau yakin Grisam Group akan rugi atas pemutusan kontrak kerja sama itu?"


Wanita itu tertegun mendengar ucapan Asya. Jujur saja, dia tidak tahu apa-apa tentang urusan bisnis Papanya itu.


Asya tersenyum dan menoleh pada suaminya. "Sayang, kalau perusahaan rugi seratus atau dua ratus juta nggak apa-apa kan?"


Darren mengangguk. "Nggak masalah." Jawaban itu membuat Asya tersenyum, sementara wanita itu melongo. Ia lagi-lagi meneguk ludahnya. Sedangkan Darren, ia tersenyum dalam hati. Ia ingin melihat bagaimana cara istrinya mengakhiri semua ini.


"Baiklah. Karena suamiku sudah mengatakan nggak masalah. Jadi, aku nggak akan sungkan." Ujarnya. "Mana handphonemu, sayang." Asya mengulurkan tangannya dan Darren dengan cepat memberikannya.


"Ada nomor CEO BN Group kan?"


"Aku nggak menyimpannya, sayang. Tapi, Iwan ada." Asya mengangguk. Darren segera memanggil Iwan ke ruangannya.


Lelaki itu terlihat bingung saat tiba di ruangan Darren. Ia cukup terkejut melihat seorang wanita lagi di dalam ruangan itu.


Bagaimana wanita ini bisa masuk? Aku tidak pernah menerima tamu sejak tadi. Dan ini... Ekspresi wajah nyonya muda... Ya Tuhan, aku baru bekerja dua hari. Aku tidak siap dipecat.


"Tuan,"


"Berikan nomor handphone CEO BN Group pada istriku."


Iwan segera memberikan nomor itu pada Asya. Dengan menggunakan handphone Darren, Asya menelpon CEO tersebut.


"Hallo,"


"Hallo. Apa ini dengan CEO BN Group?"


"Ya. Saya sendiri."


"Maaf, tuan. Saya istri Darren Alvaro Grisam. Putri anda datang ke Grisam Group dan menggoda suami saya. Dia juga mengancam akan memutuskan kontrak kerja sama. Jadi, saya akan mengabulkan permintaannya. Kerja sama antar Grisam Group dan perusahaan anda di batalkan."


"Tidak! Kau siapa? Saya bahkan tidak mengenalmu."


"Anda kenalkan pemilik nomor ini?"

__ADS_1


"Tentu saja. Saya menyimpan nomor tuan muda Darren."


"Ck. Kasihan sekali anda. Anda menyimpan nomor suami saya, tapi suami saya tidak menyimpan nomor anda."


Ucapan Asya membuat lelaki tua yang berada di BN Group itu kesal.


"Anda jangan main-main dengan saya!"


"Ck. Terserah anda saja! Saya akan mengirim putri anda pulang. Seseorang juga akan menemui anda untuk mengurus pemutusan kontrak. Jadi, tunggu saja." Ucap Asya dan langsung memutuskan panggilan.


Asya menatap wanita di depannya yang sudah tidak tenang. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca.


"Nyo..."


"Jangan menjilat! Iwan, bawa dia keluar! Suruh pengawal mengantarnya pada Papanya."


"Baik, nyonya."


Iwan langsung menyeret wanita itu keluar. Tidak peduli dengan rengekan wanita itu minta di lepas.


Setelah Iwan dan wanita itu keluar, Asya berbalik menatap suaminya. "Ini handphone mu."


"Sayang, aku..."


"Jangan berbicara padaku. Aku sedang marah."


"Marah? Kenapa?"


"Pikir saja sendiri!" Jawab Asya, acuh. Membuat Darren meneguk ludahnya.


"Apa dia sudah pergi?" Tanya Asya saat Iwan kembali.


"Sudah, nyonya."


"Bagaimana dia bisa masuk kesini?" Darren bertanya dengan ekspresi dinginnya. Membuat Iwan meneguk ludahnya.


"Ma-maafkan saya, tuan. Saya juga tidak tahu, dia bisa masuk kesini. Tadi, saya ke toilet sebentar, tuan. Maafkan saya, tuan."


"Sudahlah. Bukan salahmu juga. Kalau laki-laki ini tidak ingin dia berada disini, sudah sejak tadi dia mengusirnya. Dia bukan lelaki lemah. Tapi, dia malah menerimanya. Mau disentuh-sentuh pula." Sinis Asya pada suaminya.


"Sayang..."


"Aku lapar sekarang. Iwan, ayo temani aku ke kantin kantor. Aku ingin makan disana."


Iwan menatap Darren yang juga menatapnya. Lelaki itu menggeleng tidak mengizinkan.


"Maaf, nyonya. Pekerjaan saya sangat banyak. Saya harus menyelesaikan secepatnya."


"Ck. Jangan khawatir. Aku akan minta Jiyo membantumu nanti. Dia mantan sekretaris disini. Dia tahu banyak. Jadi, pekerjaanmu bisa selesai cepat."


"Sayang, aku bisa membawamu kesana." Sahut Darren.


"Ayolah, Iwan. Aku sudah sangat lapar." Asya mengabaikan Darren.


Iwan lagi-lagi menoleh pada Darren. Kali ini, mata Darren tajam menatapnya.


Ya Tuhan, bebaskan hamba dari situasi ini. Batinnya.


"Maaf nyonya, saya..."


"Harus ikut!" Potong Asya, cepat. Wanita hamil itu hendak mendekati Iwan, namun Darren dengan cepat meraihnya hingga berada di pelukannya.


"Keluar Iwan!"


"Jangan!" Asya mencoba melepas pelukan Darren, namun tidak bisa.


"Keluar Iwan!"


"Aku bilang, jangan keluar!"


"Keluar Iwan!!" Kali ini, suara Darren lebih rendah, namun terdengar sangat dingin dan menakutkan.


"Maaf nyonya, saya harus keluar. Permisi." Iwan menundukkan kepalanya pada Darren dan Asya, lalu keluar dari ruangan itu.


"Lepaskan aku!"


"Nggak akan!"


"Lepaskan aku!"


"Nggak akan!"


"Lep... Hmmpp..." Darren langsung membungkam bibir Asya dengan bibirnya. Merasa Asya mulai tenang, ia melepaskannya.


"Sekarang, istirahat di kamar, ya? Seseorang dari kantin kantor akan mengantar makanan."


Asya tidak menggeleng ataupun mengangguk. Wanita itu hanya diam. Dan beberapa detik kemudian, ia merasakan tubuhnya melayang. Darren menggendongnya, membawa ia ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2