
Setelah kejadian itu, Asya benar-benar menjauhkan dirinya dari Darren. Darren selalu berusaha untuk mendekatinya, namun gadis itu selalu memiliki cara menghindarinya.
Sementara Darrel, dia mulai bingung. Dia tahu, perasaanya pada Aurel. Namun, dia tidak bisa meninggalkan gadis yang sudah ia rusak hidupnya.
Sekretaris Kenan baru saja menelpon jika dirinya menemukan sedikit petunjuk mengenai gadis itu.
Darren, Darrel dan juga Jiyo sedang berada di cafe tempat Aurel bekerja. Darrel terlihat gelisah. Hari ini Aurel tidak bekerja.
Darrel menghabiskan minumannya, lalu berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Jiyo. Dia juga merasa kasian pada sahabatnya itu. Dia baru tahu masalah Darrel kemarin. Itu sangat mengejutkannya.
"Aku akan menemui Aurel."
Darren hanya menatap kembarannya itu. Sulit sekali berada di posisi Darrel. Dia bisa mengerti itu. Tapi, bagaimana pun, Darrel harus bertanggung jawab.
Darrel segera melajukan mobilnya ke apartemen. Perasaannya benar-benar tak menentu saat ini. Mungkin dengan bertemu Aurel, dia bisa merasa lebih baik.
Darrel memarkirkan mobilnya dan langsung menuju unit apartemen Aurel. Dia mengetuk, tapi tak ada jawaban. Hingga beberapa kali masih tidak ada jawaban, Darrel memutuskan untuk masuk. Dia takut, terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Aurel!" Panggilnya. Ia berjalan mendekati sofa.
Di atas meja, ada tas Aurel dan sebuah amplop yang berlogo rumah sakit. Ia penasaran. Segera ia meraih amplopnya dan membukanya.
Deg...
Jantung Darrel seolah berhenti. Tangannya gemetar melihat laporan pemeriksaan dan juga hasil USG Aurel.
"A-Aurel... Ha-hamil? Di-dia hamil 12 minggu?" Darrel bergumam tak percaya. Hatinya terasa sakit dan tanpa sadar, matanya berkaca-kaca.
Bruk... Barang yang dibawa Aurel terjatuh. Aurel yang baru pulang dari mini market tak jauh dari apartemen terkejut melihat Darrel disana.
"Da-Darrel?" Gumamnya dengan air mata yang sudah memenuhi matanya.
Aurel melangkah cepat mendekati Darrel. "Darr..." Ucapan Aurel terpotong saat Darrel tiba-tiba menariknya dalam pelukan. Lelaki itu menangis.
"Katakan padaku. Siapa yang melakukannya." Tanya Darrel. Dia marah, sedih. Tapi, dia tidak bisa meluapkan emosinya di depan Aurel, sehingga dia memilih untuk memeluk gadis itu.
"Darrel,"
"Katakan padaku, Aurel! Siapa yang melakukannya padamu?" Tanya Darrel tegas, tapi masih mengontrol suaranya. "Katakan, Aurel!"
Aurel tidak bisa membendung air matanya. Mereka jatuh begitu saja diiringi perasaan sakit dalam hatinya.
"Maafkan aku, Darrel. Maafkan, aku."
Darrel melepas pelukannya. Ia mencengkram kedua pundak Aurel. Matanya yang masih mengeluarkan air mata menatap wajah gadis itu.
"A-aku nggak marah sama kamu. Kamu nggak perlu minta maaf. Tapi, katakan padaku! Siapa yang melakukan hal buruk itu padamu. Katakan Aurel!"
"Darrel, aku... Hiks..."
"Ayo, Aurel. Katakan. Aku akan menghajarnya." Ucap Darrel. Lelaki itu mengusap mata, menghapus air matanya. "Apa dia pacarmu?"
__ADS_1
Aurel menggeleng. Ada rasa takut, sakit, marah, sedih dan benci yang ia rasakan. Ia tidak ingin mengingat peristiwa itu lagi.
"Darrel... Hiks... Aku... Aku nggak tahu. Hiks... Dia orang jahat. Dia... Hiks..." Aurel tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Darrel kembali menariknya dalam pelukan. Rasanya sakit sekali melihat gadis yang ia cintai menangis. Dan lebih sakit lagi, gadis yang ia cintai mengandung anak dari laki-laki lain.
"Maafkan aku, Darrel. Maafkan aku."
Darrel menggeleng. Ia mengcup puncak kepala Aurel beberapa kali. "Tenanglah. Ini bukan salahmu. Kamu nggak perlu minta maaf. Tenanglah."
"Darrel... Hiks..."
"Aku yang akan bertanggung jawab." Aurel langsung mendongak mendengar ucapan Darrel yang tiba-tiba. Gadis itu menggeleng.
"Enggak, Darrel. Kamu nggak perlu melakukannya. Pikirkan Ayah dan Ibumu Darrel. Mereka akan sedih dan kecewa padamu."
"Aku akan mengurusnya."
Aurel tidak ingin itu terjadi. Dia tidak mau karenanya, Darrel mempertaruhkan ikatan darah antara orang tua dan anak.
"Enggak, Darrel. Ini nggak benar. Kamu nggak boleh melakukannya."
Darrel tak peduli. Dia kembali membawa Aurel dalam pelukannya. "Walaupun kamu menolaknya. Melarangku. Aku akan tetap melakukannya."
Yang paling penting adalah, kamu berada di sisiku, Aurel. Batin Darrel.
***
Meluluhkan hati seseorang memang tidak mudah. Itu yang Darren rasakan. Ia terus berusaha mendekati Asya. Namun, gadis itu begitu keras kepala dan tidak ingin menemuinya.
"Maaf tuan. Anda sudah berdiri sejak tadi. Apa mau saya ambilkan kursi?"
"Tidak." Darren menolak mentah-mentah tawaran Nita.
Sekretaris kepercayaan Asya itu tak berbicara lagi. Ia kembali ke ruangannya dan sesekali mengawasi Darren dari sana.
Nita
Maaf, nona, saya lancang.
Tuan Darren terus berada di depan
ruangan anda sejak tadi.
Asya
Biarkan saja.
Nita
Tuan terus berdiri sejak tadi.
Dia tidak ingin duduk.
__ADS_1
Dia juga menolak ku berikan minum.
Asya tak membalasnya lagi. Tapi, beberapa saat kemudian, suara pintu ruangan Asya terbuka.
Darren langsung menegakkan tubuhnya dan menghampiri Asya.
"Asya..."
"Apa kamu bodoh? Kenapa kamu terus berdiri tanpa duduk dan minum?" Asya merasa kesal.
"Aku akan terus melakukannya." Balas Darren.
"Kenapa kamu kekanakan begini? Aku sedang banyak urusan. Jadi, jangan mengganggu." Ucap Asya, lalu berbalik hendak pergi. Namun, Darren dengan cepat menarik tangan Asya hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Darren langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Asya.
"Darren." Desis Asya sambil melotot pada Darren. Tapi, Darren menanggapinya dengan senyuman tipis.
Nita yang melihat senyuman tipis Darren sempat terkejut dan terpesona. Tapi, ia sadar Darren hanya bisa dimiliki Asya. Dan dia sangat mendukung dua orang itu.
"Ekhm... Nona. Sudah jam makan siang. Aku akan ke kantin." Ujar Nita, sengaja untuk meninggalkan Asya bersama Darren.
"Pergilah." Jawab Darren, tanpa mengalihkan tatapannya dari Asya.
"Eh. Nita! Nita! Mau kemana kamu?"
Nita mengabaikan teriakan Asya. Biarlah aku menjadi sekretaris kurang ajar kali ini. Nona nya dan Darren harus berbicara untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Darren, lepaskan! Apa yang kamu lakukan?"
"Nggak akan aku lepas. Aku sangat merindukanmu." Ucap Darren, lalu memeluk Asya. Mendekapnya dengan begitu erat.
Asya memberontak. Ia mendorong tubuh Darren yang memeluknya. Tapi, usahanya tidak berhasil.
"Darren lepaskan!"
"Nggak mau, Asya. Aku sangat merindukanmu."
"Huh. Kamu merindukanku setelah mengantar gadis mu itu pergi? Berniat menjadikanku tempat pelampisanmu?"
"Asya. Dia bukan gadisku. Dan bukan siapa-siapa ku."
"Oh ya?" Tanya Asya, seolah mengejek. "Huh. Aku memang bodoh. Aku berusaha mendekatkanmu dengan Naomi tanpa tahu, kamu sudah memilih pendamping hidupmu sendiri. Betapa bodohnya aku hingga dipermainkan seperti itu oleh mu. Kamu pasti menertawakanku setiap kali aku berusaha mendekatkan mu dengan Naomi."
"Aku nggak menertawakan mu."
"Siapa yang tahu hati seseorang?"
"Asya,"
"Lepaskan aku, Darren. Pekerjaanku sangat banyak. Aku ingin beristirahat. Aku sudah cukup lelah dengan masalah pekerjaanku. Jangan mengingatkanku lagi tentang masalah itu. Aku nggak mau bertambah lelah." Ucap Asya, begitu lembut.
Darren melepaskannya. Suara lembut Asya yang memohon seperti itu membuatnya tidak tega untuk menolak.
"Aku akan menemanimu beristirahat."
__ADS_1
"Nggak perlu. Aku ingin sendiri. Kamu pulanglah." Ucap Asya, lalu masuk ke ruangannya.
Darren hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu. Ia tidak akan menyerah. Ia akan terus berusaha meyakinkan Asya. Ia membuat Asya percaya padanya dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.