Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 147


__ADS_3

Setelah dua hari dari hari pertemuan para lelaki itu di Grisam Group, mereka mulai menjalankan rencana mereka.


Tidak banyak yang tahu soal rencana mereka itu, selain Gara, Arya dan Edo, juga dibantu Ben dan Kenan juga para pengawal. Selain itu, Gio dan Viko juga tahu. Namun kedua laki-laki itu diminta untuk mengawasi para wanita, seperti halnya saat ini. Gio dan Viko sedang berada di rumah Gara.


"Ayah, kita menginap disini malam ini?" tanya Dafa pada Gio.


"Iya, nak. Kita menginap disini."


"Yes." Anak itu lalu berlari menemui Doni, Roy dan Lala yang ada di salah satu ruang dimana mereka gunakan untuk bermain. Sementara si kembar Alan Alena sudah tertidur, begitu juga dengan Meeya.


Alula sejak tadi hanya diam. Dia satu-satunya perempuan yang tahu apa yang dilakukan suami dan anak-anaknya. Khawatir, iya. Hanya saja, dia tidak ingin yang lain ikut khawatir. Jadi, dia hanya berusaha menutupi kekhawatirannya. Dan itu berhasil.


"Ma, Asya kok tiba-tiba ngerasa khawatir gitu sama Darren," ucap Asya tiba-tiba.


"Aku juga sama, Sya. Aku tiba-tiba khawatir sama Darrel," ucap Aurel.


Irene yang mendengarnya hanya mengelus puncak kepala kedua putrinya. "Itu hanya perasaan kalian. Nggak akan terjadi apa-apa," ucapnya menenangkan. Sebenarnya ia juga merasa khawatir. Namun, dia berusaha untuk menyembunyikan rasa khawatirnya.


Alisha berkali-kali mengecek handphonenya. Berharap pesannya dibalas ayahnya, kedua kakaknya, Axel atau Hardi. Pagi tadi, ia diberitahu Hardi jika dia akan pergi bersama Axel ke suatu tempat. Tapi, Hardi tidak mengatakan di tempat mana ia dan Axel akan pergi.


Aku khawatir. Aku harap, kalian baik-baik saja. Batin Alisha.


Sementara di suatu tempat, tepatnya di markas tempat pelaku yang melakukan perdagangan wanita dan anak, Darren, Axel dan Hardi menyusup diam-diam melalui pintu belakang gedung tua berlantai satu.


Gara, Edo dan Arya dan beberapa pengawal mereka menjadi umpan untuk mengecoh penjaga keamanan gedung itu, hingga Darren, Axel dan Hardi bisa masuk dengan mudah. Sedangkan Darrel dan Jiyo menuju rumah tua untuk menemui paman Kenan dan paman Ben yang sedang menahan Iwan dan dua orang anak buahnya.


Kenan memang sengaja membawa Iwan sebagai sekretaris Darren sehingga dia dan Ben mudah mengawasi orang itu. Ben dan Kenan sudah menyusun semuanya dari awal. Sejak Gara memberitahu mereka tentang masalah yang menimpa Axel. Saat itu, mereka mulai merasakan sesuatu yang merepotkan akan menimpa Axel.


"Hahaha..."


Baru saja menginjakkan kaki mereka, Darrel dan Jiyo mendengar tawa jelek Iwan. Keduanya semakin mempercepat langkah mereka.


"Paman," sapa Darrel dan Jiyo pada dua orang kepercayaan Gara tersebut.


"Tuan muda." Kedua orang itu sedikit menundukkan kepala mereka pada Darrel dan Jiyo.


"Hehehe... Kalian datang, pengecut?"


Plak...


Satu tamparan diberikan Ben pada Iwan. Dia tidak suka Iwan mengatai Tuan mudanya pengecut.


"Jaga mulut mu!!"


"Hehehe... Paman, seharusnya kau di rumah. Kenapa malah berada di sini?" tanya Iwan dibarengi kekehannya. Ia lalu menatap Darrel dan Jiyo.


"Ku pikir kalian bodoh dengan mudah percaya ucapanku. Ternyata aku sedang dipermainkan kalian," ucapnya.


"Hehehe... Kau." Matanya tertuju pada Jiyo. "Kau tahu? Bibir Nita sangat manis."

__ADS_1


"Kau!!" Jiyo tersulut emosi dan hendak memukul Iwan. Namun, Kenan dan Ben segera menahannya.


"Ck. Sayang sekali aku tidak bisa menikmati tubuhnya. Dua kali aku gagal," ucapnya dengan wajah yang dibuat kecewa.


"Berhentilah mengoceh!" seru Kenan. "20 karyawan wanita di Grisam Group kau kemanakan?"


"Tentu saja sudah ku kirim ke tempat bosku." Iwan tersenyum sinis.


"Nadia?" tanya Darrel tiba-tiba, membuat Iwan mengalihkan tatapannya padanya.


"Hehehe... Gadis SMA itu?" Iwan lagi-lagi tersenyum. Senyum yang membuat Jiyo kesal setengah mati. "Gadis itu bodoh! Dia mempercayai ucapanku jika aku mencintainya. Dan ya... Kalian bisa tebak. Aku membawanya dan menikmatinya. Daun muda memang sangat nikmat. Dan sebenatar lagi, giliran dia yang akan dikir—"


"Brengsek!!"


Bugh...


Wajah Iwan tertoleh ke samping karena hantaman kepalan tangan Darrel. Kenan, Ben dan Jiyo cukup terkejut dengan Darrel yang bergerak cepat memukul Iwan.


"Brengsek!! Kau menodainya?" Darrel menarik kasar kerah baju Iwan. Emosinya tersulut. Nadia sahabat Alisha, sudah ia anggap seperti adiknya. Gadis itu pasti sangat sedih dan menderita. Dan tentunya, Alisha juga akan ikut sedih.


"Sudah ku katakan, dia sangat nikmat."


"Brengsek!!" Darrel hendak memukulnya lagi. Namun, Ben dan Kenan dengan cepat mencegahnya.


"Tuan muda, tenangkan dirimu. Dia hanya ingin mempermainkan kita," ucap Kenan.


"Kau tahu, targetku selanjutnya adalah adikmu yang cantik itu. Aku langsung menyukainya saat bertemu pertama kali."


"Kau!!"


Darrel mati-matian menahan emosinya. Apalagi saat Iwan membawa nama Alisha dalam perbuatan kotornya. Ia ingin memukul wajah laki-laki itu hingga babak belur.


"Ingat, Tuan. Tuan Gara meminta kita untuk tidak menyentuhnya dulu. Dia kunci agar kita bisa menemukan keberadaan bosnya," bisik Ben pada Darrel dan Jiyo.


Sementara di depan markas, Gara, Edo dan Arya beserta beberapa pengawal menghajar beberapa penjaga markas. Namun tak disangka, penjaga yang lain datang dari arah yang berbeda-beda. Mereka kalah jumlah karena pengawal yang mereka bawa hanya sedikit.


"Sial!! Kita kalah jumlah!" ucap Arya.


"Hadapi saja," ucap Edo.


"Ya. Aku masih kuat melawan mereka!" ucap Gara setuju dengan ucapan Edo.


Ketiga laki-laki itu dan beberapa pengawal mereka mulai bertarung. Benar kata Gara. Walaupun usianya tidak muda lagi, namun fisiknya masih kuat melawan penjahat-penjahat itu. Buktinya, sudah hampir sepuluh orang yang tumbang dibuatnya.


Sementara di markas, Darren, Axel dan Hardi juga di cegat oleh penjaga markas bagian dalam. Namun, tidak begitu sulit bagi mereka untuk melumpuhkan mereka.


"Ada 4 ruangan. Ruangan mana yang mereka pakai?" tanya Hardi, sembari menatap 4 ruangan dengan pintu yang tertutup rapat.


"Kita dobrak satu-satu," sahut Axel.

__ADS_1


Darren mengangguk mengiyakan ucapan laki-laki remaja itu. "Kalian ruangan yang itu. Saya yang ini."


Axel dan Hardi setuju. Mereka kemudian mendobrak pintu dua ruangan. Dua kali mereka lakukan, pintu terbuka. Ruangan yang di dobrak Darren kosong. Sementara yang didobrak Axel dan Hardi terdapat anak-anak.


"Hiks... Maaf, jangan pukul kami." Tangis anak-anak itu terdengr saat melihat Axel dan Hardi. Darren lekas memasuki ruangan tersebut, menghampiri Axel dan Hardi.


"Tenang ya? Kalian aman," ucap Axel.


"Adek-adek jangan takut, okey? Kami bukan orang jahat," sahut Hardi.


Anak-anak itu mengangguk dan mulai tenang. Tidak sepanik tadi seperti saat pertama melihat tiga lelaki itu.


"Apa ada yang lain yang disekap di sini?" kali ini Darren yang berbicara.


Seorang anak perempuan yang baru dibawa kemarin menatap ke arah Darren. Dia melihat seorang laki-laki memasukan seorang gadis di ruangan sebelah, saat dia dibawa ke markas itu kemarin.


"D-di ruangan sebelah, om." Anak itu memberitahu dengan tangan gemetar.


Darren, Axel dan Hardi mengangguk. Saat itu dua orang pengawal suruhan Gara berhasil masuk. Ia ditugaskan membantu anak-anak itu keluar. Sementara mereka bertiga ke ruangan sebelah.


Mereka kembali mendobrak pintu tersebut. Seperti di ruangan anak-anak tadi, ruangan yang mereka dobrak pintunya berisi para wanita. Wanita-wanita itu juga terkejut akan kedatangan mereka.


"S-siapa kalian?" tanya seorang gadis yang duduk di tengah-tengah antara yang lainnya.


"Tenang. Kami akan menyelamatkan kalian," ucap Hardi.


Mereka mengamati wanita-wanita itu satu per satu. Tidak ada Nadia disana. Axel segera mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan foto Nadia bersama Yana dan Alisha. Kebetulan sekali gadis-gadis itu memakai handphonenya untuk berfoto dulu.


"Kalian pernah lihat gadis ini?" tanya Axel sambil menunjuk ke arah foto Nadia.


"D-dia pernah di kurung disini sehari. Tapi, dia dipindahin ke ruang paling ujung," ucap seorang wanita.


Axel berdecak. Segera ia berlari keluar ruangan itu, mencari ruangan paling ujung yang dimaksud wanita itu. Mereka tidak melihat ruangan itu saat tiba tadi.


"Kalian keluarlah! Ikuti anak-anak di ruangan sebelah. Pengawal akan membantu kalian keluar," ucap Darren lalu berlari menyusul Axel, begitu juga Hardi.


Axel berlari ke lorong gelap dan akhirnya menemukan ruangan yang dimaksud. Laki-laki itu langsung mendobraknya. Kekuatannya belum cukup untuk mendobrak pintu kayu kokoh itu. Saat Darren dan Hardi tiba, mereka mendobrak bersama dan berhasil. Namun, pemandangan yang mereka lihat membuat mereka tercengang.


"Nadia!!" Axel dan Hardi berteriak bersamaan.


Nadia tergeletak di lantai dengan baju compang camping tak beraturan. Rambutnya berantakan. Dan yang paling membuat ketiga lelaki itu terkejut adalah pergelangan tangannya yang berdarah. Bahkan darah tersebut sudah menggenang di lantai.


"Nad!!" Axel menepuk pelan pipi Nadia yang mulai kehilangan kesadaran. Wajahnya sudah begitu pucat.


Merasakan ada yang menepuk pipinya, Nadia memaksa membuka matanya yang sudah begitu berat.


"A-Axel...."


"H-Hardi...."

__ADS_1


"K-kak D-Darren...."


Gadis itu berucap lirih. Tidak ingin terlambat menolong Nadia, Axel langsung menggendongnya dan membawa gadis itu keluar.


__ADS_2