
Sesuai saran Darren, Jiyo mencari kesempatan untuk minta maaf pada Nita. Sejak jam 6 pagi, lelaki itu berdiam diri dalam mobil, tak jauh dari apartemen tempat tinggal Nita. Terhitung sudah 3 jam dia menunggu, tapi Nita belum juga terlihat keluar. Menurut informasi yang Asya berikan, setiap sebulan sekali tepatnya hari libur, Nita akan berkunjung ke panti jompo untuk melihat nenek tua yang di tolongnya. Tapi, kapan gadis itu pergi, Asya tidak tahu.
"Dia masih belum keluar juga. Apa hari libur ini bukan jadwalnya pergi?" Guamam Jiyo. Dia menelungkupkan wajahnya ke setir mobil. Saat kembali mendongak, bertepatan dengan munculnya Nita.
Semangat Jiyo kembali berkobar. Setelah taksi online yang ditupangi Nita berjalan, Jiyo mengikutinya.
"Dia memiliki mobil. Kemana mobilnya sekarang?" Jiyo bergumam sambil terus memacu mobilnya mengikuti Nita.
Jiyo menghentikan mobilnya saat mobil yang ditumpangi Nita berhenti. Gadis itu benar-benar pergi ke panti jompo.
Jiyo berjalan sesuai jalan yang Nita lewati. Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di depannya. Seorang nenek tua memeluk Nita dengan erat.
"Akhirnya kamu datang juga, nak. Nenek sudah menunggu kamu dari tadi. Nenek rindu sama kamu."
Gadis itu tersenyum dalam pelukan sang nenek. "Nita juga rindu sama nenek."
"Gimana kabar Ibu mu? Sudah beberapa bulan Nenek tidak bertemu dengannya."
"Kesehatan Mama sudah mulai membaik. Sebulan lalu, Mama ke apartemen Nita. Tapi, Mama nggak sempat kesini. Mama hanya titip salam buat Nenek."
"Tidak apa-apa. Bilang pada Ibumu, fokus dulu pada penyembuhannya."
"Apa Nenek mau melihat Mama sekarang? Kita bisa melihatnya melalui panggilan vidio." Wanita tua itu mengangguk dengan semangat. Nita menuntunnya menuju kursi kayu yang berada di bawah pohon yang rindang. Gadis itu lalu melakukan panggilan vidio dengan Mamanya.
Jiyo terus memperhatikannya dari jauh. "Kata Asya, Nenek tua itu hanya orang yang di tolongnya. Tapi, mereka begitu akrab. Bahkan Mama Nita juga akrab dengan wanita tua itu. Hubungan mereka begitu erat." Ucap Jiyo, pelan. Melihat kebahagiaan di wajah kedua perempuan beda usia itu, Jiyo tidak tega merusaknya sekarang.
Setelah panggilan vidio itu berakhir, Jiyo menguatkan tekadnya menghampiri Nita.
"Nita!"
Dua wanita itu segera mendongak menatap Jiyo. Perempuan tua itu terlihat bingung. Sementara Nita, wajahnya langsung berubah masam.
"Kenapa kau bisa disini?" Nita menatap Jiyo. Gadis yang biasanya memanggilnya sekretaris Jiyo, kini mengganti panggilan itu dengan 'Kau'.
"Aku ingin berbicara dengan mu."
"Saya tidak punya waktu." Balas Nita. Gadis itu berdiri dan meraih tangan sang Nenek. "Ayo, nek! Kita masuk saja."
Namun, sang Nenek tidak bergeming. Hal itu membuat Nita menatapnya dengan kening mengerut.
"Ada apa, Nek?"
"Kamu bicaralah dengan dia. Nenek akan masuk sendiri."
"Nek..."
"Nak, jika ada masalah, bicaralah baik-baik. Jangan bertengkar. Setiap hubungan pasti ada rintangannya. Jangan mengabaikan pacarmu seperti ini."
Nita melotot mendengar si Nenek menyebut Jiyo pacarnya. "Nek, dia bukan..."
"Bicaralah! Nenek masuk dulu." Ujar Nenek itu, lalu bergegas pergi. Wanita tua itu tersenyum pada Jiyo.
Setelah kepergian si Nenek, Jiyo sedikit mendekat tapi Nita memberi jarak. "Jika kau ingin berbicara, bicara saja. Tidak perlu mendekat."
__ADS_1
"Baikalah." Jiyo pasrah. "Aku mau minta maaf soal Poppy dan Wenny. Aku..."
"Mereka yang mengalaminya. Minta maaf pada mereka, bukan pada saya."
"Tapi...,"
"Saya hanya sepupu yang tidak suka saudaranya dipermainkan seperti itu. Permintaan maaf mu, tidak ada urusannya denganku."
Nita langsung beranjak menemui sang Nenek. Tidak peduli dengan Jiyo yang mematung menatapnya yang mulai menjauh.
"Ku pikir, semua wanita mudah untuk di dekati. Tapi Nita, ku rasa akan sulit. Tapi, aku sepertinya nggak akan menyerah." Gumam Jiyo.
***
Mobil Darren berhenti di parkiran Mall. Sambil menggandeng tangan istrinya, lelaki itu memasuki mall.
"Sayang, nanti bantu pilih yang bagus ya?" Asya menatap wajah suaminya yang terlihat begitu dingin. Bukan tanpa sebab. Ia seperti itu karena tak suka melihat pandangan kurang ajar para lelaki pada istrinya.
"Sayang," Asya mengulang saat Darren tak membalasnya.
"Aku akan bantu. Tapi, aku nggak begitu paham soal itu." Darren melepaskan genggamannya, dan beralih merangkul pinggang Asya.
Wanita itu kembali menatap sang suami dengan kening berkerut. Wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya pada Darren. "Sayang, kenapa seperti ini? Kita dilihat banyak orang. Malu!" Bisik Asya.
"Jangan pedulikan mereka!" Balas Darren.
Asya hanya menghela nafas pasrah. Namun, wajah pasrahnya langsung berubah gembira saat mereka tiba di toko perlengkapan bayi. Wanita itu berjalan capat, bahkan meninggalkan Darren, memasuki toko tersebut. Darren hanya bisa menggeleng melihat kelakukan istrinya.
"Darren?"
"Kamu Darren, kan?" Wanita itu tersenyum cerah dan mendekati Darren. Namun, langkahnya terhenti saat melihat raut dingin tak bersahabat dari Darren.
"Aku senang sekali bisa bertemu denganmu. Apa kamu masih ingat aku? Aku..."
"Darren, kamu kenapa masih disini?" Asya datang dan langsung meraih lengan Darren. Wanita itu dengan wajah cemberutnya yang lucu, menatap sang suami.
"Kau siapa?"
Suara wanita itu membuat Asya menoleh. Kening Asya berkerut bingung. Ia tidak tahu, siapa wanita di depan mereka. Tapi, ia merasa familiar dengan wajah wanita itu.
Sementara wanita itu, dia tersenyum sinis pada Asya. "Huh, ternyata kau tidak berubah, suka sekali menempel pada Darren." Sinisnya.
Asya melotot. Bukan karena ucapannya, melainkan dirinya ingat, siapa wanita di depannya.
"Yaa... Sayang, aku ingat sekarang. Dia Dessy, yang memberimu surat waktu kita masih kecil."
Darren menatap mata istrinya. Dia juga ingat sekarang. Tapi, siapa yang memberitahu Asya soal itu?
"Cih! Kau benar-benar wanita tidak tahu malu. Setelah menempel terus pada Darren, sekarang kau memanggilnya sayang? Benar-benar murahan!"
Rahang Darren mengeras. Terlihat jelas kilatan amarah di mata lelaki itu. Ingin sekali dia menghampiri perempuan itu dan memberinya pelajaran. Tapi, reaksi Asya membuatnya menghentikan niatnya.
"Aku murahan?" Asya menunjuk dirinya sendiri, lalu melirik Darren. Rasa kesalnya bertambah saat Darren hanya diam saja ketika dirinya dikatai murahan.
__ADS_1
"Ya. Kamu memang murahan! Dikasi nama apa lagi seorang wanita yang suka menempel pada lelaki yang tidak suka padanya selain murahan? Kau juga memanggilnya sayang." Ucapnya.
Satu persatu pengunjung mall di lantai tersebut mulai tertarik dengan perkelahian Asya dan Dessy. Mereka mulai berkumpul menyaksikan perang mulut tersebut.
"Kau tahu? Darren itu tidak suka padamu. Dia itu terpaksa menjadi temanmu karena Papa kalian yang bersahabat."
"Oh ya? Sayang..."
"Berhenti memanggilnya sayang! Kau benar-benar murahan!"
Semua orang yang menyaksikan mulai berdecak dan berbisik-bisik tentang Asya. Namun, wanita itu tidak peduli. Yang ia ingin adalah mendengar kalimat Darren membelanya. Namun, yang Darren lakukan hanya diam dan menatap Dessy.
"Sayang..."
"Wanita murahan!" Bentak wanita itu sekali lagi.
"Sayang, apa aku terlihat seperti wanita murahan?" Asya menatap Darren yang kini juga menoleh padanya.
Darren memeluk pinggang Asya lalu mengecup keningnya dihadapan banyak orang. "Kamu bukan wanita murahan. Kamu wanitaku." Ucap Darren, begitu lembut. Dessy bahkan terperanjak mendengar tutur lembut Darren.
Asya menoleh pada Dessy dengan senyum miring di bibinya. "Sekarang kau dengar? Aku wanita Darren bukan wanita murahan. Dan soal kedekatan kami hanya karena persahabatan Ayah kami, kau salah. Darren, dia melakukan semuanya untukku. Bahkan, hanya satu pesan rindu yang ku kirimkan, mampu membuat Darren membatalkan semua pekerjaannya dan terbang ke luar negeri menemuiku hari itu juga. Apa itu yang kau katakan sebuah keterpaksaan? Pikirkan itu!"
"Kau pembohong! Darren begitu risih dekat denganmu!"
Asya tersenyum meremehkan. Ia lalu menatap Darren sambil menunjukkan wajah imutnya. Membuat Darren meneguk ludahnya.
"Darren, apa kamu risih dekat dengan istrimu ini?"
Ucapan Asya membuat Dessy melotot. Ia tidak menyangka Asya segila itu pada Darren sampai mengakui dirinya sebagai istri Darren. Ingin ia caci maki Asya lagi. Namun, niatnya terhenti ketika suara Darren terdengar menjawab.
"Risih padamu? Aku bahkan takut kamu tinggalkan walaupun hanya satu detik. Bagaimana aku bisa risih denganmu."
Dessy semakin melotot mendengarnya. Ia menggeleng tak percaya. "Tidak! Tidak mungkin! Darren, kamu dulu sangat tidak suka padanya."
"Saya lebih paham diri saya sendiri dibandingkan orang lain." Balas Darren dengan sorot mata dingin dan tajam. Bahkan orang-orang yang menyaksikan turut merasakan aura tak bersahabat yang Darren tunjukkan.
"Oh ya, Dessy, jika kau tidak percaya pada pernikahan kami, kau bisa mengonfirmasi kebenarannya di Yunanda Group dan Grisam Group. Oh astaga, aku lupa. Sayang, mana tanganmu?" Asya meraih tangan Darren. "Ini cincin pernikahan kami. Maaf sekali kami tidak mengundangmu waktu itu."
"Kau..."
"Sayang, ayo kita pulang saja. Aku sudah nggak mood beli baju bayi lagi. Kapan-kapan saja." Darren mengangguk lalu membawa istrinya menjauh.
"Apa dia putra dari keluarga Grisam? Aku yakin, perempuan itu lah dari Yunanda Group. Putri dari keluarga Grisam masih berstatus pelajar."
"Ya, kau benar. Lelaki itu dari keluarga Grisam. Kalau tidak salah, dia Darrel Alvero, lelaki yang namanya terkenal dengan lukisannya yang indah. Dia jarang terlihat. Dalam pentas seni lukis pun, hanya namanya yang terdengar. Orangnya tidak muncul."
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku pernah melihatnya sekali dalam perlombaan melukis di kota C. Dan itulah keberuntunganku. Dia ramah. Bukankah kau sudah melihat bagaimana dia bersama istrinya tadi?"
"Ck. Kalian berdua salah! Dia bukan Darrel Alvero, tapi Darren Alvaro. Dia CEO Grisam Group yang terkenal kejam itu. Apa kalian tidak merasakan tatapan permusuhannya pada perempuan itu?" Ucap seorang wanita sambil menunjuk Dessy yang masih berdiri dengan raut wajah syok.
"Bagaimana kau tahu?"
__ADS_1
"Aku pernah baca artikel soal CEO Grisam Group, yang mulai dari Ginanjar Grisam, Gara Emanuel Grisam dan terakhir, Darren Alvaro Grisam. Tapi, artikel itu lenyap setelah dua menit aku baca."
"Ya Tuhan, jika perkataanmu itu benar, maka perempuan itu akan mengalami masa sulitnya." Ucap seorang perempuan yang diangguki teman-temannya.