
Darren sudah rapih dengan stelan kemeja yang menempel di tubuhnya. Saat hendak meraih jasnya, keningnya tiba-tiba mengerut ketika mendengar suara dari kamar mandi.
Hoek... Hoek... Hoek...
Darren segera mendekat ke kamar mandi, dan mengetuk pintunya.
Tok... Tok... Tok...
"Sayang. Kamu kenapa?"
Hoek... Hoek...
"Sayang! Asya!"
Hoek...
"Sayang! Buka pintunya!"
Darren sudah sangat khawatir medengar suara istrinya. Namun, pintu kamar mandi tak kunjung dibuka oleh Asya. Saat Darren hendak mendobraknya, pintu tersebut terbuka. Asya keluar dengan wajah pucat sambil memegang perutnya.
"Sayang," Darren segera meraih Asya dalam pelukannya. Ia menggendong wanita itu dan membawanya ke ranjang.
"Minum dulu." Lelaki itu menyodorkan setengah gelas air, sisa yang diminumnya.
Asya menggeleng. "Aku nggak mau minum. Nanti mual lagi." Ujarnya, merengek.
"Kamu pucat, sayang. Kita ke rumah sakit saja."
Lagi, Asya menggeleng. "Nggak. Aku nggak mau ke rumah sakit. Memikirkan bau obat saja, membuatku mual."
"Aku panggil dokter kemari."
"Nggak perlu." Asya merengek manja.
"Sayang, aku khawatir kamu kenapa-kenapa."
"Ada kamu disini." Asya memeluk lelaki itu. Membuat Darren balas memeluk dan mengusap rambutnya.
"Ya sudah. Aku nggak akan berangkat kerja hari ini."
"Kamu marah?"
"Untuk apa? Aku akan menemani istriku disini." Darren mengecup kening Asya. "Lepas dulu pelukannya. Aku mau ganti baju."
Asya menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya. "Nggak mau. Aku mau kamu tetap disini dan terus peluk kamu."
"Dengan mengenakan kemeja seperti ini?" Asya kembali mengangguk. Darren tersenyum menggoda ke arah istrinya. "Apa... Kamu seperti ini karena ingin aku tetap di rumah?"
Wajah Asya langsung berubah tak ramah. Wanita itu melepas pelukannya dan berekspresi cemberut. "Aku nggak suka di tuduh seperti itu. Kalau kamu ingin pergi, pergi saja! Aku nggak butuh kamu disini. Masih ada Ibu, Ayah, Aurel, Doni, Meeya dan yang lain disini. Kamu pergi saja!" Ucap Asya, acuh. Ia tiba-tiba tersinggung dengan ucapan suaminya.
Darren meneguk ludah. Niatnya ingin bercanda dengan Asya. Tapi, istrinya ini malah salah menanggapi.
"Say..."
"Apa? Sudah, sana pergi!"
"Asya, hei! Sayang. Dengarkan aku."
"Aku nggak mau dengar." Asya menutup kedua telinga dengan tangannya.
__ADS_1
"Sayang," Darren berusaha melepasnya, dan berhasil. Namun, wanita itu dengan cepat kembali menutupinya. Sampai beberapa kali, hal itu tetap terjadi. Darren menarik nafasnya dan menarik wanita itu dalam pelukannya.
"Lepaskan! Aku nggak mau dipeluk kamu!"
"Sayang, hei."
"Kamu nggak sayang aku. Kamu nggak sayang baby dalam perut aku." Asya mulai meneteskan air mata. Darren menarik nafasnya. Ia merasa mulai kewalahan menenangkan istrinya.
"Say..."
"Nggak! Jangan bicara... Hiks... Hiks..."
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu membuat pelukan Darren pada Asya sedikit melonggar. Asya mengambil kesempatan dan langsung mendorong suaminya menjauh.
Darren berdecak. Siapa yang mengetuk pintu kamar pagi-pagi begini?
"Darren, ini Ibu, nak." Suara Alula terdengar lembut dari balik pintu.
Darren menarik nafasnya. Ternyata itu Ibunya. Untung saja dia tidak mengumpat atau memaki orang yang mengetuk pintu. Seandainya ia melakukannya tadi, dia benar-benar seorang anak kurang ajar.
"Iya, Bu." Jawabnya. Ia berdiri, mengelus rambut Asya lalu membukakan pintu untuk Ibunya.
"Ada apa, Bu?" Tanyanya setelah pintu terbuka.
"Tidak. Ibu hanya memanggil kalian untuk sarapan. Tidak biasanya kalian terlambat sarapan seperti..."
"Hiks..."
Ucapan Alula terhenti saat mendengar isakan seseorang. Ia menatap putranya dengan tatapan menyelidik.
Darren mengangguk. Tidak ada niat di hatinya untuk menyembunyikan hal ini.
"Astaga Darren, menantu Ibu kenapa? Kamu apain menantu Ibu?" Alula menerobos masuk begitu saja. Tak peduli dengan putranya yang berjalan di belakangnya. Langkahnya semakin cepat saat melihat Asya terduduk di ranjang sambil menundukkan kepalanya dan terisak.
"Bu, Darren nggak sengaja..."
"Nak. Asya sayang. Kamu kenapa, nak? Darren apain kamu? Darren marah sama kamu?" Alula tak menggubris ucapan putranya. Fokusnya sekarang pada sang menantu.
"Bu..."
"Diam, Darren." Ucap Alula pelan, namun bisa membungkam Darren.
"Asyaa,"
"Hiks... Darren jahat, Bu. Hiks... Asya tadi muntah-muntah. Terus Asya mau Darren tetap di rumah dan peluk Asya. Hiks... Tapi... Hiks... Darren malah tuduh Asya muntah-muntah cuman buat tahan Darren agar tetap di rumah. Hiks... Darren jahat, Bu. Hiks..."
Alula menatap putranya sejenak sambil menggeleng-geleng. Darren benar-benar tak mengerti dengan apa yang dipesannya.
"Asya, sayang..."
"Biar Ibu yang menengkan Asya. Kamu keluar dulu." Ujar Alula, tanpa menatap Darren. Ia mengusap-usap rambut Asya.
"Tapi, ini..."
"Dengarin Ibu, ya?" Potong Alula, lembut.
Darren menarik nafasnya, kasar. Namun, ia tetap menurut apa yang Ibunya katakan. Tapi sebelum itu, ia mendekati Asya yang masih menunduk, kemudian mengecup kening wanita itu dengan lembut.
__ADS_1
"Aku minta maaf. Aku hanya ingin menggodamu saja. Tenangkan dirimu. Aku akan kembali menemui kamu nanti." Ujar Darren, lalu bergegas keluar dari kamar tersebut.
Setelah pintu kamar tertutup, Alula kembali menatap Asya. Dengan lembut ia mengangkat wajah Asya agar menatapnya.
"Bu,"
"Sudah, jangan menangis lagi." Alula mengusap air mata Asya.
"Asya keterlaluan ya, Bu? Marahin Darren? Asya nggak tahu Asya bisa tersinggung dengan ucapan Darren. Asya tiba-tiba kesal saat Darren bilang begitu."
"Nak, tidak apa-apa. Ini mungkin karena hormon kehamilan. Kamu bisa saja sangat sensitif pada hal sekecil apapun. Hanya salah paham. Darren tidak akan balik marah. Kamu dengarkan, Darren minta maaf padamu tadi?" Asya mengangguk pelan. "Jadi, jangan menangis lagi, okey?"
"Iya, Bu."
"Nanti setelah perasaan kamu lebih baik, kalian bicara baik-baik, ya?"
"Iya. Nanti Asya akan bicara baik-baik sama Darren."
"Ibu akan menasihati Darren juga nanti."
"Iya, Bu. Tapi, jangan dimarahin suami Asya ya, Bu?"
"Iya."
Sementara di ruang makan, semua yang ada di meja makan menatap Darren yang mendekat. Wajah Darren yang terlihat muram membuat mereka mengernyit bingung.
"Ada apa?" Darrel bertanya setelah Darren menduduki kursinya.
"Asya marah padaku." Jawabnya.
"Marah bagaimana?" Gara bertanya. Orang tua itu benar-benar penasaran. Tidak biasanya Darren dan Asya marahan seperti ini.
"Asya nggak mau dekat-dekat aku. Aku di suruh pergi sama Asya."
"Pfftttt..." Ingin sekali Darrel tertawa, namun tatapan Aurel membuatnya berhenti tertawa. Lelaki itu tersenyum kikuk ke arah istrinya.
Aurel juga menakutkan kalau marah. Tapi, untung saja saat hamil dulu, Aurel tidak separah itu. Batin Darrel.
"Ibu dimana? Bukannya tadi pergi untuk panggil kalian?" Tanya Aurel.
"Ibu masih bersama Asya."
"Kak Darren jangan khawatir. Ibu pasti bisa tenangkan Kak Asya. Pasti Kak Asya nggak akan marah lagi." Timpal Alisha.
"Jangan sok tahu kamu, Sha." Darrel menyahut.
"Ish, Kak Darrel apaan sih?"
"Ya emang benar, kok. Tenangin perempuan hamil itu nggak mudah. Mereka itu sensitif." Darrel sedikit melirik pada Aurel.
"Ayah juga setuju dengan Darrel." Ucap Gara, membuat Darrel menaik turunkan alisnya, sombong pada Alisha.
"Perempuan hamil itu sensitif. Kalau nanti kamu mau bicara atau melakukan sesuatu, harus hati-hati, Ren. Jangan sampai buat Asya tersinggung."
"Iya, Yah."
"Alisha udah selesai sarapan. Alisha berangkat sekolah dulu, ya?" Semua yang berada di meja makan pun mengangguk. Alisha bergegas mencium tangan mereka satu persatu. Gadis itu lalu mencium pipi Meeya yang sedang berbaring di stroller nya.
Kemudian ia berlari ke kamar Asya. Berpamitan pada Ibunya dan sang Kakak Ipar, lalu berangkat ke sekolah bersama supir. Ia sudah memutuskan untuk memiliki supir sendiri saat ini. Tidak perlu Darren atau Darrel yang mengantarnya.
__ADS_1