Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 144


__ADS_3

Setelah tiba di rumah, mereka langsung disambut Asya dengan dua bayi kembarnya dan putranya Doni, juga Aurel dan putrinya, Meeya. Dua wanita itu sangat penasaran dengan cerita kematian nenek Axel yang tiba-tiba.


"Sayang, nenek Axel sebenarnya meninggal karena apa?" tanya Asya yang diangguki Aurel.


"Namanya juga takdir, Sya. Sakit atau nggak sakit kalau udah waktunya meninggal ya meninggal," jawab Darrel tengil. Membuat Asya dan Aurel yang sudah menunggu jawaban berdecak kesal.


"Jawab yang benar, kenapa sih, Yang?" kesal Aurel.


"Nenek Axel sakit. Paling parahnya dua minggu terakhir sampai hari ini." Darren berbicara, namun matanya fokus pada Alan Alena. Sementara tangannya terus mengusap kepala Doni yang sedang bermain dengan Meeya.


"Kasihan banget, ya? Nenek Axel itu orangnya baik." Asya berwajah sendu.


"Iya. Pasti keluarganya sedih benget," timpal Aurel.


Sementara di kamar, Alisha memasang sim card yang baru dibelinya tadi. Dia lalu menghubungi nomor handphone Axel.


Telpon pertama, Axel tak menjawabnya. Alisha mencoba lagi. Kali ini Axel menolak telponnya. Alisha menarik nafasnya.


"Kalau nggak angkat lagi, Alisha nggak akan hubungi Axel lagi," gumamnya.


Gadis itu kembali menelpon Axel. Panggilan tersambung namun Axel belum juga mengangkatnya. Alisha kesal dan berniat memutuskan panggilannya. Tapi, belum sempat dia mengklik ikon merah, panggilannya terjawab. Wajahnya langsung berubah ceria.


"Hallo," Axel menyapa dengan suara dingin. Dia memang tidak suka dengan nomor yang tak dikenal yang suka menghubunginya.


"Hallo, Axel. Ini Alisha."


"Alisha?"


"Iya."


"Kenapa pakai nomor baru?"


"Bukannya kamu yang blokir semua akses aku buat hubungi kamu?"


Axel terdiam. Ya, dia memang salah. Dia salah dalam semua hal. "Gue minta maaf."


"Kamu udah makan?"


"Belum."


"Kenapa? Kamu nggak lapar?"


"Hmm."


"Ya udah. Aku cuman mau tahu aja, kamu udah makan atau belum. Aku tutup dul—"


"Sha," suara Axel merendah. Dia sepertinya tidak rela jika Alisha menutup telponnya.


"Apa?"


"Jangan tutup telponnya. Temani gue bentar," ucap Axel.


"Axel. Nak, makan dulu."


Bisa Alisha dengar panggilan Mama Axel menyuruh lelaki itu makan. Namun, ia belum mendengar sahutan Axel.


"Mama kamu. Kenapa nggak dijawab?"


"Gue malas dipaksa makan terus dari tadi."


"Kamu kenapa sih, Xel? Jangan gitu. Kalau kamu sedih, itu nggak masalah. Tapi, jangan buat keluarga kamu tambah sedih. Emang kamu nggak kasian sama mereka? Sedih di tinggal nenek kamu, terus sedih karena kamu kayak gini."


"Lo kayak Ibu-Ibu yang lagi marahin anaknya aja."

__ADS_1


"Aku serius, Axel. Nggak lagi bercanda."


"Gue juga serius," balasnya. "Ya udah, gue makan. Tapi ganti ke vidio call."


"Nggak mau."


"Ya udah gue nggak mau makan."


"Ya terserah. Kita lagi marahan. Bye!" Alisha dengan teganya mematikan panggilan telponnya.


Sementara disana, Axel berdecak kesal saat Alisha mematikan panggilannya sepihak. Ia lalu menarik nafasnya. Berbicara dengan Alisha cukup menghiburnya dari rasa bersalah dan penyesalan atas kematian neneknya.


Tok... Tok... Tok...


"Xel, ayo nak keluar dulu. Ada teman-teman kamu yang datang."


Axel mengerutkan keningnya. Teman-temannya? Siapa? Tidak ada yang tahu soal kematian neneknya, bahkan pihak sekolah pun.


Axel bergegas membuka pintu. "Siapa, Ma?" tanya Axel.


"Nggak tahu. Katanya teman kamu. Perempuan sama laki-laki."


Nadia, Yana, Hardi? Tapi, Hardi nggak mungkin.


"Ayo, temui mereka dulu." Axel hanya mengangguk sebagai tanda setuju atas ucapan Mamanya.


Laki-laki itu berjalan menuju ruang tamu. Bisa ia lihat, Hardi dan Yana duduk disana. Ia juga ikut duduk berhadapan dengan kedua orang itu.


"Aku turut berduka soal kematian nenek kamu," ujar Yana.


"Ya. Makasih." Yana mengangguk. Tidak sedikit pun ia tersinggung dengan jawaban Axel.


"Gue juga turut berduka atas kematian nenek lo."


"Alisha. Aku minta sama Alisha tadi," jawab Yana cepat.


Axel mengangguk. Ia menatap Yana dan Hardi. Seperti ada yang kurang dari kedua temannya itu. "Dimana Nadia?" tanyanya ketika sadar Nadia tidak bersama mereka.


"Nadia nggak sekolah. Dia juga nggak ngabarin kenapa nggak sekolah."


Deg...


Axel menatap Hardi yang hanya diam. Dia cukup terkejut mendengar ucapan Yana soal Nadia. Yana merasa heran dengan respon yang Axel tunjukkan.


"Kalian udah cek ke rumahnya?"


"Gue rencananya ke rumah Nadia setelah dari sini," jawab Hardi.


"Ck!" Axel berdecak. "Ikut gue, Di." Axel langsung berdiri, dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Hardi maupun Yana mengerutkan keningnya. Meski begitu, Hardi tetap mengikuti langkah Axel.


"Ngapain lo bawa gue kesini?" tanya Hardi saat mereka ada di halaman belakang rumah Axel.


"Temui Nadia!" ucapnya.


"Maksud lo?"


"Lo udah baca pesan dari gue?"


"Pesan apa?"


"Ck. Pesan yang suruh lo fokus ke yang 3."


"Itu pesan dari lo?"

__ADS_1


"Hmm."


"Gue nggak negerti."


"Gue lagi dalam masalah. 3 orang yang dimaksud itu Alisha, Yana sama Nadia. Alisha sudah banyak yang lindungi. Yana sama Nadia ada yang awasin, tapi nggak sebanyak Alisha. Tapi tetap aja, pengawal yang awasi mereka nggak mungkin terus bareng mereka. Jadi, gue minta lo buat awasin mereka. Ini masalah gue, tapi berimbas pada mereka."


"Jadi, yang 1 yang gue abaikan itu lo?"


"Lo benar," jawab Axel. "Kalau lo dapat informasi soal Nadia, kabari gue ke nomor yang baru itu. Pengawal gue belum laporin apa-apa soal Nadia."


"Gue nggak ngerti."


"Gue diincar sama klien Papa gara-gara gue tahu soal bisnis gelapnya, perdagangan wanita dan anak di bawah umur. Karena mereka bertiga dekat sama gue, mereka juga jadi incarannya."


Hardi menghela nafasnya. Rumit juga masalah Axel ini. Bermusuhan seperti apapun mereka, masih ada ikatan pertemanan yang belum putus antara ia dan Axel.


"Ya udah. Gue bakal ke rumah Nadia buat mastiin keadaan dia."


"Thank's."


Sementara di ruang tamu, Mama Axel mengernyit melihat Yana yang hanya sendirian di ruang tamu. Wanita itu mendekat dengan nampan berisi minuman.


"Dimana Axel sama teman kamu yang satu itu?" tanya Mama Axel.


"Hardi tante namanya," ucap Yana.


"Ohh, Hardi." Wanita itu mengangguk. "Dimana mereka?"


"Nggak tahu, Tan. Tadi Axel ngajak Hardi pergi. Nggak tahu kemana."


"Ya udah. Ayo, minum. Tante temani kamu."


Yana mengangguk. Ia lalu meraih gelas minuman itu dan meminumnya sedikit. Belum sempat Mama Axel mengajak berbincang Yana, Axel dan Hardi datang.


"Yan, ayo pulang!" ajak Hardi.


"Kok pulang? Tente udah buatin minum. Ayo, minum dulu."


"Maaf tente, saya udah di telpon Papa suruh pulang. Udah lewat jam pulang soalnya."


Mama Axel itu mengangguk mendengar ucapan Hardi. Sementara Yana, gadis itu menatap sengit Hardi.


Nggak sopan ni Hardi! Batin Yana.


"Ayo, Yan!"


Yana mengangguk terpaksa. Gadis itu lalu menatap Mama Axel, berpamitan pada wanita itu. "Kita pulang dulu, Tan. Sekali lagi, Yana turut berduka atas meninggalnya nenek Axel."


"Iya, Nak. Terima kasih. Kalian hati-hati pulangnya."


"Iya, Tan."


Yana dan Hardi lalu meninggalkan rumah Axel. Setelah kedua temannya pergi, Axel bergegas kembali ke kamarnya. Namun, sang Mama menahannya.


"Kamu mau kemana, Nak?"


"Kamar, Ma."


"Kamu belum makan. Makan dulu, ya?"


Axel terdiam. Ia jadi teringat pesan Alisha yang menyuruhnya makan tadi. Laki-laki remaja itu lalu menatap wajah Mamanya. Ada pancaran harapan dari bola mata wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Iya, Ma."

__ADS_1


Wanita itu tersenyum tipis, lalu menggandeng putranya menuju ruang makan.


__ADS_2