
Sudah hampir pukul sepuluh, tapi Asya masih nyaman meringkuk di kasur dengan selimut yang menutup tubuhnya. Sementara Darren, lelaki itu berada di sofa dan baru saja selesai membaca email yang dikirim Jiyo padanya.
Darren meletakkan handphonenya dan bergegas ke ranjang. Ia duduk di sisi ranjang lalu menundukkan kepalanya, mengecup pipi Asya beberapa kali.
"Eeemm... Ma, Asya masih ngantuk." Gumam Asya tanpa membuka matanya.
Mendengarnya, Darren pun tersenyum. Ternyata istrinya berpikir jika dia sedang berada di rumah, dan yang mengecup pipinya adalah Mamanya.
Darren kembali menundukkan wajahnya, dan berbisik tepat di telinga Asya.
"Sayang, ini suami mu, bukan Mama."
Seketika mata Asya terbelalak. Tubuhnya yang tertidur miring langsung telentang.
Cup...
Darren mengecup bibir Asya sekilas. Kemudian memberikan senyuman manisnya.
"Selamat pagi, sayang." Ujarnya.
"Pa-pagi." Jawab Asya, gugup. Ia terdiam sejenak. Otaknya berputar mengingat kembali acara pernikahannya bersama Darren kemarin, dan malam indah yang mereka lalui semalam. Tiba-tiba pipinya merona saat mengingat kejadian semalam.
"Kenapa?"
Usapan lembut di pipinya membuat Asya tersadar dari pikirannya. Matanya langsung menatap Darren.
"Enggak." Jawabnya. "Jam berapa sekarang?"
"Sepuluh."
"Apa? Ja-jam se-sepuluh?" Darren mengangguk sambil mengusap rambut Asya.
"Aku mau mandi dulu." Asya langsung bergerak bangun. Namun, dia tidak bisa menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Akkhhh... Shhh..." Ringisnya membuat Darren khawatir.
"Asya, ada apa?"
"E-enggak."
"Maafkan aku. Pasti sangat sakit. Biar ku antar ke kamar mandi." Darren langsung berdiri dan menggendongnya.
"Eh, Dar..."
"Diamlah."
Asya menurut dan membiarkan Darren menggendongnya ke kamar mandi. Tubuh Asya dibalut selimut.
"Aku mau mandi air hangat." Ucap Asya tiba-tiba.
Darren menatapnya, lalu tersenyum. "Akan aku siapkan." Ucapnya.
Darren menurunkan Asya dengan hati-hati saat tiba di kamar mandi. Dia mengisi bathtup dengan air hangat.
"Ayo!" Darren memegang selimut yang membungkus tubuh Asya. Sontak saja gadis itu menatapnya dengan sedikit melotot.
"Kenapa? Apa kamu akan mandi dengan selimut yang membungkus tubuhmu?"
"Enggak. Aku akan melepasnya setelah kamu keluar."
Mendengar ucapan Asya, Darren pun terkekeh. Hal itu membuat Asya cemberut ke arah Darren.
"Kenapa tertawa?"
Bukannya menjawab, Darren malah semakin mengikis jarak antara mereka. Lelaki itu menarik pinggang Asya hingga tubuh keduanya saling menempel.
"Apa kamu malu?" Bisik Darren, membuat Asya merinding.
"U-untuk apa malu? Aku nggak malu." Jawab Asya.
"Kalau begitu, aku ingin mengulang yang semalam sekali lagi." Bisik Darren, lagi.
"Darr... Hmmpp..." Ucapan Asya terpotong begitu saja oleh Darren. Lelaki itu mencium bibirnya dengan lembut. Tangannya yang kekar menahan pinggang dan tengkuk Asya.
Merasa dirinya mulai sulit bernafas, Asya memukul pelan dada Darren, hingga lelaki itu menghentikan ciumannya.
"Akuuh... Belum sikat gigi." Ucap Asya, sedikit tersengal.
Darren mengusap bibir istrinya dengan lembut. "Itu bukan masalah." Jawabnya, lalu menyelipkan rabut Asya ke belakang telinga.
"Darren,"
"Hhmm?"
"Jangan lagi ya?" Wajah Asya terlihat memelas. Hal itu membuat Darren semangat untuk menggodanya.
"Jangan lagi apa?"
"Yang itu."
"Yang itu apa?"
__ADS_1
"Yang baru saja kamu bilang."
"Aku bilang? Apa?"
"Darreeeen..."
"Iya, Asyaaaa..."
"Ya sudah. Kamu lebih baik keluar saja." Kesal Asya.
"Aku nggak mau. Aku mau sekali lagi seperti yang semalam."
"Darreeeen..." Asya kembali merengek. Dan kali ini, matanya mulai berkaca-kaca. Darren yang melihatnya langsung memeluknya dengan erat.
"Sudah, jangan menangis. Aku hanya bercanda."
"Sekarang kamu sudah pandai bercanda?"
"Hanya denganmu." Balas Darren. "Sekarang, kamu mandi, okey?" Asya mengangguk. Darren menuntunnya mendekat pada bathtup.
"Kamu keluarlah."
"Nggak bisa kah jika aku tetap disini?"
"Aku harus melindungi diriku untuk saat ini. Kamu nggak bisa ditebak. Aku masih begitu lelah."
Darren langsung mengacak rambut Asya saat mendengar ucapannya. "Baiklah aku keluar. Aku akan tetap di pintu. Jangan dikunci pintunya. Butuh apa-apa, panggil aku."
Asya mengangguk dengan semangat. Setelah Darren keluar, ia menanggalkan selimut yang dikenakannya lalu memasuki bathtub sambil meringis menahan perih.
Sesuai perkataannya, Darren tidak sedetik pun bergeser dari pintu kamar mandi sejak keluar tadi. Dia masih setia menunggu istrinya yang sudah setengah jam berada di kamar mandi.
Tok... Tok... Tok...
"Asya?"
"Aku sudah selesai."
Mendengar kata selesai, Darren langsung membuka pintu kamar mandi dan menghampiri istrinya yang sudah memakai bathrobe. Dia langsung menggendong Asya.
"Eh, Darren. Aku bisa jalan sendiri."
"Kamu masih sakit."
"Enggak. Udah nggak sakit lagi. Udah baikan." Ucapan Asya membuat Darren yang sudah mencapai pintu kamar mandi menghentikan langkahnya.
"Benarkah?" Asya mengangguk dengan semangat. Berpikir jika Darren akan menurunkannya.
"Baiklah. Karena kamu sudah nggak sakit lagi, kita lanjutkan saja yang..."
"Istriku memang pintar." Wajah Asya langsung memerah mendengar Darren mengucapkan istriku. Ia tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Darren. Wajahnya juga ia tenggelamkan di dada Darren.
Darren mendudukkan Asya dengan hati-hati di sofa. Ia mengambil handuk dan mengeringkan rambut sang istri.
"Seharusnya, aku yang melakukan ini padamu." Ucap Asya.
"Ya. Tapi, ini bukan waktu yang tepat." Jawab Darren, yang berhasil membuat Asya terkekeh.
"Kenapa tertawa."
"Enggak. Aku hanya merasa lucu saja. Seorang Darren Alvaro bersikap begitu manis pada seseorang gadis."
"Dan gadis itu istriku." Lanjut Darren mengecup pipi Asya.
Senyum Asya semakin melebar. Tidak tahu, apa yang harus ia katakan lagi.
Setelah rambut istrinya mengering, Darren bergegas duduk di sebelah Asya. Memeluk istrinya dari samping dan mengecup sudut bibir dan pipi sang istri beberapa kali.
"Ayo, ganti baju mu. Lalu kita ke restoran untuk sarapan."
"Baju? Siapa yang mengantarnya?"
"Alisha."
"Alisha?" Asya terkejut mendengarnya. "Darren, apa Asya melihatku? Aku, aku nggak pakai apa-apa selain selimut. Apa dia melihatnya? Apa ada bagian selimut yang tergeser. Ya Tuhan, apa yang harus ku katakan saat bertemu Alisha nanti?" Asya begitu cemas.
"Hei! Asya, dengarkan aku." Darren menangkup kedua pipi istrinya. "Alisha nggak lihat apapun. Dia hanya berdiri di depan pintu. Dia lalu pulang saat ku beritahu jika kamu masih tertidur."
"Benarkah?"
"Iya."
"Huuhh... Syukurlah."
"Sekarang, kamu ganti baju. Lalu kita ke restoran dan pulang. Mereka sudah kembali ke rumah."
"Mereka sudah kembali? Haaahhh... Pasti mereka berpikir tentang aku yang terlambat bangun."
Darren menggeleng mengetahui pikiran istrinya itu. "Sudah, jangan dipikirkan. Mereka pasti mengerti."
Asya tersenyum mendengar ucapan Darren. Ia mengecup pipi Darren dan memeluknya. "Terima kasih."
__ADS_1
Darren tersenyum dan mengusap rambut Asya. Ia mengecupnya sekali. "Terima kasihnya nanti saja. Ayo, ganti baju mu."
Asya mengangguk lalu bergegas mengganti bajunya. Tak lama, ia kembali menghampiri Darren.
"Ayo!" Ajaknya. Darren mengangguk, lalu menggenggam tangan Asya. Keduanya berjalan keluar bersama.
Di halaman hotel, seorang pengawal yang diperintahkan Darren sudah menunggu. Setelah Darren dan Asya menaiki mobil, mobil pun melaju menuju tempat yang Darren perintahkan.
***
Setelah menyelesaikan sarapan mereka di restoran, pasangan suami istri itu menuju rumah Edo terlebih dahulu. Asya ingin mengambil beberapa bajunya.
"Mama," Wanita itu langsung memeluk Irene saat mereka tiba. Pelukan hangat itu dibalas dengan tulus oleh sang Ibu.
"Sayang, kok kalian kesini?" Tanya Irene.
"Asya mau ambil beberapa baju Asya, Ma."
Irene hanya mengangguk mendengar jawaban putrinya. Kedua wanita itu lalu menuju kamar meninggalkan Edo dan Darren.
"Bagaimana? Apa tidurmu nyenyak semalam?" Tanya Edo, dengan tatapan menggoda.
"Sangat nyenyak." Balas Darren membuat Edo terkekeh.
"Hehehe... Aku bisa melihat dari wajah bahagiamu." Ucap Edo. "Tapi, jangan terlalu berlebihan saat bersama putriku. Bersikap lembutlah padanya."
"Aku selalu lembut padanya." Balas Darren, jumawa. Membuat Edo berdecak kesal pada lelaki yang berstatus menantunya itu.
"Ck. Kamu ini."
"Paman,"
"Aku ini Ayah mertuamu. Tidak pantas kamu panggil paman."
"Ayah,"
"Jangan panggil aku seperti kamu panggil Gara."
"Papa,"
"Ya, menantuku. Ada apa?" Jawab Edo dengan senyum mengembang. Membuat Darren menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan tingkah Ayah mertuanya itu.
"Darren."
"Ya?"
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Apa Paman, maksudku Papa ingin memiliki cucu?"
Edo mengerutkan kening mendengar pertanyaan Darren. "Apa kamu ingin punya anak?"
"Tentu saja."
"Ya. Kalau itu jawabanmu, jawabanku juga seperti itu." Balas Edo. "Kenapa kamu bertanya hal itu?"
"Nggak ada."
"Apa kamu ingin segera punya anak?"
"Ya."
"Ah, syukurlah. Ku pikir kamu akan meminta putriku menunda kehamilan."
"Nggak akan mungkin. Justru aku ingin bertanya pada Pam... Maksudku Papa. Bagaimana agar Asya bisa cepat hamil?"
Pertanyaan Darren memicu gelak tawa Edo. Lalaki itu merasa aneh dengan sikap Darren yang tidak sabaran.
"Kenapa tertawa?" Suara Darren yang semula terdengar sangat santai berubah dingin. Sorot matanya juga ikut menajam. Namun, bukannya berhenti tertawa, Edo malah semakin tertawa. Hingga dirinya puas, dia pun menghentikannya.
"Kamu aneh-aneh saja. Kenapa tanya padaku? Tanya kan pada Gara bagaimana caranya. Dia hebat dalam hal itu. Lihat saja! Sekali bersama Ibumu, dia langsung dapat kamu dan Darren. Terus dia dapat Alisha juga. Sedangkan aku, hanya dapat Asya dari dulu hingga sekarang."
Darren terdiam sejenak. Yang Ayah mertuanya katakan ada benarnya. "Tapi, Ayah bilang, Paman... Maksudku Papa punya banyak wanita dulu."
"Dia berkata seperti itu?" Edo memastikan dengan heboh. Sementara Darren, lelaki itu hanya mengangguk polos seolah tak mengerti apapun.
Ck. Memang kurang ajar si Gara! Batin Edo.
"Ekhm... Aku memang punya banyak wanita dulu. Tapi, tidak satupun dari mereka yang mengandung anakku. Hanya Irene satu-satunya." Jawab Edo. "Lagi pula, jika ingin punya anak, harus berusaha. Soal cepat atau lambatnya, itu urusan Tuhan."
"Ya. Papa benar." Balas Darren.
Kedua lelaki itu lalu berbincang-bincang menganai beberapa hal. Tak lama, Asya dan Irene tiba.
"Pa, Asya pamit ya." Perempuan itu langsung memeluk Papa nya.
"Iya, nak. Sehat-sehat disana. Papa sama Mama akan jenguk kamu tiap hari."
"Sayang, apaan sih? Itu sama saja kamu tidak mengizinkan putrimu tinggal bersama suaminya." Kesal Irene.
"Bercanda sayang." Balas Edo. Ia melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening sang putri. "Baik-baik tinggal disana. Jika Darren memarahimu, kabari Papa. Papa akan langsung menjemputmu."
__ADS_1
"Itu nggak akan terjadi." Sahut Darren, dengan tatapan dinginnya.
Asya tersenyum mendengarnya. Ia lalu memeluk Mamanya. Kemudian pasangan pengantin baru itu menuju mobil dan kembali ke kediaman Gara.