Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 96


__ADS_3

Waktu terus bergulir dengan cepat. Tak terasa, Doni dan Carla sudah kembali ke negara tempat tinggal mereka. Selain itu, usia kandungan Aurel juga semakin mendekati hari lahir.


Darrel selalu menjadi suami yang sigap, cekatan dan siaga. Dia banyak belajar dari Ayah dan kedua Kakeknya. Lelaki itu bahkan mengambil cuti. Ia ingin berada di sisi istrinya saat tiba-tiba istrinya melahirkan.


"Sayang, kamu nggak kerja hari ini?" Tanya Aurel, saat suaminya masih tertidur sambil memeluknya. Namun, Darrel tak menjawabnya dan semakin menempel pada Aurel.


"Sayang, ini mataharinya udah mulai naik, lho. Nanti kamu telat kantor."


"Aku nggak ke kantor, cuti."


"Hah? Kamu cuti?"


"Iya."


"Sayang, kenapa cuti? Kasian Darren urus perusahaan sendirian."


"Ada Jiyo. Ada orang-orang hebat lainnya juga disana. Bukan aku saja."


"Tapi, untuk apa kamu cuti? Kamu nggak bosan seharian di rumah?"


"Aku cuti buat tungguin anakku lahir, sekalian menemani kamu. Kalau soal bosan di rumah, aku jawab aku nggak akan pernah bosan. Aku justru sangat senang karena bisa melihatmu setiap saat."


"Ish, apaan sih."


"Benaran kok. Seharian di kantor itu, aku saaaangat bosan. Kalau di rumah kan bisa dekat kamu terus. Cium, peluk."


"Ya, ya. Terserah kamu saja. Sekarang, ayo bangun. Yang lain mungkin sudah sarapan."


"Cium dulu."


Aurel tersenyum lalu mengecup bibir suaminya. Saat dirinya hendak menjauh, Darrel malah menahan tengkuknya dan menciumnya lebih lama.


"Sudah." Ucapnya setelah melepas ciumannya dan mengusap bibir Aurel. Lelaki itu tersenyum melihat wajah memerah Aurel.


Plak.


Aurel memukul lengan Darrel. "Nyebelin."


"Shh... Sakit, sayang."


"Rasain. Lagian, kamu nyebelin."


"Tapi, tetap suka kan?" Darrel menaik turunkan alisnya.


"Darreeeen...."


"Hehehe... Iya-iya. Ayo, cuci muka dulu, baru turun."


Aurel mengangguk. Pasangan suami istri itu berjalan menuju kamar mandi, mencuci muka, lalu menuju ruang makan untuk sarapan.


***


Tepat jam makan siang, Darren menuju kantor istrinya, dan tentu saja Jiyo ikut. Lelaki itu juga merekomendasikan restoran bagus untuk makan siang mereka, yang tempatnya tidak jauh dari Yunanda Group dan dia bisa makan siang bersama Nita.


"Darren, jangan turun dulu." Jiyo menahan tangan Darren yang hendak membuka pintu mobil.


Darren berdecak kesal dan berbalik menatap Jiyo. "Kenapa lagi?"


"Bagaimana penampilanku? Apa aku sudah tampan?"


"Kau selalu jelek." Kesal Darren lalu keluar mobil begitu saja.


"Ck. Dasar manusia es! Bilang saja, aku tampan dan kau takut ketampananmu tersaingi." Gumam Jiyo. Lelaki itu keluar dan langsung menuju perusahaan. Ia berjalan cepat, berusaha menyamai langkah Darren.


"Ck. Kenapa kau cepat sekali berjalan?" Kesalnya pada Darren saat mereka berada di lift.

__ADS_1


Darren tak menjawab. Ia hanya diam sambil menatap jam yang melingkar di tangannya. Setelah lift berhenti, Darren langsung keluar, begitu juga dengan Jiyo.


"Selamat datang, tuan muda." Sapa Nita yang baru saja keluar dari ruangannya dan hendak menuju ruangan Asya, namun ia urungkan karena melihat Darren.


Darren mengangguk membalas sapaannya. Jiyo yang berada di belakang Darren langsung tersenyum saat bertemu Nita.


"Selamat siang, sekretaris Nita."


"Selamat siang juga, sekretaris Jiyo." Sapa balik Nita.


Darren yang sudah berada di depan pintu ruangan Asya tidak peduli lagi dengan apa yang akan Jiyo lakukan. Lelaki itu mendorong pintu ruangan Asya dan masuk begitu saja.


"Sayang," Asya berdiri dan menyambutnya. Senyum manis menghiasi bibir wanita itu. Darren mendekatinya, mengecup bibirnya sekilas, lalu mengecup kening wanita itu cukup lama.


"Masih sibuk?" Asya menggeleng.


"Pekerjaanku sudah selesai." Balas Asya. "Dimana Jiyo? Katanya, dia kesini bersamamu."


"Dia mengirim pesan padamu?"


"Iya." Asya mengangguk mengiyakan ucapan Darren.


"Ck. Anak itu. Dia di luar. Mungkin sedang bersama Nita."


"Oh. Ayo, kita pergi sekarang. Aku sudah sangat lapar."


Darren mengangguk dan menggenggam tangan istrinya. Mereka lalu keluar bersama. Sementara di luar, Jiyo sedang berusaha berbicara dengan Nita.


"Apa kamu sudah makan siang?" Tanya Jiyo, namun Nita tidak menanggapinya.


"Apa pekerjaanmu begitu berat hingga untuk menjawabku saja, kamu nggak bisa?"


Nita yang sedang fokus pada layar laptopnya pun mendongak menatapnya. Dengan suara yang terdengar malas, Nita berbicara padanya.


"Nita, Jiyo." Suara Asya membuat ucapan Nita terhenti. Kedua orang itu menatap Darren dan Asya yang berjalan sambil bergandengan.


"Nona, Tuan." Nita sedikit menundukkan kepalanya.


"Ck. Kalian berdua." Jiyo memutar bola matanya. Tapi, beberapa saat kemudian, ia tersenyum. "Tepat sekali kalian keluar. Aku mau mengajak kalian makan siang bersama. Aku punya rekomendasi restoran yang makanannya enak banget. Tempatnya nggak jauh dari sini."


"Waahh... Bagus. Ayo, kita makan disana, sayang." Asya menatap Darren. Sebenarnya, wanita itu sudah tahu tempat yang Jiyo maksud, begitu juga Darren. Tapi, demi kelancaran rencana Jiyo yang ingin makan siang bersama Nita, pasangan suami istri itu pun ikut dalam rencana Jiyo.


"Nita. Ayo, makan bersama!"


"Nona, aku..."


"Jangan menolak istriku!" Potong Darren dengan tampang dinginnya.


Nita hanya bisa mengangguk sambil meringis kecil. Dia tidak bisa mengelak lagi. Hal itu membuat Jiyo tersenyum dalam diam. Setelah itu, mereka sama-sama menuju parkiran.


Di dalam mobil, Nita maupun Jiyo sama-sama terdiam. Asya dan Darren yang duduk di jok belakang hanya menatap kedua orang itu. Sesekali Asya mengajak Nita berbicara. Jiyo terkadang ingin menimpali. Tapi, melihat ekspresi wajah Nita yang terkesan tak nyaman, membuat Jiyo memilih diam.


Beberapa menit perjalanan, mereka tiba di restoran yang dimaksud Jiyo. Memasuki restoran, Darren dengan posesifnya merangkul pinggang Asya. Sementara Jiyo, ingin sekali dia menggenggam tangan Nita. Namun, dia menahan dirinya agar tidak melakukan hal bodoh itu. Dia masih dalam tahap mendekati Nita. Jangan sampai gadis itu risih padanya dan semakin menjauh.


"Kalian mau pesan apa?" Tanya Jiyo, setelah semuanya duduk.


Asya dan Darren menyebutkan makanan yang ingin mereka pesan. Sementara Nita, gadis itu masih membolak balik buku menu.


"Mau ku pilihkan makanan yang enak?" Tawar Jiyo, tiba-tiba.


"Tidak. Aku yang akan memilihnya sendiri."


Jiyo hanya mengangguk. Asya dan Darren mengulum senyum melihat Jiyo. Senang sekali melihat Jiyo dicuekin seorang gadis seperti itu. Sungguh pemandangan terbaik. Jarang sekali Jiyo seperti ini. Biasanya para gadis yang datang mengerumuninya. Tapi sekarang, malah dia yang berusaha menempel pada seorang gadis.


Pesanan datang dan mereka langsung menyantapnya. Baru sesendok yang masuk ke mulut Jiyo, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Nita.

__ADS_1


"Nita!"


Panggilan itu membuat Nita menoleh, begitu juga dengan Jiyo, Asya dan Darren. Wajah Jiyo langsung pias melihat orang itu. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil memejamkan mata.


Sial! Kenapa gadis cengeng itu bersama Poppy? Dan apa ini? Dia mengenal Nita? Batin Jiyo.


"Wenny? Poppy?" Sapa balik Nita.


Kedua gadis yang dikenal Nita itu pun mendekat. Keduanya berbicara pada Nita, namun mata melirik Darren yang sekarang fokus pada makanannya. Lelaki itu hanya melirik mereka sekilas tadi. Baginya, tidak ada wanita yang membuatnya tertarik selain Asya.


"Makan, sayang." Ujar Darren, memberikan sesuap makanan miliknya pada Asya. Gadis itu melahapnya dengan senang hati.


"Makasih, sayang." Balas Asya.


"Kalian, kenapa bisa sampai disini? Bukannya dari rumah kesini cukup jauh?"


"Hehehe... Kita lagi ketemu sama teman. Kamu sedang bekerja?" Kali ini, Poppy yang bertanya. Matanya melirik ke arah Darren dan Asya. Dia lalu melirik lelaki yang terus memalingkan wajah sejak tadi.


"Aku lagi makan siang bersama bosku." Ucap Nita.


"Boleh kami berkenalan?" Celetuk Wenny, membuat Asya menatapnya. Wanita itu tersenyum, lalu mengagguk.


"Saya Wenny, nona."


"Asya."


"Saya Poppy, nona."


"Asya. Ini suami saya, Darren dan sahabat kami, Jiyo." Asya memperkenalkan Darren dan juga Jiyo. Namun, keedua lelaki itu sama-sama tak peduli. Darren tetap fokus pada makananya, dan Jiyo masih saja membuang wajah ke arah lain, yang penting tidak bertemu dua gadis itu.


Mendengar nama Jiyo, keduanya saling pandang. Namun, mereka tetap berusaha tenang.


"Sayang, ayo kenalan sama mereka." Bujuk Asya pada suaminya.


"Saya Darren." Ucap Darren, menurut, namun tidak mengangkat wajahnya menatap mereka. Asya hanya bisa menarik nafas.


"Jiyo, ayo perkenalkan dirimu." Ucap Asya, memaksa.


Karena terus di paksa Asya, akhirnya Jiyo mengalah. Lelaki itu perlahan berbalik. Saat dirinya sepenuhnya berbalik, kedua gadis itu melotot ke arahnya.


"Jiyo!" Ucap keduanya bersamaan. Kedua gadis itu terlihat kesal padanya.


"Kalian kenal dia?" Asya dan Nita bertanya bersamaan.


"Tentu saja. Dia adalah mantan pacarku yang paling tidak bertanggung jawab! Aku ditinggalkannya di restoran sendirian, dan dia pergi ke restoran lainnya dengan pacarnya yang satu." Ucap Poppy.


"Iya. Dia tetangga Wenny sebelum pindah rumah. Dia yang waktu itu sering gangguin Wenny sampai Wenny menangis. Untung Mamanya baik dan memarahinya." Ucap Wenny.


Ucapan Wenny sontak membuat Darren yang masih mengunyah makanannya teringat akan Jiyo yang tidak mendapat jatah sarapan karena Mamanya menghukumnya yang membuat anak tetangga menangis. Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman.


Semenata Nita, gadis itu menatap Jiyo yang kini salah tingkah dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Apa benar sekretaris Jiyo?" Tanya Nita.


"Eeemmm... Itu... Soal Wenny, aku nggak sengaja. Kalau soal Poppy, aku khilaf saat itu." Alasan Jiyo yang membuat Asya menggeleng.


"Nona, Tuan. Maaf, saya tidak sopan membuat makan siang ini berantakan. Maaf juga karena saya tidak bisa melanjutkan makan siang ini. Saya minta izin untuk kembali terlebih dahulu ke kantor."


"Ya, silahkan." Balas Darren, membuat Asya menoleh padanya dan Jiyo melotot garang. Namun, Darren tidak peduli dengan semua itu.


Nita segera berpamitan dan pergi dari restoran tersebut bersama kedua sepupunya. Sekarang, dia semakin ingin menjauh dari Jiyo.


"Kenapa kau membolehkannya pergi?" Jiyo geram pada sahabatnya itu. Asya hanya bisa menatapnya sambil menggeleng kepala. Dia tidak bertanya kenapa mengenai keputusan Darren. Dan ia yakin, suaminya itu tahu apa yang dia perbuat.


"Lebih baik dia pergi dari pada dia melihatmu disini. Sekarang dia pasti semakin tidak suka denganmu. Dia pasti marah. Mungkin dia sudah tenang besok. Cari kesempatan dan temui dia besok tanpa harus melibatkan aku dan Asya. Minta maaf padanya." Ujar Darren, yang sontak membuat Asya tersenyum. Jiyo hanya mengangguk mengiyakan. Saran Darren, memang harus dicobanya.

__ADS_1


__ADS_2