Sahabat Possessive

Sahabat Possessive
Bab 150


__ADS_3

Alisha, Yana, Axel dan Hardi berdiri diam sambil menatap gundukan tanah yang ditaburi bunga-bunga. Air mata tak hentinya keluar dari mata kedua gadis itu. Sementara dua laki-laki remaja yang berdiri sejajar dengan mereka hanya bungkam.


Yang lain menepi menunggu mereka di parkiran. Membiarkan keempat remaja itu menghabiskan waktu mereka di depan makam sang sahabat.


"Aku nggak nyangka Nad, kamu tinggalin kita secepat ini," ucap Yana parau. Suaranya sudah sangat serak karena terus-terusan menangis sejak pertama kali mendapat kabar kematian itu. Jika ada predikat orang yang paling terluka dalam persahabatan mereka atas kehilangan Nadia, maka dia orangnya.


Persahabatannya bersama Nadia sudah 10 tahun. Mereka bersama dan berbagi suka duka. Tapi, Nadia meninggalkannya sekarang.


"Hiks. Aku nggak mau kayak gini, Nad. Aku mau kita kumpul lagi sama-sama." Alisha berucap dengan suara bergetar.


"Gue gagal jadi sahabat lo, Nad." Suara Axel terdengar. "Maaf..." lanjutnya lirih.


"Gue juga gagal jadi sahabat lo. Maafin gue, Nad." Hardi menimpali.


Setelah merasa cukup mengungkapkan isi hati mereka, keempat remaja itu bergegas kembali. Axel dan Hardi mengendarai motor mereka, Yana bersama orang tuanya, sementara Alisha ikut dengan kedua Kakaknya dan juga Jiyo yang hanya menggunakan satu mobil. Awalnya ia ingin bersama sang Ayah dan Ibu. Tapi, Darren dan Darrel meminta ia ikut mereka.


Mobil yang mereka tumpangi berpisah arah dengan mobil Gara dan yang lain. Alisha terlihat heran. Saat ia menoleh, ia melihat Axel dan Hardi dengan motor masing-masing mengikuti mereka.


"Kak, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Alisha. Darren dan Jiyo yang duduk di jok depan dan Darrel yang duduk di samping Alisha sama-sama menoleh ke arah gadis itu.


"Kita ke pulau kurungan," ucap Darren lalu kembali fokus mengemudi mobilnya.


"Buat apa kesana?"


Darren melirik Darrel melalui spion. "Darrel."


Mendengar namanya disebut, Darrel mengangguk. Ia lalu mulai bercerita tentang semua yang mereka lakukan semalam, termasuk apa yang menimpa Nadia, dibantu Jiyo. Air mata Alisha terus jatuh mendengar kisah sahabatnya itu. Kedua tangannya mengepal erat.


Darren dan Darrel sudah memutuskan untuk memberitahu Alisha mengenai semua itu. Gara dan Alula juga setuju atas keputusan mereka. Alisha lebih baik diberitahu, dari pada dia tahu dari orang lain.


Tempramen gadis itu tidak jauh beda dengan Ayah dan kedua Kakaknya. Karena itu, Darren dan Darrel memutuskan untuk membawanya ikut menemui Iwan di pulau kurungan.


Tentunya atas persetujuan kedua orang tua mereka, juga anggota keluarga yang lain. Biarlah Alisha melampiaskan semua perasaannya pada si bajingan Iwan itu.

__ADS_1


***


Darren, Darrel, Alisha, Jiyo, Axel dan Hardi berjalan bersama memasuki sebuah gedung yang ada di pulau kurungan. Berada di tempat itu, membuat Hardi mengingat kembali bagaimana ia tinggal di pulau tersebut. Ia mendapat banyak pelajaran yang membuatnya sadar.


Ia tiba-tiba ingat dengan Kakak angkatnya, Hendra. Bagaimana kabar laki-laki itu sekarang?


"Lo kenapa?"


"Hah?" Hardi tersentak kaget oleh pertanyaan Axel. "Gue—"


"Silahkan, Tuan muda, Nona." Suara seorang pengawal membuat perkataan Hardi terpotong. Ia lalu dengan segera mengajak Axel masuk ke ruangan tersebut. Sekalian mengalihkan pembicaraan nya. Dia tidak ingin Axel menertawakannya. Ya, walaupun ia tahu, Axel tidak mungkin menertawakannya. Dia laki-laki remaja yang dingin. Hal lucu saja dia tidak tertawa, apalagi hal yang seperti ini?


Mereka berjalan mendekati sel tahanan yang berada di depan mereka. Terlihat Iwan yang menatap mereka dengan senyuman mengejek. "Hehe... Kalian datang?" Wajahnya sedikit pun tidak menunjukkan ketakutan. Matanya lalu menatap Alisha yang berdiri diantara laki-laki tersebut.


"Hai, cantik."


Darren maupun Darrel langsung mengeraskan rahang mereka mendapati tatapan mesum Iwan pada Alisha. Axel yang hampir saja tidak bisa mengendalikan emosinya, berdiri di hadapan Alisha. Tubuhnya yang lebih besar dan tinggi dari Alisha, menghalangi pandangan Iwan pada Alisha.


"Jaga mata lo!" seru Axel dengan tatapan dinginnya.


Axel balas menatapnya dengan rahang mengeras. Kedua tangannya terkepal kuat. Ingin sekali ia menonjok wajah Iwan hingga babak belur. Tapi, Darren belum memerintahkan pengawalnya untuk melepas Iwan.


"Lepas ikatannya!" ucap Darren.


"Baik, Tuan muda." Pegawal tersebut segera membuka sel dan melepaskan ikatan di tangan dan kaki Iwan.


"Siapa yang duluan?" tanya Darrel.


"Aku!"


"Gue!"


Jiyo dan Axel menjawab bersamaan. Sementara Hardi, dia hanya ingin mendapat bagian untuk memukul Iwan. Mau orang pertama, kedua atau ketiga, ia tidak mempermasalahkannya.

__ADS_1


"Saya dulu. Saya hanya sebentar," ucap Jiyo yang diangguki semuanya. Jiyo masuk dalam sel tersebut dan mulai bertarung dengan Iwan. Iwan nampak masih lemah karena hukuman yang ia dapat semalam. Tapi, saat bertarung, Iwan sangat pandai menghindar. Jiyo yang tidak sabar, langsung memukulnya beberapa kali saat laki-laki itu lengah. Setelah itu ia keluar.


Axel masuk, dan Iwan kembali menunjukan senyuman mengejeknya. Axel cukup pandai membaca pergerakan Iwan, hingga laki-laki itu tidak memiliki banyak kesempatan untuk menghindar, dan terpaksa melawan.


"Xel, jangan lo hajar sampai mati. Gue belum dapat giliran!" ucap Hardi sedikit berteriak. Axel melirik Hardi sekilas, lalu melepaskan satu pukulan ke wajah Iwan. Ia lalu keluar dari sel dengan baju yang basah oleh keringat.


Hardi masuk dan tidak memberi kesempatan Iwan untuk berbicara atau sekedar melempar tatapan mengejek padanya. Dia langsung menghajar laki-laki itu. Setelah di suruh Darren untuk keluar, dia keluar dari sel tahanan tersebut. Tubuh Iwan sudah terkulai lemas.


"Ikat kembali tangannya dan kaki nya!" perintah Darren pada pengawalnya.


"Giliran Alisha," celetuk Darrel.


"Uhuk!!" Hardi tersedak liurnya. Giliran Alisha? Maksudnya apa ini? Apa Alisha juga dapat giliran untuk menghajar Iwan?


Semua menatap Hardi dengan kening berkerut. Anak itu terlihat aneh.


"Kenapa?" tanya Darrel.


"Hah? Enggak! Nggak kenapa-kenapa," jawab Hardi cepat.


Setelah semua kembali fokus pada Alisha, Hardi bergeser lebih dekat pada Axel lalu berbisik, "Alisha kalau udah emosi kayak singa betina. Nyeremin!! Tangannya memang lebih kecil dari kita. Tapi, kalau nampar orang, shhh... Sakitnya sampai telinga berdenging," ucapnya, lalu menjauhkan kembali tubuhnya. Tidak ada respon apa-apa dari Axel. Laki-laki itu diam dengan wajah datarnya.


Alisha yang sudah siap, segera melangkah menuju sel tahanan. Namun, baru selangkah, Darren dan Darrel kembali menahannya.


"Tunggu Alisha!!" Si kembar berkata bersamaan.


"Ada apa, Kak?" tanya gadis itu, berbalik menatap mereka.


"Pakai sarung tangan." Keduanya kembali berkata secara bersamaan.


"Kenapa?"


"Kotor! Dia kotor! Nanti tangan kamu ketempel bakterinya." Lagi-lagi mereka mengatakannya secara bersamaan.

__ADS_1


Alisha terkekeh pelan, lalu meraih sarung tangan yang dibawa pengawal. Setelah mengenakannya, Alisha berbalik dan memasuki sel tahanan tersebut. Gadis itu menampar, memukul dan menarik rambut-rambut Iwan, hingga cukup banyak helaian rambut Iwan yang rontok.


Hardi yang melihatnya meringis, seolah merasakan apa yang Iwan rasakan sekarang.


__ADS_2