
Beberapa hari setelah pertemuan antara keluarga Gara, Edo dan Aryo tersebut, Gara jadi mengenal seorang Axel yang selalu ada untuk putrinya. Di tambah lagi, Axel adalah putra sahabatnya, Aryo. Sahabatnya yang sudah sangat lama hidup di luar negeri.
Hari libur kali ini, semua anggota keluarga ada di rumah. Setelah sarapan pagi, mereka mengobrol di ruang keluarga.
"Ayah, apa orang-orang Ayah sudah mendapatkan informasi tentang Hardi? Sejak hari belajar kelompok sampai hari ini, dia nggak pernah masuk sekolah." Tanya Alisha.
"Dia masih dirawat di rumah sakit." Balas Gara. Tangannya meraih pinggang Alula, agar istrinya itu duduk lebih dekat dengannya.
"Ck. Alisha yakin dia hanya berbohong. Kenapa lama sekali dirawat di rumah sakit? Apa dia sakit keras sampai nggak bisa jauh dari rumah sakit?"
"Sayang, jangan berbicara seperti itu." Tegur Alula, menyentuh tangan putrinya.
"Maaf, Bu. Tapi, Alisha kesal sama si Hardi. Alisha mau tahu, kenapa dia meneror Alisha. Alisha mau beri dia pelajaran."
"Ck. Mau beri pelajaran segala. Emang gak takut sama Hardi?" Cibir Darrel.
"Eee... Itu... Kan ada Ayah. Bisa Alisha minta temenin."
"Ayah nggak mau, gimana?"
"Masih ada Ibu."
"Kalau Ayah nggak biarin Ibu, gimana?"
"Eee... Ada Axel. Alisha bi..."
"Kakak yang akan temani Alisha." Potong Darren. Axel memang anak baik. Tapi, belum saatnya Alisha terus mengandalkan Axel.
"Nah. Ada Kak Darren yang mau temani Alisha. Kak Darren memang terbaik." Ucap Alisha.
Darrel hanya memutar bola matanya. Alisha selalu memihak bagian yang membawa keuntungan untuknya.
Mereka terus berbincang, terutama tentang perusahaan. Meski masih dianggap kecil oleh orang tua dan kedua Kakaknya, Alisha cukup mengerti pembahasan keempat orang tersebut. Hingga akhirnya pembicaraan tersebut terputus oleh deringan ponsel Darren.
"Hallo, tuan!"
"Hmm..."
"Tuan Ben dan tuan Kenan sudah ke bandara untuk pulang. Tadi, mereka menghubungi tuan besar, tapi tuan besar tidak mengangkat telponnya."
Mendengar itu, Darren melirik Ayahnya. Benar saja, Ayahnya sedang tidak membawa handphone.
"Ya."
"Hasilnya sudah dapat. Tuan Kenan dan tuan Ben sudah membawa semua hasilnya."
"Perempuan itu?"
"Nona yang dicari di temukan, tuan. Tapi, orangnya masih di rahasiakan Tuan Kenan dan tuan Ben, tuan."
Darren terdiam. Setelah itu, panggilan berarkhir. Gara, Alula, Darrel dan juga Alisha yang menatapnya, terlihat penasaran dengan apa yang Darren dan si penelpon bicarakan.
"Dapat informasinya?" Tanya Darrel. Dia bisa menebak saat mendengar Darren menyebut "perempuan itu".
Darren tak langsung menjawab. Dia malah melirik adiknya Alisha yang terlihat bingung.
"Alisha." Panggil Darren.
__ADS_1
"Ya, Kak?"
"Kamu ke kamar!" Perintah Darren membuat Alisha semakin mengerutkan keningnya.
"Tapi, kenapa Kak?"
"Turuti Kakak mu, nak." Timpal Gara.
Gadis kecil itu menatap Ayahnya. Matanya lalu menatap Alula. Saat mendapatkan anggukkan dari Alula, Alisha juga ikut mengangguk.
"Baiklah. Alisha ke kamar. Tapi, sampai kapan Alisha harus di kamar?"
"Sampai ada yang memanggilmu keluar." Celetuk Darrel.
"Hah? Kenapa..."
"Alisha," Suara Darren membuat Alisha menghentikan ucapannya.
"Kakak akan meminta Axel atau Nadia, Yana untuk menelpon mu." Timpal Darrel.
"Ck. Aku yang akan menelpon mereka. Tapi, ingat! Sore nanti, Kakak harus bawa Alisha jalan-jalan. Turutin semua yang Alisha minta."
"Kakak yang akan menemanimu nanti." Jawab Darren.
"Baiklah. Alisha ke kamar dulu." Alisha mencium pipi Ibu dan Ayahnya lalu berjalan menuju kamarnya.
Setelah Alisha pergi, Darren memberitahu Ayah Ibunya juga Darren mengenai informasi yang diberitahu orang suruhannya untuk membantu Kenan dan Ben.
Gara dan Alula terlihat sangat bersyukur, begitu pun Darrel. Tapi, ada kesedihan di wajah lelaki itu.
"Semuanya akan baik-baik saja." Ucap Darren, menepuk pundak kembarannya.
***
Sesuai janjinya, Darren akan membawa Alisha jalan-jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Alisha turun dengan mengenakan celana jeans dan kaos lengan pendek.
"Ayo!" Ajak Darren, namun Alisha menahannya.
"Tunggu dulu!" Ucapnya, membuat Darren kembali menatapnya. "Kenapa Kak Darrel nggak ikut?"
"Darrel nggak enak badan." Balas Darren.
"Ish, Kak Darrel ada-ada saja. Oh ya, Kak Darren harus janji nggak akan marah. Sore ini, Alisha mau habisin semua isi kartu kredit Kakak."
Darren tersenyum tipis mendengarnya. Ia mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkannya pada Alisha.
"Ada tiga di dalam. Ambil saja yang mana yang ingin kamu gunakan." Ucap Darren.
Wajah Alisha langsung berubah sumringah. "Benarkah?"
"Ya. Ayo!" Alisha mengangguk dan langsung meraih uluran tangan Kakaknya, berjalan keluar. Namun, langkah mereka sama-sama terhenti saat sebuah mobil masuk dan berhenti di halaman rumah. Paman Kenan dan Paman Ben keluar dari mobil itu.
"Tuan muda, nona muda." Sapa Paman Ben dan Paman Kenan bersamaan.
Darren mengangguk sedangkan Alisha, dia tersenyum manis ke arah kedua orang kepercayaan Ayahnya.
Kenan dan Ben langsung masuk ke rumah. Alisha penasaran melihat dua lelaki yang ditempatkan jauh oleh Ayahnya itu kembali ke kediaman Gara. Ia menatap Kakaknya dengan kening yang mengerut.
__ADS_1
"Paman Ben dan Paman Kenan kenapa kesini, Kak?" Tanya Alisha.
"Ada hal penting yang harus mereka sampaikan."
"Hal penting?"
"Ya." Jawab Darren. Lelaki itu menatap adiknya. "Kita lanjut jalan, atau kembali dan mendengar hal penting yang ingin mereka sampaikan?"
"Jalan-jalannya besok saja. Sekarang kita masuk dan dengarkan apa yang mereka sampaikan."
"Nggak ada besok."
"Siapa bilang? Kakak yang buat pilihan untuk Alisha. Mau lanjut pergi atau masuk. Alisha memilih masuk rumah, karena jalan-jalan adalah janji Kakak. Dan janji adalah janji. Harus di tepati." Ucap Alisha. "Oh ya, ini dompet Kakak. Aku sudah mengambil kartunya. Jika Kakak tidak mau membawaku jalan-jalan besok, aku akan benar-benar habiskan semua isinya." Ucap Alisha, lalu berjalan masuk ke rumah.
Darren yang terus menatapnya sejak tadi hanya tersenyum tipis sambil menggeleng. "Benar-benar tidak ingin dirugikan." Gumam Darren, pelan. Kemudian berjalan mengikuti Alisha, masuk ke rumah.
Keduanya ikut bergabung bersama Gara, Alula, Darrel, Paman Ben dan Paman Kenan.
Kenan dan Ben saling pandang. Ben mengeluarkan file berisi semua informasi mengenai gadis itu. Sedangkan Kenan, dia mengeluarkan laptop dan juga sebuah flashdisk yang berisi rekaman CCTV yang mereka dapatkan.
"Ini semua informasi mengenai gadis itu. Tuan bisa membacanya." Ucap Ben, menyerahkan berkas tersebut pada Gara. Darrel terlihat tidak tenang. Dia terus menatap Ayahnya. Wajah tenang Gara membuatnya tidak bisa menebak-nebak.
"Darren!"
"Ya, Ayah."
"Ini!" Gara menyerahkan berkas tersebut pada Darren.
Lelaki itu menerimanya dan segera membaca. Wajahnya sama tenangnya dengan Gara. Hal tersebut semakin membuat Darrel ingin tahu, dan juga tidak ingin mengetahuinya.
"Kamu bacalah!" Ucap Darren, menyerahkan berkas tersebut pada Darrel.
Darrel menerimanya. Dengan perasaan deg-degan, dia membaca isinya. Saat membaca nama gadis itu, dia mendongak. Ada keterkejutan juga rasa tidak percaya di matanya.
Darrel menatap Kenan yang juga memperhatikannya sejak tadi.
"Paman,"
"Ya, tuan muda."
"Bolehkah aku melihat rekamannya?"
Kenan tidak langsung menjawab. Ia menatap Gara untuk meminta persetujuan. Dan Gara menganggukkan kepalanya.
"Anda, boleh melihatnya. Hanya saja, rekamannya tidak terlihat jelas. Anda bisa langsung melihat fotonya di file data nona tersebut."
"Foto?"
"Ya." Kenan menyerahkan laptopnya pada Darrel.
"Ibu, ini ada apa?" Bisik Alisha yang tidak tahu apa-apa tentang masalah itu.
"Ibu akan jelaskan semuanya padamu nanti, okey?"
Alisha hanya mengangguk mendengar jawaban Ibunya. Ia berharap, semua ini cepat selesai, hingga dia bisa cepat mendapatkan penjelasan dari Ibunya.
Sementara Darrel, ia mulai menggulir halaman file tersebut hingga ia tiba pada halaman terakhir, tepat pada foto gadis tersebut.
__ADS_1
Deg...