
Pagi yang cerah, secerah senyuman di bibir Jiyo. Ia sudah membayangkan wajah Nita menyapanya saat hendak memasuki ruangan nanti. Ketika lift berhenti, Jiyo melangkah cepat menuju ruangannya.
Selamat pagi, tuan. Semoga anda selalu sehat. Saya akan membacakan jadwal anda hari ini. Batin Jiyo, mengingat sapaan Nita tiap pagi untuknya.
Saat tiba di depan ruangan Nita, Jiyo terhenti sejenak. Ia menoleh ke dalam ruangan sekretarisnya itu. Tidak ada Nita maupun tas gadis itu.
"Hah, selamat pagi, tuan. Maaf, saya terlambat." Nita membungkuk hormat dengan nafas yang tersengal. Jiyo yakin, gadis itu pasti terburu-buru.
"Selamat pagi." Balas Jiyo. Ia mendekati Nita dan berdiri tak jauh darinya. "Tegakkan badanmu. Nggak perlu membungkuk selama itu."
Nita menegakkan tubuhnya. Nafasnya masih tersengal. Ia berlari dari gerbang perusahaan hingga tiba di lift. Setelah keluar dari lift, ia kembali berlari menuju ruangannya.
"Sekali lagi, maafkan saya, tuan. Jalanan macet. Jadi..."
"Sudahlah. Stabilkan pernafasanmu, saya akan ke ruangan saya."
Jiyo berbalik dan berjalan ke ruangannya. Setelah pintu ruangan itu tertutup, Nita menarik nafas panjang. Seandainya Jiyo di luar perusahaan seperti ini, hidupnya akan lebih tenang.
Nita berjalan ke ruangannya dan mengistirahatkan tubuhnya. Ia bersandar di kursi, lalu meraih handphone dan membuka kembali aplikasi chatnya.
Chat teratas adalah chatnya dengan Jiyo semalam. Awalnya lelaki itu menanyakan menganai dokumen. Tapi, lama kelamaan merambat kemana-mana.
Jiyo
Keluar yuk!
^^^Nita^^^
^^^Maaf tuan, jika bukan ^^^
^^^urusan pekerjaan, ^^^
^^^saya menolaknya.^^^
Jiyo
Sekarang juga bukan jam kerja.
Jangan panggil aku tuan.
^^^Nita ^^^
^^^Kalau begitu, ^^^
^^^berhenti mengganggu saya. ^^^
Jiyo
Ya, aku akan terus ada
di sampingmu.
^^^Nita ^^^
^^^Nggak nyambung ^^^
__ADS_1
Jiyo
Ya, aku tahu aku tampan.
Nita kembali menarik nafasnya. Ingin sekali dia memblokir semua akses Jiyo untuk menghubunginya. Tapi, mereka harus tetap saling berhubungan untuk kelancaran pekerjaan mereka. Ia mematikan handphonenya dan meletakkan kembali di meja.
"Kenapa orang itu bisa jadi dua orang yang berbeda saat di kantor dan di luar kantor? Akkhh... Jangan dipikirkan lagi, Nita. Cepat, lakukan pekerjaanmu." Gumamnya.
Nita bergegas ke ruangan Jiyo. Ia masuk dan mulai membacakan jadwal Jiyo hari ini.
"Jadwal tuan hari ini yaitu bertemu klien di Red Resto jam 10 nanti. Untuk mengantisipasi keterlambatan karena macet, kita akan berangkat pukul 09:30. Selain itu, tidak ada lagi." Ucap Nita.
"Baiklah. Terima kasih sudah mengingatkan saya. Kamu boleh lanjut bekerja."
"Baik, tuan. Saya permisi." Nita menunduk sejenak, lalu berlalu dari ruangan tersebut.
Jiyo tersenyum setelah Nita keluar dari ruangannya. Hari ini, dia ada kesempatan makan siang bersama Nita nanti. Jiyo menatap jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul 08: 30. Sekitar sejam lagi mereka akan berangkat ke Red Resto.
Jiyo kembali fokus pada pekerjaannya. Dan tanpa terasa waktu mereka untuk berangkat pun tiba. Jiyo merapihkan pekerjaannya, lalu keluar. Nita yang hendak mengingatkan Jiyo, mengurungkan niatnya saat melihat Jiyo keluar.
"Mari, tuan."
"Ya."
Keduanya segera ke tempat parkir saat tiba di lantai bawah. Nita cukup cangung berada di mobil yang sama dengan Jiyo dan duduk bersebelahan. Jiyo sendiri yang menyetir. Jadi, dia melarang Nita duduk di jok belakang. Seandainya dia tidak menjual mobilnya, sudah pasti dia menggunakan mobilnya sendiri. Tapi, Mamanya lebih membutuhkan uang. Jadi, dia harus merelakannya.
"Kenapa kamu hanya diam?"
"Nggak ada yang perlu dibicarakan."
Nita menoleh. Ia tidak pernah memberitahu Jiyo tentang Mamanya yang dirawat di rumah sakit. Kesehatan Ibunya semakin memburuk beberapa bulan terakhir ini.
"Bagaimana anda tahu?"
"Kita berada di laur kantor. Bisa nggak kamu bicaranya biasa saja. Jangan terlalu formal."
Nita menarik nafasnya. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku kebetulan melihatmu saat mengantar Mamaku periksa darah tinggi nya."
Nita terdiam. Baru saja dia sempat berpikir buruk tentang Jiyo. "Kondisi Mama stabil." Jawab Nita, sambil menatap keluar jendela mobil.
Jiyo menatap sekilas gadis itu. Dia tahu, Nita sedang berbohong. Kondisi Mamanya tidak stabil seperti yang ia katakan.
"Jika kamu perlu bantuan, katakan saja padaku. Aku akan membantu."
Nita hanya terdiam tak membalasnya. Suasana mobil itu hening hingga mereka tiba di Red Resto, sebuah restoran yang menjadi tempat janjian meraka bersama klien.
***
Darren dan Darrel duduk menatap Alisha yang sedang memakan makanannya dengan lahap. Bukan. Bukan lahap lagi. Sepertinya Alisha menjadi rakus sekarang. Ini kali ketiga Alisha menambah makanannya.
Sejam sebelum waktu pulang sekolah, gadis itu meminta kedua kakaknya yang menjemput. Dia ingin mereka membawanya jalan-jalan setelah pulang sekolah, dan membelinya banyak makanan.
"Pelan-pelan dek, makannya." Ujar Darrel. Dia sudah tahu masalah persahabatan Alisha dan Axel. Walaupun dia suka menjaili Alisha, tetap saja dia tidak rela adiknya dimarahi orang lain.
__ADS_1
Alisha mengangguk dan terus mengunyah makanannya. Namun tiba-tiba, gadis itu tersedak. "Uhuk... Uhuk..."
Darren dengan cepat menyodorkan air untuk Alisha. Sementara Darrel mengelus-elus punggung Alisha. Entah apa manfaatnya, Darrel juga tidak tahu. Dia hanya terbiasa melakukan itu.
"Kan udah dibilangin. Jangan buru-buru makannya. Pelan-pelan kan bisa."
"Alisha lagi kesal, kak." Jawab gadis itu, setelah meneguk airnya.
"Kesal kenapa?" Tanya Darren. Sejak tadi dia hanya diam memperhatikan Alisha.
"Axel ngeselin benget, Kak. Kalau udah nggak mau sahabatan sama Alisha dan yang lain, ya udah, nggak sahabatan. Masa dia minta sama bu guru buat dimasukin ke kelompok Alisha? Kelompok Alisha kan cuma sahabat-sahabat Alisha. Alisha, Nadia, Yana sama Hardi. Terus bu guru setuju tambahin dia. Dan lebih ngeselin nya, Axel cari-cari masalah sama Hardi. Ngeselin kan si Axel? Alisha juga sebagai ketuanya nggak suka anggota-anggota Alisha nggak akur."
"Jadi, masalah ini yang buat kamu makan banyak gini?" Alisha mengangguk, lalu menggeleng lagi. Membuat Darrel yang bertanya bingung.
"Geleng? Angguk? Apa maksudnya?"
"Ma..."
"Telan dulu makanannya." Potong Darren, sebelum adiknya berbicara panjang. "Maksudnya, iya dan tidak." Jelas Darren. Namun Darrel masih bingung.
Alisha menelan makanannya. "Kak Darren benar. Maksud Alisha, iya, karena masalah itu, Alisha makannya banyak hari ini. Tapi, nggak sepenuhnya benar. Alisha makan gini karena lapar juga, hehehe..."
Kekehnya membuat Darren dan Darrel tersenyum. Syukurlah Alisha tidak murung seperti beberapa hari lalu.
"Nggak makan di kantin?" Darren mengusap pelan rambut Alisha.
"Enggak. Malas ke kantin."
"Sekarang mau jalan kemana lagi? Asya, Aurel sama Meeya ditemani Mama Irene sama Papa Edo." Ujar Darrel.
"Eeemm... Alisha mau ke taman."
"Oke." Jawab Darren Darrel serentak.
"Kak Darrel beliin Alisha es krim, ya? Kak Darren kan udah traktir Alisha makan."
"Es krim? Perut kamu masih muat, dek?" Alisha mengangguk pelan. "Astagaaa, deeek. Bisa buncit perut kamu. Nggak. Kakak nggak akan beliin kamu es krim."
"Iiihhh... Kak Darrel, perut Alisha masih muat. Lagian satu aja es krim nya."
"Nggak. Nanti sakit gigi kamu." Darren menimpali. Dia juga tidak setuju adiknya makan es krim.
"Kak Darreeen. Alisha rajin sikat gigi. Jadi, nggak akan sakit gigi Alisha." Ucapnya. "Kak Darren, kak Darrel. Kalian nggak kasihan sama Alisha?" Rayunya.
Darren dan Darrel terdiam, menatap mata Alisha yang berkaca-kaca. Tidak. Mereka tidak bisa menolaknya lagi. Alisha sangat pandai memanfaatkan kelemahan mereka.
"Baiklah. Kamu boleh beli es krim." Ujar si kembar bersamaan.
"Kakak yang bayarin." Lanjut Darrel, yang membuat Alisha langsung tersenyum lebar.
Hai semuanya! Selamat membaca, semoga kalian senang dan menikmati ceritanya. Oh ya, aku punya novel baru. Boleh dong liat-liat dulu. Siapa tahu suka sama alur ceritanya. Judulnya "Annanta". Baru 3 Bab aku post.
Semoga kalian sehat selalu.
__ADS_1
Salam dari Aquilaliza 💚💙