
Asya terdiam di dalam kamar sambil menatap dirinya yang baru selesai mandi melalui cermin. Malam ini adalah malam pertama dia menginap di rumah Darren dengan status sebagai seorang istri.
Sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya membuatnya tersenyum. Darren dengan sengaja mengecup pipi istrinya.
"Apa yang kamu lamunkan?" Tanya Darren.
"Nggak ada. Aku hanya nggak menyangka bisa secepat ini menikah."
Darren melepaskan pelukannya lalu membalikkan badan Asya hingga menghadapnya. "Apa kamu menyesal?"
Asya tersenyum, kemudian menangkup wajah Darren. "Aku menikahi orang yang ku cinta. Untuk apa menyesal. Lagi pula, meskipun aku menyesal, kamu juga nggak akan melepaskanku kan?"
"Tentu saja. Tapi, apa kamu benar-benar mencintaiku?"
"Apa kamu meragukanku?" Asya cemberut. Ia melepaskan tangannya dan melipatnya di dada.
Darren tersenyum melihatnya. Ia menundukkan wajahnya dan mengecup bibir Asya.
"Aku nggak meragukanmu."
"Lalu?"
"Aku hanya bercanda."
"Iihhh... Nyebelin banget sih." Asya mencubit pelan perut Darren. Membuat lelaki itu terkekeh pelan karena geli.
"Sayang, berhenti!"
"Aku nggak akan berhenti."
"Sayang!" Darren menahan tangan Asya dan menariknya hingga jatuh dalam pelukannya.
"Darren lepaskan!"
"Nggak akan!"
"Darreeen..."
"Cium dulu."
"Baiklah."
Cup... Asya mengecup pipinya.
"Bukan di sini. Tapi, ini." Darren menunjuk bibirnya.
"Barusan kan sudah."
"Mau lagi." Ucap Darren. Sikap Darren yang seperti anak kecil ini membuat Asya tersenyum.
"Baiklah. Tutup mata dulu."
"Nggak mau. Kamu pasti mau kabur."
"Nggak akan. Kalau aku kabur, durasinya di perpanjang." Asya mengangguk, meyakinkan.
"Benarkah?" Lagi-lagi Asya mengangguk. "Kalau begitu, kamu kabur saja dulu."
"Hah?" Wanita itu terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Aku ingin durasi yang lebih panjang." Wajah Darren begitu bersemangat saat mengatakannya.
Asya meringis mendengarnya. Jika dia menuruti ucapan suaminya yang ini, maka ia jamin tidak akan makan malam bersama yang lainnya.
"Aku nggak mau kabur." Ujarnya, berjinjit dan menangkup wajah Darren. Ia mencium bibir suaminya dengan kaku. Benar-benar tidak mengerti bagaimana melakukannya dengan baik.
Darren yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya bersorak dalam hati. Bagaimana pun, untuk hal ini, ia sulit untuk mengalah.
Saat Asya hendak menarik wajahnya menjauh, Darren malah menahannya dan semakin memperdalam ciumannya. Mengajari istrinya bagaimana melakukannya dengan benar.
***
Suasana di meja makan terlihat sangat hangat. Alula dengan telaten melayani Gara dan mengambil makanan untuk putrinya, Alisha. Begitu juga yang dilakukan Asya dan Aurel. Kedua menantu keluarga Grisam itu melayani suami mereka dengan baik. Darrel tersenyum dan terus melempar candaan pada istrinya. Hal itu membuat orang-orang yang ada di meja makan terkekeh mendengar ucapan receh lelaki itu. Bahkan Gara juga ikut terkekeh mendengarnya. Sementara Darren, dia hanya tersenyum tipis. Kembarannya itu, jika berbicara memang tidak tahu tempat.
"Darren, aku mau memperpanjang cutiku lagi. Bolehkan?" Ucap Darrel, mengalihkan pembicaraannya.
"Jangan di kasi, Kak. Kak Darrel kan udah agak lama cutinya."
__ADS_1
"Eh, anak kecil. Kamu..."
"Eits, jangan marah. Jangan ganggu-ganggu Alisha. Kan udah janji."
Darrel langsung terdiam mendengar ucapan Alisha. Memang licik gadis kecil itu. Dia membuat Darrel berjanji untuk tidak boleh mengganggunya. Tapi, dia tidak berjanji untuk tidak memancing Darrel.
"Jangan mancing-mancing Kakak buat gangguin kamu, dek." Ucap Darrel, menahan kesal.
"Emang ikan dipancing?"
Darrel berdecak mendengarnya. Asya dan Aurel terkekeh pelan. Puas sekali melihat Darrel dipermainkan seperti ini. Biasanya lelaki itu jail. Apalagi sedang bersama Jiyo. Benar-benar paket lengkap.
"Kamu boleh masuk kerja di hari yang sama denganku." Ucap Darren, yang langsung ditanggapi dengan binar bahagia Darrel. Dia tahu, Darren akan masuk kerja sekitar 10 hari lagi.
"Yes. Terima kasih kembaranku." Ucap Darrel. Ia lalu menatap bergantian Ayah dan Ibunya. "Ayah, Ibu, kalian melahirkan putra yang baik." Ucap Darrel, yang mendapatkan gelengan kedua orang tuanya.
"Jangan berbicara saat makan, Darrel." Tegur Gara.
"Hehehe... Iya, Yah."
"Habiskan makanan mu. Setelah itu buatkan susu untuk istrimu." Ucap Alula.
"Iya, Bu."
Asya tersenyum melihat Darrel yang begitu patuh pada orang tuanya. Ia juga bersyukur, sahabatnya mendapatkan pasangan hidup seperti Darrel.
"Sayang, aku mau tambah." Ujar Darren, tiba-tiba.
"Cieeee... Yang sekarang udah panggil sayang. Siapa sih yang dulu bilangnya nggak suka? Eh, sakarang malah nggak bisa jauh-jauh." Ledek Alisha.
"Alishaaa,"
"Hehehe... Yang Alisha bilang benarkan, Bu?"
"Ya, Ayah setuju dengan mu." Sambung Gara.
"Aku juga setuju." Timpal Darrel.
"Kalian ini," Alula menggeleng kepalanya. Sementara yang lain terkekeh, termasuk Asya dan Aurel. Sedangkan Darren, lelaki hanya terdiam dengan tatapan yang mengarah pada istrinya.
"Dia sudah tertidur." Ucap Gara sambil menatap putrinya yang sudah terlelap.
"Iya." Jawab Alula. Gara bangun dan bergerak mendekati Alisha. Dia ingin menggendong putrinya dan membawanya ke kamar. Namun, dia dihentikan oleh Darren.
"Biar aku saja, Yah. Ayah ke kamar saja bersama Ibu." Ucap Darren.
"Kamu meragukan kekuatan Ayah?"
"Bukan begitu, Ayah. Maksud Darren, kami searah. Biar sekalian saja." Sambung Darrel.
"Ya, ya. Antarkan adik kalian ke kamar." Gara menunduk dan mengecup kening putrinya. "Ayo, sayang! Kita ke kamar." Alula mengangguk. Ia juga mengecup kening putrinya, memindahkam dengan pelan Alisha dari pangkuannya, lalu bergegas ke kamar bersama sang suami.
Darren menghampiri Alisha dan menggendongnya. Sementara Darrel, ia mengulurkan tangannya menggandeng sang istri. Tapi, belum sempat ia menyentuh Aurel, tangannya sudah digeplak oleh Asya.
Plak...
"Shhh... Asyaaaa... Kenapa aku di pukul?" Kesal Darrel, sambil melotot ke arah Asya.
"Aku hanya menyentuhmu sedikit. Kenapa ekspresimu seperti itu? Mau ku lapor kan pada Darren, kalau kamu melototiku?"
Darrel semakin melotot ke arah Asya saat wanita itu membawa nama Darren. Darren selalu menjadi tameng Asya sejak dulu. Untung saja lelaki itu sudah menuju tangga. Jika tidak, Asya akan benar-benar mengadu pada Darren.
"Kalian ini, sejak dulu selalu seperti ini. Nggak kamu, nggak Jiyo. Suka sekali membuat kesal." Ucap Aurel.
"Eh, kenapa jadi aku, sayang?" Darrel tak menyangka, jika istrinya malah menyalahkanya. Seharusnya dia yang dibela. Dia korban dan Asya pelakunya.
"Iya nih, suami kamu. Masa melotot gitu ke aku? Aku kan cuma mau gandengan sama kamu sampai ke depan kamar." Ucap Asya, memprovokasi. Sungguh, dia sangat senang melihat wajah jengkel Darrel.
"Kamu jangan pedulikan dia. Ayo, kita sama-sama ke kamar!" Asya mengangguk semangat. Kedua sahabat itu saling bergandengan menaiki tangga menuju kamar.
"Sayang, kok aku ditinggal?"
"Kamu lebih hafal rumah ini, Darrel. Kamu nggak akan tersesat." Jawab Aurel yang membuat Asya terkekeh dalam hati.
Dengan wajah cemberut, Darrel mengikuti dua wanita tersebut. Ketika tiba di depan kamar, Asya meminta Aurel masuk terlebih dahulu. Dia masih menunggu suaminya.
Darrel yang baru sampai, menatap Asya dengan sorot kesal. "Puas?"
__ADS_1
"Hehehe... Puas banget." Jawab Asya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Hiiiiihhh... Untung saja kamu sahabatku dan istrinya Darren. Jika tidak..."
"Kenapa kalian?" Suara Darren yang terdengar membuat ucapan Darrel terpotong. Lelaki itu langsung merubah mimiknya menjadi tersenyum pada kembarannya.
"Nggak ada apa-apa. Kalian masuklah. Aku juga akan masuk." Ucap Darrel dan lagsung meraih gagang pintu.
"Hati-hati, Rel. Emosi ibu hamil sering berubah-ubah." Ujar Asya, namun Darrel mengabaikannya dan masuk begitu saja.
"Ada apa?" Darren kembali bertanya.
"Hehehe... Aku jailin Darrel." Jawab Asya sambil tersenyum manis. Darren juga ikut tersenyum dan mengusap rambut istrinya. Tidak heran lagi jika Asya, Darrel dan Jiyo saling menjaili. Itu bukan hal baru lagi bagi Darren.
"Ayo, masuk!" Asya langsung mengangguk patuh. Suasana hatinya berubah semakin bahagia saat mengerjai Darrel. Dan yang paling berpengaruh, saat dirinya menyentuh perut Aurel ketika menaiki tangga tadi.
Hingga berada di atas ranjang bersama Darren pun, Asya masih tersenyum. Darren sampai mengerutkan alisnya melihat tingkah sang istri.
"Kenapa kamu masih tersenyum?"
"Eee... Lagi senang aja. Kamu tahu, nggak? Tadi aku pegang perut Aurel. Perutnya udah makin besar. Gemasin banget." Ucap Asya dengan senyum bahagia.
Darren tersenyum dan menarik Asya dalam pelukannya. "Dia sedang hamil. Tentu saja akan bertambah besar seiring waktu." Ucap Darrel, mengecup puncak kepala istrinya.
"Iya, benar. Aku jadi penasaran dan tiba-tiba ingin merasakannya."
"Kamu ingin hamil?"
"Tentu saja. Ini impian setiap wanita."
"Kata Papa, kita harus terus berusaha."
Asya langsung mendongak menatap Darren. "Papa? Maksud kamu, Papa Edo?" Darren mengangguk, membuat Asya tersenyum. "Nggak nyangka kamu udah biasa aja panggil Papa."
"Dia Ayah mertuaku. Apa salah?"
"Hehehe... Enggak."
"Ya sudah. Ayo, kita berusaha buat kamu hamil!"
"Hah?"
"Kenapa?"
"E-enggak. He..." Asya tersenyum paksa. Ia masih terbayang bagaimana suaminya semalam.
"Asya?"
"Hmm?"
"Lihat aku!"
Asya mendongak pada Darren lalu tersenyum manis. "Sayang, kamu boleh melakukan apapun sesuka hatimu. Tapi, biarkan akau tidur sebentar, ya? Aku ingin memulihkan tenaga dulu."
Cup
"Selamat tidur." Asya langsung berbaring setelah mengecup bibir suaminya, dan berpura-pura menutup mata. Darren yang mendapat perlakuan tiba-tiba itu, tersenyum sambil memegang bibirnya. Dan beberapa saat kemudian, ia menjatuhkan wajahnya tepat di ceruk leher Asya. Ia mengecupnya dan menggigitnya pelan.
"Aku sudah berpikir untuk melepas mu malam ini. Tapi, kamu malah menggodaku. Kamu harus bertanggung jawab." Bisik Darren, lalu membalikkan tubuh Asya menjadi telentang.
Mata Asya terpejam dengan bola mata yang masih bergerak-gerak. Hal ini membuat Darren merasa lucu.
Cup...
"Jangan berpura-pura tidur. Aku tahu, kamu berusaha menghindar."
Cup...
"Buka matamu."
Cup...
"Jika tidak..."
"Darreeen... Aku enggak bo... Hmmpp..." Suara Asya terhenti oleh bungkaman bibir Darren.
"Jangan berbicara." Ujaranya dan melanjutkan ciumannya. Ciuman yang lama membuat nafas Asya tersengal. Darren mengambil kesempatan. Ia berbalik, mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur, kemudian kembali mencium bibir istrinya. Keduanya kembali mengarungi malam indah mereka dengan penuh kelembutan, sedikit berbeda dengan semalam. Dengan harapan besar dalam hati Darren, segera tumbuh buah hatinya bersama Asya di perut wanita yang begitu ia cintai ini.
__ADS_1