Suling Maut

Suling Maut
Cheng Sam Kembali Berulah


__ADS_3

Kui Fang menggamit tangan Chien Wan dengan halus. “Nasi sudah menjadi bubur, Kakak Wan. Yang sudah berlalu takkan dapat diubah lagi. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari pelakunya dan membalas dendam.”


Chien Wan terjaga dari penyesalannya. Ditatapnya gadis itu dengan penuh rasa terima kasih. Ia mengangguk.


“Jadi,” sela Fei Yu untuk mengalihkan Chien Wan dari penyesalannya, “kau diserang enam orang Khitan itu sewaktu terjadinya peristiwa pembunuhan. Itu artinya pelakunya pasti bukan salah satu dari enam orang itu. Mereka memang terlibat, namun bukan pembunuh sebenarnya. Kita bisa mencoret mereka dari daftar orang-orang yang mungkin menyamar menjadi kau.”


Chien Wan mengangguk. “Dari segi fisik, ada beberapa dari mereka yang kira-kira memenuhi syarat. Tetapi dilihat dari waktu kejadian, itu tidak mungkin mereka.”


Tuan Chang mengeluh, “ Aku yang salah karena terlalu mempercayai Cheng Sam.”


“Ayah, sudahlah!” sergah Fei Yu kesal.


Chien Wan menoleh dan menatap Tuan Chang. “Paman, mungkin kau tahu sesuatu mengenai Cheng Sam. Apa Paman tahu ke mana dia biasa berkunjung? Apa dia punya keluarga?”


Tuan Chang mengerutkan keningnya, berpikir keras. “Mengenai keluarga, aku tidak begitu yakin. Dia menjadi anggota Bukit Merak sudah lebih dari dua puluh tahun lamanya, tetapi tidak pernah menyinggung soal keluarga. Tetapi, tunggu!” Ia tersentak karena teringat sesuatu.


“Apa, Ayah?”


“Pada sepuluh tahun pertama kedatangannya, dia sering pergi ke Kotaraja untuk menemui seseorang. Waktu aku tanya siapa, dia bilang sahabatnya. Tetapi aku curiga perempuan itu lebih dari sekadar sahabat. Tetapi sudah sepuluh tahun terakhir ini dia tidak lagi pergi ke sana. Itulah sebabnya aku agak lupa mengenainya.”


“Perempuan?” tanya Fei Yu heran. “Sahabatnya seorang perempuan? Ternyata ada juga perempuan yang tertarik pada Cheng Sam!” serunya tertawa.


“Paman tahu namanya?” tanya Chien Wan tertarik.


“Dia tak pernah menyebutkan. Tetapi aku pernah mendengarnya menyebut-nyebut soal gadisnya yang direbut pemuda kaya ketika dia sedang mabuk. Aku tidak tahu apakah sahabatnya dan gadis itu adalah orang yang sama. Dan gadisnya itu dipanggilnya Adik Lan.”


“Jelas saja gadis itu memilih pemuda lain daripada Cheng Sam,” ejek Fei Yu sebal. “Siapa yang mau dengan penjilat busuk macam Cheng Sam?”


“Belum tentu, Tuan Fei Yu.” Hauw Lam menyela, mengejutkan semuanya.


“Maksudmu?”


“Siapa tahu Cheng Sam menjadi jahat justru karena peristiwa itu? Siapa tahu tadinya dia tidak sejahat itu. Karena patah hatilah dia jadi berubah. Bisa jadi gadis itu sebenarnya betul-betul kekasihnya, dan pemuda kaya itu merebutnya,” ujar Hauw Lam.


Fei Yu mengernyitkan kening.


“Lagi pula, wajah Cheng Sam itu sebenarnya tidak terlalu buruk, kok.” Tuan Chang menimpali.


Fei Yu mengangkat tangannya tanda menyerah. “Yaaa, baiklah. Tetapi tetap saja kita tidak melihat apa hubungannya dengan masalah ini!”


“Aku pikir Cheng Sam punya sahabat laki-laki. Sebab bila demikian, tentu sahabatnya itu yang menyamar menjadi aku,” kata Chien Wan muram. “Tetapi bila sahabatnya perempuan, mana mungkin dia bisa menyamar menjadi aku dan... melakukan semua itu.”


“Bisa saja!” seru Kui Fang.


Namun Chien Wan menggeleng. “Tidak. Sebab orang itu juga menyerang Ting Ting. Tidak mungkin perempuan melakukannya.”


Kui Fang tercengang dan seketika wajahnya memerah. Ia tidak memikirkan peristiwa pemerkosaan terhadap Ting Ting saat mengucapkan bahwa bisa saja perempuan yang melakukannya.


Wajah Fei Yu menjadi murung mendengarnya.


Tuan Chang berpikir. “Sebentar. Bisa saja sahabat Cheng Sam yang perempuan itu mempunyai anak atau adik laki-laki..”


Chien Wan langsung terkejut. “Benar juga!”


“Ya! Itu bisa jadi!” Fei Yu bersemangat kembali.


“Aku akan mulai menyelidikinya.” Chien Wan memutuskan tenang.


“Aku ikut!”


Chien Wan menoleh mendengar Fei Yu berbicara dengan penuh semangat seperti itu. Ia agak tidak enak hati. “Sebaiknya jangan. Bukankah kau sedang sibuk di sini?”

__ADS_1


“Tadi aku baru saja membicarakan keinginanku mencari Cheng Sam. Aku ingin penjahat itu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia sudah mengkhianati Bukit Merak dan sekarang terlibat dalam peristiwa di Wisma Bambu. Dia harus kubalas!” geram Fei Yu.


Chien Wan menghela napas.


Tuan Chang sendiri hanya bisa menuruti kehendak putranya sebab ia tahu tak ada gunanya mencegah bila Fei Yu sudah punya mau.


***


Chien Wan diberi kamar yang bersebelahan dengan kamar Kui Fang di salah satu paviliun. Ia tengah duduk diam di meja sambil membersihkan sulingnya dengan sehelai kain sutra. Pikirannya berkecamuk memikirkan peristiwa itu.


Pintu kamar terbuka dan Kui Fang masuk ke dalam. Gadis itu langsung duduk di samping Chien Wan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengerti bahwa saat ini Chien Wan sedang sibuk dengan pikirannya sendiri dan tak mau diganggu. Ia sangat mengerti dengan karakter Chien Wan dan menghormatinya dengan sepenuh hati.


Perlahan-lahan Chien Wan terjaga dari lamunannya dan menatap Kui Fang.


“Kau tidak keberatan ikut mencari pelaku itu bersamaku?” tanya Chien Wan.


Kui Fang tersenyum. “Aku akan mengikutimu ke mana pun, Kakak Wan. Kau jangan merisaukan aku. Aku akan baik-baik saja.”


Chien Wan merasa lega dan damai mendengar kata-kata Kui Fang.


Kembali pintu kamar terbuka, dan masuklah Fei Yu.


“Chien Wan,” sapa Fei Yu sambil menghenyakkan tubuhnya pada kursi yang terdapat pada kepala meja yang berhadapan dengan Chien Wan.


“Kau yakin mau mencari Cheng Sam bersamaku?”


Fei Yu memukul telapak tangannya dengan geram. “Sudah pasti! Dengan tanganku sendiri aku ingin mencincang si Cheng Sam. Dan jangan coba-coba berpikir bahwa aku melakukan sesuatu untukmu saja!” tambahnya cepat kala melihat Chien Wan membuka mulutnya. “Aku punya kepentingan pribadi dalam hal ini. Kalau kau masih ingat, Cheng Sam telah mencuri pusaka keluargaku.”


“Sekarang masalahnya ke mana kita akan mencarinya?” sela Kui Fang.


Fei Yu terdiam. Ia tidak tahu jawabannya.


“Mencari perempuan yang pernah bersahabat dengan Cheng Sam di Kotaraja sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami,” geleng Chien Wan.


“Bagaimana dengan Adik Lan itu?” sela Fei Yu.


“Masalahnya, ayahmu sendiri tidak tahu apakah sahabat Cheng Sam dengan Adik Lan itu orang yang sama,” tukas Kui Fang. “Bagaimana jika mereka sama sekali berlainan?”


Chien Wan mengangguk-angguk pelan.


Lama mereka bertiga terdiam dalam lamunan dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Saat itulah terdengar jeritan tiba-tiba dari arah kamar pelayan yang terletak tidak jauh dari sana.


Fei Yu tersentak mengenali jeritan itu. Ia melompat berdiri dari kursinya lalu bergegas keluar. Chien Wan dan Kui Fang segera berlari menyusulnya.


Pintu kamar A Nan terbuka lebar. Ternyata Hauw Lam dan Lo Hian yang mendapat kamar tidak jauh dari kamar A Nan telah lebih dulu tiba di sana setelah mendengar jeritan itu.


Fei Yu menyerbu masuk dan mendapati kedua pengawal Chien Wan itu tengah mengangkat tubuh A Nan yang pingsan ke atas pembaringan.


“Kakak Lo, Kakak Hauw, apa yang terjadi?”


“Entahlah,” sahut Lo Hian. “Kami mendengar jeritan Nona Nan dan bergegas datang. Ketika kami datang, Nona Nan sudah pingsan di dekat pembaringan.”


“Ada sesuatu berkelebat keluar dari jendela, namun kami tak sempat melihatnya dengan jelas karena dia sudah lenyap,” tambah Hauw Lam sambil menyeka darah dari pelipis A Nan yang terluka akibat semacam benturan.


Fei Yu mendekat dan mengguncang bahu A Nan dengan hati-hati.


“A Nan! A Nan!”


Saat itu Chien Wan dan Kui Fang datang bersamaan dengan kehadiran Tuan Chang yang tampak cemas.


“Fei Yu, kenapa A Nan?”

__ADS_1


Fei Yu menggeleng gelisah. “Aku tak tahu, Ayah. Kami mendengar dia menjerit. Tapi ketika kami sampai, dia sudah terluka dan tak sadarkan diri.”


Tepat saat itulah A Nan sadar sambil merintih kesakitan. Pelipisnya berdenyut-denyut nyeri.


“A Nan, kau sadar!” seru Fei Yu girang.


“Nona Nan!” Hauw Lam ikut memanggil.


A Nan membuka matanya yang terasa berat. Dilihatnya Fei Yu tengah memandangnya dengan cemas.


“Tu... Tuan Muda...,” desisnya lemah.


“Siapa yang menyerangmu, A Nan?” tanya Fei Yu geram.


“Di... dia....”


“Katakan, A Nan!”


A Nan menelan ludahnya dan berusaha bangkit untuk berbicara lebih jelas. “Cheng Sam, Tuan Muda.”


“Apa?!”


Fei Yu murka sekali. Tuan Chang mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Sementara yang lain serentak saling berpandangan. Bagaimana mungkin Cheng Sam bisa menginjakkan kaki di tempat itu tanpa ada seorang pun menyadarinya?


“Apa dia mengatakan sesuatu, A Nan?” tanya Tuan Chang geram.


A Nan mengangguk panik. “Dia bilang dia akan membunuh Tuan Muda. Aku sangat marah dan menyerangnya tanpa pikir panjang. Tapi dia mendorongku dengan mudah dan aku lantas tidak ingat apa-apa lagi, Tuan.”


“Bagaimana dia bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuan kita?” tanya Tuan Chang heran.


Fei Yu tersentak dan langsung meninggalkan ruangan itu.


“Fei Yu!” seru Tuan Chang.


Chien Wan dan Kui Fang segera menyusul Fei Yu.


Ternyata Fei Yu menuju ke bagian belakang Bukit Merak. Di sana ada sebongkah batu besar yang kelihatan biasa-biasa saja. Orang yang tidak tahu akan mengira itu sebagai hiasan semata. Namun Fei Yu bukan orang yang tidak tahu. Semasa kecil, ia sering pergi ke sana. Karena tanpa sepengetahuan orang lain, di sana terdapat sebuah liang yang panjang. Liang itu terus menembus sampai ke hutan di sebelah utara.


Fei Yu sering menggunakan liang itu untuk melarikan diri dari pelajaran yang dibencinya ketika dia masih kecil. Namun liang itu sangat kecil, hanya bisa dimasuki oleh anak di bawah usia dua belas tahun.


“Fei Yu?”


Fei Yu menyibak semak yang menutupi bagian belakan batu dan melihat liang itu. Ia tertegun. Ternyata liang itu sudah diperbesar dua kali lipat. Rupanya Cheng Sam sudah punya rencana untuk meneror orang Bukit Merak. Selama ini ia telah memperbesar liang tanpa sepengetahuan orang lain.


“Fei Yu, apa yang kautemukan?’


Suara Tuan Chang membuat Fei Yu menoleh.


“Ayah masih ingat, kan? Sewaktu kecil aku sering melarikan diri dari pelajaran tata negara yang diberikan Guru Huang. Lewat liang inilah aku kabur. Tetapi dulu liang ini jauh lebih kecil. Agaknya Cheng Sam memperbesar liang ini tanpa sepengetahuan kita,” kata Fei Yu geram.


Tuan Chang mengintip liang itu dengan heran. “Aku sendiri tidak tahu keberadaan liang ini. Rupanya begitu.”


Fei Yu menyibak semak lebat itu dan memasuki liang. Ternyata tubuhnya bisa masuk dan ruang geraknya cukup luas. “Aku akan mencoba masuk dan mengejarnya,” katanya. Lalu ia terus memasuki liang.


Jalan di sepanjang liang itu gelap dan kotor berlumpur. Karena langit-langitnya sangat rendah, Fei Yu harus membungkuk sepanjang jalan. Makin lama keadaan di dalam semakin gelap. Fei Yu menyesal tidak membawa api sehingga ia bisa jalan tanpa harus meraba-raba. Ia berjalan pelan-pelan dan mengulurkan tangan ke depan.


Namun, ia belum lagi berjalan jauh. Tangannya membentur sesuatu. Ia menghentikan langkahnya dan meraba-raba. Ternyata jalan di depannya buntu. Ia meraba-raba dan tangannya menyentuh sesuatu yang lunak dan berlumpur. Agaknya Cheng Sam dan anak buahnya cepat-cepat menumpuk tanah dan batu untuk menutup jalan.


“Brengsek!” rutuknya sebal.


***

__ADS_1


__ADS_2