Suling Maut

Suling Maut
Luo Sen Khang Bertemu Ouwyang Ping


__ADS_3

Di Wisma Bambu, Luo Sen Khang tengah bersama orangtua dan adiknya di ruang duduk di kamar kerja ayahnya. Mereka tengah memperbincangkan masalah yang serius. Masalah masa depan Sen Khang.


Selama dua tahun ini, waktu Sen Khang terbagi antara Wisma Bambu dan Lembah Nada. Selama beberapa bulan pertama setelah pernikahan bibinya, ia tinggal di Lembah Nada. Ia tidak ikut ketika orangtua dan adiknya kembali ke Wisma Bambu. Ia tetap bersama Chien Wan di Lembah Nada. Dan itu tidak sia-sia. Bakatnya menarik perhatian Tuan Ouwyang Cu sehingga pria tua itu mengajarkan beberapa ilmu tangan kosong yang hebat.


Namun walau Sen Khang merasa sangat kerasan di Lembah Nada, ia tak bisa mengelak ketika ayahnya memanggilnya pulang. Bagaimana pun Wisma Bambu-lah rumahnya. Maka ia pun pulang setelah selama enam bulan lebih tinggal di Lembah Nada.


Waktu berlalu demikian cepat dan ia telah berubah. Ia menjelma dari seorang pemuda yang agak nakal dan periang menjadi seorang pria muda yang ramah dan bijaksana. Ia tidak kehilangan sifat nakal dan periangnya, hanya saja ia kini sudah lebih mampu mengendalikannya.


Sekian lama tidak jumpa dengan sahabatnya membuatnya kangen. Ia pun memutuskan untuk berpamitan pada orangtuanya untuk mengunjungi Chien Wan di Lembah Nada. Ia juga memutuskan untuk mengembara setelah itu karena ingin memperluas pengalamannya.


Orangtuanya keberatan karena sesungguhnya mereka ingin Sen Khang segera mencari jodoh. Usia Sen Khang sudah hampir dua puluh dua tahun, sudah sepantasnya mempunyai pendamping. Beberapa gadis cantik dari keluarga baik-baik sudah diperlihatkan padanya. Namun tak satu pun dari mereka yang mengena di hatinya.


Kali ini pun, orangtuanya sedang berusaha melunakkan hatinya.


“Gadis seperti apa yang kauinginkan Sen Khang?” tanya Tuan Luo. “Kau sudah menolak semua gadis yang ditunjukkan makcomblang, padahal mereka semua cantik dan berasal dari keluarga baik-baik.”


Sen Khang menghela napas. “Ayah, aku tidak ingin menikah dengan gadis yang tidak kucintai. Aku sama sekali tidak mengenal gadis-gadis yang ditawarkan makcomblang itu. Aku ingin mencari sendiri jodohku,” katanya dengan nada suara yang tak bisa ditawar lagi.


“Tapi cinta itu bisa tumbuh dengan sendirinya, Nak.” Nyonya Luo menengahi.


“Tidak bagiku, Ibu. Bagiku, cinta adalah sesuatu yang harus dimiliki sejak awal. Cinta adalah dasar yang kuat untuk mengawali suatu pernikahan. Dari sana segalanya bisa timbul; persahabatan, rasa hormat, kepercayaan. Kalau sejak awal saja sudah tidak ada cinta, bagaimana yang lain-lainnya bisa muncul?”


Mendengar ini, kedua orangtuanya berpandangan.


Ting Ting terpana menatap kakaknya. Selama hidup bersama kakaknya, tak pernah diduganya bahwa ternyata kakaknya mempunyai konsep yang begitu kuat tentang pernikahan dan cinta. Alangkah indahnya uraian kakaknya tentang cinta dan pernikahan.


“Jadi?” Tuan Luo kembali memandang putranya.


“Biarkanlah aku mencari dahulu cinta sejatiku, barulah aku akan memikirkan pernikahan,” kata Sen Khang mantap.


“Apakah sudah ada seseorang di hatimu?” desak Tuan Luo.


Sen Khang tercenung. Seseorang di hatinya? Tentu saja ada. Namun ia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuka rahasia hatinya. Maka ia menggeleng.


“Aku akan mengatakannya pada saat yang tepat.”


Lagi-lagi kedua orangtuanya berpandangan. Dan mereka menyerah membujuk Sen Khang dan bujukan itu beralih pada Ting Ting.


“Bagaimana kalau kau saja lebih dulu, Ting Ting?” ujar Nyonya Luo. “Seharusnya seorang adik memang tidak melangkahi kakaknya. Tetapi kami tidak berpandangan sesempit itu. Kami tidak keberatan jika kau yang menikah lebih dulu.”


Wajah Ting Ting memerah. Sebagai seorang gadis, bisa menikah dengan orang yang dicintainya merupakan hal yang diimpikannya. Dan ia mencintai Chien Wan. Ia harus menikah dengan Chien Wan!


“Ting Ting, bagaimana kalau kau Ayah jodohkan dengan Meng Huan?” tanya Tuan Luo.


Saat itu kebetulan Meng Huan ada di balik pintu, mendengarkan percakapan itu. Ia tidak bermaksud menguping, namun ketika lewat ia mendengar masalah perjodohan dan ia tertarik. Hatinya senang sekali mendengar kata-kata gurunya. Ia sudah lama mencintai Ting Ting, tentu saja ia sangat ingin menikah dengan gadis itu. Namun alangkah terkejut dan kesalnya ia ketika mendengar jawaban Ting Ting.


“Tidak, Ayah!” tolak Ting Ting tegas.


“Kenapa?” tanya Tuan Luo bingung. “Bukankah kau dan Meng Huan dekat satu sama lain?”


Ting Ting menggigit-gigit bibirnya. “Ayah, aku memang cukup dekat dengan Kakak Huan, tapi aku hanya menganggapnya sebagai kakak. Aku sama sekali tidak mencintainya, apalagi sampai ingin menikah dengannya!”


Sen Khang menatap adiknya dengan prihatin. “Kau masih mengharapkan Chien Wan rupanya.”


Wajah Ting Ting kembali memerah, namun ia tidak membantah.


Tuan Luo mengerutkan kening. “Chien Wan memang pemuda yang baik. Aku sangat menyukainya. Tapi dia adalah anak adikku. Itu artinya dia adalah saudara sepupumu. Hubungan darah kalian cukup dekat dan aku keberatan kau menikah dengannya.”


Ting Ting cemberut. Ia melupakan rasa malunya dan berkata agak menentang, “Memangnya saudara sepupu tidak boleh menikah?”


“Bukan tidak boleh. Kalian berlainan marga, tentu saja tidak apa-apa. Tetapi... aku kurang setuju dengan pemikiran harus berbesan dengan adikku sendiri. Rasanya agak aneh.”

__ADS_1


Wajah Ting Ting semakin masam. “Kalau Ayah bilang begitu, aku tidak akan membantah. Tetapi aku tetap tidak mau menikah dengan Kakak Huan. Bahkan rasanya aku tidak berminat lagi dengan pernikahan!”


“Ting Ting!” hardik Tuan Luo.


Meng Huan mengepalkan tinju dengan geram bercampur sedih. Ia sangat tersinggung dengan sikap Ting Ting, namun harus bagaimana lagi.


Sementara itu, Tuan dan Nyonya Luo merasa putus asa dengan keputusan putra dan putrinya. Namun mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Mereka pun tak lagi berusaha menghalangi ketika Sen Khang berpamitan hendak mengunjungi Lembah Nada.


Maka Sen Khang pun pergi.


***


Luo Sen Khang berjalan di tengah keramaian kota. Ia melangkah dengan santai dan sama sekali tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk di sekitarnya. Penampilannya menarik perhatian orang, terutama para gadis. Wajahnya yang tampan dan kharismatik, serta pakaiannya yang rapi dan indah membuat orang-orang menduga ia adalah seorang putra bangsawan.


Ia sengaja lewat jalan besar dalam perjalanannya ke Lembah Nada karena ia tidak ingin terburu-buru. Ia ingin menikmati dulu suasana kota besar sebelum tiba di Lembah Nada.


Tiba-tiba, ia melihat keributan di depan sebuah rumah bordil.


Seorang perempuan tengah ditarik-tarik dan dipukuli dengan tongkat oleh seorang laki-laki kasar. Perempuan itu tampak kusut masai dan luka-luka. Rambutnya berantakan dan ia menangis meratap. Seorang bocah lelaki berlarian di sampingnya sambil berteriak-teriak, “Ibu! Ibu! Jangan pukuli ibuku!”


Orang-orang di sekitar mereka hanya diam menonton karena mereka tak mau mencampuri urusan mereka. Apalagi mereka tahu siapa laki-laki kasar itu. Laki-laki itu adalah tukang pukul rumah bordil yang kejam.


“Ibu!”


Buk! Tongkat di tangan laki-laki itu menghantam punggung si bocah hingga tersungkur.


“Diam! Ibumu sudah dijual ke rumah bordil! Pergi sana!” bentak si tukang pukul.


“Jangaaan!!!” Perempuan itu menyerbu anaknya dan mendekapnya. “A Siong! A Siong!” tangisnya panik melihat darah mengalir dari mulut anaknya.


“Ibuuuu!”


“A Siong—jangaaan!!!” Perempuan itu berusaha melawan ketika tangannya ditarik dengan keras.


“Aku tidak mau! Aku tidak mau jadi pelacur!” Perempuan itu meronta-ronta sementara anaknya menangis menjerit-jerit, “Ibu! Ibu!”


“Dasar anak haram sialan!” Tendangan tukang pukul menghantam A Siong hingga anak itu terpental dan terguling di dekat kaki Sen Khang.


“A Sioooong!!!”


Sen Khang cepat membungkuk untuk memeriksa bocah itu. Ia mengangkat tubuh bocah itu dan bergerak hendak menghajar si tukang pukul. Ia sangat marah melihat kekejaman yang berlangsung di depan matanya. Namun sebelum ia sempat bertindak, terdengar suara dentingan berirama yang sangat merdu sekaligus juga menyeramkan.


Dan bersamaan dengan suara denting itu, sesosok bayangan keemasan melayang mendekati mereka.


Sen Khang nyaris saja berteriak gembira melihatnya. Tetapi ia tertegun dan membatalkan niatnya karena wajah yang amat dikenalnya itu begitu dingin dan misterius.


Sosok keemasan itu adalah Ouwyang Ping. Sudah beberapa bulan terakhir ini ia mengucapkan selamat berpisah pada Kelelawar Hitam. Ia pergi mengembara seorang diri dan entah bagaimana timbul keinginan di hatinya untuk pulang ke Lembah Nada. Saat lewat di tempat ini ia melihat ketidakadilan yang terjadi di depan matanya dan ia tidak bisa diam saja.


Ia melangkah dengan sangat cepat hingga seolah melayang mendekati perempuan yang tersiksa itu. Dengan gerakan cepat, diraihnya lengan si perempuan. Tukang pukul itu kaget hingga cengkeramannya mengendur. Dengan mudah perempuan itu lepas dari tangannya dan ia segera berlari menghampiri putranya yang tengah digendong Sen Khang.


Sesaat kemudian, tukang pukul itu tersadar.


“Kurang ajar! Siapa kau? Berani-beraninya menggangguku!” bentaknya.


Ouwyang Ping memandang dengan begitu dingin hingga mau tak mau tukang pukul itu jadi bergidik. “Laki-laki pengecut! Beraninya hanya pada perempuan!”


“Diam! Jangan ikut campur kau! Majikanku sudah membeli perempuan itu dengan harga mahal. Tapi dia tidak mau bekerja. Sudah sepantasnya dia dipukul!” seru tukang pukul.


“Manusia bukan barang dagangan,” kata Ouwyang Ping.


“Dia bukan manusia!” bentak tukang pukul. “Dia sudah menjadi milik majikanku!”

__ADS_1


“Aku takkan menyerahkannya kembali.”


“Keparat!” Pria itu melayangkan tongkatnya hendak menyerang Ouwyang Ping. Namun sebelum pria itu menyentuhnya, ia sudah berhasil menjatuhkan pria itu. Gerakannya sangat cepat hingga nyaris tak terlihat oleh pandangan orang awam. Tiba-tiba saja pria itu sudah terjatuh dan mengerang-erang kesakitan.


Orang-orang mengerumuni mereka dan bertepuk tangan. Mereka semua takut dan benci pada tukang pukul itu, namun selama ini tak ada yang berani melawannya. Melihat tukang pukul itu dikalahkan, tentu saja mereka gembira bukan main.


“Bagus, Nona! Hajar saja dia!” seru seorang pria.


“Ya, dia itu penjahat!” sambut yang lain.


Saat orang-orang mengerumuni si tukang pukul, Ouwyang Ping pun berkelebat pergi dan hanya meninggalkan suara dentingan harpa yang sangat mengesankan bagi warga kota. Kini mereka tidak takut lagi pada tukang pukul yang berhasil dilumpuhkan itu. Mereka beramai-ramai menggotongnya ke pengadilan kota. Tukang pukul itu memang sudah lama diincar oleh pemerintah, namun selama ini tak ada yang berhasil mengalahkannya. Semua petugas pemerintahan di kota itu dibuat tak berdaya olehnya. Kini dengan tak berdayanya si tukang pukul, mudah bagi mereka untuk mengganjarnya dengan hukuman.


Diam-diam, Sen Khang menyelinap dari kerumunan sambil membawa ibu dan anak yang sementara itu sudah tidak dipedulikan lagi oleh warga kota.


***


“Sekarang Nyonya pulang saja dan bawalah anak Nyonya pergi,” kata Sen Khang.


Perempuan itu sudah berhenti menangis dan kini memeluk putranya dengan penuh rasa syukur. “Terima kasih banyak atas pertolongan Tuan Pendekar. Entah bagaimana saya dapat membalas budi baik Anda dan Nona tadi....” katanya tersendat.


“Jangan bicara begitu, Nyonya.”


“Hanya saja....” Perempuan itu kembali terisak. “Saya tak tahu harus pergi ke mana. Saya sudah dijual oleh ayah tiri saya. Saya pasti celaka kalau pulang.”


“Memangnya Nyonya tidak punya suami?” tanya Sen Khang heran.


Perempuan itu semakin sedih. “Suami saya meninggal dunia, Tuan. Kami orang miskin. Sejak suami saya meninggal, saya pulang ke rumah ibu dan ayah tiri saya. Tetapi mereka tidak suka saya di sana. Mereka ingin saya pergi, maka saya dijual,” kisahnya memilukan.


Sen Khang tercenung. Lalu ia mengeluarkan sekantung uang tembaga dan menyerahkannya pada perempuan itu. “Pergilah ke Wisma Bambu dan temui Tuan dan Nyonya Luo. Kalian bisa meminta pekerjaan pada mereka. Pakailah uang ini untuk biaya perjalanan.”


Perempuan itu tercengang. “Tapi... bagaimana kalau kami ditolak?”


Sen Khang menggeleng. “Kalian sebut saja bahwa kalian disuruh datang oleh Luo Sen Khang, kemudian ceritakan peristiwa tadi. Pasti mereka akan menerimamu.”


Perempuan itu menerima kantung uang dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Lalu mereka pergi.


Sen Khang mengamati kepergian mereka dan menggeleng-geleng. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi hendak mencari Ouwyang Ping.


“Apa kabar, Kakak Luo?”


Suara merdu itu membuat langkah Sen Khang terhenti. Cepat ia memutar tubuhnya. Wajahnya berseri-seri melihat Ouwyang Ping berdiri di hadapannya. Gadis itu lebih kurus daripada dulu. Ia kelihatan semakin anggun dan dewasa meski ada sinar kepahitan yang menodai mata indahnya.


“Ping-er!” seru Sen Khang gembira. Ia mendekat. “Sudah dua tahun kita tidak berjumpa.”


Ouwyang Ping tersenyum lembut.


Sen Khang mengamati gadis itu dengan seksama. “Jadi,” ujarnya, “kaulah yang selama ini menggemparkan Dunia Persilatan dengan gerak-gerikmu yang serba misterius, dan terkenal sebagai Harpa Kencana!”


“Itu hanya sebutan sejumlah orang yang kutemui. Sama sekali tidak menggemparkan seperti katamu.”


“Kau masih tetap seperti dulu. Entahlah dengan Chien Wan. sudah setahun lebih aku tidak mengunjunginya. Dan dia juga tidak pernah mengunjungiku. Terlalu!” Sen Khang menggeleng sebal. Namun seketika ia tersadar dan terpaku menatap Ouwyang Ping. Celaka! Ia telah kelepasan menyebut nama Chien Wan!


Namun tak tampak perubahan apa pun pada wajah Ouwyang Ping yang tenang. Rupanya gadis itu sudah pulih dari perasaan sakitnya dua tahun yang lalu. Mungkin dua tahun sudah cukup untuk mengubah perasaan Ouwyang Ping.


Entah mengapa Sen Khang merasa lega.


“Ke mana tujuanmu, Ping-er?” tanya Sen Khang mengalihkan pembicaraan.


“Aku mau pulang.”


“Ke Lembah Nada?” seru Sen Khang gembira. “Kebetulan! Aku juga mau ke sana. Bagaimana kalau kita pergi bersama?”

__ADS_1


Ouwyang Ping mengangguk tanpa banyak bicara.


Sebenarnya Ouwyang Ping cuma bersandiwara. Ia tak menampakkan perasaan yang sebenarnya di depan Sen Khang. Sen Khang tidak boleh tahu bahwa sebenarnya ia masih merasa sedih dan terluka. Sekarang ia sudah sangat pintar berpura-pura. Ia semakin pandai menyembunyikan luka di hatinya.


__ADS_2