Suling Maut

Suling Maut
Partai Kupu-Kupu


__ADS_3

Chien Wan meninggalkan Lembah Nada keesokkan harinya pagi-pagi sekali saat matahari baru saja terbit di ufuk timur. Ia melangkah menjauhi rumahnya tanpa tujuan yang berarti. Ia hanya melangkah mengikuti ke mana kaki membawanya.


Selama berminggu-minggu ia melakukan perjalanan dan akhirnya tibalah ia pinggir sebuah danau luas. Pemandangan danau itu sangat indah dan asri. Suasana sepi dan tak terlihat seorang pun di sana. Ia duduk di pinggir danau, di bawah sebatang pohon berdaun rindang. Hatinya tergerak untuk meniup sulingnya. Maka ia mulai meniup suling memainkan sebuah lagu berirama sendu.


Tiba-tiba ia menghentikan permainan sulingnya manakala mendengar bunyi pertempuran. Ia berdiri dan mempertajam pendengarannya untuk mencari di mana asal suara. Ia melompat berlari ke arah suara.


Pandangannya bertumbuk pada perkelahian yang sangat seru. Beberapa orang pria tengah mengeroyok seorang gadis cantik berpakaian serba ungu. Gadis itu melawan dengan bersenjatakan sehelai selendang tipis warna ungu. Walau hanya sehelai selendang, ternyata bisa juga menjadi senjata yang berguna. Selendang itu meliuk-liuk, kadang lemas bagai ular yang hendak membelit, kadang kaku dan keras menyerupai pedang.


Akan tetapi seperti apa pun hebatnya gadis itu melawan, jelas ia kewalahan menghadapi keroyokan dari tujuh orang pria bertubuh besar dan berkepandaian tinggi. Gadis itu pun mulai terdesak, namun tetap tidak menyerah.


Chien Wan berdiri di sisi jalan dan bersandar di sebuah pohon rindang. Memperhatikan jalannya pertempuran, namun tak berminat ikut campur. Ia malah mulai meniup sulingnya, melantunkan nada-nada yang sangat indah dan memabukkan. Pengaruh suara suling itu sangat menakjubkan. Orang-orang yang tengah bertempur itu mulai terpengaruh. Mereka merasa sangat pusing hingga terhuyung tanpa sadar. Semua terpengaruh tanpa kecuali, termasuk si gadis.


Itulah salah satu ilmu suling Chien Wan yang amat luar biasa. Suatu ilmu yang bertujuan membuyarkan konsentrasi orang. Irama yang meliuk-liuk itu mengacaukan pusat pendengaran dan akhirnya akan mempengaruhi otak manusia sehingga menimbulkan rasa nyeri dan mabuk yang semakin menjadi.


Para pengeroyok itu menoleh untuk melihat siapakah gerangan orang yang meniup suling dan membuat mereka sulit berkonsentrasi. Dengan geram dan menahan pusing, mereka meninggalkan gadis yang mereka keroyok dan menghampiri Chien Wan.


“Siapa kau? Kurang ajar sekali berani mengganggu kami!” hardik salah seorang yang tampaknya merupakan pimpinan mereka.


Chien Wan menurunkan sulingnya dan mengeluarkan sehelai kain sutra. Ia mulai mengelap sulingnya dan tidak mengacuhkan mereka.


“Manusia keparat! Jawab pertanyaanku!” bentak si pemimpin marah, merasa diacuhkan.


Chien Wan tidak mempedulikan mereka. Ia terus membersihkan sulingnya lalu berkata tanpa menoleh, “Aku tidak menganggu kalian, aku hanya meniup sulingku.”


“Keparat!” bentak si pemimpin yang berang melihat sikap Chien Wan yang dianggapnya sebagai ejekan. “Tak tahukah kau siapa yang kau hadapi? Aku adalah Hao Sing Yat, Pendekar Bertenaga Harimau!”


Kening Chien Wan berkerut. Hao Sing Yat, Pendekar Bertenaga Harimau? Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Ia berpikir dan seketika rahangnya mengeras. Ia ingat sekarang. Dua tahun yang lalu orang inilah yang menganggu Ouwyang Ping saat gadis itu tengah mandi.


Hao Sing Yat tertawa pongah. Ia menyangka diamnya Chien Wan karena takut mendengar namanya. Ia sama sekali tidak ingat akan pemuda itu. Ia tak menduga sama sekali bahwa pemuda ini pernah dijumpainya dua tahun lalu dan sangat membuatnya ngeri.


“Kalau masih sayang nyawamu, pergi sekarang!” usirnya angkuh.


Chien Wan memandang tajam dan dingin pada Hao Sing Yat. “Kau saja yang pergi.”


Wajah Hao Sing Yat merah padam. “Kurang ajar! Serang!” perintahnya pada anak buahnya.


Serentak mereka mengepung dan menyerbu Chien Wan. Kali ini Chien Wan tidak meniup sulingnya, melainkan bertarung dengan mengerahkan jurus-jurus khas Lembah Nada. Ia menggunakan sulingnya sebagai senjata dan seluruh gerakannya sangat mengagumkan. Di tangannya, suling yang merupakan alat musik berubah menajdi senjata yang mematikan.

__ADS_1


Hao Sing Yat seketika mengenali gerakan itu.


“Kau... orang Lembah Nada...!” serunya kaget. Ia pun teringat kembali peristiwa di tepi danau tempo hari. Ia sangat menyesal mengapa bisa lupa pada orang ini. Kalau saja ia ingat pemuda berbaju hitam ini, ia takkan mencari gara-gara dengannya.


“Mundur! Mundur!” perintah Hao Sing Yat dan segera dipatuhi anak buahnya dengan lega. Mereka pun berlarian meninggalkan tempat itu.


Seperti biasa, Chien Wan enggan mengejar.


Gadis berpakaian serba ungu yang tadi dikeroyok itu sejak tadi mengamati semuanya dengan penuh kekaguman. Ia diam tak bergerak sedikit pun menyaksikan jalannya pertarungan. Ketika orang-orang itu melarikan diri, ia pun menghampiri Chien Wan.


“Terima kasih telah menolongku, Pendekar.”


Chien Wan menoleh dan bertatapan dengan gadis itu. Sepasang mata gadis itu indah dan jujur. Senyumnya mengembang manis di wajah cantiknya. Mau tak mau Chien Wan membalas senyumnya.


“Jangan memanggilku seperti itu. Aku bukan pendekar.”


“Lalu aku harus memanggil apa?” tanya gadis itu. “O ya, namaku Wu Kui Fang. Aku dari Partai Kupu-Kupu. Siapakah Tuan?”


“Namaku Ouwyang Chien Wan.”


Chien Wan mengangguk.


“Wah, pantas saja kau bersenjata suling....” Mendadak saja Kui Fang tercengang. “Kau Suling Maut!” serunya kemudian.


Chien Wan tampak agak risih dipanggil dengan nama julukannya. Ia tidak tahu bahwa julukan Suling Maut itu sudah terkenal ke seluruh Dunia Persilatan sejak pertemuan para pendekar dua tahun lalu. Sejak saat itu, semua pendekar tak henti-hentinya membicarakan kehebatan dua pemuda. Yang satu dari Wisma Bambu, dan satunya lagi si Suling Maut dari Lembah Nada.


“Semua orang di partai kami selalu membicarakan namamu. Tak sangka hari ini aku berkesempatan melihatmu. Sungguh merupakan kehormatan bagiku.” Kui Fang memberi hormat.


Chien Wan tampak tak enak hati. “Sudahlah, jangan berlebihan.”


Kui Fang tertawa ceria. “Kakak Ouwyang, boleh kan kupanggil kau begitu?”


Chien Wan mengangguk.


“Aku sangat bersyukur atas kehadiranmu tadi. Kalau kau tidak datang, entah aku harus bagaimana. Tadi aku sedang berjalan-jalan dan tiba-tiba saja mereka menghadang dan bertingkah kurang ajar padaku. Kepandaianku masih rendah dan aku tidak mampu melawan mereka. Untung kau datang dan mengusir mereka semua.”


Chien Wan menghela napas. “Cuma kebetulan saja.”

__ADS_1


“Bagaimana pun juga, aku ingin membalas kebaikanmu. Maukah kau datang ke partai kami? Ayah dan ibuku pasti ingin bertemu dengan orang yang sudah menolong putrinya.” Kui Fang menatap penuh harap.


Hati Chien Wan tergerak. Ditatapnya sepasang mata yang bening dan hangat itu, dan tanpa sadar ia mengangguk.


***


Kedatangan Chien Wan ke Partai Kupu-Kupu disambut dengan hangat dan ramah oleh ketua partai dan istrinya. Mereka sudah lama mendengar kebesaran nama Suling Maut dan gembira sekali karena berkesempatan mengenalnya dengan lebih dekat. Dan ternyata Suling Maut sama sekali berbeda dari anggapan mereka semula.


Mereka tak menduga bahwa pendekar terkenal yang berasal dari Lembah Nada ini ternyata begitu sederhana, pendiam, dan cenderung tertutup. Namun begitu, mereka tidak bisa tidak menyukai Chien Wan. Pemuda itu memang selalu menarik perhatian walau sifatnya begitu.


Dan yang lebih membuat mereka tertarik adalah kenyataan bahwa sejak kedatangan Chien Wan, Kui Fang terlihat sangat senang.


“Kakak Ouwyang, mengapa kau pergi meninggalkan Lembah Nada? Apa kau sedang mencari seseorang?” tanya gadis itu pada suatu hari. Saat itu mereka sedang berbincang-bincang di taman. Kui Fang sangat tertarik mengetahui mengapa Chien Wan pergi meninggalkan rumahnya.


Chien Wan mengangguk. “Aku sedang mencari adik perempuanku.”


“Memangnya dia pergi dari rumah?”


“Dia meninggalkan Lembah Nada dua tahun yang lalu. Mungkin sekarang dia tinggal di rumah pamanku di Wisma Bambu,” jawab Chien Wan.


“Oh, begitu. Mudah-mudahan kau segera bertemu dengan adikmu,” kata Kui Fang sambil tersenyum manis.


Chien Wan menatap gadis itu. Kui Fang sangat berbeda dengan semua gadis yang dikenalnya selama ini. Gadis itu manis dan hangat. Ia tidak secantik dan selincah Ting Ting, tidak seanggun Ouwyang Ping, dan tidak senakal Siu Hung. Gadis itu memiliki perpaduan karakter ketiganya. Dan yang sangat istimewa mengenai gadis ini adalah kejujurannya. Gadis ini memiliki wajah dan sifat yang begitu polos dan jujur, sepasang mata yang tak mampu berbohong.


Entah mengapa semua ini membuat Chien Wan merasa tenang.


Keramahan semua orang di Partai Kupu-Kupu membuat Chien Wan kerasan. Namun membicarakan Wisma Bambu membuatnya berpikir untuk mengunjungi paman dan bibinya di sana. Ia sudah lama sekali tidak berkunjung ke Wisma Bambu.


Walau kini ia seorang tuan muda di Lembah Nada, ia tak dapat melupakan masa lalunya. Ia tak pernah lupa akan kebaikan hati Tuan dan Nyonya Luo terhadapnya yang waktu itu hanya dikira sebagai anak desa yang miskin. Mereka memperlakukannya sama seperti memperlakukan putra dan putrinya. Ia sangat bersyukur untuk itu.


Karena itulah, setelah hampir seminggu di Partai Kupu-Kupu ia berpamitan pada mereka semua untuk pergi ke Wisma Bambu.


Awalnya Kui Fang mencegah kepergiannya. Gadis itu memintanya untuk tinggal selama beberapa hari lagi. Namun Chien Wan mulai kalut menerima perhatian gadis itu. Hatinya mulai tergerak dan ia menjadi agak risau. Menerima perhatian gadis itu berarti memberinya harapan. Sedangkan saat ini ia bahkan belum bisa melupakan masa lalunya. Ia tidak boleh menyakiti hati Kui Fang dengan memberikan harapan yang tak pasti.


Maka dengan berat hati, ia berkeras hendak pergi.


Kepergiannya dilepas Kui Fang dengan sedih. Gadis itu terus melambai-lambaikan tangan sampai Chien Wan tak terlihat lagi.

__ADS_1


__ADS_2