
Semua sepakat akan mengadakan upacara pernikahan seminggu kemudian. Bagaimana pun mereka tidak mungkin menunggu sampai kandungan Ting Ting membesar dan terlihat oleh orang lain.
Ting Ting menolak mengenakan pakaian pengantin yang dahulu pernah dipakainya saat hendak menikah dengan Meng Huan. Baginya gaun itu membawa sial karena pernah dipersandingkan dengan penghancur masa depannya.
“Kalau begitu kita gunakan saja pakaianmu yang biasa,” putus Ouwyang Ping. “Untung dulu kau menggemari warna merah jadi kita bisa menggunakan pakaian lamamu. Hanya perlu diubah sedikit saja.”
“Betul,” angguk Sui She. Ia beranjak ke lemari pakaian dan mengeluarkan seperangkat pakaian ringkas yang sudah berumur tiga tahun, tetapi masih tampak baru dan indah. “Yang ini saja, ya?” katanya. Lalu tanpa menunggu persetujuan gadis itu, ia beranjak keluar kamar menuju kamarnya sendiri untuk mengambil alat jahit, bagaimana pun ukuran baju itu harus diperbesar, terutama di bagian pinggang.
Ting Ting terpaku melihatnya dan tersipu.
“Ada apa?” Ouwyang Ping melihat kelakuan Ting Ting.
“Fei Yu... pertama kali dia melihatku, aku sedang memakai pakaian itu,” aku Ting Ting dengan wajah merah padam.
Ouwyang Ping tertawa. “Kebetulan sekali!”
Ting Ting menghela napas. “Aku tidak menyangka sama sekali kalau dia yang akan menjadi jodohku. Waktu itu aku begitu tergila-gila pada Kakak Wan,” katanya pelan.
Ouwyang Ping tercenung. “Benar. Aku juga sama saja.”
“Sekarang bila mengingat masa lalu, aku begitu merasa bersalah. Seandainya saja sejak dulu aku lebih memperhatikan Fei Yu... tentunya dia tidak akan mendapatkan aku dalam keadaan seperti ini....”
Ouwyang Ping menggeleng. “Justru dengan begini kau jadi tahu apakah cintanya padamu tulus atau tidak. Sudah terbukti, kan? Dia begitu tulus padamu. Buktinya, dia tidak keberatan dengan keadaanmu yang seperti ini.”
Ting Ting mengangguk.
“Kau sendiri... apa masih menyukai Kakak Wan?” tanya Ting Ting beberapa saat kemudian dengan hati-hati.
Ouwyang Ping tertegun. Perlahan ia mendesah. “Bohong bila aku bilang sudah melupakan kenangan masa lalu, Ting Ting. Tetapi kita tidak bisa hidup berpatokan pada masa lalu, kan? Maksudku, hidup terus berlanjut. Kakak Wan sudah bersama Kui Fang dan aku....” Ia tersenyum pada Ting Ting. “Mungkin kami lalai dan belum sempat memberitahukanmu. Tapi aku juga sudah dijodohkan dengan kakakmu. Kakek yang mengaturnya sewaktu di Pulau Ginseng.”
Mata Ting Ting terbelalak. “Sungguh?”
Ouwyang Ping mengangguk.
“Bagus sekali!” seru Ting Ting gembira. “Sekarang kita bukan hanya sepupu, tapi juga saudara ipar!”
“Ssst!” Ouwyang Ping meletakkan jari di mulutnya. “Jangan keras-keras. Ayah dan ibuku juga belum tahu akan masalah ini. Aku ingin Kakek saja yang membicarakannya.”
Ting Ting menggenggam erat tangan Ouwyang Ping. “Aku senang sekali,” katanya dengan suara bergetar. “Sejak dulu kakakku menyukaimu. Aku ingin kau tahu itu. Dia memendam perasaannya karena tak ingin membebanimu. Apalagi waktu itu kau milik Kakak Wan. Kakakku pantang merebut kekasih sahabatnya sendiri.”
“Aku tahu itu,” senyum Ouwyang Ping.
***
Pernikahan Fei Yu dan Ting Ting hanya memerlukan waktu seminggu untuk persiapannya. Tak ada undangan yang disebarkan. Hanya kepada sahabat-sahabat dekat mereka saja. Khususnya Pendekar Sung dan Partai Kupu-Kupu.
Kui Fang mendengar berita pernikahan itu dan merasa sangat gembira. Namun ia merasa kecewa karena tidak bisa menghadirinya. Ibunya belum sembuh dari sakitnya. Ayahnya tidak ingin pergi sebelum ibunya sembuh, dan juga tidak mengizinkannya pergi. Terpaksalah mereka tidak bisa datang dan hanya mengirimkan kurir untuk membawakan hadiah.
__ADS_1
Wen Chiang-lah yang mereka kirim.
“Ketua kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidakhadiran beliau. Maklumlah, Nyonya Wu sedang sakit keras.”
“Tidak apa-apa,” kata Ouwyang Kuan ramah. “Semoga Nyonya Wu lekas sembuh.”
Wen Chiang melihat pada Chien Wan. “O ya, Nona Wu mengirimkan surat untuk Anda, Pendekar Ouwyang.” Ia mengambil sepucuk surat dari saku pakaiannya dan menyerahkannya pada Chien Wan.
Chien Wan menerimanya dan menyimpannya.
“Apa isinya?” usik Siu Hung penasaran. “Bukalah dan bacakan untukku!”
“He, Anak nakal! Untuk apa kau minta dibacakan? Surat itu untuk Chien Wan seorang. Kau ini benar-benar tidak tahu sopan santun!” omel Tuan Ouwyang.
Siu Hung memberengut.
Chien Wan tersenyum dan menyimpan surat itu di dalam sakunya, membuat cemberut Siu Hung semakin dalam dan senyum kemenangan Tuan Ouwyang semakin lebar.
Kelucuan Siu Hung agak membuat Wen Chiang terpesona, namun ia segera bersikap biasa. Ouwyang Kuan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam dan beristirahat.
Chien Wan mengundurkan diri dari ruang tamu dan pergi ke kamarnya. Di sana ia membuka surat yang dikirimkan Kui Fang padanya. Ia membacanya:
Kakak Wan yang baik,
Bagaimana keadaanmu di sana? Aku harap kau baik-baik saja. Di sini aku juga baik-baik saja. Keadaan ibuku sudah jauh lebih baik. Hanya saja kondisinya masih lemah sehingga aku tidak bisa meninggalkannya untuk berkunjung ke Wisma Bambu.
Aku sangat ingin bertemu denganmu, Kakak Wan. Berpisah darimu selama hampir sepuluh hari rasanya seperti sepuluh tahun lamanya. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan merasakan hal yang seperti ini. Aku berharap kau juga merindukan aku seperti aku merindukanmu.
Kapan kita akan bertemu lagi? Kau berjanji akan menyusulku di Partai Kupu-Kupu. Aku akan selalu menantikanmu, Kakak Wan. Setiap hari akan kulewatkan dengan menunggumu. Aku hanya berharap penantianku tidak akan lama lagi dan kau akan datang mengunjungiku segera.
Bagaimana kabar yang lain? Sudahkah kaumintakan maaf pada orangtuamu karena aku tidak sempat berpamitan pada mereka? Bagaimana kabar kakekmu dan Siu Hung? Ping-er dan Kakak Luo? Semoga baik-baik saja.
Sekian dulu surat dariku, Kakak Wan. Aku akan selalu menanti dan berdoa untukmu.
Dariku yang merindukanmu, Kui Fang.
Chien Wan tersenyum dan melipat surat itu kembali, lalu memasukkannya di saku dalam pakaiannya. Ia merebahkan dirinya dan memejamkan mata. Wajah manis Kui Fang melintas di benaknya. Digelengkannya kepalanya dengan heran, merasa takjub dengan dirinya sendiri. Tak pernah disangkanya dirinya akan kasmaran seperti sekarang ini. Kerinduannya pada Kui Fang terasa memuncak. Tak sabar rasanya menunggu sampai upacara perkawinan itu selesai supaya dia bisa menjenguk Kui Fang di Partai Kupu-Kupu seperti janjinya pada gadis itu.
***
Upacara pernikahan antara Ting Ting dan Fei Yu berlangsung dengan sangat sederhana namun khidmat. Memang tidak mungkin mengadakan pesta besar-besar dengan persiapan sesingkat itu. Apalagi mengingat keadaan Ting Ting yang tengah mengandung lima bulan.
Ting Ting tampak cantik dan berseri. Kehamilannya sama sekali tidak terlihat. Orang yang tidak tahu akan menganggapnya sebagai gadis yang bertubuh agak montok, bukan sedang hamil. Sepasang matanya tampak cerah, tanda bebannya telah jauh berkurang. Dan memang demikian. Ketulusan hati Fei Yu benar-benar telah menyentuh hati dan jiwanya. Bersama Fei Yu, ia tidak akan merasa terhina atau dilecehkan. Fei Yu memujanya dan mau menerimanya apa adanya. Fei Yu memang tidak romantis, bahkan cenderung ketus dan lugas. Namun hatinya lembut dan penuh kasih. Ting Ting lebih menghargainya ketimbang kemesraan luar yang palsu.
Kebahagiaan melanda hati Fei Yu sehingga pemuda itu tak henti-hentinya tersenyum. Ia terlihat begitu tampan pada hari yang berbahagia itu. Ia memandangi istrinya dengan kebanggaan dan kebahagiaan yang tak terkira.
Tuan Chang menatap putranya yang mabuk kepayang oleh mempelainya. Kebahagiaan Fei Yu melenyapkan perasaan berkeberatan yang sebenarnya masih melanda hatinya. Mungkin memang seharusnya demikian, pikirnya. Fei Yu menjadi dewasa berkat cintanya pada Ting Ting, menjadi pria yang dapat diandalkan oleh semua orang, bijaksana dan berjiwa besar. Tak ada anak yang lebih membanggakan hati orangtua selain anak dengan sifat semacam itu.
__ADS_1
Mempelai putri dibawa ke kamar pengantin sementara sang suami dijamu oleh kerabatnya. Mereka menggoda pemuda yang berbahagia itu sampai wajah pemuda itu merah padam karena malu bercampur bahagia.
“Fei Yu, aku bersulang untukmu!” Sen Khang mengangkat cawan araknya. “Kuserahkan adikku ke tanganmu. Bahagiakanlah dia!”
Fei Yu mengangkat cawannya. “Seharusnya aku yang bersulang untukmu. Kau kan kakak iparku! Maaf karena sudah melangkahimu.”
Sen Khang tertawa dan menenggak araknya.
“Kapan kau menyusul?” tanya Siu Hung penuh minat pada Sen Khang.
Sen Khang tertawa. “Masih lama. Masih banyak urusan yang perlu dibereskan.” Ia melirik Ouwyang Ping yang wajahnya merona.
Mereka bercakap-cakap dengan gembira dan membicarakan berbagai hal.
Hari sudah menjelang malam ketika mempelai pria yang mabuk digiring oleh teman-temannya ke kamar pengantin. Langkahnya limbung dan tak henti-hentinya menabrak barang-barang.
Ting Ting sudah menunggu di atas pembaringan yang berselimutkan kain sutra merah bersulam burung hong. Kelambunya juga berwarna merah dan terbuat dari bahan halus dan tembus pandang. Aroma harum menguar di kamar pengantin itu. Kepala Ting Ting tertutup kain merah. Ia menunggu kedatangan suaminya sejak selesainya upacara ditemani oleh perias pengantin.
Pintu kamar terbuka diselingi suara tawa beberapa pria. Masuklah Fei Yu ke dalam ruangan dengan langkah limbung. Penata rias pengantin segera keluar setelah menuangkan arak pengantin.
Fei Yu menunggu sampai semua orang keluar dari kamarnya dan berhenti berpura-pura mabuk. Ia sengaja berpura-pura mabuk karena jika tidak, mereka tidak akan mau membiarkannya pergi menemui mempelainya. Ia melangkah menuju pembaringan. Perlahan, dibukanya cadar yang menutupi wajah cantik istrinya.
Wajah Ting Ting yang jelita tampak merona kemerahan. Sorot matanya tampak malu-malu dan lembut, pandangannya menunduk ke bawah sehingga tidak perlu menatap Fei Yu. Ia merasa malu dan canggung menghadapi malam pertamanya ini.
Ia memang bukan perawan lagi, namun sesungguhnya ia belum berpengalaman sama sekali. Apa yang terjadi padanya dahulu adalah paksaan dan ia sama sekali tidak menyukainya. Ia tidak merasakan apa pun kecuali sakit yang luar biasa. Kini menghadapi malam pertama yang sebenarnya, ia merasa ragu dan tidak pasti. Juga sedikit takut.
Fei Yu memahami perasaannya. Inilah saatnya membuktikan betapa ia sangat mencintai dan mempedulikan perasaan Ting Ting. Ia sendiri belum berpengalaman, namun nalurinya memperingatkan dirinya agar berhati-hati terhadap pengantinnya. Ia merasa Ting Ting pasti merasa trauma. Maka ia hanya duduk saja dan memandangi gadis itu.
Mereka duduk berhadapan di atas pembaringan, minum arak pengantin. Lalu Fei Yu menatapnya dengan lembut. Tangannya merogoh ke dalam saku pakaiannya, mengeluarkan benda yang selalu dibawanya ke mana pun.
“Fei Yu....” Ting Ting menatap heran.
Fei Yu mengangkat tangan ke hadapan Ting Ting, memperlihatkan benda yang diambilnya. Sebuah tusuk rambut cantik yang terbuat dari batu mulia merah yang bersinar di antara cahaya lilin.
Ting Ting terbelalak. “Fei Yu, ini....”
“Kau masih ingat? Aku mengambil tusuk rambut ini dari rambutmu pada saat kita bertemu untuk pertama kali. Karena tusuk rambut ini kuambil, rambutmu jadi terurai. Selama hampir tiga tahun, benda ini selalu ada bersamaku. Kuanggap ini sebagai pengganti dirimu,” terang Fei Yu dengan suara lembut yang selama ini jarang digunakannya.
Mata Ting Ting berkaca-kaca. Tak disangkanya cinta Fei Yu ternyata demikian dalam. “Oh, Fei Yu...,” desahnya setengah terisak.
“Sekarang, aku mendapatkanmu. Maka aku akan mengembalikan tusuk rambut ini padamu. Aku tak perlu lagi memandangnya saat aku merindukanmu dan menganggapnya sebagai pengganti dirimu karena kamu sudah ada di sisiku sekarang,” sambung Fei Yu. Lalu ia memasangkan kembali tusuk rambut itu pada sanggul Ting Ting. Dipandanginya wajah istrinya, lalu berkata, “Kau cantik sekali.”
“Fei Yu.” Ting Ting menyandarkan tubuhnya di dada Fei Yu. Ia amat bersyukur atas keberuntungannya. Mendapatkan pria seperti Fei Yu sebagai suaminya adalah anugerah yang patut disyukuri. Sungguh jarang sekali laki-laki seperti Fei Yu di dunia ini, yang cintanya tidak goyah oleh apa pun.
Fei Yu memeluknya erat-erat....
***
__ADS_1