Suling Maut

Suling Maut
Penyusup


__ADS_3

“Kau mau ke Partai Kupu-Kupu, Chien Wan?” tanya Ouwyang Kuan.


Saat itu sudah larut malam dan keluarga Ouwyang tengah berkumpul di kamar Ouwyang Kuan dan istrinya. Kali ini benar-benar hanya keluarga Ouwyang: Ouwyang Kuan dan istrinya, Chien Wan, Ouwyang Ping, A Lee, dan Tuan Ouwyang Cu. Mereka tengah berbincang-bincang dan Chien Wan baru saja mengemukakan niatnya pergi ke Partai Kupu-Kupu.


Chien Wan mengangguk.


“Tentu saja dia mau pergi!” kata Tuan Ouwyang keras. “Dia sudah ingin bertemu dengan kekasihnya!”


Chien Wan menunduk, namun tidak membantah.


Ouwyang Kuan dan Sui She berpandangan dengan senang. Mereka sangat bahagia karena akhirnya Chien Wan menemukan belahan jiwanya. Mereka sadar betapa sayangnya Chien Wan pada Kui Fang, terlihat jelas dari sikapnya sewaktu ia terluka dahulu.


“Sebaiknya kalian berdua juga bersiap-siap untuk melamar!” Tuan Ouwyang memandang putra dan menantunya dengan girang. “Dengan begitu kita bisa segera mengadakan pesta pernikahan yang meriah untuk dua orang keturunan keluarga Ouwyang!” serunya menggelegar.


Ouwyang Kuan bengong. “Dua orang keturunan keluarga Ouwyang?”


“Oh, aku belum memberitahukan kalian, ya? Waktu di Pulau Ginseng, aku menjodohkan Ping-er dengan Sen Khang!”


Langsung saja wajah Ouwyang Kuan dan Sui She bercahaya. Akhirnya!


Ouwyang Ping menunduk dengan muka merah padam.


“Ping-er!” seru Sui She gembira sekali. Ia mendekat dan merangkul putri tirinya itu dengan bahagia.


Kepala Ouwyang Ping terangkat. “Ibu tidak berkeberatan, bukan?”


“Oh, Anakku.” Sui She mempererat rangkulannya. “Mengapa kau menyangka aku akan berkeberatan? Sebaliknya, Nak. Dahulu pun ketika kakak dan kakak iparku masih hidup, kami pernah membicarakan kemungkinan itu. Bahkan kami membicarakannya juga dengan Sen Khang.”


Ouwyang Ping terperanjat. “Dengan Kakak Luo?”


“Benar, Ping-er.” Ouwyang Kuan menimpali. “Saat itu kami sudah ingin langsung mempertunangkan kau dengan Sen Khang. Namun Sen Khang meminta pada kami agar bersabar. Dia bilang kau belum mencintainya. Dia ingin menunggu sampai kau bisa memiliki perasaan yang sama dengannya.”


Sepasang mata gadis itu berkaca-kaca.


“Dengan ini kami menyimpulkan bahwa tentu kau sudah memiliki perasaan yang sama dengan Sen Khang. Benar begitu?” tanya Ouwyang Kuan lagi dengan penuh arti.


Ouwyang Ping tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain mengangguk kecil.


“Aku sangat bahagia mendengarnya,” kata Sui She dengan hangat. “Sen Khang adalah pemuda yang baik hati dan bertanggung jawab. Dia bisa membuatmu bahagia. Kau juga bisa membuatnya bahagia. Ibu merestuimu, Anakku. Dengan sepenuh hati.”


Ouwyang Ping mendengarnya dengan lega. Semula ia khawatir ibunya tidak senang. Bagaimana pun, ia adalah anak dari perempuan yang pernah membuat Sui She menderita. mungkin saja Sui She berkeberatan ia menikah dengan Sen Khang, keponakannya. Syukurlah kecemasannya ternyata tidak beralasan. Mereka bahkan sejak dahulu telah merencanakannya.

__ADS_1


“Kita akan mengadakan pesta pernikahan secepatnya!” seru Tuan Ouwyang bersemangat.


“Tapi, Kek,” sela Ouwyang Ping, “kurasa sebaiknya kita tidak membicarakannya dulu. Aku tidak ingin menikah dengan Kakak Luo sebelum semua ini terselesaikan.”


“Apa maksudmu?” ketus Tuan Ouwyang.


“Dendam Wisma Bambu belum terbalaskan, Kek. Chi Meng Huan masih berkeliaran di luar sana. Sebelum kami membalas dendam, kami tidak mungkin dapat memulai hidup baru,” bilang Ouwyang Ping tegas.


“Ping-er benar,” sambung Chien Wan. “Masih terlalu dini untuk membicarakan pernikahan. Sekarang ini yang terpenting adalah menemukan Chi Meng Huan.”


Tuan Ouwyang melotot pada kedua cucunya yang keras kepala itu. Lalu ia mengangkat bahunya. “Kalau begitu, sebaiknya aku pulang ke Lembah Nada saja bersama Siu Hung. Anak itu terlalu banyak bermain di sini karena ada kalian yang memanjakannya!” Ditudingnya putra dan menantunya.


Ouwyang Kuan tersenyum. “Siu Hung itu seperti anak kecil, Ayah. Dia pintar mengambil hati kami sehingga tanpa sengaja kami jadi memanjakannya.”


“Karena itulah!” sergah Tuan Ouwyang. “Dia harus dijauhkan dari kalian!”


“Anak itu sayang sekali pada keluarga kita. Aku bisa merasakannya,” desah Sui She.


“Memang seharusnya begitu!” geram Tuan Ouwyang.


Tiba-tiba....


“Ada maling! Ada maling!”


Ouwyang Kuan melihat Sen Khang. “Apa yang terjadi, Sen Khang?”


“Ada seseorang mencoba menerobos masuk ke bekas kamar Ting Ting. Untung sekarang Ting Ting sudah pindah kamar,” kata Sen Khang. Wajahnya tampak pucat.


Ting Ting gemetar mendengarnya. “Di... dia pasti....”


“Ssst.” Fei Yu merangkulnya dan menenangkannya. “Tidak apa-apa. kami semua melindungimu. Tidak akan terjadi apa-apa.”


“Di mana dia sekarang?” tanya Chien Wan.


“Entahlah. Saat aku keluar, dia sudah lenyap. Aku hanya mendapat laporan dari para penjaga malam,” jawab Sen Khang.


“Tidak bisa begini!” Tuan Chang angkat bicara. “Sebaiknya aku dan Fei Yu membawa Ting Ting pulang ke Bukit Merak. Kalau di sini, Chi Meng Huan bisa menyakitinya!”


Tubuh Ting Ting semakin gemetar mendengarnya.


“Aku tidak setuju!” Tuan Ouwyang berseru. “Perjalanan ke Bukit Merak cukup jauh. Bagaimana kalau kalian diserang di tengah jalan?”

__ADS_1


Tuan Chang tersadar. “Betul juga.”


“Sebaiknya kita semua tetap di sini. Aku dan Ting Ting juga sebaiknya tetap di sini. Di sini ada kita semua, bagaimana pun juga dia tidak akan segegabah itu menyerang kita semua. Walau dia sesumbar bahwa ilmunya sangat tinggi, dengan adanya kita semua mustahil dia bisa melawan!” Fei Yu berucap tegas.


“Setuju!”


Chien Wan berpikir serius. Ia agak tidak enak hati karena harus pergi sementara di sini keadaannya sedang gawat.


Kegalauan hatinya ditangkap dengan tepat oleh Tuan Ouwyang. “Kau sebaiknya berkemas, Chien Wan. Besok kau berangkat saja ke Partai Kupu-Kupu.”


“Kau mau pergi, Chien Wan?” tanya Sen Khang. “Sekalian sampaikan terima kasih kami atas kiriman hadiah darinya untuk pernikahan Ting Ting.”


Chien Wan mengangguk. Hatinya lega.


“Kakak Wan,” sela Ting Ting, “salamku untuk Kui Fang.”


Chien Wan tersenyum tipis. “Ya.”


***


Tak ada seorang pun yang menduga bahwa yang memasuki kamar Ting Ting sebenarnya adalah A Ming. Ia ingin memperingatkan Ting Ting agar berhati-hati karena Meng Huan masih mengincarnya. Namun hatinya gentar karena melihat beberapa penjaga malam. Maka ia pun meninggalkan Wisma Bambu.


Syukurlah penjagaan pintu luar Wisma Bambu tidak terlalu ketat. Satu-satunya jalan yang sukar hanyalah harus melewati Hutan Bambu. Namun itu pun bukan masalah. Walau tengah hamil, gerakannya cukup lincah sehingga ia bisa meloloskan diri.


Ia gemetar karena teringat perjuangannya untuk keluar dari Hutan Bunga. Ia harus berpura-pura tidak mendengar apa-apa dan bersikap biasa agar Meng Huan dan ayahnya tidak curiga. Diam-diam dia menyusun rencana.


Pada saat Meng Huan terlelap di sampingnya, ia bangkit dan melangkah keluar. Meng Huan tidak terbangun. Setibanya di luar, ia bertemu dengan beberapa anak buah Meng Huan yang sedang berjaga. Namun ia beralasan ingin buang air sehingga mereka tidak curiga.


Untung saja ada anak buah Meng Huan yang memberitahunya cara untuk keluar dari Hutan Bunga tanpa terluka. Anak buah Meng Huan itu mengira dia istri tuan mudanya sehingga sikapnya begitu sopan dan ramah terhadap A Ming.


Berkat pengetahuan itu, ia berhasil meloloskan diri.


Ia tahu persis ke mana tujuannya; Wisma Bambu. Ia melakukan perjalanan secepat yang bisa dilakukan sepasang kakinya yang bengkak akibat kehamilan. Dengan hati-hati ia berusaha supaya gerakannya tidak mencolok. Ia tidak mau Meng Huan menyadari kepergiannya dan mengejarnya.


Syukurlah sampai sejauh ini, tak ada yang mengejarnya.


Sayang misinya tidak berhasil.


Air matanya mengalir. Ia tidak punya tempat untuk pulang selain biara tempatnya dibesarkan. Untuk kembali pada paman-pamannya, ia tidak punya keberanian lagi. Ia tidak punya muka bertemu dengan keluarganya.


Saat itu, seseorang berkelebat ke arahnya. Jari yang kuat menusuk jalan darahnya, menghentikan aliran darah sehingga ia pingsan. Lalu sepasang tangan yang kuat memondongnya dan membawanya pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2