Suling Maut

Suling Maut
Rencana Chang Fei Yu


__ADS_3

Chang Fei Yu kembali ke kamarnya dengan hati kesal setelah berjalan-jalan di bagian belakang rumahnya selama beberapa saat. Ia merasa resah karena yakin bahwa Cheng Sam akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Ting Ting dan teman-temannya. Ia tidak ingin ikut perjamuan yang disiapkan Cheng Sam, namun ia juga tak bisa berhenti memikirkan keempat orang itu.


A Nan tengah menantinya dengan raut cemas.


“Tuan Muda!”


Kedatangan Fei Yu disambut A Nan dengan penuh rasa syukur. Namun Fei Yu tak memperhatikannya, melainkan terus melangkah menuju pembaringan. Ia merebahkan tubuhnya yang penat dengan murung.


“Tuan Muda, apakah Nona Ting Ting sudah diantarkan dengan selamat?”


“Di jalan, aku bertemu kakaknya. Mereka semua sedang dijamu ayahku di ruang rapat,” jawab Fei Yu jemu.


“Apa maksudmu, Tuan Muda? Ayahmu menjamu mereka? Apa kau tidak tahu bahwa tadi pagi-pagi sekali, hampir bersamaan waktunya dengan kepergianmu mengantar Nona Ting Ting, ayahmu pergi entah ke mana!”


Fei Yu langsung melompat bangkit. “Apa?”


“Tuan Besar pergi tadi pagi, jadi beliau tidak mungkin menjamu Nona Ting Ting dan yang lainnya.”


“Bagaimana kau tahu?” desak Fei Yu gelisah.


“Beliau sendiri yang mengatakannya pada saya. Tuan Besar mencarimu, dan karena kau tidak ada beliau berpesan pada saya supaya menyampaikan kepergiannya padamu,” jelas A Nan.


“Astaga!”


Fei Yu berlari keluar kamarnya. Ia berlari secepat mungkin menuju ruang rapat, diikuti oleh A Nan yang berusaha sekuat tenaga supaya tidak sampai tertinggal. Namun saat ia tiba di ruang rapat, tentu saja keadaan sudah terlambat. Ting Ting dan teman-temannya sudah tidak ada. Hanya ada Cheng Sam.


“Mana mereka?!” bentak Fei Yu tanpa basa-basi.


“Apa maksudmu, Tuan Muda?” tanya Cheng Sam manis.


“Keparat! Kau tahu betul siapa yang kumaksud!”


“Jika yang Tuan Muda maksud adalah orang-orang dari Wisma Bambu dan Lembah Nada... tenang saja. Aku sudah membereskan mereka,” kata Cheng Sam puas.


“Kau! Jangan-jangan kau main racun lagi!” tuduh Fei Yu.


“Tuan Muda jangan memikirkan mereka lagi.”


“Kau benar-benar keparat, Cheng Sam. Penjilat busuk berhati kotor!”


Cheng Sam tersenyum licik. “Hati-hati bicaramu, Tuan Muda. Sekarang, akulah yang bertanggung jawab atas Bukit Merak. Ayahmu sendiri menyerahkan pengelolaan kepadaku selama beliau pergi.”

__ADS_1


“Cheng Sam! Kau ini hanya pelayan rendahan! Aku pewaris Bukit Merak. Aku berhak tahu apa saja yang terjadi di daerahku! Jangan sok berkuasa di sini. Kau bukan siapa-siapa!” teriak Fei Yu murka. Urat-urat lehernya bertonjolan.


Air muka menjilat Cheng Sam sirna. “Tuan Muda,” ucapnya penuh ejekan, “kita berdua tahu betul siapa yang lebih dipercaya ayahmu. Jadi jangan macam-macam denganku.”


“Jahanam! Kau mengancamku?”


“Bukan, Tuan Muda. Hanya saran. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan jangan pedulikan mereka. Mereka adalah urusanku.” Cheng Sam menoleh pada anak buahnya. “Bawa Tuan Muda kembali ke kamarnya.”


Anak buah Cheng Sam yang berjumlah lima orang langsung mendekati Fei Yu. “Silakan, Tuan Muda.”


Fei Yu marah dan terhina sekali. Ia adalah majikan yang sesungguhnya di Bukit Merak ini. Mana mungkin pelayan rendahan macam Cheng Sam berani mengancamnya? Ia maju dengan mata berkilat sambil menggenggam kipasnya erat-erat. “Cheng Sam, kuhabisi kau!” bentaknya. Ia menerjang dengan sengit.


Cheng Sam mengelak dengan gesit.


Mereka bertempur dengan hebat di ruang rapat itu. Fei Yu mengerahkan kemampuannya dengan bersungguh-sungguh. Ia merupakan pendekar yang tangguh, ahli silat yang sangat lihay. Berkat ayahnya yang tak kenal lelah melatihnya sejak kecil, ilmu silatnya sudah sangat luar biasa. Sebaliknya, ternyata Cheng Sam menguasai ilmu silat yang luar biasa. Ilmu silat itu bukan dari Bukit Merak, melainkan gabungan beberapa aliran yang berpengaruh di Dunia Persilatan, baik dari golongan hitam maupun putih.


Setelah beberapa lama, terlihat bahwa ternyata Fei Yu lebih unggul dari Cheng Sam. Fei Yu merangsek hendak melayangkan totokan maut pada dada Cheng Sam, namun terdengar teriakan.


“Tuan Muda!”


Fei Yu menoleh dan mendapati A Nan tengah dikeroyok oleh lima orang anak buah Cheng Sam. A Nan bisa ilmu bela diri, namun hanya secukupnya saja untuk membela diri. Dikeroyok lima begitu tentu saja membuatnya sangat kewalahan. Dan akhirnya ia dapat ditawan oleh kelimanya.


Kesempatan ini dipergunakan Cheng Sam untuk mundur. Ia tertawa jahat.


Fei Yu sangat murka, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. A Nan tengah diringkus oleh lima anak buah Cheng Sam. Dan ia tahu betul, jika ia gegabah A Nan akan dibunuh. Maka ia diam dan tak melawan saat beberapa anak buah Cheng Sam berlompatan dari luar dan meringkusnya.


“Lepaskan aku,” kata Fei Yu angkuh. “Aku bisa jalan sendiri.”


Cheng Sam memberi isyarat dan anak buahnya segera melepaskan Fei Yu dan A Nan dari ringkusan. Keduanya segera pergi meninggalkan ruang rapat, diikuti tawa menyebalkan Cheng Sam.


***


“Sialan!” Fei Yu melampiaskan kemarahannya dengan membanting poci teh di mejanya. “Setan jahanam Cheng Sam!”


“Tuan Muda, maafkan saya....”


“Jangan minta maaf!” tukas Fei Yu. “Itu bukan salahmu. Ini memang sudah direncanakan oleh Cheng Sam. Dugaanku terbukti. Dia hendak mengambil alih Bukit Merak. Ayah terlalu buta untuk menyadarinya!”


“Apa yang harus kita lakukan?”


“Sekarang, yang paling penting adalah membebaskan Ting Ting dan teman-temannya. Tetapi bagaimana cara?” Fei Yu berjalan mondar-mandir. “Cheng Sam pasti membawanya ke ruang rahasia yang aku tidak tahu!” Ia sungguh kesal dalam hal ini. Ada ruangan rahasia di Bukit Merak yang ia tidak tahu, namun Cheng Sam tahu. Bahkan ada beberapa ruangan yang dibangun Cheng Sam secara rahasia, yang kemungkinan tanpa sepengetahuan ayahnya karena ayahnya sering sekali bepergian.

__ADS_1


“Mengapa tadi Tuan Muda tidak bersama mereka saja? Pasti Nona Ting Ting akan senang bila tadi Tuan Muda ada di sampingnya. Dan... mungkin saja Tuan Muda bisa memperingatkan mereka supaya tidak terjebak.”


“Kaupikir aku tidak mau?!”


Kekasaran nada suara Fei Yu membuat A Nan mengernyit. Fei Yu menoleh dan merasa agak menyesal. “Maaf,” gumamnya.


“Tuan Muda....”


“Aku tadi mengira mereka dijamu ayahku. Setidaknya aku rasa, jika ayahku ada Cheng Sam takkan berani macam-macam. Mana aku tahu ayahku pergi hari ini? Lagi pula....” Fei Yu tercenung.


“Lagi pula?”


“Ting Ting sangat benci padaku. Dia mengira aku menculik Chi Meng Huan, saudara seperguruannya. Dia lebih baik melihat kotoran daripada melihatku,” kata Fei Yu dengan muram.


“Memangnya Chi Meng Huan...?”


“Dia ditawan oleh Cheng Sam,” potong Fei Yu.


“Tuan Muda harus mengatakan yang sebenarnya pada Nona Ting Ting.”


“Aku sudah mengatakannya pada mereka semua bahwa aku tidak tahu apa-apa soal penculikan itu. Tapi mereka tidak percaya padaku. Termasuk Ting Ting,” tambah Fei Yu dengan kecewa.


“Tuan Muda menyukainya?” tanya A Nan lirih.


Fei Yu tidak menjawab, hanya memalingkan muka. Namun tak urung wajahnya merona.


A Nan mengerti akan apa yang terjadi dan ia merasa sangat iba pada Tuan Mudanya. Sebagai putra tunggal keluarga Chang, Fei Yu memang selalu menjadi pusat perhatian. Apa pun yang diinginkan Fei Yu, semua orang akan sibuk mengusahakannya. Tak ada satu pun yang diinginkannya tidak dipenuhi. Akibatnya Fei Yu tumbuh menjadi pemuda yang manja dan egois. Kelihatannya ia sangat bahagia dan bergelimang kemewahan, namun A Nan tahu betul bahwa Fei Yu kesepian. Fei Yu membutuhkan teman, bahkan mungkin kekasih yang dapat mengerti dia. A Nan tahu Fei Yu telah jatuh hati pada Ting Ting. Dari sekian banyak gadis yang dapat dimilikinya, ia jatuh hati pada gadis yang justru tidak menyukainya.


“A Nan, kenapa kau diam saja?” tanya Fei Yu kesal.


A Nan tersenyum.


“Apakah kau menertawakan aku? Aku tahu aku memang dungu!” sungut Fei Yu.


A Nan menggeleng. “Tidak, Tuan Muda. Kau sama sekali tidak dungu. Dan saya juga tidak menertawakanmu.”


“Tapi kau tersenyum!” bantah Fei Yu. “Apa coba namanya kalau bukan mengolok-olok aku?”


“Tidak, Tuan Muda. Percayalah,” tekan A Nan. “Malah sebaliknya, saya sangat mengerti akan perasaan Tuan Muda. Tuan Muda tenang saja. Saya akan mencari cara untuk mengetahui apa yang terjadi pada perjamuan tadi dan bahkan kalau bisa, akan mencari jejak di mana mereka ditawan. Jadi kita bisa membebaskan mereka.”


Fei Yu mengerutkan kening, ingin mempercayai A Nan.

__ADS_1


“Kaupikir bisa berhasil?”


“Percayalah pada saya!”


__ADS_2