
“Tidak!” seru Ketua Wu.
“Kui Faaang!” pekik ibunya.
Wie Yun Cun sudah hampir berhasil menangkap Kui Fang. Namun pada saat kritis itu, terdengar suara suling yang mencekam dan sesosok bayangan hitam berkelebat menyambar Kui Fang.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut mendengar suara suling yang sangat indah namun mencekam itu. Mereka sudah sangat mengenal suara suling itu. Suling Maut telah datang!
“Ouwyang Chien Wan.” Meng Huan berkata lambat-lambat dengan nada geram bercampur girang.
Ketua Wu bersyukur sekali melihat kedatangan bantuan itu.
Nyonya Wu menangis penuh kelegaan.
Chien Wan turun dari langit-langit dengan gerakan ringan. Tangan kanannya merangkul pinggang Kui Fang. Tangan kirinya memegang Suling Bambu Hitam. Wajahnya tampak dingin. Pandangan matanya tajam menusuk, terpaku pada Chi Meng Huan.
Chi Meng Huan membalas pandangannya.
“Kau selamat rupanya!”
Chien Wan tidak menjawab. Hanya pandangan matanya yang begitu menusuk, membuat Meng Huan agak tidak nyaman.
Kui Fang meremas tangan Chien Wan yang masih merangkul pinggangnya.
Perlahan Chien Wan melepaskan rangkulannya. Pandangannya beralih. Ia menatap gadis manis yang sangat dirindukannya. Sorot matanya berubah seketika. Kini tatapannya menjadi sangat lembut dan memancarkan kasih sayang yang mendalam. Ekspresi wajahnya pun berubah hangat.
“Kakak Wan....”
“Kau tak apa-apa?” tanya Chien Wan pelan.
Kui Fang menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Tetapi ayahku dan semua anggota partai kami terluka oleh racun.”
Chien Wan mengangguk. Dengan langkah lebar, sambil masih memegang tangan Kui Fang, ia menghampiri Ketua Wu dan memberikan beberapa totokan di titik-titik penting tubuhnya.
“Terima kasih, Chien Wan...,” kata Ketua Wu dengan suara parau.
“Bagaimana kau bisa datang tepat pada waktunya?” tanya Kui Fang heran.
Chien Wan menoleh ke arah pintu. “Lihatlah.”
Kui Fang menoleh. Seketika wajah cemasnya menjadi cerah.
“Paman Sam!”
Sam Hui datang diiringi oleh beberapa pendekar Dunia Persilatan. Gerakannya agak lemah karena ia baru saja pulih dari luka yang dideritanya. Pendekar Sung sendiri yang memapahnya. Pendekar Lei, Pendekar Fu, dan Pendekar Phang mengiringi keduanya. Mereka datang diikuti oleh sejumlah pendekar dari golongan putih.
Chi Meng Huan dan rombongannya terbelalak. Mereka tidak menyangka akan ada bala bantuan untuk Partai Kupu-Kupu. Meng Huan menatap Sam Hui dengan tajam. Bukankah ia sudah melukai orang itu?
“Ketua Wu!” sapa Pendekar Sung. “Kami datang untuk memberikan bantuan. Saudara Sam telah menceritakan kecurigaannya pada kami beberapa hari yang lalu. Kebetulan aku dan teman-temanku memang bermaksud datang ke sini.”
Dengan susah payah, Ketua Wu memberi hormat.
“Terima kasih, Saudara Sung.”
Sam Hui melepaskan diri dari papahan Pendekar Sung. Kecemasan membayangi wajahnya manakala ia melihat ketuanya begitu pucat dan lemah. Ia menghampiri Ketua Wu dan berlutut. “Ketua, Anda tidak apa-apa?” tanyanya dengan khawatir. Padahal dirinya sendiri pun tengah terluka, namun ia lebih mempedulikan luka yang diderita ketuanya. Sebesar itulah pengabdiannya terhadap Partai Kupu-Kupu.
__ADS_1
Ketua Wu menggeleng penuh sesal. “Sam Hui, aku telah salah menilaimu. Ternyata kau adalah orang yang paling setia...,” katanya lirih. “Aku harap kau mau memaafkan aku.”
Sam Hui terharu. Digenggamnya tangan Ketua Wu erat-erat. “Ketua, aku juga ingin meminta maaf. Aku telah berbohong dengan mengatakan bahwa aku ingin mengundurkan diri dan pulang ke Kang Lam. Padahal aku bermaksud pergi ke Kota Lok Yang dan memberitahu Ketua Persilatan. Tak disangka aku diserang di jalan. Untung saja Pendekar Ouwyang datang dan menolongku. Lalu aku bertemu dengan Ketua Persilatan yang memang bermaksud datang ke partai kita.”
“Keparat kau, Sam Hui!” seru Wie Yun Cun tanpa bisa mengendalikan diri.
Sam Hui menoleh dan menatap tajam mantan rekannya itu.
“Wie Yun Cun, sebenarnya sudah lama aku mencurigaimu. Hanya saja aku tak berani terang-terangan menuduhmu karena aku tak punya bukti yang cukup. Jadi aku sengaja menunggu sampai kau sendiri yang membuka kedokmu!” kata Sam Hui tegas. “Kau selalu saja menggunakan kata-kata licik untuk mempengaruhi Ketua. Untung saja Ketua selalu memikirkan ulang setiap usul kita semua. Ketua bukan orang yang gegabah dan bodoh. Kau terlalu meremehkan Ketua dan terlalu sombong atas kekuasaanmu!”
Wie Yun Cun mengepalkan jari tangannya. Rahangnya mengerask dan giginya berkerot menahan geram. Kekuasaan yang tinggal sedikit lagi berada dalam genggamannya kini tidak bisa dimilikinya dengan mudah gara-gara Sam Hui.
Tiba-tiba terdengar suara tawa mengejek.
Semua menoleh dan melihat Chi Meng Huanlah yang mengeluarkan suara tawa itu.
“Percuma saja!” seru Meng Huan pongah. “Kalian semua akan mati di tanganku! Jadi tidak ada gunanya kau datang bersama pendekar lainnya! Bahkan Ouwyang Chien Wan pun tidak bisa mengalahkan aku!”
Cheng Sam mengangguk-angguk bangga. “Anakku benar! Biar kalian punya dukungan dari orang-orang persilatan, bahkan dari Ketua Persilatan pun—“ Ia melirik Pendekar Sung dengan sinis. “—tetap saja kalian takkan bisa menghalangi kami! Kalian semua akan mampus!”
“Kau akan mendapatkan balasan untuk semua ini, Cheng Sam!” kata Pendekar Sung dengan tajam.
“Jangan banyak bicara!” bentak Cheng Sam. “Serang!”
Anak buah Cheng Sam, termasuk Enam Khitan Bersaudara dan Hao Sing Yat serta Kai Tung Lok bergerak mengepung para pendekar. Cheng Sam sendiri menghadapi Pendekar Sung. Chi Meng huan berhadapan dengan Chien Wan.
Pertempuran berlangsung dengan seru dan berbahaya, terutama bagi para anggota Partai Kupu-Kupu yang masih lemah. Ketua Wu memandang cemas, apalagi putrinya sendiri juga menjadi sasaran penyerangan oleh sejumlah anak buah Cheng Sam.
Tiba-tiba, terdengar suara suling yang memainkan lagu kematian. Suara itu mencekam dan mendirikan bulu roma. Semua orang menghentikan gerakan dan melihat sekeliling dengan heran. Bukankah Suling Maut sedang tidak meniup sulingnya, lantas dari mana suara mencekam itu berasal?
Siu Hung melambai-lambai pada ayahnya. “Ayah!”
Pendekar Sung tersenyum gembira. “Siu Hung!”
“Kakak!” seru Ouwyang Ping.
Sen Khang terpaku pada Chi Meng Huan. Amarah membakar dadanya. Namun ia sadar bahwa dirinya harus bisa mengendalikan kemarahannya bila ia ingin mengatasi semua masalahnya. Maka ia tidak menyerang Chi Meng Huan. Padahal bila ia menuruti kata hatinya, tangannya sudah gatal ingin menyerang penjahat itu.
Meng Huan menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
“Mana orang yang tadi bilang Lembah Nada hanyalah tempat tinggal kelompok orang yang gemar main musik sehingga tak pantas terkenal?” tanya Tuan Ouwyang ketus. Matanya membara memandang sekelilingnya.
“Dia orangnya!” Kui Fang menunjuk Wie Yun Cun. “Pengkhianat itu yang mengatakannya!”
Tuan Ouwyang menyipitkan mata dan menatap Wie Yun Cun dalam-dalam. Yang dipandang mulai mengeluarkan keringat dingin karena merasa ngeri.
“Hah!” bentak Tuan Ouwyang. “Kau berani melecehkan Lembah Nada? Orang semacam kau tidak ada apa-apanya sama sekali! Bahkan anggota terkecil Lembah Nada pun bisa menghajarnya. Siu Hung!”
Siu Hung menggerutu. “Huh, dasar Kakek jelek! Kalau bagian yang tidak enak, selalu saja menyuruh aku!” keluhnya.
Tuan Ouwyang berkacak pinggang. “Kerjakan saja tugasmu, Anak Badung!”
Siu Hung merengut sambil bersungut-sungut. Ia memandang Wie Yun Cun dengan kesal.
“Kau sih, bermulut besar! Jadinya aku kan, harus repot menghajarmu! Ini semua gara-gara mulut embermu itu!” sungut Siu Hung sambil menudingkan jarinya ke muka Wie Yun Cun.
__ADS_1
“Keparat!” Wie Yun Cun mendekati Siu Hung, bersiap-siap untuk menghajarnya. Keberaniannya timbul karena melihat lawannya hanyalah seorang gadis ingusan yang tampak belum berpengalaman. Ia tidak menyadari bahwa penampilan bisa saja menipu. Ia semakin mendekat dan sekarang jaraknya sekitar lima kaki dari Siu Hung.
Siu Hung mundur, mengukur jarak. “Siap, ya?” serunya riang. Ia melambaikan tangannya dan membuat gerakan seperti memukul pada ruang kosong di hadapannya. Bang! Bang! Terdengar suara seperti tabuhan genderang perang setiap kali ia memukul.
Dar!!!
Tubuh Wie Yun Cun terjengkang sambil menyemburkan darah segar. Darah bercucuran dari mulutnya dan membasahi pakaiannya. Ia mengerang sambil memegangi dadanya yang terasa terbakar.
“Aku suruh kau untuk menghajarnya! Bukan memamerkan Ilmu Genderang Surgawimu! Dasar badung!” hardik Tuan Ouwyang pura-pura kesal. Padahal sesungguhnya dia bangga karena ternyata Siu Hung mampu menguasai ilmu yang diajarkan padanya dengan sangat baik, bahkan sempurna.
“Ah, aku kan hanya main-main saja. Lagi pula tenaga yang kukeluarkan tidak seberapa, kok. Dia tidak akan mati. Tenang saja!” celoteh Siu Hung riang.
“Ilmu Genderang Surgawi!” seru Cheng Sam tanpa sadar.
Siu Hung menoleh dan tertawa konyol. “Benar! Kuberitahu, ya! Ilmu ini sangat hebat. Kau tak akan bisa mengalahkan aku! Aku ini kan pendekar sakti yang luar biasa hebatnya! Tubuhku sangat kuat, tenagaku sangat hebat. Bahkan mulutku ini juga hebat sekali. Hanya kubentak saja kau pasti akan menyerah kalah. Sudah makanya kau menyerah saja!” Ia menyerocos tanpa bisa dihentikan.
“Lan... Lan Sie, bunuh dia!” seru Wie Yun Cun.
Lan Sie melompat mendekati Siu Hung dengan geram sekali. Ditatapnya Siu Hung dengan dingin. Lalu ia bergerak. Selendang sutra hijaunya secara tiba-tiba sudah meluncur dan melilit tubuh mungil Siu Hung.
“Hati-hati!” seru Wen Chiang tanpa sadar. Ia sangat cemas melihat selendang Lan Sie membelit tubuh Siu Hung begitu erat. Ia tahu betul bahwa ilmu selendang Lan Sie termasuk salah satu yang terbaik di partai mereka. Belitan selendangnya bisa meremukkan tubuh Siu Hung!
“Jangan khawatir, Kakak Wen!” Kui Fang tersenyum pada Wen Chiang. “Lihat saja!”
Wen Chiang menutup mulutnya.
Siu Hung menoleh pada Wen Chiang. Ia mendengar kecemasan pemuda itu terhadapnya. Dengan riang ia mengedipkan matanya pada pemuda itu. Ia tertawa gembira. “Kakek jelek! Kau tak mau menolongku, nih?” serunya. Kelihatannya ia tak merasa sakit sedikit pun, juga tak ada ketakutan pada wajahnya. Ia tetap saja riang gembira seperti biasanya.
Tuan Ouwyang mendengus. “Aku mau melihat sampai di mana daya tahanmu, Anak konyol!”
Siu Hung bersungut kesal.
Lan Sie menggenggam selendangnya erat-erat. Dalam hati ia kaget sekali. Belitan selendangnya sudah sangat erat. Semestinya anak itu sudah sulit bernapas. Tetapi anak itu masih bisa tertawa!
Siu Hung menggerakkan tubuhnya dan... bret! bret! Selendang itu putus menjadi beberapa bagian dan berjatuhan di lantai.
Lan Sie terhuyung mundur dengan wajah sangat pucat.
Semua orang memandang kagum. Bayangkan, anggota termuda dalam kelompok Lembah Nada saja sanggup melakukan hal seperti itu. Bagaimana kejadiannya bila Tuan Ouwyang yang turun tangan sendiri?
Wen Chiang terpukau menatap Siu Hung.
Siu Hung bertepuk tangan. “Ayo! Permainan apa lagi yang mau kau keluarkan? Aku sudah tak sabar nih!” serunya riang. Ia begitu gembira dan bangga akan kehebatannya sendiri sehingga tak menyadari peringatan Tuan Ouwyang sebelumnya. Seseorang yang menguasai Ilmu Genderang Surgawi dan belum bisa mengontrol tenaganya dilarang keras bertepuk tangan. Karena jurus ketiga dalam ilmu itu—yang disebut Jurus Genderang Bergema—dilakukan dengan cara menepukkan kedua tangan. Jurus itu dimaksudkan untuk membuat orang tuli dan bisa menghancurkan apa saja bila dikuasai oleh seseorang dengan tenaga luar biasa.
Bang! Bang! Bang! Bunyi tepukan tangan bagaikan bunyi genderang yang sangat memekakkan telinga. Hampir semua orang di sana merasa dampak suara ini.
“Berhenti, Konyol!” bentak Tuan Ouwyang.
Siu Hung seketika berhenti. “Ups!”
“Ups? Cuma itu yang mau kaukatakan?” Tuan Ouwyang menarik telinga Siu Hung dan membawanya ke tepi ruangan. “Mestinya tanganmu itu diikat saja!”
Siu Hung menjulurkan lidahnya dengan lagak kurang ajar.
Pendekar Sung kaget sekali melihat betapa majunya putrinya itu. Baru berpisah selama tiga bulan lebih, Siu Hung sudah sehebat itu?
__ADS_1
***