
Semua pendekar kembali ke tempat masing-masing dengan membawa berita tentang munculnya dua pendekar baru yang kelak akan menjadi bahan pembicaraan orang-orang di Dunia Persilatan.
Kelima anak muda itu memutuskan untuk tidak pulang dulu ke kediaman masing-masing. Mereka memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di Kota Lok Yang. Selama beberapa hari itu, mereka berlima menjalin persahabatan yang erat.
Ting Ting masih tetap cemburu pada Ouwyang Ping, namun ia juga mengagumi kelihayan gadis itu. Keanggunan Ouwyang Ping membuatnya terkesan sekaligus iri. Bagaimana pun ia tak bisa membenci Ouwyang Ping.
Ting Ting sangat mengagumi permainan harpa Ouwyang Ping. Sekarang ia punya kebiasaan meminta Ouwyang Ping memetik harpanya setiap malam. Ouwyang Ping melakukannya dengan senang hati. Ia memang selalu bersikap ramah terhadap Ting Ting walau hatinya agak cemburu melihat betapa Ting Ting selalu berusaha menunjukkan perasaan cintanya pada Chien Wan.
Chien Wan masih tetap seperti dulu, pikir Sen Khang. Pendiam, pemurung, dan wajahnya selalu tampak muram. Sungguh patut diherankan, dengan sifat seperti itu Chien Wan bisa memikat hati dua gadis cantik sekaligus. Sen Khang geleng-geleng kepala.
Suatu malam, Chien Wan tengah duduk-duduk di taman di dalam penginapan itu. Ia tengah sibuk membersihkan sulingnya yang sama sekali tidak kotor dengan sehelai kain sutra.
Sen Khang melihatnya dan menghampiri.
“Chien Wan.”
Chien Wan menoleh. “Oh, kau.”
Sen Khang duduk di samping Chien Wan. Ia menarik napas. “Sudah lama kita tidak duduk berdua sambil berbincang-bincang,” desahnya sambil memandang langit yang cerah dengan ribuan bintang yang berkelap-kelip.
Chien Wan diam saja.
Sen Khang menatap sahabatnya. “Sekarang aku ada kesempatan untuk bertanya, mumpung yang lain tidak ada. Bagaimana dengan tugas yang diberikan ayahku?”
Chien Wan sudah menduganya. Ia menghela napas. “Bibimu dan ayah Ping-er pernah menjadi sepasang kekasih.”
Sen Khang membelalakkan mata. “Benarkah?”
“Mereka berdua berhubungan, namun ayah Ping-er sudah punya tunangan. Hubungan mereka putus begitu saja. Aku tidak tahu apakah permasalahannya hanya itu saja. Yang jelas, kejadian itu telah memukul jiwa bibimu,” kata Chien Wan dengan nada datar.
Sen Khang tercenung. “Apakah separah itu dampak patah hati pada seorang gadis?”
Chien Wan diam saja. Selama beberapa lama, tak ada yang berbicara.
“Ting Ting masih memikirkanmu,” ucap Sen Khang tiba-tiba. “Semenjak kau pergi, dia selalu sedih. Dia sering membicarakanmu, mengira-ngira apa yang kaulakukan di Lembah Nada. Sampai aku dan Meng Huan bosan mendengarnya.”
Tangan Chien Wan yang sejak tadi mengelap suling, terhenti.
“Nona Ouwyang juga menyukaimu. Dia sangat memperhatikanmu, dan bisa kulihat kau juga sangat menyukainya. Kalian sangat serasi. Adikku hanya jadi orang ketiga di antara kalian. Aku tidak harus bertanya karena aku tahu pasti siapa pilihanmu,” lanjut Sen Khang.
Chien Wan menoleh. Entah mengapa ia merasa mendengar adanya kepahitan dalam suara Sen Khang.
__ADS_1
Chien Wan menghela napas. “Meng Huan pemuda yang baik. Dia sangat menyukai Ting Ting. Dia jauh lebih baik dibanding aku.”
Sen Khang mengangguk. “Aku tahu. Sejak dulu, Meng Huan sudah mencintai Ting Ting. Tapi tahukah kau? Ting Ting terobsesi padamu. Sejak kecil, hanya kau yang ada di matanya, di benaknya, di hatinya. Aku juga heran. Mengapa pesonamu begitu kuatnya tertanam dalam diri adikku? Padahal kau ini boleh dibilang biasa-biasa saja.”
Chien Wan mengangkat bahu. Hatinya mulai risau.
“Bagaimana nasib Ting Ting kemudian?” gumam Sen Khang. “Apakah dia kelak akan menjadi seperti Bibi Sui She jika cintanya tak terbalas?”
Chien Wan menggeleng. “Jangan bicara seperti itu!”
Ketajaman dalam nada suara Chien Wan sungguh di luar dugaan, membuat Sen Khang tertegun. Tidak biasanya Chien Wan mengeluarkan nada suara seperti itu. Berarti masalah ini juga membuatnya risau.
“Maafkan aku.”
Mereka kembali membisu.
“Besok kami akan pulang ke Wisma Bambu,” kata Sen Khang kemudian. “Kau mau ikut pulang bersamaku? Ajak sekalian Nona Ouwyang-mu. Biar Paman Khung melihat sendiri betapa hebatnya calon istri anak angkatnya ini!” godanya.
Chien Wan menghela napas. Betapa rindunya ia kepada Paman Khung. Namun ia belum bisa pulang. Tidak sekarang. Ia diutus pergi oleh gurunya hanya untuk menghadiri pertemuan para pendekar. Gurunya bisa murka jika tahu ia kembali ke Wisma Bambu tanpa izin. Apalagi dengan membawa serta Ouwyang Ping.
“Bagaimana?” desak Sen Khang.
Chien Wan menggeleng. “Aku tidak bisa. Guruku belum memberi izin.”
Chien Wan menggeleng. “Tidak bisa. Itu namanya berbohong.”
“Dasar kau!” Sen Khang meninju lengan Chien Wan, setengah bercanda setengah kesal.
***
“Jadi, besok kau akan pulang?”
Pertanyaan itu dilontarkan Ouwyang Ping saat ia memperhatikan Ting Ting berkemas.
“Ya,” angguk Ting Ting. “Sudah hampir dua minggu kami meninggalkan Wisma Bambu. Ayah dan Ibuku pasti ingin tahu apa yang terjadi dalam pertemuan para pendekar kali ini.”
“Sayang,” gumam Ouwyang Ping. “Padahal kita baru saja mulai berteman....”
Ting Ting menoleh. “Kau ikut saja,” tawarnya.
Ouwyang Ping menggeleng muram. “Kakekku akan marah kalau kami pergi tanpa sepengetahuannya.”
__ADS_1
Ting Ting cemberut, lalu melanjutkan kesibukannya.
Ouwyang Ping terdiam agak lama sebelum berkata bimbang, “Kau sudah berpamitan pada Kakak Wan?”
“Buat apa?” ketus Ting Ting tanpa memandang Ouwyang Ping. “Dia takkan peduli aku pergi atau tinggal!”
“Ting Ting, Kakak Wan menyayangimu dan Kakak Luo seperti adiknya sendiri. Dia akan kecewa jika kau pergi tanpa berbicara kepadanya,” bilang Ouwyang Ping.
Pandang mata Ting Ting membara mendengar kata ‘adik’. “Aku tak peduli!”
Ouwyang Ping meringis, sadar ia telah salah bicara. Seharusnya ia tidak mengucapkan kata-kata itu. Dianggap sebagai adik oleh pria yang kita cintai merupakan hal yang menyakitkan. Ia mengerti perasaan Ting Ting. Ternyata rasa cemburu Ting Ting kepadanya melebihi perasaan cemburunya pada Ting Ting.
“Ting Ting, aku....”
“Ada apa lagi sih?!” sergah Ting Ting kesal. Wajahnya tampak sangat ketus.
Ouwyang Ping terperangah, lalu menggeleng sambil membisu. Tadinya ia ingin minta maaf atas kata-katanya. Namun melihat sikap Ting Ting yang demikian ketus, ia pun memtuskan untuk tutup mulut.
Terdengar ketukan lembut di pintu.
“Siapa?” tanya Ouwyang Ping.
“Ini aku; Luo Sen Khang.”
Ouwyang Ping membukakan pintu dan menepi untuk mempersilakan Sen Khang masuk. Wajah pemuda itu berseri-seri melihat Ouwyang Ping yang membukakan pintu. Pemuda itu tersenyum lebar, lalu menoleh pada adiknya.
“Ting Ting, kau belum berpamitan pada Chien Wan, kan? Sana pergi!”
Namun Ting Ting menggeleng. Matanya melirik Ouwyang Ping.
“Pergilah, Ting Ting,” suruh Ouwyang Ping lembut.
Sen Khang melirik Ouwyang Ping, agak takjub. Lalu ia kembali melihat adiknya. “Eh, kok malah diam? Sana pergi.”
Ting Ting segera pergi mendengar teguran ini. jantungnya berdebar keras karena gembira akan berbicara dengan pemuda pujaannya. Dalam hati, ia heran juga melihat sikap Ouwyang Ping yang begitu ramah kepadanya. Kalau ia yang menjadi Ouwyang Ping, ia takkan rela kalau saingannya berbicara dengan pemuda pujaannya. Harapan bergemuruh dalam dadanya.
Setelah Ting Ting pergi, Sen Khang tidak segera pergi. Ia memandangi adiknya dengan hati terharu. Ia tahu adiknya tak punya harapan lagi. Dihelanya napas dalam-dalam, lalu ia menoleh dan melihat ke arah Ouwyang Ping. Gadis itu duduk dambil membersihkan harpanya, hal yang biasa dilakukannya kala hatinya resah.
Sen Khang yang tidak memahami keresahan hati Ouwyang Ping memujinya, “Nona Ouwyang..., kau sungguh berjiwa besar.”
Ouwyang Ping mengangkat kepalanya. Sepasang mata indahnya menatap Sen Khang, bingung mendengar pujian itu. “Maksud Kakak Luo?”
__ADS_1
Sen Khang tersenyum. “Kau tahu Ting Ting menyukai kekasihmu, artinya dia itu sainganmu. Namun kau malah membiarkannya bicara berdua dengan kekasihmu. Aku kagum padamu. Sebab jika itu aku, tak mungkin rela.”
Rona merah menjalari pipi halus Ouwyang Ping mendengar pujian itu. Ia tertawa pelan. “Aku tidak bisa mencegah orang lain untuk mencintai Kakak Wan. Aku tak boleh begitu egois dengan melarang Kakak Wan bicara dengan gadis lain. Lagi pula, Ting Ting telah ada dalam kehidupan Kakak Wan sebelum aku,” jawabnya bijak.